Tristan mulai meragukan perasanya pada Isolde. Dia merindukan dirinya yang dahulu. Apakah kemapanan hidup telah memisahkan dirinya dengan diri-Nya. Tristan memutuskan untuk melamar Isolde. Tritan kemudian berjumpa dengan Don Maroque.
"Perisi pak, saya ingin melamar anak bapak."
"Mengapa kamu ingin melamar anak saya."
"Saya mulai meragukan perasaan saya pada Isolde. Saya hanya ingin memastikan bahwa apakah benar saya mencintai anak bapak atau tidak."
"Lalu apa jawaban yang ingin anda terima?"
"Sekali lagi saya hanya ingin memastikan persaan saya pada anak bapak. Tidak ada jaminan saya masih mencintainya atau tidak. Tapi jika benar saya tidak ingin mencintai dengan setengah-setengah. Terima jika anda memang ingin menerima dan tolak jika anda memang benar ingin menolak."
"Udah kerja belum?"
"Kaya miskin itu dinamis pak. Tapi saya ingin tahu sebenarnya apakah saya masih mencintai anak bapak atau tidak, saya harap saya menerima jawaban itu, dari jawaban atas lamaran saya pada anak bapak."
"Hanya untuk itu, apakah kamu serius melamar anak saya."
"Untuk cinta saya mengabdi, Pak. "
"Perisi pak, saya ingin melamar anak bapak."
"Mengapa kamu ingin melamar anak saya."
"Saya mulai meragukan perasaan saya pada Isolde. Saya hanya ingin memastikan bahwa apakah benar saya mencintai anak bapak atau tidak."
"Lalu apa jawaban yang ingin anda terima?"
"Sekali lagi saya hanya ingin memastikan persaan saya pada anak bapak. Tidak ada jaminan saya masih mencintainya atau tidak. Tapi jika benar saya tidak ingin mencintai dengan setengah-setengah. Terima jika anda memang ingin menerima dan tolak jika anda memang benar ingin menolak."
"Udah kerja belum?"
"Kaya miskin itu dinamis pak. Tapi saya ingin tahu sebenarnya apakah saya masih mencintai anak bapak atau tidak, saya harap saya menerima jawaban itu, dari jawaban atas lamaran saya pada anak bapak."
"Hanya untuk itu, apakah kamu serius melamar anak saya."
"Untuk cinta saya mengabdi, Pak. "