Sejujurnya aku tidak begitu paham tentang masalah
percewean, bahkan banyak masalah percowoan yang belum selesai aku
tangani. Kisah ini muncul secara fenomen kedalam hidupku, angst yang
muncul membuatku mencari kebenaran apa yang sebenarnya terjadi. Aku
selalu berusaha menghindar dari cewe karena menakutkan dan penuh
dengan kepalsuan. Dengan dalih berkata aku bodoh, miskin, psikopat,
sepertinya masih susah untuk menyinkirkan spesies itu.
Aku mengalami konflik cukup hebat dengan cewe
maupun cowo. Aku memang tidak bisa mengerti cewe, selain lebih absurd
dari Albert Camus, sikapnya yang absurd juga memiliki diskorelasi
antara sikapnya yang lain. Sebagai contoh, aku pernah menelfon cewe
karena hapus akun facebook lantaran aku sering posting status
marah-marah. Aku marah sama orang lain, tapi dia yang hapus facebook.
Saat ku telfon aku bertanya padanya,
“Apakah aku salah padamu?”,
Dia menjawab, “Ih pede banget.”,
Aku membalas, “Oke berarti aku gak salah yah he
he”
Dia menjawab “Ih, pikir sendiri”
Begitu berulang hingga tiga kali. Setelah itu aku
minta maaf tanpa aku tahu salahnya apa. Kasus berlanjut, aku melamar
dia, bapaknya juga bersikap aneh, antara nolak dan tidak, sampai aku
tidak bisa mengambil kesimpulan apa-apa. Tapi dia begitu percaya diri
bahwa dia telah menolakku sebagai menantunya, begini ceritanya.
“Pak saya lamar anak bapak.”
“Saya belum siap menerima menantu.”
“Oke berarti diterima gak?”, dia diam hingga
aku tiga kali menanyakan pertanyaan ini.
Hingga akhirnya dia menjawab, “Oke saya tolak.”
Lalu aku membalas, “Boleh saya lamar lagi,”
Kontan dia marah dan berujar, “Udah ditolak
ngapain nglamar lagi.”
Aku membalas, “Nggak juga nggak papa?”, dia
diam hingga tiga kali aku menanyakan pertanyaan yang sama. Hingga dia
membalas, “Oke sementara kau ditolak.”
Aku benar-benar tidak mengerti dengan sikap ini.
Semua pertanyaannya cukup sederhana tetapi selalu dijawab dengan
berbelit. Karena banyak orang yang mengatakan mereka pintar, aku
berpositif thinking saja bahwa mereka sedang mengalami sindrom jatuh
cinta padaku. Cerita ini berlanjut ketika sang cewe menuliskan bahwa
dia tidak pernah peduli dengan diriku. Tapi disisi lain dia
menyebarkan cerita bohong tentangku kepada teman-temannya. Andai kata
dia pintar dia pasti tidak melakukan ini, sikap diskorelasi antar
sikapnya menunjukan deviasi yang tinggi akibat ganguan psikomotorik
yang hebat, untuk itu aku berpositif thinking bahwa dia jatuh cinta
padaku.
Seperti kata Nietzsche yang mengatakan bahwa
realitas tak selamanya putih, memang bisa kita tarik analogi bahwa
ungkapan cinta tak selamanya manis. Seperti itu juga Espresso, cinta
dari Espresso bukanlah kemanisnya tapi rasa pahit yang pekat.
Kehidupan ini aku bawa hingga menyimpulkan
kehidupan di kampus. Dulu aku begitu tersiksa ketika Bapak Dosen
selalu mentargetkan aku sebagai sasaran amarahnya, apa lagi dia
berperilaku manis kepada mahasiswa lain dan tidak pada diriku.
Semenjak cewe tadi aku menyadari bahwa aku adalah orang yang paling
dicintai oleh Bapak Dosen, bahkan sekarang dirumahnya dia mungkin
sedang berfikiran untuk bertemu dengan aku karena sangat rindu pada
diriku. Semoga bapak dosen itu bisa move on dari aku.
Dan ketika aku bersama
dengan temanku, dia selalu bersikap manis didepan orang, dia berkata
bahwa dengan kita bersikap manis kita akan bisa memanfaatkan dia.
Dari sini kita lagi lagi berlajar bahwa, kejahatan tidak selalu
menampakan dirinya dalam bentuk yang pahit. Dan hanya orang yang
mampu mengafirmasi gelap dan terang yang akan menjadi manusia unggul,
begitulah kata Nietzsche.