Laman

Kamis, 25 Agustus 2016

Kerinduan dalam Kemaksiatan


Dalam kitab Fihi ma Fihi, “Banyak orang yang makan daging, roti, kurma dan sebagainya, namun inti dari keinginan mereka adalah lapar.” Begitulah ungkapan Jalaludin Rumi dalam kitab tersebut. Bentuk kerinduan lapar mereka tertajalikan (interpretasi) dalam bentuk makan daging, roti, kurma atau yang lainnya. Lapar merupakan sebuah substansi dari makan mereka dan orang makan atas dasar substansi ini mereka macam beragam hal. Namun nafsu membuat mereka memiliki selera untuk hanya makan makanan jenis tertentu seperti daging atau roti atau yang lainnya. Saat mereka cukup suci untuk menilai diri mereka laparlah yang menjadi permasalahan ketika makan. Dan nafsu akan memberhalai daging dengan menolak tawaran roti, atau sebaliknya.
Beberapa orang berpendapat bahwa kemaksiatan adalah sesuatu yang tidak dikehendaki oleh Allah SWT. Namun jika Allah SWT tidak berkehendak maka kemaksiatan pun tidak akan terjadi. Maka pendapat tersebut tidak bisa menjadi pedoman. Mungkin pendapat yang lebih cocok adalah “Kemaksiatan adalah bentuk kerinduan yang sedang tersesat.”. Kemaksiatan yang tersebut tetap dikehendaki oleh Allah SWT mengingat Allah SWT pun menghendaki orang ada yang beriman dan ada yang tersesat. Seperti contoh seorang pencuri yang mencuri makanan, dia telah bermaksiat, namun kemaksiatan tersebut merupakan kerinduan terhadap rasa kenyang, seperti itu juga yang lainnya.
Kebahagiannya memang benar hanya Allah yang bisa memberikan, dalam proses mencari kebahagian manuisa berusaha sekuat tenaga. Ada orang yang tahu jalan, ada yang tidak tahu, ada yang begitu bersemangat, ada pula yang berputus asa. Segala kebahagiaan yang manuisa cari, merupakan kerinduan akan Allah SWT. Iyah jelas, kerana substansi dari kebahagiaan adalah Allah itu sendiri. Bentuk usaha mereka tertajalikan dengan bekerja siang malam, sholat, mencuri, korupsi, dan sebagainya. Keseleluruhannya bergerak menuju Allah, bagaimana mungkin tidak menuju Allah bukankah kalian sering mengatakan “Innalilahi wa inalilahi rojiun”. Seperti itu juga manusia yang hidupnya menginngin kan kenyamanan dia bekerja, ada yang gagal ada yang berhasil. Proses berhasil ini bisa kita analogikan sampai pada kehadirat Gusti Allah, namun semua ciptaannya pasti akan kembali kepada dirinya. Ada yang melewati surga, ada yang melewati neraka, ada yang langsung kehadiratnya.
Manusia memang dilahirkan suci, bagaimana tidak, ruh Gusti Allah ditiupkan dalam dirinya. Bukankah kesucian manusia ini sudah tidak bisa diragukan lagi. Namun saat dalam melewati kehidupannya didunia kesucian dikontaminasi oleh beragam berhala yang melupakan diri manusia sebagai sesuatu yang suci. Untuk bisa kembali kerahmatnya, manusia harus menyucikan dirinya, menyucikan diri dari berhala-berhala yang melekat dari dalam diri. Tubuh bisa disucikan dengan air, mandi, wudu dan sebagainya. Tapi bagaimana dengan hati? Hati yang kotor disucikan dengan beragam penderitaan begitulah dalam fihi ma fihi. Penderitaan bukanlah sebuah kebencian dari Gusti Allah terhadap manusia, melaikan bentuk bantuan dari Gusti Allah untuk menyucikan dirinya dari beragam berhala yang telah mengkontaminasikan hatinya. Semacam juga bentuk kerinduan Gusti Allah, seolah ingin berkata, “Caranya bukan seperti itu, kesinilah maka kerinduanmu kepadaku akan terbayarkan.” Bahkan neraka pun juga merupakan bentuk kasih saya Gusti Allah terhadap manusia. Sebuah tempat untuk paling baik untuk menyucikan manusia dari kontaminasi-kontaminasi berhala.