Laman

Rabu, 23 September 2020

Diskusi Warteg#1

 

Aturan adalah Karya Seni

Jadi apa itu kebebasan? Mungkin itulah yang ingin saya tanyakan pada lelaki itu, dia mengatakan bahwa seniman itu penuh disiplin dan aturan yang baku. Saya setuju dengan pendapat itu, seni membutuhkan dedikasi dari seniman. Tapi sayangnya lelaki itu tidak setuju bahwa seniman itu tidaklah bebas, ada aturan yang membatasi seni itu sendiri. Itulah yang membuat saya tidak setuju dengan kalimat itu. Seniman ingin melakukan dedikasi karena dia ingin meletakan jiwanya pada karya seni itu sendiri. Jelas itu dedikasi, mungkin aturan memang berlaku, tapi dalam kaidah tertentu, sementara kaidah itu sendiri diciptakan oleh seniman itu sendiri, itu jawabanku. Iya segala macam kaidah diciptakan oleh manusia, tapi manusia tidak boleh dibelenggu atau dikontrol oleh aturan yang dia ciptakan itu sendiri, bagi saya aturan adalah karya seni.

Seperti halnya yang dikatakan oleh George Fredrich Wilhelm Hegel misalkan, bahwa kuantitas menentukan kualitas, jadi saya memang setuju dengan pendapat bahwa karya seni memang melewati disiplin dan dedikasi. Tapi melalui disiplin dan dedikasi seorang seniman boleh menentukan takdirnya sendiri. Senimanlah yang menciptakan aturan seninya. Selera orang mungkin boleh berbeda tapi kebebasan untuk menentukan takdirnya sendiri adalah hak dari seniman.

Agama dan Seni

Apakah segala macam keindahan dari alQuran bisa ditafsirkan indah oleh semua manusia? Saya pernah kuliah agama, disana sang dosen menunjukan betapa indahnya lantunan ayat suci alqur’an karena akhiran sajaknya sama, seperti suku kata had pada surat al-Ikhlas dan sebagainya, Tapi tidak semua surat alquran akhiran suku katanya sama. Maka argumentasi bahwa indah karena suku kata itu sama bisa dibantahkan. Lagipula ada juga orang yang tidak bisa melantunkan ayat alQuran dengan fasih, atau mungkin tidak dengan nada yang bagus, bukankah itu juga tergantung dari siapa yang melafadkan?

Mungkin benar apa yang diakatakan oleh Jalaludin Rumi, bahwa kita akan selalu melihat indah dari apa yang kita cintai. Tapi tidak semua ungkapan itu sama antara kata dan makna. Bisa saja orang yang mengatakan indah itu adalah agen CIA yang berusaha mendapat perhatian dari orang Islam misalkan, dan ini akan menjelaskan kesadaran kita pada apa yang kita bahas selanjutnya,

Sok Seniman

Mungkin sok seniman atau seniman sejati sebenarnya tidak ada masalah tentang hal itu. Karena bagi Fredrich Nietzsche kebohongan dan kejujuran itu maknanya sama, “orang sudah telanjang dengan topengnya sendiri” mungkin itulah yang ingin dijelaskan dalam karyanya di Zarathustra. Seperti halnya juga Jacques Derrida, bahwa kita tidak boleh menafsirkan teks diluar dari teks tersebut, begitu juga karya seni. Jadi argumen tentang sok seniman dan seniman yang sebenaranya analog untuk pendapat kita itu manusia atau sok manusia. Bahkan kita bisa juga bahas bahwa orang beragama atau sok beragama, dan keduanya sama. Hanya kesadaran mana yang mampu memberikan pemahaman untuk eksistensi yang lebih konstrutif yang lebih kita pilih, dan masing penafsir meiliki seleranya sendiri-sendiri. Mungkin begitu juga kata Martin Heidegger bahwa kesadaran eksistensi seseorang itu yang akan membawanya pada masa depan, bukan penyampai tapi kontent kesadaran apa yang ingin dibawa melalui proses eksistensialismenya pada apresiasi seni, ada yang mengapresiasi dengan membeli karya seni hingga dia jatuh miskin, ada juga mengapresiasi seni dengan membeli dan menjualnya dengan lebih mahal. Itulah mengapa apresiasi mempengaruhi seseorang menentukan masadepannya.

Rabu, 16 September 2020

Pandangan Kierkegaard tentang Socrates dan Releavansi pada Kehidupan Modern

Kierkegaard memandang bahwa kebenaran bukan sesuatu yang ada diluar diri kita, pandangan ini merupakan persetujuan Kierkegaard akan Socrates. Kierkegaard meyakini bahwa tidak ada kebenaran objective. Kebenaran sebenarnya muncul secara subjective. Dia mulai mengembangkan bahwa pandangan Descartes tentang "Aku ragu maka ada." dan menyetujuinya, merupakan asal muasal kebenaran itu sendiri. Seperti halnya Daimon nya Socrates, bahwasanya kebenaran itu ditemukan dalam kebebasan subjective.

Relevansi dengan Kehidupan Modern

Kehidupan modern memberikan kita kesempatan untuk bisa melihat beragam fenomena dengan cenderung mekanis. Dahulu orang meyakini bahwa hujan dibentuk oleh keyakinan bahwa para dewa yang menciptakan hujan, sekarang orang menyakini bahwa peristiwa hujan adalah proses alami yang bisa dijelaskan secara mekanis. Dan kebenaran berada terlepas dari individu, alias kebenaran memang seperti itu tanpa persetujuan dari dalam pengamat. Kebenaran ada diluar dari dalam diri manusia. 

Semakin seiringnya kemajuan teknologi, hal-hal yang dogmatis menjadi terlihat dalam sains. Walaupun sekarang sains juga menjadi sesuatu yang dogmatis juga. Dengan logika yang ketat teknologi mampu menjelaskan tentang segala macam kebenaran. Bahkan ilmu tentang manusia dan psikologinya sekalipun. Kebenaran berada dalam kerangka dluar manusia, atau yang sering kita pahami sebagai kebenaran objective.

 Jika semua kebenaran terjadi dalam kerangka objective maka pertanyaan muncul "Apakah kebenaran subjective sebenarnya tidak ada?". Mungkinkah tentang ketidak pastian Heisenberg bisa membantu? Mungkin, yang paling jelas untuk menjelaskannya adalah Heidegger, dia melihat bahwa kebenaran adalah sebuah ketersingkapan "aletheia" dari "sang Ada", yang artinya subjective. Setelah itu kebenaran itu diinterpretasikan. 

Kesadaran mungkin merupakakan kata yang bagus untuk menunjukan kerelevanan pandangan Kierkegaard atas kebenaran subjective. Dalam era modern kita akan melihat bahwa kesadaran manusia menentukan fungsi dari beragam macam alat. Pisau untuk memotong, bisa jadi digunakan untuk bersenggama. Kebenaran akan selalu relatif tergantung dari kesadaran yang dibawa. 

 

Selasa, 15 September 2020

Dockerizing all

 Today i am gonna dockerize all service with docker compose.