Kerinduan adalah sebuah proses menuju yang lebih tersingkap.
Ketersingkapan menurut Heidegger adalah sebuah kebenaran. Seperti yang
diungkapkan oleh Imam Ghazali dalam kitab Ikhya Ulumudin bahwa tajali,
merupakan salah satu proses menuju kebenaran. Hati yang kotor akan
menutupi kebenaran, seperti cermin yang berdebu kita tak akan mampu
melihat dengan sempurna wajah diri kita yang sebenarnya, jika debu dalam
hati masih menutupi cermin jiwa itu.
Tuhan ada dalam diri kita, seperti kata Nietzsche ataupun al Halaj, tapi tidak semua orang melihatnya. Tuhan begitu dekat dengan dirikita, bahkan lebih dekat dari urat leher kita. Tapi substansi kita berasal dari Tuhan, bagaimana tidak? Kita dipaksa oleh kesombongan kita, bahkan dalam agama sekalipun bahwa Tuhan adalah entitas yang terpisah. Layak sebuah tangan, apakah tangan terpisah dari tubuh manusia, kesadaran tangan akan mencoba menguggulkan egonya hingga dia merasa terpisah dari tubuhnya.
Tapi Tuhan lebih tahu, bahwa manusia adalah bagian dari dirinya. Tak ada orang yang ingin menyakiti dirinya sendiri, begitu mungkin dengan Tuhan, apakah dia tidak sakit ketika menyakiti dirinya sendiri. Andaikata kesakitan bagian tubuh itu, apakah tubuh yang substantif tidak pernah peduli. Untuk itu mengapa engkau berfikir bahwa Tuhan tidak penyayang.
Tuhan ada dalam diri kita, seperti kata Nietzsche ataupun al Halaj, tapi tidak semua orang melihatnya. Tuhan begitu dekat dengan dirikita, bahkan lebih dekat dari urat leher kita. Tapi substansi kita berasal dari Tuhan, bagaimana tidak? Kita dipaksa oleh kesombongan kita, bahkan dalam agama sekalipun bahwa Tuhan adalah entitas yang terpisah. Layak sebuah tangan, apakah tangan terpisah dari tubuh manusia, kesadaran tangan akan mencoba menguggulkan egonya hingga dia merasa terpisah dari tubuhnya.
Tapi Tuhan lebih tahu, bahwa manusia adalah bagian dari dirinya. Tak ada orang yang ingin menyakiti dirinya sendiri, begitu mungkin dengan Tuhan, apakah dia tidak sakit ketika menyakiti dirinya sendiri. Andaikata kesakitan bagian tubuh itu, apakah tubuh yang substantif tidak pernah peduli. Untuk itu mengapa engkau berfikir bahwa Tuhan tidak penyayang.