Laman

Kamis, 25 Agustus 2016

Berhala Teknologi


Seperti yang dituliskan dalam kitab Fihi ma Fihi, Jalaludin Rumi, berhala yang dahulu dimusuhi Nabi Muhammad SAW masih sekarang masih tetap eksisten. Era digital memang mengurangi pemujaan dalam bentuk pemberian sesaji untuk patung, pohon atau batu. Namun, tidak hanya manusia yang mengembangkan diri dalam bidang teknologi, berhala pun mengembangkan diri dalam bidang teknologi. Cukup mudah untuk melakukan justifikasi kekafiran dalam penyembahan berhala melalui sesaji pada patung, batu, maupun pohon. Namun jika berhala telah mengevolusikan diri menjadi handphone, komputer, internet, atau yang lain. Bagaimana dengan penjustifikasian ini. Menjoba menolak teknologi sebagai benda berhala akan berdampak pada kalahnya manusia dengan berhala, yang akan menunjukan bahwa berhala telah benar-benar menguasai dunia. Keseimbangan antara gelap dan terang diperlukan hingga kita bisa sampai pada kehadirat Allah SWT. Menolak teknologi tidak akan memberikan solusi dari permasalahan ini. Yang bisa kita lakukan hanyalah mengafirmasi teknologi, tapi jangan sampai menjadikan teknologi sebagai berhala.
Seperti yang dikatakan Don Idhe (seorang ulama eropa), teknologi merupakan Zuhandene (alat). Namun seperti pisau yang bermata dua. Pisau yang tidak bisa digunakan dengan baik, maka pisau tersebut hanya akan melukai diri sendiri. Perlu pemahaman tentang teknologi untuk bisa memanfaatkan teknologi secara tepat. Sebagai Zuhandene teknologi memiliki hak otonom untuk bisa menjajah penggunanya. Alih-alih memperalat teknologi jangan sampai kita dikuasai oleh hak otonom teknologi tersebut. Otonomi bisa diatasi dengan kebebasan individu, hakikat manusia untuk bisa hidup bebas. Lalu mengapa anda mengatakan bahwa kebebasan bertentangan dengan hakikat manusia? Setiap kebebasan yang lebih besar akan menuntut tanggungjawab yang lebih besar, itulah yang dikatakan ulama Prancis (Jean Paul Sartre). Sebagai pour soui (eksistensi diri) manusia bebas menentukan takdirnya, walaupun penentuan takdir dari diri sendiripun juga merupakan kodrat Gusti Allah.
Untuk kita memulai tentang berhala teknologi, kita bisa memulai dari mengapa teknologi bisa muncul. Tekonologi merupakan alat perpanjangan tubuh manusia. Dengan teknologi kita bisa melakukan sesuatu lebih mudah, semisal mengikuti pengajian di Jerman dengan handphone android dan aplikasi youtube, juga bisa menolong orang yang depresi karena cinta untuk menonton manusia melakukan itjima’. Inilah hak otonomi dari teknologi, bisa membantu melakukan apa yang dikehendaki manusia. Namun dalam ranah ini manuisa masih sebagai seorang yang memiliki kuasa diri untuk memilih apa yang akan dikehendaki dengan teknologi.
Banyak orang yang menabung untuk membeli laptop, hanphone mahal atau tablet. Bahkan tak hanya menabung, berhutang, bahkan mencuri hanya untuk membeli perangkat teknologi. Dalam kasus ini teknologi memiliki kuasa untuk membuat manusia memberikan sesaji dalam bentuk uang. Beginilah perkembangan berhala dalam bidang teknologi.
Seperti yang diungkapkan Imam Ghozali dalam Kitab Kimia tus Sa’adah, dosa akan muncul ketika komposisi dalam jiwa kita tidak sesuai. Komposisi jiwa yang ditinjau dari analisa Imam Ghozali ini menerangkan bahwa jiwa tersusun dari tiga bagian, yaitu jiwa malaikat (jiwa yang digunakan untuk memberikan penilaian antara baik dan buruk, jiwa ini mirip dengan jiwa etis yang diusung oleh Kierkegard, ulama Denmark), jiwa binatang (jiwa yang digunakan untuk bertahan hidup seperti hasrat makan, minum dan berkembang biak, jiwa ini mirip dengan jiwa estetis yang diusung oleh Kierkegard, ulama Denmark), dan jiwa ilahiah (jiwa ini yang menuntun kita dalam melakukan pengambilan keputusan, jiwa ini mirip dengan jiwa religius yang diusung oleh Kierkegard, ulama Denmark). Menurut Imam Ghozali, hendaknya jiwa ilahiah diposisikan sebagai pemimpin dari dalam jiwa kita, jiwa malaikat sebagai menteri, dan jiwa binatang sebagai budak. Komposisi yang salah seperti menempatkan jiwa binatang sebagai pemimpin, atau jiwa malaikat sebagai pemimpin atau yang lainnya akan memunculkan beragam kegelisahan, yang secara dhohir atau fisik tercermin dari kehidupan yang kurang seimbang (bagi orang tersebut dia merasa ada yang kurang dari dalam dirinya.).
Kezuhudan merupakan salah satu metode memerangi berhala dari dalam diri. Sikap bergantung pada apa yang ada diluar kita akan menjadikan entitas diluar kita tersebut menjadi berhala. Sebenarnya berhala adalah sesuatu yang dibuat oleh diri kita sendiri. Kebergantungan akan teknologi akan menjadikan teknologi sebagai berhala. Kita akan menyajikan beragam sesaji untuk bisa mendapatkan perangkat teknologi tersebut. Sayangnya kezuhudan tidak begitu diminati di negeri ini. Bahkan sebagian orang menyatakan bentuk kezuhudan sebagai substansi kegilaan, padalah kehidupan ini memang sudah gila. Hanya ada satu golongan orang waras di dunia ini, yaitu golongan orang mati. Karena orang mati tidak membutuhkan apapun, dia telah menikmati indahnya pertemuan dengan Gusti Allah.