Berdiskusi dengan Hendrik Maulana cukup memberikan
pencerahan untuk saya dalam merencanakan pembangunan Silikon Valey di
Indonesia. Ternyata rencana ini tidak hanya aku semata yang
menginginkannya, Hendrik pun berfikiran untuk membuat komunitas
bersama guna meningkatkan kualitas hidup di Indonesia, dia menunggu
komunitas-komunitas yang lebih bisa diajak serius untuk
mengkonstruksikan Indonesia yang lebih baik. Saya pun sebenarnya
menunggu komunitas semacam itu. Sementara ini komunitas yang
didirikan oleh para pemuda hanyalah sekedar kegiatan sosial yang
tidak mampu memberikan solusi hingga menyelesaikan masalah hingga ke
akar. Baik memang berbagi beras, sembako, atau buku kepada panti
asuhan atau yang lainnya. Tapi kegiatan itu masih kurang bisa
memberikan geist (roh) atau
karakter yang memberikan riple cukup bermakna. Sembako yang diberikan
juga akan habis dalam waktu kurang dari satu minggu, dan apa
kelanjutanya? Nothing.
Labseni mencoba
mengkonstruksi benar dari pola pikir negeri ini yang bermula
konsumptif dan parno akan teknologi, untuk setidaknya mampu menjadi
diri sendiri. Kita melihat bahwa banyak produk asing yang beredar di
negara ini. Apakah kita tidak menyadarinya, tapi kita justru bangga
apa lagi kalau harganya mahal. Coba banyangkan jika uang itu
digunakan untuk membeli buku atau memberikan beasiswa kepada anak
orang yang tidak mampu?
Konstruksi yang dimulai
dari karakter diri entah itu persia, yunani, eropa, bahkan
majapahitpun menjadi sangat dominan. Saat kita berfikir bahwa negara
yang paling berkuasa adalah negara yang kaya dan teknologinya paling
canggih, itu hanyalah pola pikir kulit saja. Kemampuan manuisa itu
sama. Teknologi itu bisa dipelajari dalam waktu yang singgat, 2
minggu udah jago, itulah kata Bambang Mulyono. Bangsa yang besar
adalah bangsa mampu menjadi dirinya dan mampu menarik orang lain
menjadi dirinya, itulah yang aku pelajari dari beragam buku filsafat.
Diskusi dengan
Hendrik berlanjut dengan proyekan yang diberikan oleh Pemda untuk
membangun sebuah pengaduan sosial dengan berbasis sms. Katanya
proyekan ini membutuhkan dana yang mahal, tapi jujur saja. Bahkan
dengan uang kurang dari 300 rb pun aplikasi itu bisa dibuat oleh
tangan anak Purbalingga dan waktu kurang dari 1 minggu. Ternyata
mudahkan membangun smart city? Mau bergabung?
Pesisme negeri ini memang masih menjadi penhijab antara diri kita
dengan realitas yang ternyata diri kita lebih hebat dari apa yang
kita fikirkan. Keparnoan akan produk luar negeri sebaiknya kita
tangguhkan agar kita mampu memiliki pemahaman yang lebih jernih akan
makna dari produk itu, mungkin itu yang ingin dikatakan Jacques
Derrida pada orang Indonesia. Sebenarnya banyak hal yang bisa
didiskusian di negeri ini. Kamu kemana aja?