Laman

Kamis, 25 Agustus 2016

Menuju Smart City


Berdiskusi dengan Hendrik Maulana cukup memberikan pencerahan untuk saya dalam merencanakan pembangunan Silikon Valey di Indonesia. Ternyata rencana ini tidak hanya aku semata yang menginginkannya, Hendrik pun berfikiran untuk membuat komunitas bersama guna meningkatkan kualitas hidup di Indonesia, dia menunggu komunitas-komunitas yang lebih bisa diajak serius untuk mengkonstruksikan Indonesia yang lebih baik. Saya pun sebenarnya menunggu komunitas semacam itu. Sementara ini komunitas yang didirikan oleh para pemuda hanyalah sekedar kegiatan sosial yang tidak mampu memberikan solusi hingga menyelesaikan masalah hingga ke akar. Baik memang berbagi beras, sembako, atau buku kepada panti asuhan atau yang lainnya. Tapi kegiatan itu masih kurang bisa memberikan geist (roh) atau karakter yang memberikan riple cukup bermakna. Sembako yang diberikan juga akan habis dalam waktu kurang dari satu minggu, dan apa kelanjutanya? Nothing.
Labseni mencoba mengkonstruksi benar dari pola pikir negeri ini yang bermula konsumptif dan parno akan teknologi, untuk setidaknya mampu menjadi diri sendiri. Kita melihat bahwa banyak produk asing yang beredar di negara ini. Apakah kita tidak menyadarinya, tapi kita justru bangga apa lagi kalau harganya mahal. Coba banyangkan jika uang itu digunakan untuk membeli buku atau memberikan beasiswa kepada anak orang yang tidak mampu?
Konstruksi yang dimulai dari karakter diri entah itu persia, yunani, eropa, bahkan majapahitpun menjadi sangat dominan. Saat kita berfikir bahwa negara yang paling berkuasa adalah negara yang kaya dan teknologinya paling canggih, itu hanyalah pola pikir kulit saja. Kemampuan manuisa itu sama. Teknologi itu bisa dipelajari dalam waktu yang singgat, 2 minggu udah jago, itulah kata Bambang Mulyono. Bangsa yang besar adalah bangsa mampu menjadi dirinya dan mampu menarik orang lain menjadi dirinya, itulah yang aku pelajari dari beragam buku filsafat.
Diskusi dengan Hendrik berlanjut dengan proyekan yang diberikan oleh Pemda untuk membangun sebuah pengaduan sosial dengan berbasis sms. Katanya proyekan ini membutuhkan dana yang mahal, tapi jujur saja. Bahkan dengan uang kurang dari 300 rb pun aplikasi itu bisa dibuat oleh tangan anak Purbalingga dan waktu kurang dari 1 minggu. Ternyata mudahkan membangun smart city? Mau bergabung?
Pesisme negeri ini memang masih menjadi penhijab antara diri kita dengan realitas yang ternyata diri kita lebih hebat dari apa yang kita fikirkan. Keparnoan akan produk luar negeri sebaiknya kita tangguhkan agar kita mampu memiliki pemahaman yang lebih jernih akan makna dari produk itu, mungkin itu yang ingin dikatakan Jacques Derrida pada orang Indonesia. Sebenarnya banyak hal yang bisa didiskusian di negeri ini. Kamu kemana aja?