Seperti yang pernah
diungkapkan oleh Ahmad Bakhir, puasa adalah sikap pengosongan diri.
Pengosongan diri dari makan, minum, berhubungan badan dan lainnya.
Tujuan dari puasa adalah mempersiapkan diri dari wahyu yang ingin
disampaikan oleh Allah SWT, mengingat bahwa wahyu al-Quran diturunkan
pada tanggal 17 ramadhan. Iyah, yang membuat bulan Ramadhan istimewa
bukanlah karena diri dari dalam bulan ramadhan sendiri, bukan karena
dalam bulan ramadhan diwajibkan untuk berpuasa. Puasa, tarawih dan
sebagainya merupakan sebuah manifestasi untuk mensucikan diri guna
menerima abrah dari wahyu al-Qur’an, dengan kata lain al-Qur’an
lah yang membuat bulan ini istimewa.
Cukup mudah untuk
menghidari makan, minum, atau berhubungan badan selama puasa. Namun
inti dari dari puasa bukanlah untuk meniadakan hasrat makan, minum
tersebut, tetapi sebuah penyucian untuk menyambut abrah dari wahyu
al-Qur’an. Seperti halnya sebuah gelas isi harus dikosongkan untuk
bisa diisi kembali dengan penuh. Puasa terlihat seperti bukan sebuah
amalan, iyah ditinjau dari pendefinisiannya, kita tidaklah melakukan
apapun. Dalam konteks ini puasa lebih cenderung untuk mendiamkan,
mendiamkan diri dari makan, minum, berhubungan badan dan sebagainya.
Tapi lebih tepatnya untuk bisa mendiamkan hati, agar bisa berfikir
lebih jernih, lebih bisa menerima abrah dari wahyu al-Quran.
Nihilisme yang diajukan oleh Fredrich
Nietzsche, bisa kita artikan sebagai kondisi tanpa apapun. Bahkan
tanpa iman. Namun makna nihil itu sendiri masih rancu, sebenarnya
nihil yang seperti apa yang paling nihil untuk bisa menjadi nihilis
sejati. Untuk itu penihilan bisa saya sebut sebagai penyucian diri
dari sesuatu yang diluar kita agar kita menjadi suci tanpa
kontaminasi dari luar. Namun apa makna nihil yang sebenernya? Bahkan
menginginkan makanan enak yang muncul dari dalam diri sendiri pun
masih terpengaruhi rasa diluar diri kita, yaitu enaknya makanan.
Puasa akan mereduksi beragam hasrat yang bersifat aksiden dan
memunculkan diri substansi yang terhijab akibat hasrat-hasrat
aksiden. Begitulah seharusnya nihilisme dijalankan. Sifat seenaknya
yang muncul dari dalam diri, bukan akibat penyembahan berhala
eksternal.
Lalu mengapa harus
dinihilkan? Berhala yang muncul telah banyak melakukan evolusi baik
dalam bidang pendidikan, teknologi maupun ekonomi. Tanpa pikiran yang
jernih kita tidak bisa melakukan penilaian yang tepat pada makna
berhala yang sejati. Berhala terkadang menampakan diri dalam bentuk
yang sangat samar. Terkadang apa yang kita anggap kepastian sebagai
bukan berhala bisa jadi adalah berhala. Mengingat bahwa merasa
terlalu yakin terhadap sesuatu pun juga merupakan sebuah berhala.
Kalimat Nietsche “Sebuah pemikiran fix tentang sesuatu akan
menyebabkan penyakit dalam otak.”. Seperti
itulah berhala bekerja, membuat pemikiran kita tidak bisa fleksibel,
akibatnya otak kita mengalami pembengkakan dan hati menjadi keras.
Puasa merupakan semacam penangguhan atas apa yang akan dinilai oleh
diri kita. Mengingat para ulama persia pernah mengatakan bahwa makna
dari tafsiran itu bertingkat, butuh kesucian yang lebih tinggi untuk
menafsirkan al-Qur’an dengan lebih tinggi. Penangguhan atas
pemikiran fix yang menyebabkan pembengkakan pola fikir ini akan
membuat kita terus memaknai al-Quran dengan lebih suci.
Namun semakin tingkat kesucian yang dimiliki seseorang berhala akan
menampakkan dirinya dengan lebih samar, untuk itu kita harus tetap
mendekatkan diri pada Allah SWT.