Laman

Kamis, 25 Agustus 2016

Nihilisme dalam Puasa


Seperti yang pernah diungkapkan oleh Ahmad Bakhir, puasa adalah sikap pengosongan diri. Pengosongan diri dari makan, minum, berhubungan badan dan lainnya. Tujuan dari puasa adalah mempersiapkan diri dari wahyu yang ingin disampaikan oleh Allah SWT, mengingat bahwa wahyu al-Quran diturunkan pada tanggal 17 ramadhan. Iyah, yang membuat bulan Ramadhan istimewa bukanlah karena diri dari dalam bulan ramadhan sendiri, bukan karena dalam bulan ramadhan diwajibkan untuk berpuasa. Puasa, tarawih dan sebagainya merupakan sebuah manifestasi untuk mensucikan diri guna menerima abrah dari wahyu al-Qur’an, dengan kata lain al-Qur’an lah yang membuat bulan ini istimewa.
Cukup mudah untuk menghidari makan, minum, atau berhubungan badan selama puasa. Namun inti dari dari puasa bukanlah untuk meniadakan hasrat makan, minum tersebut, tetapi sebuah penyucian untuk menyambut abrah dari wahyu al-Qur’an. Seperti halnya sebuah gelas isi harus dikosongkan untuk bisa diisi kembali dengan penuh. Puasa terlihat seperti bukan sebuah amalan, iyah ditinjau dari pendefinisiannya, kita tidaklah melakukan apapun. Dalam konteks ini puasa lebih cenderung untuk mendiamkan, mendiamkan diri dari makan, minum, berhubungan badan dan sebagainya. Tapi lebih tepatnya untuk bisa mendiamkan hati, agar bisa berfikir lebih jernih, lebih bisa menerima abrah dari wahyu al-Quran.
Nihilisme yang diajukan oleh Fredrich Nietzsche, bisa kita artikan sebagai kondisi tanpa apapun. Bahkan tanpa iman. Namun makna nihil itu sendiri masih rancu, sebenarnya nihil yang seperti apa yang paling nihil untuk bisa menjadi nihilis sejati. Untuk itu penihilan bisa saya sebut sebagai penyucian diri dari sesuatu yang diluar kita agar kita menjadi suci tanpa kontaminasi dari luar. Namun apa makna nihil yang sebenernya? Bahkan menginginkan makanan enak yang muncul dari dalam diri sendiri pun masih terpengaruhi rasa diluar diri kita, yaitu enaknya makanan. Puasa akan mereduksi beragam hasrat yang bersifat aksiden dan memunculkan diri substansi yang terhijab akibat hasrat-hasrat aksiden. Begitulah seharusnya nihilisme dijalankan. Sifat seenaknya yang muncul dari dalam diri, bukan akibat penyembahan berhala eksternal.
Lalu mengapa harus dinihilkan? Berhala yang muncul telah banyak melakukan evolusi baik dalam bidang pendidikan, teknologi maupun ekonomi. Tanpa pikiran yang jernih kita tidak bisa melakukan penilaian yang tepat pada makna berhala yang sejati. Berhala terkadang menampakan diri dalam bentuk yang sangat samar. Terkadang apa yang kita anggap kepastian sebagai bukan berhala bisa jadi adalah berhala. Mengingat bahwa merasa terlalu yakin terhadap sesuatu pun juga merupakan sebuah berhala. Kalimat Nietsche “Sebuah pemikiran fix tentang sesuatu akan menyebabkan penyakit dalam otak.”. Seperti itulah berhala bekerja, membuat pemikiran kita tidak bisa fleksibel, akibatnya otak kita mengalami pembengkakan dan hati menjadi keras.
Puasa merupakan semacam penangguhan atas apa yang akan dinilai oleh diri kita. Mengingat para ulama persia pernah mengatakan bahwa makna dari tafsiran itu bertingkat, butuh kesucian yang lebih tinggi untuk menafsirkan al-Qur’an dengan lebih tinggi. Penangguhan atas pemikiran fix yang menyebabkan pembengkakan pola fikir ini akan membuat kita terus memaknai al-Quran dengan lebih suci.
Namun semakin tingkat kesucian yang dimiliki seseorang berhala akan menampakkan dirinya dengan lebih samar, untuk itu kita harus tetap mendekatkan diri pada Allah SWT.