Seperti yang pernah dikatakan dalam karya
Nietzsche, Genealogy of Morals, setiap pemikiran yang fix akan
sesuatu akan menghasilkan pembengkakan pola pikir. Pembekakan pola
pikir ini akan mengakibatkan diri kita sulit untuk mengafirmasi
realitas yang nampak sebagai fenomen dalam kehidupan ini. Ketakutan
untuk keluar dari pemikiran yang membengkak ini sering kita
istilahkan sebagai zona nyaman. Banyak memang yang berteriak tentang
zona nyaman, tapi tidak semua orang memahami makna dari zona nyaman
itu.
Zona nyaman adalah kondisi kita untuk tetap
bertahan dalam suatu nilai karena ketakutan kita dalam menghadapi
realitas. Seperti yang pernah kita ketahui bahwa dalam islam
mendekati zina terlarang tapi berpacaran lebih terlihat tabu
ketimbang melamar. Hal ini merupakan efek dari pembengkakan pola
pikir yang tidak teratasi dengan baik. Ketakutan untuk
mempertanggungjawabkan keluarga, bahkan mulai dari mengikuti
kebiasaan atau adat. Tak hanya dalam bidang percintaan misalnya.
Dalam bidang pendidikan pun demikian. Seolah menjadi adat bagi orang
Indonesia, bahwa bekerja adalah perilaku kita dalam proses menumpuk
uang. Dalam pengertian yang lebih fisis kerja merupakan sebuah
potensial atau gaya yang bekerja dalam sebuah partikel untuk bisa
membuatnya bergerak. Tapi mengapa definisi ini begitu mudah dirubah
oleh orang Purbalingga? Apakah mereka tidak pernah menyam pendidikan
fisika di SD, SMP maupun SMA? Dengan pengertian ini yang disebut
sebagai tidak bekerja adalah berada pada inertia. Inertia itulah yang
saya sebut sebagai pembengkakan pola pikir.
Berlanjut dengan diskusi yang dihadiri oleh teman
saya, Agung, Diva, Rido mereka cukup hebat karena masih mau menerima
saya di Purbalingga, dan tidak lupa dengan saya ha ha ha apa
kaitanya? Penelitian di Purbalingga masih sekedar menunggu inisiatif,
dan proposal. Kalau mereka ingin meneliti bukankah tinggal meneliti
saja kan? Tidak semua orang memahami bahwa mereka sendiri telah
meberhalai proposal, bupati, atau pemerintah. Mereka selalu
menyudutkan mereka atas ketidak nyamanan dan kelemahan diri sendiri.
Tapi mengapa tidak mencari solusi bersama yang lebih cerdas dan
solutif. Bupati, proposal ataupun pemerintah saya rasa bukanlah
Tuhan. Andaikata setiap bentuk merupakan interpretasi dari sebuah
wujud yang substantif, tapi mengapa diri kita tetap dalam inertia
yang tidak produktif. Apakah semata produktifitas itu uang?
Beragam masalah muncul di Purbalingga, ada yang
disadari ada yang tidak. Bahkan yang disadari pun belum tentu bisa
teratasi. Menunggu berhala (Bupati, Pemerintah, Proposal, uang)
memang kebiasaan para kaum muda di Purbalingga, pembenaranya
sederhana “Aku ini apa, gak punya kuasa.” Iyah
kan yang punya kuasa cuma Gusti Allah, kenapa kalian mencegah
pertolongan dari Gusti Allah dengan memberhalai mereka?
Memang benar kata
Imam Ghozali, cukup mudah untuk bisa melihat berhala yang nampak
seperti patung dan pohon, tapi bagaimana tentang berhala lain semisal
adat kebiasaan, pembengkakan pola pikir maupun sikap inersial? Masih
maukah hidup dalam Furch (
Fear ) dengan Angst yang muncul dan bisa mengkonstruksimu menjadi
sesuatu, itulah kata Martin Heidegger.
Dalam agamapun masih
kurang dipahami cukup subtil, ketika agama hanya berada dalam domain
estetis, (Hanya nampaknya agama), atau mungkin semacam etis
(menjalankan agama) tapi tidak dibarengi dengan pendalaman agama yang
lebih religius (Menghayati makna keagamaan). Itulah mengapa orang
beragama di Purbalingga tidak begitu merasakan manfaat dari agamanya.
Agama masih digunakan sebagai pendorong untuk mecapai berhala berhala
seperti kekuasaan, memek, kontol atau duit. Benar kata Jacques
Derrida, bahwa teks memiliki hak otonom untuk membentuk pembacanya
menjadi sesuatu, maka jagalah jarak dengan apa yang kau baca, atau
itu akan menjadi berhala dalam dirimu.
Kegiatan sosial masih
cenderung bagi-bagi produk. Memang baik, tapi jika produk itu habis
mau bagaimana lagi. Kegiatan sosial semacam itu tidak akan
mengkonstruksi sesuatu yang lebih menjawab permasalahan di
purbalingga secara mengakar. Pemberhalaan pada bentuk untuk
mendapatkan substansi yang lebih matang saya pikir perlu lebih
diatasi oleh diri kita.
Daftar Pustaka :
-
Heidegger, Martin. 1949. Existence and Being. Chicago : Henry Regnery Company.
-
Wibowo, A. Setyo. 2011. Filsafat Eksistensialisame Jean Paul Sartre. Yogyakarta : Kanisius.
-
Hardiman, F. Budi. - . Seni Memahami : Hermeneutik dari Schleiermacher sampai Derrida. Jakarta : Kanisius.
-
Pitt, Joseph C. 2011. Philosophy of Engineering and
Technology vol 3 : Doing Philosophy of Technology, Essay in
Pragmatism Spirit. Springer : New York, USA.
-
William, Lovitt. 1977. Translate The Question of
Concerning Technology and Other Essay, Martin Heidegger. Garland
Publishing : New York and London.
-
Capra, Fritjof. 1983. The Turning Point : Science,
Society and The Rissing Culture. Bantam Books : Toronto.
-
Suriasumantri, Jujun S. 2010. Filsafat Ilmu : Sebuah
Pengantar Populer. Pustaka Sinar Harapan : Jakarta.
-
Lim, Francis. 2008. Filsafat Teknologi : Don Idhe Tentang Dunia, Manusia, dan Alat. Kanisius : Yogyakarta.
-
Hardiman, F. Budi. 2008. Heidegger dan Mistik Keseharian : Suatu Pengantar Menuju Sein und Zeit. Kepustakaan Populer Gramedia : Jakarta.
-
Tjaya, Thomas Hidya. 2010. Kierkegaard dan Pergulatan Menjadi Diri Sendiri. Jakarta : KPG
-
Nietzsche, Fredrich. 2009. On the Genealogy of Morals : A Polemical Tract. Richer Resources Publicarion : Arlington, Virginia, USA.
-
Ghozali, Abu Hamid Al.- . Ikhya Ulumudin.
-
Rumi, Jalaludin. - .Fihi Ma Fihi