Laman

Kamis, 25 Agustus 2016

Membacalah


Membaca masih cenderung tidak disukai oleh masyarakat Indonesia. Hal ini akan menyebabkan masalah yang kompleks kedepannya. Masalah ini menimbulkan pola pikir instan masyarakat Indonesia yang cenderung memberhalai bentuk, seperti halnya pemberhalaan terhadap status sosial, uang, maupun alat genital. Seperti yang kita lihat, bukan hanya kalangan petani, tukang becak, tukang bakso ataupun pekerjaan lain yang biasa dianggap sepele, pekerjaan seperti pejabat pemerintahan juga masih memberhalai hal yang seperti ini. Kita melihat banyak politisi dengan beragam gelar pendidikan tak mampu memecahkan persoalan hingga keakarnya. Masalah ini jelas membawa kita pada ketidak seimbangan sosial. Dengan ini orang yang memiliki prestisme akan semakin memarginkan dirinya dengan orang yang dianggap sepele, jelas inilah yang disebutkan sebagai kesenjangan sosial.
Menurut PISA (Programmable Internasional Student Assesment) Konstruksi pendidikan Internasional menekankan bahwa pendidikan mencakup tiga hal yaitu pemahaman sains, berhitung, dan membaca. Memang pada akhir dalam konstruksi pembangunan pendidikan adalah olah rasa atau sering kita sebut sebagai seni. Namun proses menuju pengolahan rasa itu membutuhkan riset dan waktu yang cukup panjang. Andai kata pengolahan rasa telah terkonstruksi dengan baik, hal ini akan menciptakan pembentukan masyarakat yang lebih nyaman, tanpa kesombongan dan kemunafikan.
Waktu dan riset yang cukup panjang memang membutuhkan dana yang besar. Namun seorang peneliti juga disebut sebagai pembaca dari realitas. Orang belajar jauh hingga ke eropa, amerika, afrika, bahkan sampai ke asia pun, ujung-ujungnya tetap membaca. Tapi orang Indonesia masih melihat bentuk yang menipu berupa kesombongan diri untuk bisa terlihat prestis, padahal melakukan riset di Negeri sendiri justru akan memberikan pemahaman ontologis tentang masarakat di Indonesia, dan pemahaman ini dibutuhkan untuk mengurangi permasalahan di negeri sendiri.
Membaca dapat mengurangi jarak antara Jerman-Indonesia, Persia-Indonesia, Amerika-Indonesia, Arab-Indonesia, maupun jarak lainnya. Selain itu hal ini akan mengurangi konsumsi keuangan di negeri ini sekaligus mengurangi dana riset, dan dana itu bisa kita gunakan sebagai subsidi untuk kebutuhan lainnya. Namun apakah masyarakat yang sudah kafir (memberhalai prestisme) ini mau mengerti?
Seperti apa yang dikatakan oleh Jacques Derrida, bahwa teks memiliki hak otonom untuk membentuk pola pikir manusia, sebaiknya masyarakat Indonesia membaca buku yang lebih berkualitas. Salah satu yang terpenting dari membaca buku adalah membentuk pola pikir, dan ini memang sejalan dengan apa yang disampaikan oleh Jacques Derrida tadi. Membaca buku juga akan menambah wawasan dengan menghemat dana.