Psikologi Freud, selain
terlalu reduksionis dan pendetailan yang terlalu pesimistis, seolah
dunia ini telah selesai membuat filsuf berkebangsaan Perancis, Jean
Paul Sartre, mengangkat psikologi yang lebih optimis. Seperti
ketidakpuasan Kierkegaard pada roh absolute Hegel. Dan memadukan dari
konsep fenomenologi Husserl, Psikologi eksistensialisme dilahirkan.
Pengaruh dari psikologi eksistensialisme mendorong beragam perubahan
di dunia barat, tidak hanya dibidang psikologi itu sendiri. Topik
agama, ekonomi, engineering bahkan kedokteran ikut berkembang menjadi
lebih berasa.
Biarkan dirinya
menampakan dirinya sendiri melalui dirinya dari dirinya. Itulah dasar
fenomenologi. Ada begitu saja. Ketika dalam analisa Freud seorang
wanita mengalami ketakutan ketika menghadapi semak belukar, akibat
trauma dari sang wanita dengan kasus seksualnya, Jean Paul Sartre
menyangkal asumsi Freud ini, dia berpendapat bahwa ketakutan itu
muncul begitu saja. Sesuatu yang lebih lanjut dijelaskan sebagai
Being in Nothingness atau eksistensi dalam ketiadaan.
Muncul begitu saja,
itulah fenomen. Masalah yang melanda, kecemasan yang datang memang
muncul begitu saja. Ketika diri kita mencoba menelisik dari mana
kecemasan itu. Semakin kita bingung dibuatnya, dan bahkan tidak mampu
menyelesaikan masalah yang fenomen tersebut. Psikologi
eksistensialisme akan menangani permasalahan seperti ini.
Alineasi
(Keterasingan) sering muncul ketika kita sedang menekuni sesuatu.
Saat kita larut dalam keseharian, seperti bekerja, belajar di
sekolah, mengajar, atau memberi makan binatang. Diri kita seolah
tidak memiliki pekerjaan itu, kita kurang menghayati atau menikmati
apa yang kita kerjakan. Walaupun menghayati apa yang kita lakukan
pada ujungnya akan menjadikan diri kita menjadi asing dimata orang
lain. Sikap kecemasan seperti itulah yang terkadang nampak begitu
saja sebagai sebuah fenomen. Kecemasan (dalam bahasa Jerman disebut
sebagai angst) merupakan cara kita untuk bisa bereksistensi
dalam dunia, atau menurut Martin Heidegger, peralihan dari Das Mann
menjadi Dasein.
Tidak semua menginginkan
kecemasan, iyah jelas siapa yang ingin cemas karena pekerjaan hilang,
diputus pacar atau di DO dari kuliah. Namun, kecemasan yang muncul
ini memang tidak bisa dihindari. Psikologi eksistensialisme bahkan
melihat bahwa tindakan bunuh diri oleh seseorang akibat lamaran
ditolak misalnya adalah sebuah hal yang biasa, itu merupakan salah
satu bentuk penyikapan terhadap angst.
Menurut
Heidegger, masa depan tidaklah ditentukan oleh apa yang kita miliki
sebelumnya atau kita rencanakan kedepan. Masa depan dikonstruksi dari
sikap kita menghadapi keterlemparan (angst).
Seperti contoh orang yang bunuh
diri tadi, bisa jadi sebelumnya dia pacaran selama 10 tahun, namun
karena wanitaya terlalu angkuh mengakui perasaannya, lamaranya jadi
ditolak. Rencana sang lelaki untuk menikahi gagal, dan apa yang telah
dia lakukan sebelumnya (yaitu macari ceweknya) juga sia-sia, yang
jelas sekarang dia mati. Seperti itulah konstruksi masa depan yang
ingin dijelaskan Martin Heidegger.
Kehidupan
sebagai kertas kosong, itu pernah diajukan oleh Shakespeare, namun
diangkat lagi oleh Sartre, yang ingin menjelaskan bahwa manusia bebas
menentukan nasibnya. Atau yang lebih dikeneal dalam kalimat “The
man condemned to be free.”. Dengan
statement itu seorang manusia akan lebih bisa optimis menentukan
hidupnya. Dan dari kalimat ini Sartre seolah ingin mengaja untuk
terus berpartisipasi proaktif dalam melakukan konstruksi dunia.
Walaupun Sartre pernah berkata bahwa “Manusia dikutuk
sebebas-bebasnya.”, namun
kebebasan dalam penentuan sikap akan mengkonstruksi sebuah masa depan
seperti yang telah dijelaskan oleh Heidegger sebelumnya.
Daftar
Pustaka
-
Capra, Fritjof. 1983. The Turning Point : Science, Society and The Rissing Culture. Bantam Books : Toronto.
-
Suriasumantri, Jujun S. 2010. Filsafat Ilmu : Sebuah Pengantar Populer. Pustaka Sinar Harapan : Jakarta.
-
Lim, Francis. 2008. Filsafat Teknologi : Don Idhe Tentang Dunia, Manusia, dan Alat. Kanisius : Yogyakarta.
-
Hardiman, F. Budi. 2008. Heidegger dan Mistik Keseharian : Suatu Pengantar Menuju Sein und Zeit. Kepustakaan Populer Gramedia : Jakarta.
-
Tjaya, Thomas Hidya. 2010. Kierkegaard dan Pergulatan Menjadi Diri Sendiri. Jakarta : KPG.
-
Hardiman, F. Budi. - . Seni Memahami : Hermeneutik dari Schleiermacher sampai Derrida. Jakarta : Kanisius.
-
Wibowo, A. Setyo. 2011. Filsafat Eksistensialisame Jean Paul Sartre. Yogyakarta : Kanisius.
-
Nugroho, Wahyu. 2013. Orang Lain Adalah Neraka : Sosiologi Eksistensialisme Jean Paul Sartre. Pustaka Pelajar : Yogyakarta.
-
Heidegger, Martin. 1949. Existence and Being. Chicago : Henry Regnery Company.
-
Stambaugh, Joan. 1996. Being and Time : A Translation of Sein und Zeit Martin Heiddeger. New York : SUNY Press.