Laman

Sabtu, 24 September 2016

Gosip Kontrakan : Cinta atau Nafsu


Masih sama pembicaraan teman sekontrakan ini dari dulu, tidak berkembang antara kajian tentang Cinta atau Nafsu. Untuk membantu teman sekontrakan saya mencoba menulis artikel ini. Entahlah, membantu atau tidak, karena sebenarnya akupun tidak tahu tentang keduannya dan tidak mau tahu juga tentang kedua hal tersebut, pasalnya tahupun itu cinta atau nafsu hidupku tidak bisa lepas dari rokok ataupun kegiatan amoral lainnya. Berikut penjelasannya dalam beberapa kajian literatur yang mungkin tidak akan membantu.
Dalam bahasa latin cinta disebut sebagai dengan philos, sedangkan bijak disebut sebagai sofi. Jika digabungkan kedua kata tersebut akan membentuk frasa Philosophie. Pemikiran bijak mungkin diperlukan supaya pembahasan mereka bisa menjadi lebih berkembang, mungkin bisa membuat jurnal ilmiah tentang bagaimana modus seorang cewe, kan lumayan membantu para Homo Jombloensis (Manusia Jomblo) seperti saya. Dan istilah cinta yang bijak ini muncul pada zaman pytagoras, seorang matematikawan yang jauh dari ilmu social seperti apa yang diceritakan oleh teman sekosan saya.
Saya masih tidak mengerti mengapa orang sosial begitu membanggakan dirinya tentang bahasan tentang cinta. Apakah cinta merupakan ilmu yang dikapitalis oleh orang sosial? Tapi memang secara empiris membuktikan bahwa anak sosial memiliki pacar yang lebih banyak, ketimbang orang yang berfundamen keilmuan sains, terbukti saya jomblo. Walaupun saya masih belum bisa membedakan antara ilmu sains dan sosial, karena keduanya merupakan wissenschaft (ilmu), tapi apakah juga analisa ini juga masuk kedalam kategori sosial atau sains?
Ada teman sekontrakan lain yang menyebutkan bahwa seorang saintis memang memiliki kasus percintaan yang tragis, layaknya Einstein yang meninggalkan istri hanya untuk belajar fisika. Iyah, mungkin para kaum sosial menganggap dirinya lebih unggul dalam masalah cinta, dunia memang tidak seideal anak kaum sain, tapi sejak kapan anak sains menganggap dunia itu ideal. Hanyalah kerangka sebuah sistem reduksionislah yang dipakai sebagai analisa sains, itupun hanya tergantung pada persoalaan diatas kertas, walaupun masih Cartesian, tapi anak sains juga belajar fisika modern semacam relatifitas, dan kerangka yang sthocastik, buktinya bahkan dalam biologipun yang memiliki aib sebagai orang yang hanya membaca tanpa memahami juga belajar algoritma genetika.
Sekarang masuk kedalam pembahasan cinta, walaupun saya tidak begitu suka membahasnya, iyah karena terlalu absurb dan tidak menolong. Seperti yang dikatakan oleh Decartes, “Cogito Ergosum”, aku berfikir maka aku ada. Paradigma yang ditampilkan oleh kaum sosial nampak seperti apa yang dikatakan Decartes, yang notabennya seorang matematikawan, karena mereka masih merenungkan makna dari cinta itu sendiri. Walaupun kalimat itu diungkapkan oleh orang yang cukup mapan dalam intelektualitas, namun masih ada intelektual lain yang menkonter pemikiran dia, Martin Heidegger namanya. Manusia berkebangsaan Jerman ini pernah mengungkapkan bahwa kebenaran tidaklah terkait dengan corelasi, dia akan menampakan dirinya begitu saja, silahkan anda baca di tulisannya, Von der manningfachen Beudutung des Seinden nah Aristoteles. Seperti layaknya kebenaran, cinta tidak bisa dipahami ( verseit ) dengan melakukan inspeksi pada definisi cinta, karena makna terpisah dari kata. Perlu pemahaman ontologis untuk bisa memahami cinta itu sendiri sebagai Sein (Ada), karena jika cinta itu berhasil didefinisikan maka itu berada dalam ranah pascareflektif, atau cinta hasil inspeksi, atau cinta yang mengada-ada, seindes. Dari sini kita akan memahami bahwa cinta tidak membutuhkan bukti karena cinta tidak tergantung pada bukti, tapi cinta akan menampakan dirinya sebagai sesuatu yang ada.