Laman

Kamis, 25 Agustus 2016

Jalaludin Nietzsche : Kezuhudan yang Ditopengi Kriminalitas Pembunuhan Tuhan


Apalagi pembunuhan paling kejam di dunia ini selain membunuh Tuhan? Bukankah itu jahat sekali? Membunuh Tuhan adalah sebuah prestasi yang luar biasa untuk para kriminal di dunia ini? Bayakngkan saja, betapa susahnya membunuh Presiden Amerika, Barak Obama. Bahkan banyak yang berencana membunuh presiden itu termasuk mungkin para ISIS. Namun dengan berbekal senjata, kemampuan dibidang teknologi, serta keilmuan jihad yang begitu mengalir di dalam darah ISIS, bahkan dengan doa-doa ustadz yang anti dengan Amerika, pun tak mampu menumbangkan presiden Amerika tersebut. Hanya dengan bermodalkan kesakitan Fredrich Nietzsche sang pembunuh Tuhan, sebuah pengakuan yang terlihat ateis, mampu membunuh Tuhan. Betapa luar biasa Nietzsche, sebagai seorang yang berfikir bahwa diriku orang beragama, pembunuhan Tuhan ini menggangguku. Apalagi mendengar ustadz-ustadz di salman yang mengatakan bahwa tulisan-tulisan Nietzsche adalah bentuk keputus-asaan yang luar biasa, dan bentuk kekecewaan tertinggi dalam menghadapi takdir kehidupan Nietzsche, semakin aku anti dengan Nietzsche, padahal para ustadz di Salman pas aku tanya, “Bapak pernah membaca buku Nietzsche?”, aku kaget kalau ustadz salman tersebut menjawab, “Belum”. Waduh, ini sebuah pelanggaran akademis menurutku, masa orang sudah menilai sebuah buku tanpa membaca buku tersebut, bahkan kalaupun sudah membaca, itupun belum tentu dirinya telah memahami betul tulisan Nietzsche, apalagi kalau belum.
Pertemuanku dengan Nietzsche sebenernya cukup unik, mulai karena pertemuan dengan para Pembaca Nietzsche, hingga karena aku iseng belajar buku teknik yang memiliki referensi dari para pemikir Jerman, seperti Heidegger atau Idhe. Filsafat teknik memang menarikku, tapi ada yang lebih menarik dari Nietzsche, karena dia menuliskan kitab Zarathustra, dan ketika aku mencari di google Zarathustra adalah nabi berkebangsaan persia. Aku memiliki basis pesantren, beberapa kitab persia cukup menarik karena menuliskan beberapa makna kezuhudan yang jarang aku temui dalam ceramah-ceramah ustadz di salman, karena ustadz di salman lebih cenderung menjelaskan tentang adat istiadat keislaman ketimbang mengajarkan tentang keikhlasan.
Kitab persia, dari karya Abdul Qodir Jaelani (Sir Asror, Fathul Rabbani, Jala ‘al Khawatir), Imam Amin al Qurdi (Tanwirul Qulub), Imam Ghozali (Ihya ‘Ulumudin, Minhajul ‘Abidin, Bidayatul Hidayah, Kimiya tus Sa’adah), Ibnu ‘Arabi (Futuhat al Makiyat), Jalaludin Rumi (Matsnawi, Fihi ma Fihi), Ibnu Atha’ilah (al Hikam) bahkan karya Ibnu Qoyim (Lupa), aku pelajari hanya untuk bisa belajar ikhlas, walaupun ilmu ikhlasku masih cupu, setidaknya ada usahalah (pembenaran wkwkwk). Dari kitab-kitab tersebut memang aneh rasanya, karena kitab tentang kezuhudan justru mendukung Fredrich Nietzsche (setelah aku membaca buku Nietzsche tentunya). Berikut dukungan pendapat para ulama timur tengah tersebut.

Ibnu Athailah (al Hikam)

  1. Dalam kitab al Hikam dituliskan bahwa “Seseorang belum suci jika dia menganggap dirinya suci.” Apa pengakuan yang tidak lebih suci dari pada pengakuan dari pembunuhan Tuhan? Wkwkwk.
  2. Dalam kitab al Hikam dituliskan bahwa “idfin wujudaka fil ardil humuli fama nabata mima la yudfan la yatimu nata ijuhu.” Tidak akan tumbuh tananam dengan baik jika tidak ditanam ditanah yang dalam. Dalam kaitan ini, tulisan Nietzsche juga seolah untuk tidak berkasihan padanya, karena apa gunanya berkasihan pada orang yang telah melampaui. Apa gunanya berkasihan pada orang sepintar saya? Dan ini menunjukan bahwa dirinya sudah tidak bergantung pada apa yang ada diluar dirinya, bukankah ini makna Zuhud.

Abdul Qodir Jaelani

  1. Dalam Fathur Rabbani banyaknya tulisan untuk mengkritik kita terlalu bergantung pada keduniaan, dalam konteks ini adalah sesuatu diluar kita.
  2. Rab dalam Sir Asror adalah perwujudan terdalam, didalam hati kita. Dia adalah sebuah rahasia dibalik rahasia. Layaknya Nietzsche yang selalu memuja Aku, dan selalu ingin menjadi Aku (Ubermanch).

Imam Ghozali

  1. Dalam karya Ihya’ulumudin mengkritik para ahli fikih yang hanya menjalankan keislaman hanya sebagai adat, dan tanpa keshalehan. Ini seperti pendapat Nietzsche yang mengkritik para religius dan ilmuan yang hanya menjalankan kegiatannya tanpa Geist atau kesalehan.
  2. Imam Ghozali menyatakan bahwa Tuhan merupakan substansi dari segala sesuatu, dan bentuk lain hanyalah aksiden, namun kebanyakan lebih menyembah tuhan yang lebih bersifat aksiden, dan hanya menyembah nama Allah saja, bukan dari yang bernama. Layaknya Nietzsche yang mengagungkan substansi ke-Akuannya.

Jalaludin Rumi

  1. Dalam kitab Rumi matsnawi, bahwa agama pada dasarnya adalah bentuk tajali dari cinta terhadap Tuhan, maka sebenarnya agama itu hanyalah sebatas kulit, dan dia juga mengkritik orang yang telalu mengaggunkan kulit hingga lupa kacangnya wkwkwk, maka terlihat bahwa keislaman hanya sebatas adat. Kolam yang abisal, dan manusia permukaan itu yang dikemukakan Nietzsche sejalan dengan pemikiran Nietzsche tersebut.
  2. Kitab Rumi Fihi Ma Fihi, tentang bencana juga merupakan sebuah rahmat dari Tuhan, dan neraka juga sebuah bentuk kasih sayang dari Tuhan agar kita tumbuh dan belajar hingga kita bisa kembali kepada Tuhan dalam keadaan suci. Ini pun sejalan dengan pemikiran Beyond Good and Evil dari Nietzsche.
    Dan masih banyak lagi, tapi aku males menuliskannya.