Soren Kierkegaard, salah
satu intelek terbesar di jagad ini memang memiliki pemikiran yang
unik tentang eksistensialisme. Namun, kehidupannya yang koplak,
mungkin perlu dijadikan pembelajaran untuk para elit intelek yang
hidup setelah Kierkegaard. Kierkegaard memiliki kisah percintaan yang
menarik dengan seorang anak bangsawan cantik, Olsen. Beberapa kali
lamarannya ditolak oleh Olsen. Namun akhirnya lamarnya diterima juga.
Sayangnya setelah pertunangan, Soren Kierkegaard justru membatalkan
pertunangannya dengan Olsen. Alasannya sederhana, katanya ada duri
dalam dagingku. Padahal, dia sangat mencintai Olsen. Kehidupannya
kian bergejolak dengan ditandai dengan beragam tulisan-tulisan yang
mendalam tentang eksistensialisme. Kritik terhadap agama, Tuhan dan
lain-lain dia persembahkan dalam tulisannya. Namun pada akhrinya
diapun menyadari bahwa hal ini merupakan semacam keberulangan abadi,
hingga dia kembali menjadi seorang yang religius.
Memang seorang filsuf
dikenal sebagai seorang elit intelektual, terkadang sering disalah
pahami oleh kebanyakan orang. Orang banyak mengatai gila, aneh atau
sebagainya. Namun, apakah itu menjadi pembenaran untuk Soren
Kierkegaard untuk tidak bersikap jujur pada Olsen. Dia sangat
mencintai Olsen, hingga dia tidak ingin Olsen menikahi orang seperti
dirinya, tapi apakah Kierkegaard juga tidak berfikir bagaimana
perasaan Olsen tentang dirinya. Andaikata Kierkegaard bukan orang
yang baik, miskin, ataupun bodoh (saya rasa tidak mungkin dia bodoh,
namanya juga filsuf), membuatnya tidak bisa bersikap jujur akan
perasaannya pada Olsen, malah justru mengatakan ada duri dalam
daging. Bukankah jika dia bersikap jujur pada Olsen, itu lebih baik,
andaikan dia tidak mau menerima dirinya sebagai suaminya, bukankah
Kierkegaard juga sudah siap dengan hal itu. Harusnya Kierkegaard
belajar dari Bambang Mulyono, bahwa “Cinta adalah kejujuran.”
Tapi begitulah filsuf,
Kierkegaard jurstru berargumen bahwa, “Aku tidak bisa
menikahi Olsen karena aku tidak mampu bersikap jujur padanya. Saya
takut sebuah pernikahan yang tidak dilandasi dengan kejujuran akan
menyakiti satu sama lainnya.”.
Ah persetan dengan filsuf itu.
Lamaran
ditolak merupakan hal biasa bagi para filsuf. Tidak semua orang bisa
mengerti pemikiran para elit intelektual itu, mungkin itulah yang
menyebabkan Fredrich Nietzsche berargumen, “Aku lebih
takut dipahami dari pada disalah pahami.”
. Pembenarnya cukup menarik, jika seorang filsuf mudah untuk dipahami
maka filsuf tersebut memiliki kualitas yang masih rendah. Aneh
memang, orang-orang yang disebut sebagai para elit intelektual ini.
Kehidupan yang aneh, seperti hidup di tong sampah (Diogenes), minum
racun padahal tidak melakukan kriminal (Socrates), diasingkan padahal
mengatakan kejujuran (Spinoza), dipenggal karena mengungkapkan cinta
(al Halaj), dikafirkan padahal merekonstruksi agama (Ibnu Arabi),
dikatai sesat padahal sedang membuat makalah padahal sampai sekarang
menjadi rujukan keilmuan (Ibnu Tsina). Iyah, memang sepertinya susah
menjadi golongan elit intelektual, dengan kehidupan yang mayoritasnya
masih memberhalai uang, kekuasan dan wanita (Untungnya saya bodoh).
Mereka memang terlalu cepat untuk jamannya. Setelah dikatai bodoh,
miskin, tidak berguna, aneh, atau gila, ratusan tahun kemudian mereka
dikenal sebagai seorang jenius. Tapi, emang enak jadi filsuf?
Kehidupan mereka yang penuh dengan kemalangan, walaupun mereka tidak
menganggap itu, memang perlu menjadi pembelajaran bagi filsuf
sekarang agar para elit intelektual tidak mengalami penderitaan yang
tidak perlu seperti mereka.