Masih sama pembicaraan teman sekontrakan ini dari
dulu, tidak berkembang antara kajian tentang Cinta atau Nafsu. Untuk
membantu teman sekontrakan saya mencoba menulis artikel ini.
Entahlah, membantu atau tidak, karena sebenarnya akupun tidak tahu
tentang keduannya dan tidak mau tahu juga tentang kedua hal tersebut,
pasalnya tahupun itu cinta atau nafsu hidupku tidak bisa lepas dari
rokok ataupun kegiatan amoral lainnya. Berikut penjelasannya dalam
beberapa kajian literatur yang mungkin tidak akan membantu.
Dalam bahasa latin cinta disebut sebagai dengan
philos, sedangkan bijak disebut sebagai sofi. Jika digabungkan kedua
kata tersebut akan membentuk frasa Philosophie. Pemikiran bijak
mungkin diperlukan supaya pembahasan mereka bisa menjadi lebih
berkembang, mungkin bisa membuat jurnal ilmiah tentang bagaimana
modus seorang cewe, kan lumayan membantu para Homo Jombloensis
(Manusia Jomblo) seperti saya. Dan istilah cinta yang bijak ini
muncul pada zaman pytagoras, seorang matematikawan yang jauh dari
ilmu social seperti apa yang diceritakan oleh teman sekosan saya.
Saya masih tidak mengerti mengapa orang sosial
begitu membanggakan dirinya tentang bahasan tentang cinta. Apakah
cinta merupakan ilmu yang dikapitalis oleh orang sosial? Tapi memang
secara empiris membuktikan bahwa anak sosial memiliki pacar yang
lebih banyak, ketimbang orang yang berfundamen keilmuan sains,
terbukti saya jomblo. Walaupun saya masih belum bisa membedakan
antara ilmu sains dan sosial, karena keduanya merupakan wissenschaft
(ilmu), tapi apakah juga
analisa ini juga masuk kedalam kategori sosial atau sains?
Ada teman
sekontrakan lain yang menyebutkan bahwa seorang saintis memang
memiliki kasus percintaan yang tragis, layaknya Einstein yang
meninggalkan istri hanya untuk belajar fisika. Iyah, mungkin para
kaum sosial menganggap dirinya lebih unggul dalam masalah cinta,
dunia memang tidak seideal anak kaum sain, tapi sejak kapan anak
sains menganggap dunia itu ideal. Hanyalah kerangka sebuah sistem
reduksionislah yang dipakai sebagai analisa sains, itupun hanya
tergantung pada persoalaan diatas kertas, walaupun masih Cartesian,
tapi anak sains juga belajar fisika modern semacam relatifitas, dan
kerangka yang sthocastik, buktinya bahkan dalam biologipun yang
memiliki aib sebagai orang yang hanya membaca tanpa memahami juga
belajar algoritma genetika.
Sekarang masuk
kedalam pembahasan cinta, walaupun saya tidak begitu suka
membahasnya, iyah karena terlalu absurb dan tidak menolong. Seperti
yang dikatakan oleh Decartes, “Cogito Ergosum”, aku
berfikir maka aku ada. Paradigma yang ditampilkan oleh kaum sosial
nampak seperti apa yang dikatakan Decartes, yang notabennya seorang
matematikawan, karena mereka masih merenungkan makna dari cinta itu
sendiri. Walaupun kalimat itu diungkapkan oleh orang yang cukup mapan
dalam intelektualitas, namun masih ada intelektual lain yang
menkonter pemikiran dia, Martin Heidegger namanya. Manusia
berkebangsaan Jerman ini pernah mengungkapkan bahwa kebenaran
tidaklah terkait dengan corelasi, dia akan menampakan dirinya begitu
saja, silahkan anda baca di tulisannya, Von der manningfachen
Beudutung des Seinden nah Aristoteles. Seperti layaknya kebenaran,
cinta tidak bisa dipahami ( verseit ) dengan
melakukan inspeksi pada definisi cinta, karena makna terpisah dari
kata. Perlu pemahaman ontologis untuk bisa memahami cinta itu sendiri
sebagai Sein (Ada),
karena jika cinta itu berhasil didefinisikan maka itu berada dalam
ranah pascareflektif, atau cinta hasil inspeksi, atau cinta yang
mengada-ada, seindes.
Dari sini kita akan memahami bahwa cinta tidak membutuhkan bukti
karena cinta tidak tergantung pada bukti, tapi cinta akan menampakan
dirinya sebagai sesuatu yang ada.