Laman

Rabu, 10 Maret 2021

Mekanisme Peradaban Baru

Kali ini kita mungkin akan berbenah lagi tentang pengangkatan Elon Musk sebagai tuhan, Dia memang belum melampaui Tony Stark, memang stark hanya fiksi tapi elon Musk juga masih non Fiksi,

Kamis, 29 Oktober 2020

What Will Tech US?

Apa yang akan mengajarkan kita? Itu tentang kekasih yang mungkin tak datang-datang. Dia pasti datang, karena jika dia tidak datang maku yang akan mendatangi. Lalu apa aku akan belajar atau tidak? aku tidak ada jawabanya. 

Hari ini saya sakit kepala dan tidak tahu bagaimana aku merasa mual tak terkendali tapi bagaiama itu akan mempengaruhi kinerjaku besok. Karena aku hanya mencoba untuk melakukan kerja hingga yang terbaik yang aku lakukan.


Rabu, 28 Oktober 2020

Engineering DR atau KM?

Saya setuju dengan pandangan Pak Suhartono, bahwa Engineering adalah ilmu tangan. Bukan sekedar ide yang diangkat sebagai masturbasi otak gaya Anti KM, memang secara metafisika saya kurang setuju dengan pandangan bahwa Keilmuan itu dinisbahkan pada kebutuhan masyarakat banyak saya lebih setuju bahwa Ilmu Tangan adalah alat kuasa, tapi secara sosio-ekonomi efektifitas maupun efisiensi dagang kurang relevan. Ilmu Tangan harusnya digunakan untuk kepentingan masyarakat, mungkin itulah yang ingin disampakan Pak Suhartono, Ilmu Tangan itu untuk masyarakat. 

Pandangan DR yang mencoba menggunakan maskulinitas dari Ilmu Tangan jelas cacat. Walaupun pada kondisi sekarang ini Ilmu Tangan dikuasai oleh Sang Tuan. Sayangnya awal dari kemunculan teknologi selalu didasari oleh kepentingan politik KM-isme.

Setiap revolusi industri dimulai oleh Ahli Tangan. Mesin Uap, Listrik, Internet pasti dibuat oleh Ahli Tangan, itu jelas karena infrastruk pasti didesain oleh Ahli Tangan. KM mengutarakan bahwa kerja adalah merubah nilai menjadi komoditas, itu artinya Ahli Tangan adalah tokoh utama dalam perkembangan Ekonomi. Kita boleh berbendapat bahwa pandangan KM tidak relevan pada jaman sekarang bahkan mati. Tapi kita lupa segala sistem bisnis yang muncul setelah Revolusi Industri (Baik 1, 2 atau 3) bergantung pada infrastruktur yang ada. Dahulu sistem bisnsis hanya sekadar tukar menukar barang yang sederhana. Setelah revolusi 1 muncul produksi besar besaran baik di tekstil atau batu bara, yang menyebabkan biaya produksi bisa ditekan dan hasilnya bisa dinaikkan. Sekarang macam jual beli kita lakukan melalui jaringan internet, kita sebenarnya telah menyetujui ide dasar dari KM bahwa Infrastruktur mempengaruhi pola daya beli, dan mempengaruhi sistem kerja, artinya Kerja untuk Infrastruktur mempengaruhi sistem perdagangan. KM telah melampaui DR.

Agum Gumelar boleh berpendapat bahwa China sekarang mengikuti DR. Sayangnya argumennya rancu, "Bagi Xi Jin Ping kucing hitam ataupun putih sama saja asal bisa menangkap tikus." Argumen itu jelas menunjukan bahwa pandangan Xi Jin Ping adalah pandangan KM, kita tidak melihat identitas asal dia bisa bekerja, itu berarti Kucing yang diinginkan Xi Jin Ping adalah kucing pekerja. Lain halnya dengan pandangan bahwa "Kucing hitam ataupun putih asal yang mana yang bisa dijual harganya lebih mahal itu yang dia pilih.", itu baru pandangan Anti KM.

Walaupun KM telah melampaui DR beberapa hal memang perlu dikritik. Kita melihat kasus Jepang pasca Bom Herosima-Nagasaki, ketimbang dia membangun infrastruktrur pasca bom atom. Hirohito lebih memilih perbaikan di Suprastruktur kesadaran, yaitu pendidikan, baru setalah itu mulai memperdagangkan produk Jepang (Miyabi, Maria Ozawa, dkk). KM menang dari DR dalam hal Ekonomi, tapi argumen KM telah gagal membuktikan bahwa Infrastrukur (Ekonomi) membangun Supratruktur, tapi justru Suprastruktur yang membangun Ekonomi. KR hanya tidak relevan di titik itu.

