Dalam kitab Fihi ma
Fihi, “Banyak orang yang makan daging, roti, kurma dan
sebagainya, namun inti dari keinginan mereka adalah lapar.”
Begitulah ungkapan Jalaludin
Rumi dalam kitab tersebut. Bentuk kerinduan lapar mereka tertajalikan
(interpretasi) dalam bentuk makan daging, roti, kurma atau yang
lainnya. Lapar merupakan sebuah substansi dari makan mereka dan orang
makan atas dasar substansi ini mereka macam beragam hal. Namun nafsu
membuat mereka memiliki selera untuk hanya makan makanan jenis
tertentu seperti daging atau roti atau yang lainnya. Saat mereka
cukup suci untuk menilai diri mereka laparlah yang menjadi
permasalahan ketika makan. Dan nafsu akan memberhalai daging dengan
menolak tawaran roti, atau sebaliknya.
Beberapa
orang berpendapat bahwa kemaksiatan adalah sesuatu yang tidak
dikehendaki oleh Allah SWT. Namun jika Allah SWT tidak berkehendak
maka kemaksiatan pun tidak akan terjadi. Maka pendapat tersebut tidak
bisa menjadi pedoman. Mungkin pendapat yang lebih cocok adalah
“Kemaksiatan adalah bentuk kerinduan yang sedang
tersesat.”. Kemaksiatan yang
tersebut tetap dikehendaki oleh Allah SWT mengingat Allah SWT pun
menghendaki orang ada yang beriman dan ada yang tersesat. Seperti
contoh seorang pencuri yang mencuri makanan, dia telah bermaksiat,
namun kemaksiatan tersebut merupakan kerinduan terhadap rasa kenyang,
seperti itu juga yang lainnya.
Kebahagiannya
memang benar hanya Allah yang bisa memberikan, dalam proses mencari
kebahagian manuisa berusaha sekuat tenaga. Ada orang yang tahu jalan,
ada yang tidak tahu, ada yang begitu bersemangat, ada pula yang
berputus asa. Segala kebahagiaan yang manuisa cari, merupakan
kerinduan akan Allah SWT. Iyah jelas, kerana substansi dari
kebahagiaan adalah Allah itu sendiri. Bentuk usaha mereka
tertajalikan dengan bekerja siang malam, sholat, mencuri, korupsi,
dan sebagainya. Keseleluruhannya bergerak menuju Allah, bagaimana
mungkin tidak menuju Allah bukankah kalian sering mengatakan
“Innalilahi wa inalilahi rojiun”. Seperti
itu juga manusia yang hidupnya menginngin kan kenyamanan dia bekerja,
ada yang gagal ada yang berhasil. Proses berhasil ini bisa kita
analogikan sampai pada kehadirat Gusti Allah, namun semua ciptaannya
pasti akan kembali kepada dirinya. Ada yang melewati surga, ada yang
melewati neraka, ada yang langsung kehadiratnya.
Manusia
memang dilahirkan suci, bagaimana tidak, ruh Gusti Allah ditiupkan
dalam dirinya. Bukankah kesucian manusia ini sudah tidak bisa
diragukan lagi. Namun saat dalam melewati kehidupannya didunia
kesucian dikontaminasi oleh beragam berhala yang melupakan diri
manusia sebagai sesuatu yang suci. Untuk
bisa kembali kerahmatnya, manusia harus menyucikan dirinya,
menyucikan diri dari berhala-berhala yang melekat dari dalam diri.
Tubuh bisa disucikan dengan air, mandi, wudu dan sebagainya. Tapi
bagaimana dengan hati? Hati yang kotor disucikan dengan beragam
penderitaan begitulah dalam fihi ma fihi. Penderitaan bukanlah sebuah
kebencian dari Gusti Allah terhadap manusia, melaikan bentuk bantuan
dari Gusti Allah untuk menyucikan dirinya dari beragam berhala yang
telah mengkontaminasikan hatinya. Semacam juga bentuk kerinduan Gusti
Allah, seolah ingin berkata, “Caranya bukan seperti itu,
kesinilah maka kerinduanmu kepadaku akan terbayarkan.” Bahkan
neraka pun juga merupakan bentuk kasih saya Gusti Allah terhadap
manusia. Sebuah tempat untuk paling baik untuk menyucikan manusia
dari kontaminasi-kontaminasi berhala.