Seperti yang dituliskan
dalam kitab Fihi ma Fihi, Jalaludin Rumi, berhala yang dahulu
dimusuhi Nabi Muhammad SAW masih sekarang masih tetap eksisten. Era
digital memang mengurangi pemujaan dalam bentuk pemberian sesaji
untuk patung, pohon atau batu. Namun, tidak hanya manusia yang
mengembangkan diri dalam bidang teknologi, berhala pun mengembangkan
diri dalam bidang teknologi. Cukup mudah untuk melakukan justifikasi
kekafiran dalam penyembahan berhala melalui sesaji pada patung, batu,
maupun pohon. Namun jika berhala telah mengevolusikan diri menjadi
handphone, komputer, internet, atau yang lain. Bagaimana dengan
penjustifikasian ini. Menjoba menolak teknologi sebagai benda berhala
akan berdampak pada kalahnya manusia dengan berhala, yang akan
menunjukan bahwa berhala telah benar-benar menguasai dunia.
Keseimbangan antara gelap dan terang diperlukan hingga kita bisa
sampai pada kehadirat Allah SWT. Menolak teknologi tidak akan
memberikan solusi dari permasalahan ini. Yang bisa kita lakukan
hanyalah mengafirmasi teknologi, tapi jangan sampai menjadikan
teknologi sebagai berhala.
Seperti yang dikatakan
Don Idhe (seorang ulama eropa), teknologi merupakan Zuhandene
(alat). Namun seperti pisau yang
bermata dua. Pisau yang tidak bisa digunakan dengan baik, maka pisau
tersebut hanya akan melukai diri sendiri. Perlu pemahaman tentang
teknologi untuk bisa memanfaatkan teknologi secara tepat. Sebagai
Zuhandene teknologi
memiliki hak otonom untuk bisa menjajah penggunanya. Alih-alih
memperalat teknologi jangan sampai kita dikuasai oleh hak otonom
teknologi tersebut. Otonomi bisa diatasi dengan kebebasan individu,
hakikat manusia untuk bisa hidup bebas. Lalu mengapa anda mengatakan
bahwa kebebasan bertentangan dengan hakikat manusia? Setiap kebebasan
yang lebih besar akan menuntut tanggungjawab yang lebih besar, itulah
yang dikatakan ulama Prancis (Jean Paul Sartre). Sebagai pour
soui (eksistensi diri) manusia
bebas menentukan takdirnya, walaupun penentuan takdir dari diri
sendiripun juga merupakan kodrat Gusti Allah.
Untuk kita memulai tentang berhala teknologi, kita bisa memulai dari
mengapa teknologi bisa muncul. Tekonologi merupakan alat perpanjangan
tubuh manusia. Dengan teknologi kita bisa melakukan sesuatu lebih
mudah, semisal mengikuti pengajian di Jerman dengan handphone android
dan aplikasi youtube, juga bisa menolong orang yang depresi karena
cinta untuk menonton manusia melakukan itjima’. Inilah hak otonomi
dari teknologi, bisa membantu melakukan apa yang dikehendaki manusia.
Namun dalam ranah ini manuisa masih sebagai seorang yang memiliki
kuasa diri untuk memilih apa yang akan dikehendaki dengan teknologi.
Banyak
orang yang menabung untuk membeli laptop, hanphone mahal atau tablet.
Bahkan tak hanya menabung, berhutang, bahkan mencuri hanya untuk
membeli perangkat teknologi. Dalam kasus ini teknologi memiliki kuasa
untuk membuat manusia memberikan sesaji dalam bentuk uang. Beginilah
perkembangan berhala dalam bidang teknologi.
Seperti yang diungkapkan Imam Ghozali dalam Kitab Kimia tus Sa’adah,
dosa akan muncul ketika komposisi dalam jiwa kita tidak sesuai.
Komposisi jiwa yang ditinjau dari analisa Imam Ghozali ini
menerangkan bahwa jiwa tersusun dari tiga bagian, yaitu jiwa malaikat
(jiwa yang digunakan untuk memberikan penilaian antara baik dan
buruk, jiwa ini mirip dengan jiwa etis yang diusung oleh Kierkegard,
ulama Denmark), jiwa binatang (jiwa yang digunakan untuk bertahan
hidup seperti hasrat makan, minum dan berkembang biak, jiwa ini
mirip dengan jiwa estetis yang diusung oleh Kierkegard, ulama
Denmark), dan jiwa ilahiah (jiwa ini yang menuntun kita dalam
melakukan pengambilan keputusan, jiwa ini mirip dengan jiwa religius
yang diusung oleh Kierkegard, ulama Denmark). Menurut Imam Ghozali,
hendaknya jiwa ilahiah diposisikan sebagai pemimpin dari dalam jiwa
kita, jiwa malaikat sebagai menteri, dan jiwa binatang sebagai budak.
Komposisi yang salah seperti menempatkan jiwa binatang sebagai
pemimpin, atau jiwa malaikat sebagai pemimpin atau yang lainnya akan
memunculkan beragam kegelisahan, yang secara dhohir atau fisik
tercermin dari kehidupan yang kurang seimbang (bagi orang tersebut
dia merasa ada yang kurang dari dalam dirinya.).
Kezuhudan merupakan salah satu metode memerangi berhala dari dalam
diri. Sikap bergantung pada apa yang ada diluar kita akan menjadikan
entitas diluar kita tersebut menjadi berhala. Sebenarnya berhala
adalah sesuatu yang dibuat oleh diri kita sendiri. Kebergantungan
akan teknologi akan menjadikan teknologi sebagai berhala. Kita akan
menyajikan beragam sesaji untuk bisa mendapatkan perangkat teknologi
tersebut. Sayangnya kezuhudan tidak begitu diminati di negeri ini.
Bahkan sebagian orang menyatakan bentuk kezuhudan sebagai substansi
kegilaan, padalah kehidupan ini memang sudah gila. Hanya ada satu
golongan orang waras di dunia ini, yaitu golongan orang mati. Karena
orang mati tidak membutuhkan apapun, dia telah menikmati indahnya
pertemuan dengan Gusti Allah.