Membaca masih cenderung
tidak disukai oleh masyarakat Indonesia. Hal ini akan menyebabkan
masalah yang kompleks kedepannya. Masalah ini menimbulkan pola pikir
instan masyarakat Indonesia yang cenderung memberhalai bentuk,
seperti halnya pemberhalaan terhadap status sosial, uang, maupun alat
genital. Seperti yang kita lihat, bukan hanya kalangan petani, tukang
becak, tukang bakso ataupun pekerjaan lain yang biasa dianggap
sepele, pekerjaan seperti pejabat pemerintahan juga masih memberhalai
hal yang seperti ini. Kita melihat banyak politisi dengan beragam
gelar pendidikan tak mampu memecahkan persoalan hingga keakarnya.
Masalah ini jelas membawa kita pada ketidak seimbangan sosial. Dengan
ini orang yang memiliki prestisme akan semakin memarginkan dirinya
dengan orang yang dianggap sepele, jelas inilah yang disebutkan
sebagai kesenjangan sosial.
Menurut PISA
(Programmable Internasional Student Assesment) Konstruksi pendidikan
Internasional menekankan bahwa pendidikan mencakup tiga hal yaitu
pemahaman sains, berhitung, dan membaca. Memang pada akhir dalam
konstruksi pembangunan pendidikan adalah olah rasa atau sering kita
sebut sebagai seni. Namun proses menuju pengolahan rasa itu
membutuhkan riset dan waktu yang cukup panjang. Andai kata pengolahan
rasa telah terkonstruksi dengan baik, hal ini akan menciptakan
pembentukan masyarakat yang lebih nyaman, tanpa kesombongan dan
kemunafikan.
Waktu dan riset yang
cukup panjang memang membutuhkan dana yang besar. Namun seorang
peneliti juga disebut sebagai pembaca dari realitas. Orang belajar
jauh hingga ke eropa, amerika, afrika, bahkan sampai ke asia pun,
ujung-ujungnya tetap membaca. Tapi orang Indonesia masih melihat
bentuk yang menipu berupa kesombongan diri untuk bisa terlihat
prestis, padahal melakukan riset di Negeri sendiri justru akan
memberikan pemahaman ontologis tentang masarakat di Indonesia, dan
pemahaman ini dibutuhkan untuk mengurangi permasalahan di negeri
sendiri.
Membaca dapat mengurangi
jarak antara Jerman-Indonesia, Persia-Indonesia, Amerika-Indonesia,
Arab-Indonesia, maupun jarak lainnya. Selain itu hal ini akan
mengurangi konsumsi keuangan di negeri ini sekaligus mengurangi dana
riset, dan dana itu bisa kita gunakan sebagai subsidi untuk kebutuhan
lainnya. Namun apakah masyarakat yang sudah kafir (memberhalai
prestisme) ini mau mengerti?
Seperti apa yang
dikatakan oleh Jacques Derrida, bahwa teks memiliki hak otonom untuk
membentuk pola pikir manusia, sebaiknya masyarakat Indonesia membaca
buku yang lebih berkualitas. Salah satu yang terpenting dari membaca
buku adalah membentuk pola pikir, dan ini memang sejalan dengan apa
yang disampaikan oleh Jacques Derrida tadi. Membaca buku juga akan
menambah wawasan dengan menghemat dana.