Ada hal yang membuat saya heran dengan beragam
kumpulan orang. Orang yang sering disebut sebagai ateis justru lebih
sering membicarakan Tuhan ketimbang dengan orang yang sering disebut
ustadz mesjid. Kalaupun membahas tentang Tuhan, tidak lain yang
dibahasa hanyalah persoalan kelamin, uang, atau segala yang berbau
dengan hal-hal yang tidak penting. Mungkin orang para ustadz mesjid
berfikir bahwa Tuhan adalah proffesor kedokteran di bidang kelamin
dan proffesor di bidang ekeonomi. Ada beragam tulisan mengenai
kelamin yang bisa anda mudah temukan di postingan para ustadz mesjid.
Tapi saya tidak habis fikir kenapa tidak sekalian membuka kelas
kelamin di mesjid, semisal membahas permasalahan alat kelamin yang
susah untuk dikendalikan.
Memang ustadz mesjid memiliki kemampuan yang
melampaui ulama persia, maupun para proffesor di Eropa, bagaimana
tidak, mereka bahkan bisa dengan mudah menjustifikasi masalah kelamin
hanya dengan satu buku, al Quran namanya, bahkan ulama persia, maupun
eropa membahas dengan merujuk pada beragam buku tidak hanya al
Qur’an. Jenius sekali bukan anak mesjid itu?
Ketika para ulama dan para filsuf membahas Tuhan
hingga sampai sekarang belum tuntas. Tapi para ustadz mesjid bisa
mejustifikasi kekafiran dengan hanya merujuka pada sepatah kata dari
satu buku. Memang jenius sekali ustadz mesjid.
Ketika para jenius di belahan dunia membahas
dengan mempertaruhkan hidupnya untuk cinta, ustadz mesjid cukup
dengan sepatah ayat, luar biasa jenius bukan. Iyah walaupun anak
mesjid begitu jenius, tapi saya harap mereka tidak terlalu sombong
dengan kejeniusannya, dan menganggap dirinya yang paling benar, apa
lagi hanya dengan rujukan satu patah kalimat.
Ketika Nietzsche perlu belajar ke Yunani, Persia,
atau manapun. Ustadz cuma cukup datang kemasjid untuk bisa
mengafirkan Nietzsche, betapa hebatnya mesjid itu. Ketika
permasalahan Tuhan yang bisa diselesaikan dengan sepatah kalimat
dengan dukungan pendapat yang mereka sebut sebagai titah Tuhan,
mereka dengan gampang menilai bentuk kekafiran. Memang keren anak
mesjid itu, betapa mereka begitu pintar. Padahal kata anak mesjid
kafir adalah menutup diri dari kebenaran, dan kebenaran adalah
realitas itu sendiri, sementara Nietzsche mengajak kita untuk
mengafirmasi realitas dan tidak mengamputasinya.
Jenius itulah yang memang pantas untuk diberikan
utnuk anak mesjid, ketika Decartes, Spinoza, Liebniz perlu membaca
dan menulis untuk mengejawantahkan tetnang realitas dan ilusi. Hanya
dengan pendapat dari Ustadz mesjid kita bisa mendapatkan fatwa tetang
realitas dan ilusi. Bahkan mereka juga telah melangkahi ulama-ulama
yang menjadi rujukan mereka, seperti Imam Ghozali, Ibnu Qoyim, Ibnu
Taimiyah, atau Jalaludin Rumi. Menarik memang melihat tingkat
kecerdasan anak mesjid yang begitu luar biasa. Bahkan mungkin mereka
sudah bisa melampaui Nabi Muhammad yang mereka agungkan sebagai
teladan mereka. Dan sebagai orang bodoh yang biasa saja, saya hanya
bisa mengatakan bahwa, Tuhan mengapa mereka begitu pintar?