Laman

Kamis, 25 Agustus 2016

Berhala di Purbalingga


Seperti yang pernah dikatakan dalam karya Nietzsche, Genealogy of Morals, setiap pemikiran yang fix akan sesuatu akan menghasilkan pembengkakan pola pikir. Pembekakan pola pikir ini akan mengakibatkan diri kita sulit untuk mengafirmasi realitas yang nampak sebagai fenomen dalam kehidupan ini. Ketakutan untuk keluar dari pemikiran yang membengkak ini sering kita istilahkan sebagai zona nyaman. Banyak memang yang berteriak tentang zona nyaman, tapi tidak semua orang memahami makna dari zona nyaman itu.
Zona nyaman adalah kondisi kita untuk tetap bertahan dalam suatu nilai karena ketakutan kita dalam menghadapi realitas. Seperti yang pernah kita ketahui bahwa dalam islam mendekati zina terlarang tapi berpacaran lebih terlihat tabu ketimbang melamar. Hal ini merupakan efek dari pembengkakan pola pikir yang tidak teratasi dengan baik. Ketakutan untuk mempertanggungjawabkan keluarga, bahkan mulai dari mengikuti kebiasaan atau adat. Tak hanya dalam bidang percintaan misalnya. Dalam bidang pendidikan pun demikian. Seolah menjadi adat bagi orang Indonesia, bahwa bekerja adalah perilaku kita dalam proses menumpuk uang. Dalam pengertian yang lebih fisis kerja merupakan sebuah potensial atau gaya yang bekerja dalam sebuah partikel untuk bisa membuatnya bergerak. Tapi mengapa definisi ini begitu mudah dirubah oleh orang Purbalingga? Apakah mereka tidak pernah menyam pendidikan fisika di SD, SMP maupun SMA? Dengan pengertian ini yang disebut sebagai tidak bekerja adalah berada pada inertia. Inertia itulah yang saya sebut sebagai pembengkakan pola pikir.
Berlanjut dengan diskusi yang dihadiri oleh teman saya, Agung, Diva, Rido mereka cukup hebat karena masih mau menerima saya di Purbalingga, dan tidak lupa dengan saya ha ha ha apa kaitanya? Penelitian di Purbalingga masih sekedar menunggu inisiatif, dan proposal. Kalau mereka ingin meneliti bukankah tinggal meneliti saja kan? Tidak semua orang memahami bahwa mereka sendiri telah meberhalai proposal, bupati, atau pemerintah. Mereka selalu menyudutkan mereka atas ketidak nyamanan dan kelemahan diri sendiri. Tapi mengapa tidak mencari solusi bersama yang lebih cerdas dan solutif. Bupati, proposal ataupun pemerintah saya rasa bukanlah Tuhan. Andaikata setiap bentuk merupakan interpretasi dari sebuah wujud yang substantif, tapi mengapa diri kita tetap dalam inertia yang tidak produktif. Apakah semata produktifitas itu uang?
Beragam masalah muncul di Purbalingga, ada yang disadari ada yang tidak. Bahkan yang disadari pun belum tentu bisa teratasi. Menunggu berhala (Bupati, Pemerintah, Proposal, uang) memang kebiasaan para kaum muda di Purbalingga, pembenaranya sederhana “Aku ini apa, gak punya kuasa.” Iyah kan yang punya kuasa cuma Gusti Allah, kenapa kalian mencegah pertolongan dari Gusti Allah dengan memberhalai mereka?
Memang benar kata Imam Ghozali, cukup mudah untuk bisa melihat berhala yang nampak seperti patung dan pohon, tapi bagaimana tentang berhala lain semisal adat kebiasaan, pembengkakan pola pikir maupun sikap inersial? Masih maukah hidup dalam Furch ( Fear ) dengan Angst yang muncul dan bisa mengkonstruksimu menjadi sesuatu, itulah kata Martin Heidegger.
Dalam agamapun masih kurang dipahami cukup subtil, ketika agama hanya berada dalam domain estetis, (Hanya nampaknya agama), atau mungkin semacam etis (menjalankan agama) tapi tidak dibarengi dengan pendalaman agama yang lebih religius (Menghayati makna keagamaan). Itulah mengapa orang beragama di Purbalingga tidak begitu merasakan manfaat dari agamanya. Agama masih digunakan sebagai pendorong untuk mecapai berhala berhala seperti kekuasaan, memek, kontol atau duit. Benar kata Jacques Derrida, bahwa teks memiliki hak otonom untuk membentuk pembacanya menjadi sesuatu, maka jagalah jarak dengan apa yang kau baca, atau itu akan menjadi berhala dalam dirimu.
Kegiatan sosial masih cenderung bagi-bagi produk. Memang baik, tapi jika produk itu habis mau bagaimana lagi. Kegiatan sosial semacam itu tidak akan mengkonstruksi sesuatu yang lebih menjawab permasalahan di purbalingga secara mengakar. Pemberhalaan pada bentuk untuk mendapatkan substansi yang lebih matang saya pikir perlu lebih diatasi oleh diri kita.


Daftar Pustaka :
  1. Heidegger, Martin. 1949. Existence and Being. Chicago : Henry Regnery Company.
  2. Wibowo, A. Setyo. 2011. Filsafat Eksistensialisame Jean Paul Sartre. Yogyakarta : Kanisius.
  3. Hardiman, F. Budi. - . Seni Memahami : Hermeneutik dari Schleiermacher sampai Derrida. Jakarta : Kanisius.
  4. Pitt, Joseph C. 2011. Philosophy of Engineering and Technology vol 3 : Doing Philosophy of Technology, Essay in Pragmatism Spirit. Springer : New York, USA.
  5. William, Lovitt. 1977. Translate The Question of Concerning Technology and Other Essay, Martin Heidegger. Garland Publishing : New York and London.
  6. Capra, Fritjof. 1983. The Turning Point : Science, Society and The Rissing Culture. Bantam Books : Toronto.
  7. Suriasumantri, Jujun S. 2010. Filsafat Ilmu : Sebuah Pengantar Populer. Pustaka Sinar Harapan : Jakarta.
  8. Lim, Francis. 2008. Filsafat Teknologi : Don Idhe Tentang Dunia, Manusia, dan Alat. Kanisius : Yogyakarta.
  9. Hardiman, F. Budi. 2008. Heidegger dan Mistik Keseharian : Suatu Pengantar Menuju Sein und Zeit. Kepustakaan Populer Gramedia : Jakarta.
  10. Tjaya, Thomas Hidya. 2010. Kierkegaard dan Pergulatan Menjadi Diri Sendiri. Jakarta : KPG
  11. Nietzsche, Fredrich. 2009. On the Genealogy of Morals : A Polemical Tract. Richer Resources Publicarion : Arlington, Virginia, USA.
  12. Ghozali, Abu Hamid Al.- . Ikhya Ulumudin.
  13. Rumi, Jalaludin. - .Fihi Ma Fihi