Laman

Selasa, 14 Februari 2017

Komentar Kajian Valentine MG: Tentang Cinta dan Eksistenasialisme

Cinta merupakan sebuah solusi dari permasalahan eksistensial terbesar dalam kehidupan manusia, itulah yang diungkapkan oleh Soren Kierkegaard dalam The Work of Love. Eksistensialisme membahas tentang bagaimana paradigma yang dikaitkan dengan ada, atau lebih sering dikenal dalam bahasa filsafat, tentang kajian Ontologi. Lalu apakah ada itu mendahului ide atau tidak saling berkorelasi atau sebagainya?
Dalam kajian yang dilakukan oleh Majalah Ganesha pada tanggal 14 Februari 2017, yang bertepatan dengan dua hari sebelum Aziz Amerul Faozi merayakan ulang tahunnya yang ke 23, ada beragam pertanyaan yang masih membenahi diri saya. Pertama, jika cinta merupakan solusi eksistensial terbesar maka mengapa cinta masih bergantung pada entitas selain cinta, bukankah ada atau sesuatu yang eksis itu muncul dari ketiadaan, atau dengan artian cinta merupakan entitas yang independent dan merupakan sebuah entitas yang akan mempengaruhi entitas dependesi yang lain. Dalam kajian tersebut pembicara menjelaskan cinta muncul dengan alasan atau dalam kajian tersebut dinamakan sebagai “apanya”, yang membentuk struktur cinta. Jean Paul Sartre dalam L’Existence et L’Neant, berujar bahwa ada muncul dari ketiadaan, dari tafsiran dia terhadap Martin Heidegger, yang mecoba menafsirkan bahwa ada muncul begitu saja, dan prosesi tersebut dikenal sebagai Angst. 
Pembicara juga secara tersirat bahwa dalam cinta ada maksud dan tujuan yang terepresentasikan dalam hasrat, tapi hal ini akan menjelaskan bahwa hasrat mendahului cinta. Dalam von Der Maningfachen Bedeutung des Seinden nach Aristotle, Heidegger berujar bahwa, kebenaran tidaklah membutuhkan bukti, dia akan menampakan diri dan menginterpretasikannya sendiri, adalah lebih bijak untuk membiarkan kebenaran menampakan dirinya sendiri, dari dirinya melalui dirinya. Dan tidak ada kaitan antara bukti dengan kebenaran menurut Heidegger, dan jika kebenaran membutuhkan bukti maka kebenaran tersebut disebut dekaden terhadap bukti, atau dalam bahasa saya disebut sebagai “mengada-ada”, karena adanya bergantung pada sesuatu.
Tetang teori cinta yang dibahas oleh bapak pembicara, menurut Martin Heidegger, bahwasanya kalaupun kita berusaha untuk mencari beragam framework untuk menjelaskan ada, kita tidak akan sampai memahai ada, lalu mengapa kita tidak membahas tentang ketiadaan. Begitu pula cinta, apakah beragam framework tentang cinta yang telah disampaikan oleh bapak pembicara, telah menyempitkan cinta itu sendiri?
Tentang subjek dan object dalam cinta. Dalam Fihi ma fihi, fathul rabbani, al-hikam yang mencoba bekspresi dalam puisi. Cinta berarti bentuk lenyapnya diri seorang pencinta dalam entitas yang dicintai, dari sini tidak ada subjek dan objek. Dalam hermeneutika Heidegger, proses Dasein “Ada disana” berarti dia berada menyatu disana, jika ada kerangka subjek dan objek berarti kondisi itu dalam ranah prareflektif, dan ini berada dalam domain epistemologi maupun aksiologi, sehingga pembahasan tersebut tidak bisa dijadikan cinta sebagai solusi eksistensial, apalagi terbesar.
Tentang makna aku dan kamu, seperti yang tertulis dalam Cukup karya Voldemort (yang kau tahu namanya tapi tidak boleh disebut : lihat daftar pustaka indeks ke 1). Voldemort menjelaskan bahwa “Hidup ini tentang aku, bukan tentang aku dan kamu”, dari sini kita akan belajar, bahwa dalam cinta, kamu dan aku telah melebur manjadi aku. Dalam kondisi ini tidak ada kerangka, dan tidak ada apa-apa, atau berarti nihil secara mutlak (Tiada secara final), atau seperti yang diungkapkan dalam beragam puisi persia sebagai bentuk kefanaan kamu dalam aku, dimana entitas individu telah lenyap dan menyatu dalam kerangka universal dan ketiadaan sekaligus.

Daftar Pustaka :

  1. Kusumawardhani, Intan. 2016. “Cukup”. Bandung : http://jalanberbunga.tumblr.com/post/142348367043/cukup
  2. Kierkegaard, Soren. -. “The Work of Love.”
  3. Rumi, Jalaludin. -. “Fihi ma Fihi.”
  4. Heidegger Martin. - .”Von Der Maningfachen Bedeutung des Seinden Nach Aristoteles.”
  5. Heidegger Marting. -. “Sein und Zeit”
  6. Sartre, Jean Paul. -.”L’etre et L’ neant”