Laman

Kamis, 25 Agustus 2016

Psikologi Eksistensialisme


Psikologi Freud, selain terlalu reduksionis dan pendetailan yang terlalu pesimistis, seolah dunia ini telah selesai membuat filsuf berkebangsaan Perancis, Jean Paul Sartre, mengangkat psikologi yang lebih optimis. Seperti ketidakpuasan Kierkegaard pada roh absolute Hegel. Dan memadukan dari konsep fenomenologi Husserl, Psikologi eksistensialisme dilahirkan. Pengaruh dari psikologi eksistensialisme mendorong beragam perubahan di dunia barat, tidak hanya dibidang psikologi itu sendiri. Topik agama, ekonomi, engineering bahkan kedokteran ikut berkembang menjadi lebih berasa.
Biarkan dirinya menampakan dirinya sendiri melalui dirinya dari dirinya. Itulah dasar fenomenologi. Ada begitu saja. Ketika dalam analisa Freud seorang wanita mengalami ketakutan ketika menghadapi semak belukar, akibat trauma dari sang wanita dengan kasus seksualnya, Jean Paul Sartre menyangkal asumsi Freud ini, dia berpendapat bahwa ketakutan itu muncul begitu saja. Sesuatu yang lebih lanjut dijelaskan sebagai Being in Nothingness atau eksistensi dalam ketiadaan.
Muncul begitu saja, itulah fenomen. Masalah yang melanda, kecemasan yang datang memang muncul begitu saja. Ketika diri kita mencoba menelisik dari mana kecemasan itu. Semakin kita bingung dibuatnya, dan bahkan tidak mampu menyelesaikan masalah yang fenomen tersebut. Psikologi eksistensialisme akan menangani permasalahan seperti ini.
Alineasi (Keterasingan) sering muncul ketika kita sedang menekuni sesuatu. Saat kita larut dalam keseharian, seperti bekerja, belajar di sekolah, mengajar, atau memberi makan binatang. Diri kita seolah tidak memiliki pekerjaan itu, kita kurang menghayati atau menikmati apa yang kita kerjakan. Walaupun menghayati apa yang kita lakukan pada ujungnya akan menjadikan diri kita menjadi asing dimata orang lain. Sikap kecemasan seperti itulah yang terkadang nampak begitu saja sebagai sebuah fenomen. Kecemasan (dalam bahasa Jerman disebut sebagai angst) merupakan cara kita untuk bisa bereksistensi dalam dunia, atau menurut Martin Heidegger, peralihan dari Das Mann menjadi Dasein.
Tidak semua menginginkan kecemasan, iyah jelas siapa yang ingin cemas karena pekerjaan hilang, diputus pacar atau di DO dari kuliah. Namun, kecemasan yang muncul ini memang tidak bisa dihindari. Psikologi eksistensialisme bahkan melihat bahwa tindakan bunuh diri oleh seseorang akibat lamaran ditolak misalnya adalah sebuah hal yang biasa, itu merupakan salah satu bentuk penyikapan terhadap angst.
Menurut Heidegger, masa depan tidaklah ditentukan oleh apa yang kita miliki sebelumnya atau kita rencanakan kedepan. Masa depan dikonstruksi dari sikap kita menghadapi keterlemparan (angst). Seperti contoh orang yang bunuh diri tadi, bisa jadi sebelumnya dia pacaran selama 10 tahun, namun karena wanitaya terlalu angkuh mengakui perasaannya, lamaranya jadi ditolak. Rencana sang lelaki untuk menikahi gagal, dan apa yang telah dia lakukan sebelumnya (yaitu macari ceweknya) juga sia-sia, yang jelas sekarang dia mati. Seperti itulah konstruksi masa depan yang ingin dijelaskan Martin Heidegger.
Kehidupan sebagai kertas kosong, itu pernah diajukan oleh Shakespeare, namun diangkat lagi oleh Sartre, yang ingin menjelaskan bahwa manusia bebas menentukan nasibnya. Atau yang lebih dikeneal dalam kalimat “The man condemned to be free.”. Dengan statement itu seorang manusia akan lebih bisa optimis menentukan hidupnya. Dan dari kalimat ini Sartre seolah ingin mengaja untuk terus berpartisipasi proaktif dalam melakukan konstruksi dunia. Walaupun Sartre pernah berkata bahwa “Manusia dikutuk sebebas-bebasnya.”, namun kebebasan dalam penentuan sikap akan mengkonstruksi sebuah masa depan seperti yang telah dijelaskan oleh Heidegger sebelumnya.
Daftar Pustaka
  1. Capra, Fritjof. 1983. The Turning Point : Science, Society and The Rissing Culture. Bantam Books : Toronto.
  2. Suriasumantri, Jujun S. 2010. Filsafat Ilmu : Sebuah Pengantar Populer. Pustaka Sinar Harapan : Jakarta.
  3. Lim, Francis. 2008. Filsafat Teknologi : Don Idhe Tentang Dunia, Manusia, dan Alat. Kanisius : Yogyakarta.
  4. Hardiman, F. Budi. 2008. Heidegger dan Mistik Keseharian : Suatu Pengantar Menuju Sein und Zeit. Kepustakaan Populer Gramedia : Jakarta.
  5. Tjaya, Thomas Hidya. 2010. Kierkegaard dan Pergulatan Menjadi Diri Sendiri. Jakarta : KPG.
  6. Hardiman, F. Budi. - . Seni Memahami : Hermeneutik dari Schleiermacher sampai Derrida. Jakarta : Kanisius.
  7. Wibowo, A. Setyo. 2011. Filsafat Eksistensialisame Jean Paul Sartre. Yogyakarta : Kanisius.
  8. Nugroho, Wahyu. 2013. Orang Lain Adalah Neraka : Sosiologi Eksistensialisme Jean Paul Sartre. Pustaka Pelajar : Yogyakarta.
  9. Heidegger, Martin. 1949. Existence and Being. Chicago : Henry Regnery Company.
  10. Stambaugh, Joan. 1996. Being and Time : A Translation of Sein und Zeit Martin Heiddeger. New York : SUNY Press.