Era-Modern semakin banyak yang berargumen padangan KR dalam ekonomi telah gagal. Pandangan KR sebenarnya hanya gagal dari yang disebutkan tadi, tapi dalam ekonomi sampai sekarang lebih masuk diterima masyarakat modern. Pandangan Wheelen dalam Sustainable Development yang menunjukan bahwa pembangunan sistem bisnis bergantung dari kesejahteran penduduk. Mendukung bahwa kesejahteraan umat, atau sustainable lingkungan lebih diperhatikan dari pada untung. Bahkan pandangan Bruce Henderson dalam BCG, lebih menyetujui KR dari pada DR ketika harga bahan dan produksi linear memiliki bisnis yang lebih stabil ketimbang pandangan DR yang menumpuk keuntungan pada titik tertentu. 

 

Kudeta covid

    Apakah sampar  

Selasa, 27 Oktober 2020

Aku merindukanmu

Hari ini aku berpelukan dengan Soekarno, aku bertemu dengan macam segala konflik yang terjadi di amerika dan mexico ada sebuah gerbang dimana saya tidak bisa melakukan perjalanan karena daratan antara Amerika Utara dan dan Amerika Selatan dikuasai oleh suatu negara yang mikin. Jalurnya sangat terbatas untuk itu kami bersama rombongonan menyetujui untuk melakukan intograsi setelah kejadian ini berlalu. 

Diskusi berlanjut aku bagian dari duta konflik tapi pertanyaan mengapa saya ada disana tidak saya ketahui dengan jelas. Aku memeluk Sukarno setelah itu namun ada sesuatu yang saya herankan menagapa saya bertemu dengan AGP di malam itu. Kami berpisah,

Ini malam, sama seperti biasanya aku rindu bukan main. Aku tidak mengerti mengapa saya menjalaninya, mengikhlaskan atau tidak, saya hanya mengerti bahwa kali ini saya tidak bisa memahami bagaimana saya harus menghadapi ini, banyak kecemasan yang berlalu. Tapi yang saya ketahui bahwa aku merindukanmu. 

Banyak buku yang telah kubeli hari ini efek dari Mimpi judulnya yang ada Soekarno-nya. Beberapa judul yang saya beli di bukalapak kali ini adalah

1. Dibawah bendera revolusi.
2. Makna cinta menurut Soren Kierkegaard
3. Filsafat eksistensialisme Kierkegaard
4. Pokok-pokok Ajaran Marhaenisme.
5. Kebenaran dan methode George Hans Gadamer

tapi kita lihat bagaimana ini bisa mengobati kerinduan ku padamu. 

Rabu, 23 September 2020

Diskusi Warteg#1

 

Aturan adalah Karya Seni

Jadi apa itu kebebasan? Mungkin itulah yang ingin saya tanyakan pada lelaki itu, dia mengatakan bahwa seniman itu penuh disiplin dan aturan yang baku. Saya setuju dengan pendapat itu, seni membutuhkan dedikasi dari seniman. Tapi sayangnya lelaki itu tidak setuju bahwa seniman itu tidaklah bebas, ada aturan yang membatasi seni itu sendiri. Itulah yang membuat saya tidak setuju dengan kalimat itu. Seniman ingin melakukan dedikasi karena dia ingin meletakan jiwanya pada karya seni itu sendiri. Jelas itu dedikasi, mungkin aturan memang berlaku, tapi dalam kaidah tertentu, sementara kaidah itu sendiri diciptakan oleh seniman itu sendiri, itu jawabanku. Iya segala macam kaidah diciptakan oleh manusia, tapi manusia tidak boleh dibelenggu atau dikontrol oleh aturan yang dia ciptakan itu sendiri, bagi saya aturan adalah karya seni.

Seperti halnya yang dikatakan oleh George Fredrich Wilhelm Hegel misalkan, bahwa kuantitas menentukan kualitas, jadi saya memang setuju dengan pendapat bahwa karya seni memang melewati disiplin dan dedikasi. Tapi melalui disiplin dan dedikasi seorang seniman boleh menentukan takdirnya sendiri. Senimanlah yang menciptakan aturan seninya. Selera orang mungkin boleh berbeda tapi kebebasan untuk menentukan takdirnya sendiri adalah hak dari seniman.

Agama dan Seni

Apakah segala macam keindahan dari alQuran bisa ditafsirkan indah oleh semua manusia? Saya pernah kuliah agama, disana sang dosen menunjukan betapa indahnya lantunan ayat suci alqur’an karena akhiran sajaknya sama, seperti suku kata had pada surat al-Ikhlas dan sebagainya, Tapi tidak semua surat alquran akhiran suku katanya sama. Maka argumentasi bahwa indah karena suku kata itu sama bisa dibantahkan. Lagipula ada juga orang yang tidak bisa melantunkan ayat alQuran dengan fasih, atau mungkin tidak dengan nada yang bagus, bukankah itu juga tergantung dari siapa yang melafadkan?

