Laman

Kamis, 25 Agustus 2016

Manusia Hakikatnya Suci


Mencoba menanggapi kalimat dari Cak Nun, yang berargumen bahwa manusia hakikatnya adalah kotor. Kalimat ini seperti kalimat Freud yang penuh pesimisme, walaupun tujuannya baik, yaitu usaha untuk membuat manusia terus mensucikan diri. Namun ketika ini dipahami secara kurang hal ini bisa berdampak pada pesimisme yang destruktif. Seperti sebuah pembenaran, saya adalah seorang perampok maka dirinya akan selalu merampok karena dia telah melabeli dirinya sebagai perampok. Kritik ini juga didukung dengan doa yang sering kita panjatkan yaitu “Inalilahi wa inalilahi roji’un”, segala berasal dari Allah dan akan kembali kepada-Nya.
Tujuan baik dari Cak Nun mungkin bisa menjadi pembenaran akan kalimatnya, tapi itu akan merubah paradigma secara substansial. Ketika manusia menganggap dirinya kotor dan akan kembali kekotoran, hal ini akan berujung pada kekotoran. Bukan saya tidak setuju dengan cita-cita dari Cak Nun untuk terus membuat manusia berusaha menyucikan diri, namun beberapa penjelasan berikut mungkin akan lebih mengena dari pada apa yang disampaikan oleh Cak Nun.
Manusia memang terlahir dari sebuah kesucian, namun dalam proses perjalanan kembali menuju kesucian manusia harus menghadapi realitas yang berwarna. Perjalanan yang berwarna ini akan memberikan warna pada diri manusia. Seperti sebuah kertas bening, dimana ketika dia bersentuhan dengan pena, maka akan muncul noda hitam. Ketika bertemu dengan kapur maka akan muncul warna putih. Perjalanan manusia kembali pada kesucian yang sering kita sebut perjalanan menuju kematian harus melewati beragam warna yang akan mewarnai kebeningan dari manusia itu sendiri. Seperti kita tahu, seorang bayi belum menginginkan mobil, namun ketika dia tumbuh dewasa dirinya telah terkontaminasi oleh lingkungan sehingga dia menginginkan mobil. Dan keingingan untuk mendapatkan mobil telah memberikan warna pada dirinya. Atau seperti seorang balita yang semasa kecil tidak tergila-gila dengan kekuasaan, kemudian ketika dewasa dia melihat bahwa menjadi seorang pejabat sangat keren karena bisa memerintah orang, banyak uang, atau punya istri yang cantik, maka kemudian dia tergila-gila dengan kekuasaan.
Realitas yang selalu berwarna telah menipu manusia dan menutup kesadaran manusia bahwa manusia terlahir suci dan akan kembali pada kesucian. Untuk mensucikan manuisa, Tuhan menciptakan surga dan neraka agar manusia bisa kembali kepada kesucian. Orang yang hatinya telah berwarna, baik hitam, putih, hijau, kuning atau merah muda, akan mengalami perjalanan penyucian seperti penderitaan. Namun orang tidak selamanya menyadari bahwa penderitaan bukan semata kemiskinan atau kecacatan dalam menjalani hidup, ada kalanya orang disucikan dengan kekayaan dan kemakmuran hidup, hingga dirinya lupa pada substansi dan tidak menyadari realitas dirinya. Seperti kata Jalaludin Rumi dalam Kitab Fihi Ma Fihi, bahwa kekayaan atau kemakmuran juga merupakan laknat, karena hal tersebut dapat mengamputasi realitas manusia sendiri.
Kita melihat seperti halnya pejabat kaya, yang terus berkorupsi, atau perampok yang terus merasa gelisah yang dibutakan oleh kekayaan dan kemakmuran. Tuhan telah menutup diri mereka hingga mereka lupa pada kesucian diri, walaupun Tuhan juga menutup diri dari orang yang rajin beribadah dan berbuat baik. Realitas yang teramputasi akan menyebabkan kegelisaan yang dalam diri manusia, hal ini akan termanifestasi dalam kehidupan yang tidak seimbang dan memberhalai sesuatu selain Sang Maha Ada. Ktia sering didengarkan oleh para penceramah bahwa manusia di turunkan di bumi untuk menjadi Khalifah, namun apakan manusia memahami makna khalifah sebenarnya.
Khalifah atau pemimpin sering diartikan sebagai aksiden dari sikap bertanggung jawab. Namun tanggung jawab seperti apa yang diemban oleh manusia? Walaupun saya tidak begitu memahami mengapa Tuhan memberikan tanggung jawab ini pada umat manusia. Jika tanggung jawab ini diberikan untuk melakukan tugas yang tidak bisa diatasi oleh Tuhan, maka saya pikir ini tidak mungkin? Akhirnya saya berargumen bahwa tanggung jawab yang dimaksud adalah sebuah metabolisme kosmis, seperti halnya sebuah sel yang berfungsi untuk melengkapi sebuah organisme hidup, manusia juga digunakan sebagai sebuah sel untuk bisa melengkapi organisme kosmis ini. Dan juga seperti sebuah sel, maka dia akan mati, seperti itu juga manusia bahwa ketika dirinya telah memenuhi tugasnya sebagai sel kosmis, dia akan mati.
Manusia muncul dari sebuah ketiadaan dan begitu pula akan kembali ke bentuk ketiadaan. Bagaimana mungkin anda tidak berfikir demikian? Ketika manusia terbentuk dari substansi Tuhan, begitu pula dia akan kembali. Tuhan yang ada tanpa bergantung pada sesuatu, menunjukan bahwa entitas Ada memang berasal dari ketiadaan. Dan disini ketiadaan bisa disebut sebagai entitas tanpa warna, tanpa bentuk, atau biasa kita sebut sebagai Kesucian.