Mencoba menanggapi kalimat dari Cak Nun, yang
berargumen bahwa manusia hakikatnya adalah kotor. Kalimat ini seperti
kalimat Freud yang penuh pesimisme, walaupun tujuannya baik, yaitu
usaha untuk membuat manusia terus mensucikan diri. Namun ketika ini
dipahami secara kurang hal ini bisa berdampak pada pesimisme yang
destruktif. Seperti sebuah pembenaran, saya adalah seorang perampok
maka dirinya akan selalu merampok karena dia telah melabeli dirinya
sebagai perampok. Kritik ini juga didukung dengan doa yang sering
kita panjatkan yaitu “Inalilahi wa inalilahi roji’un”,
segala berasal dari Allah dan akan kembali kepada-Nya.
Tujuan baik dari Cak Nun mungkin bisa menjadi
pembenaran akan kalimatnya, tapi itu akan merubah paradigma secara
substansial. Ketika manusia menganggap dirinya kotor dan akan kembali
kekotoran, hal ini akan berujung pada kekotoran. Bukan saya tidak
setuju dengan cita-cita dari Cak Nun untuk terus membuat manusia
berusaha menyucikan diri, namun beberapa penjelasan berikut mungkin
akan lebih mengena dari pada apa yang disampaikan oleh Cak Nun.
Manusia memang terlahir dari sebuah kesucian,
namun dalam proses perjalanan kembali menuju kesucian manusia harus
menghadapi realitas yang berwarna. Perjalanan yang berwarna ini akan
memberikan warna pada diri manusia. Seperti sebuah kertas bening,
dimana ketika dia bersentuhan dengan pena, maka akan muncul noda
hitam. Ketika bertemu dengan kapur maka akan muncul warna putih.
Perjalanan manusia kembali pada kesucian yang sering kita sebut
perjalanan menuju kematian harus melewati beragam warna yang akan
mewarnai kebeningan dari manusia itu sendiri. Seperti kita tahu,
seorang bayi belum menginginkan mobil, namun ketika dia tumbuh dewasa
dirinya telah terkontaminasi oleh lingkungan sehingga dia
menginginkan mobil. Dan keingingan untuk mendapatkan mobil telah
memberikan warna pada dirinya. Atau seperti seorang balita yang
semasa kecil tidak tergila-gila dengan kekuasaan, kemudian ketika
dewasa dia melihat bahwa menjadi seorang pejabat sangat keren karena
bisa memerintah orang, banyak uang, atau punya istri yang cantik,
maka kemudian dia tergila-gila dengan kekuasaan.
Realitas yang selalu berwarna telah menipu manusia
dan menutup kesadaran manusia bahwa manusia terlahir suci dan akan
kembali pada kesucian. Untuk mensucikan manuisa, Tuhan menciptakan
surga dan neraka agar manusia bisa kembali kepada kesucian. Orang
yang hatinya telah berwarna, baik hitam, putih, hijau, kuning atau
merah muda, akan mengalami perjalanan penyucian seperti penderitaan.
Namun orang tidak selamanya menyadari bahwa penderitaan bukan semata
kemiskinan atau kecacatan dalam menjalani hidup, ada kalanya orang
disucikan dengan kekayaan dan kemakmuran hidup, hingga dirinya lupa
pada substansi dan tidak menyadari realitas dirinya. Seperti kata
Jalaludin Rumi dalam Kitab Fihi Ma Fihi, bahwa kekayaan atau
kemakmuran juga merupakan laknat, karena hal tersebut dapat
mengamputasi realitas manusia sendiri.
Kita melihat seperti halnya pejabat kaya, yang
terus berkorupsi, atau perampok yang terus merasa gelisah yang
dibutakan oleh kekayaan dan kemakmuran. Tuhan telah menutup diri
mereka hingga mereka lupa pada kesucian diri, walaupun Tuhan juga
menutup diri dari orang yang rajin beribadah dan berbuat baik.
Realitas yang teramputasi akan menyebabkan kegelisaan yang dalam diri
manusia, hal ini akan termanifestasi dalam kehidupan yang tidak
seimbang dan memberhalai sesuatu selain Sang Maha Ada. Ktia sering
didengarkan oleh para penceramah bahwa manusia di turunkan di bumi
untuk menjadi Khalifah, namun apakan manusia memahami makna khalifah
sebenarnya.
Khalifah atau pemimpin sering diartikan sebagai
aksiden dari sikap bertanggung jawab. Namun tanggung jawab seperti
apa yang diemban oleh manusia? Walaupun saya tidak begitu memahami
mengapa Tuhan memberikan tanggung jawab ini pada umat manusia. Jika
tanggung jawab ini diberikan untuk melakukan tugas yang tidak bisa
diatasi oleh Tuhan, maka saya pikir ini tidak mungkin? Akhirnya saya
berargumen bahwa tanggung jawab yang dimaksud adalah sebuah
metabolisme kosmis, seperti halnya sebuah sel yang berfungsi untuk
melengkapi sebuah organisme hidup, manusia juga digunakan sebagai
sebuah sel untuk bisa melengkapi organisme kosmis ini. Dan juga
seperti sebuah sel, maka dia akan mati, seperti itu juga manusia
bahwa ketika dirinya telah memenuhi tugasnya sebagai sel kosmis, dia
akan mati.
Manusia muncul dari
sebuah ketiadaan dan begitu pula akan kembali ke bentuk ketiadaan.
Bagaimana mungkin anda tidak berfikir demikian? Ketika manusia
terbentuk dari substansi Tuhan, begitu pula dia akan kembali. Tuhan
yang ada tanpa bergantung pada sesuatu, menunjukan bahwa entitas Ada
memang berasal dari ketiadaan. Dan disini ketiadaan bisa disebut
sebagai entitas tanpa warna, tanpa bentuk, atau biasa kita sebut
sebagai Kesucian.