Mungkin benar apa yang diakatakan oleh Jalaludin Rumi, bahwa kita akan selalu melihat indah dari apa yang kita cintai. Tapi tidak semua ungkapan itu sama antara kata dan makna. Bisa saja orang yang mengatakan indah itu adalah agen CIA yang berusaha mendapat perhatian dari orang Islam misalkan, dan ini akan menjelaskan kesadaran kita pada apa yang kita bahas selanjutnya,

Sok Seniman

Mungkin sok seniman atau seniman sejati sebenarnya tidak ada masalah tentang hal itu. Karena bagi Fredrich Nietzsche kebohongan dan kejujuran itu maknanya sama, “orang sudah telanjang dengan topengnya sendiri” mungkin itulah yang ingin dijelaskan dalam karyanya di Zarathustra. Seperti halnya juga Jacques Derrida, bahwa kita tidak boleh menafsirkan teks diluar dari teks tersebut, begitu juga karya seni. Jadi argumen tentang sok seniman dan seniman yang sebenaranya analog untuk pendapat kita itu manusia atau sok manusia. Bahkan kita bisa juga bahas bahwa orang beragama atau sok beragama, dan keduanya sama. Hanya kesadaran mana yang mampu memberikan pemahaman untuk eksistensi yang lebih konstrutif yang lebih kita pilih, dan masing penafsir meiliki seleranya sendiri-sendiri. Mungkin begitu juga kata Martin Heidegger bahwa kesadaran eksistensi seseorang itu yang akan membawanya pada masa depan, bukan penyampai tapi kontent kesadaran apa yang ingin dibawa melalui proses eksistensialismenya pada apresiasi seni, ada yang mengapresiasi dengan membeli karya seni hingga dia jatuh miskin, ada juga mengapresiasi seni dengan membeli dan menjualnya dengan lebih mahal. Itulah mengapa apresiasi mempengaruhi seseorang menentukan masadepannya.

Rabu, 16 September 2020

Pandangan Kierkegaard tentang Socrates dan Releavansi pada Kehidupan Modern

Kierkegaard memandang bahwa kebenaran bukan sesuatu yang ada diluar diri kita, pandangan ini merupakan persetujuan Kierkegaard akan Socrates. Kierkegaard meyakini bahwa tidak ada kebenaran objective. Kebenaran sebenarnya muncul secara subjective. Dia mulai mengembangkan bahwa pandangan Descartes tentang "Aku ragu maka ada." dan menyetujuinya, merupakan asal muasal kebenaran itu sendiri. Seperti halnya Daimon nya Socrates, bahwasanya kebenaran itu ditemukan dalam kebebasan subjective.

Relevansi dengan Kehidupan Modern

Kehidupan modern memberikan kita kesempatan untuk bisa melihat beragam fenomena dengan cenderung mekanis. Dahulu orang meyakini bahwa hujan dibentuk oleh keyakinan bahwa para dewa yang menciptakan hujan, sekarang orang menyakini bahwa peristiwa hujan adalah proses alami yang bisa dijelaskan secara mekanis. Dan kebenaran berada terlepas dari individu, alias kebenaran memang seperti itu tanpa persetujuan dari dalam pengamat. Kebenaran ada diluar dari dalam diri manusia. 

Semakin seiringnya kemajuan teknologi, hal-hal yang dogmatis menjadi terlihat dalam sains. Walaupun sekarang sains juga menjadi sesuatu yang dogmatis juga. Dengan logika yang ketat teknologi mampu menjelaskan tentang segala macam kebenaran. Bahkan ilmu tentang manusia dan psikologinya sekalipun. Kebenaran berada dalam kerangka dluar manusia, atau yang sering kita pahami sebagai kebenaran objective.

 Jika semua kebenaran terjadi dalam kerangka objective maka pertanyaan muncul "Apakah kebenaran subjective sebenarnya tidak ada?". Mungkinkah tentang ketidak pastian Heisenberg bisa membantu? Mungkin, yang paling jelas untuk menjelaskannya adalah Heidegger, dia melihat bahwa kebenaran adalah sebuah ketersingkapan "aletheia" dari "sang Ada", yang artinya subjective. Setelah itu kebenaran itu diinterpretasikan. 

Kesadaran mungkin merupakakan kata yang bagus untuk menunjukan kerelevanan pandangan Kierkegaard atas kebenaran subjective. Dalam era modern kita akan melihat bahwa kesadaran manusia menentukan fungsi dari beragam macam alat. Pisau untuk memotong, bisa jadi digunakan untuk bersenggama. Kebenaran akan selalu relatif tergantung dari kesadaran yang dibawa. 

 

Selasa, 15 September 2020

Dockerizing all

 Today i am gonna dockerize all service with docker compose.

Kamis, 16 Juli 2020

Cio

https://stackoverflow.com/questions/35935060/how-can-i-generate-an-apk-that-can-run-without-server-with-react-native