Laman

Kamis, 25 Agustus 2016

Takut Dipahami


Soren Kierkegaard, salah satu intelek terbesar di jagad ini memang memiliki pemikiran yang unik tentang eksistensialisme. Namun, kehidupannya yang koplak, mungkin perlu dijadikan pembelajaran untuk para elit intelek yang hidup setelah Kierkegaard. Kierkegaard memiliki kisah percintaan yang menarik dengan seorang anak bangsawan cantik, Olsen. Beberapa kali lamarannya ditolak oleh Olsen. Namun akhirnya lamarnya diterima juga. Sayangnya setelah pertunangan, Soren Kierkegaard justru membatalkan pertunangannya dengan Olsen. Alasannya sederhana, katanya ada duri dalam dagingku. Padahal, dia sangat mencintai Olsen. Kehidupannya kian bergejolak dengan ditandai dengan beragam tulisan-tulisan yang mendalam tentang eksistensialisme. Kritik terhadap agama, Tuhan dan lain-lain dia persembahkan dalam tulisannya. Namun pada akhrinya diapun menyadari bahwa hal ini merupakan semacam keberulangan abadi, hingga dia kembali menjadi seorang yang religius.
Memang seorang filsuf dikenal sebagai seorang elit intelektual, terkadang sering disalah pahami oleh kebanyakan orang. Orang banyak mengatai gila, aneh atau sebagainya. Namun, apakah itu menjadi pembenaran untuk Soren Kierkegaard untuk tidak bersikap jujur pada Olsen. Dia sangat mencintai Olsen, hingga dia tidak ingin Olsen menikahi orang seperti dirinya, tapi apakah Kierkegaard juga tidak berfikir bagaimana perasaan Olsen tentang dirinya. Andaikata Kierkegaard bukan orang yang baik, miskin, ataupun bodoh (saya rasa tidak mungkin dia bodoh, namanya juga filsuf), membuatnya tidak bisa bersikap jujur akan perasaannya pada Olsen, malah justru mengatakan ada duri dalam daging. Bukankah jika dia bersikap jujur pada Olsen, itu lebih baik, andaikan dia tidak mau menerima dirinya sebagai suaminya, bukankah Kierkegaard juga sudah siap dengan hal itu. Harusnya Kierkegaard belajar dari Bambang Mulyono, bahwa “Cinta adalah kejujuran.” Tapi begitulah filsuf, Kierkegaard jurstru berargumen bahwa, “Aku tidak bisa menikahi Olsen karena aku tidak mampu bersikap jujur padanya. Saya takut sebuah pernikahan yang tidak dilandasi dengan kejujuran akan menyakiti satu sama lainnya.”. Ah persetan dengan filsuf itu.
Lamaran ditolak merupakan hal biasa bagi para filsuf. Tidak semua orang bisa mengerti pemikiran para elit intelektual itu, mungkin itulah yang menyebabkan Fredrich Nietzsche berargumen, “Aku lebih takut dipahami dari pada disalah pahami.” . Pembenarnya cukup menarik, jika seorang filsuf mudah untuk dipahami maka filsuf tersebut memiliki kualitas yang masih rendah. Aneh memang, orang-orang yang disebut sebagai para elit intelektual ini. Kehidupan yang aneh, seperti hidup di tong sampah (Diogenes), minum racun padahal tidak melakukan kriminal (Socrates), diasingkan padahal mengatakan kejujuran (Spinoza), dipenggal karena mengungkapkan cinta (al Halaj), dikafirkan padahal merekonstruksi agama (Ibnu Arabi), dikatai sesat padahal sedang membuat makalah padahal sampai sekarang menjadi rujukan keilmuan (Ibnu Tsina). Iyah, memang sepertinya susah menjadi golongan elit intelektual, dengan kehidupan yang mayoritasnya masih memberhalai uang, kekuasan dan wanita (Untungnya saya bodoh).
Mereka memang terlalu cepat untuk jamannya. Setelah dikatai bodoh, miskin, tidak berguna, aneh, atau gila, ratusan tahun kemudian mereka dikenal sebagai seorang jenius. Tapi, emang enak jadi filsuf? Kehidupan mereka yang penuh dengan kemalangan, walaupun mereka tidak menganggap itu, memang perlu menjadi pembelajaran bagi filsuf sekarang agar para elit intelektual tidak mengalami penderitaan yang tidak perlu seperti mereka.