Laman

Kamis, 01 September 2016

Anomali Ateis


Ada hal yang membuat saya heran dengan beragam kumpulan orang. Orang yang sering disebut sebagai ateis justru lebih sering membicarakan Tuhan ketimbang dengan orang yang sering disebut ustadz mesjid. Kalaupun membahas tentang Tuhan, tidak lain yang dibahasa hanyalah persoalan kelamin, uang, atau segala yang berbau dengan hal-hal yang tidak penting. Mungkin orang para ustadz mesjid berfikir bahwa Tuhan adalah proffesor kedokteran di bidang kelamin dan proffesor di bidang ekeonomi. Ada beragam tulisan mengenai kelamin yang bisa anda mudah temukan di postingan para ustadz mesjid. Tapi saya tidak habis fikir kenapa tidak sekalian membuka kelas kelamin di mesjid, semisal membahas permasalahan alat kelamin yang susah untuk dikendalikan.
Memang ustadz mesjid memiliki kemampuan yang melampaui ulama persia, maupun para proffesor di Eropa, bagaimana tidak, mereka bahkan bisa dengan mudah menjustifikasi masalah kelamin hanya dengan satu buku, al Quran namanya, bahkan ulama persia, maupun eropa membahas dengan merujuk pada beragam buku tidak hanya al Qur’an. Jenius sekali bukan anak mesjid itu?
Ketika para ulama dan para filsuf membahas Tuhan hingga sampai sekarang belum tuntas. Tapi para ustadz mesjid bisa mejustifikasi kekafiran dengan hanya merujuka pada sepatah kata dari satu buku. Memang jenius sekali ustadz mesjid.
Ketika para jenius di belahan dunia membahas dengan mempertaruhkan hidupnya untuk cinta, ustadz mesjid cukup dengan sepatah ayat, luar biasa jenius bukan. Iyah walaupun anak mesjid begitu jenius, tapi saya harap mereka tidak terlalu sombong dengan kejeniusannya, dan menganggap dirinya yang paling benar, apa lagi hanya dengan rujukan satu patah kalimat.
Ketika Nietzsche perlu belajar ke Yunani, Persia, atau manapun. Ustadz cuma cukup datang kemasjid untuk bisa mengafirkan Nietzsche, betapa hebatnya mesjid itu. Ketika permasalahan Tuhan yang bisa diselesaikan dengan sepatah kalimat dengan dukungan pendapat yang mereka sebut sebagai titah Tuhan, mereka dengan gampang menilai bentuk kekafiran. Memang keren anak mesjid itu, betapa mereka begitu pintar. Padahal kata anak mesjid kafir adalah menutup diri dari kebenaran, dan kebenaran adalah realitas itu sendiri, sementara Nietzsche mengajak kita untuk mengafirmasi realitas dan tidak mengamputasinya.
Jenius itulah yang memang pantas untuk diberikan utnuk anak mesjid, ketika Decartes, Spinoza, Liebniz perlu membaca dan menulis untuk mengejawantahkan tetnang realitas dan ilusi. Hanya dengan pendapat dari Ustadz mesjid kita bisa mendapatkan fatwa tetang realitas dan ilusi. Bahkan mereka juga telah melangkahi ulama-ulama yang menjadi rujukan mereka, seperti Imam Ghozali, Ibnu Qoyim, Ibnu Taimiyah, atau Jalaludin Rumi. Menarik memang melihat tingkat kecerdasan anak mesjid yang begitu luar biasa. Bahkan mungkin mereka sudah bisa melampaui Nabi Muhammad yang mereka agungkan sebagai teladan mereka. Dan sebagai orang bodoh yang biasa saja, saya hanya bisa mengatakan bahwa, Tuhan mengapa mereka begitu pintar?