Laman

Kamis, 25 Agustus 2016

Fitnah Juga Ungkapan Cinta


Sejujurnya aku tidak begitu paham tentang masalah percewean, bahkan banyak masalah percowoan yang belum selesai aku tangani. Kisah ini muncul secara fenomen kedalam hidupku, angst yang muncul membuatku mencari kebenaran apa yang sebenarnya terjadi. Aku selalu berusaha menghindar dari cewe karena menakutkan dan penuh dengan kepalsuan. Dengan dalih berkata aku bodoh, miskin, psikopat, sepertinya masih susah untuk menyinkirkan spesies itu.
Aku mengalami konflik cukup hebat dengan cewe maupun cowo. Aku memang tidak bisa mengerti cewe, selain lebih absurd dari Albert Camus, sikapnya yang absurd juga memiliki diskorelasi antara sikapnya yang lain. Sebagai contoh, aku pernah menelfon cewe karena hapus akun facebook lantaran aku sering posting status marah-marah. Aku marah sama orang lain, tapi dia yang hapus facebook. Saat ku telfon aku bertanya padanya,
“Apakah aku salah padamu?”,
Dia menjawab, “Ih pede banget.”,
Aku membalas, “Oke berarti aku gak salah yah he he”
Dia menjawab “Ih, pikir sendiri”
Begitu berulang hingga tiga kali. Setelah itu aku minta maaf tanpa aku tahu salahnya apa. Kasus berlanjut, aku melamar dia, bapaknya juga bersikap aneh, antara nolak dan tidak, sampai aku tidak bisa mengambil kesimpulan apa-apa. Tapi dia begitu percaya diri bahwa dia telah menolakku sebagai menantunya, begini ceritanya.
“Pak saya lamar anak bapak.”
“Saya belum siap menerima menantu.”
“Oke berarti diterima gak?”, dia diam hingga aku tiga kali menanyakan pertanyaan ini.
Hingga akhirnya dia menjawab, “Oke saya tolak.”
Lalu aku membalas, “Boleh saya lamar lagi,”
Kontan dia marah dan berujar, “Udah ditolak ngapain nglamar lagi.”
Aku membalas, “Nggak juga nggak papa?”, dia diam hingga tiga kali aku menanyakan pertanyaan yang sama. Hingga dia membalas, “Oke sementara kau ditolak.”
Aku benar-benar tidak mengerti dengan sikap ini. Semua pertanyaannya cukup sederhana tetapi selalu dijawab dengan berbelit. Karena banyak orang yang mengatakan mereka pintar, aku berpositif thinking saja bahwa mereka sedang mengalami sindrom jatuh cinta padaku. Cerita ini berlanjut ketika sang cewe menuliskan bahwa dia tidak pernah peduli dengan diriku. Tapi disisi lain dia menyebarkan cerita bohong tentangku kepada teman-temannya. Andai kata dia pintar dia pasti tidak melakukan ini, sikap diskorelasi antar sikapnya menunjukan deviasi yang tinggi akibat ganguan psikomotorik yang hebat, untuk itu aku berpositif thinking bahwa dia jatuh cinta padaku.
Seperti kata Nietzsche yang mengatakan bahwa realitas tak selamanya putih, memang bisa kita tarik analogi bahwa ungkapan cinta tak selamanya manis. Seperti itu juga Espresso, cinta dari Espresso bukanlah kemanisnya tapi rasa pahit yang pekat.
Kehidupan ini aku bawa hingga menyimpulkan kehidupan di kampus. Dulu aku begitu tersiksa ketika Bapak Dosen selalu mentargetkan aku sebagai sasaran amarahnya, apa lagi dia berperilaku manis kepada mahasiswa lain dan tidak pada diriku. Semenjak cewe tadi aku menyadari bahwa aku adalah orang yang paling dicintai oleh Bapak Dosen, bahkan sekarang dirumahnya dia mungkin sedang berfikiran untuk bertemu dengan aku karena sangat rindu pada diriku. Semoga bapak dosen itu bisa move on dari aku.
Dan ketika aku bersama dengan temanku, dia selalu bersikap manis didepan orang, dia berkata bahwa dengan kita bersikap manis kita akan bisa memanfaatkan dia. Dari sini kita lagi lagi berlajar bahwa, kejahatan tidak selalu menampakan dirinya dalam bentuk yang pahit. Dan hanya orang yang mampu mengafirmasi gelap dan terang yang akan menjadi manusia unggul, begitulah kata Nietzsche.