Waktu itu saya sedang bingung untuk mengalirkan
distribusi pelanggan guna menaikkan pendapatan daerah. Sederhananya
saya sedang membangun sebuah perusahaan riset agar negara ini tidak
terlalu bergantung pada teknologi luar negeri tapi orang tidak bisa
mengerti. Masalah pokemon GO membuat saya patah hati, lantaran niat
saya membangun game berbasis GPS di dahului oleh orang Amerika. Dasar
Amerika kaya sih, mereka bisa menciptakan sesuatu lebih cepat dari
saya. Sayangnya Indonesia lebih cerdas dari mereka, walaupun game
mereka cukup laku dipasaran, konstruksi mereka kurang bisa menangani
problematika semacam kecanduan game atau sebagainya.
Seperti yang pernah dikatakan oleh Martin
Heidegger dalam The Question of Concerning of Technology, bahwa
teknologi mendahului sains, hal ini akan memberikan pelajaran bagi
kita untuk bisa lebih belajar memahami kehidupan (Hermeneutika
Kehidupan). Pokemon GO memang telah jadi, namun konstruksinya akan
memang berdampak cukup destruktif dalam pendidikan apalagi di
Indonesia yang masih memberhalai prestisme maupun hal yang tidak
penting lainnya. Sebenarnya kita bisa memanfaatkan Pokemon GO untuk
mengatasi kemacetan semisal untuk menyebarkan jalur distribusi trafik
mobil dalam rute yang lebih rendah kepadatanya. Atau mungkin untuk
mengurangi urbanisasi yang semakin menjadi-jadi paska lebaran.
Pokemon GO bisa dilakukan sebagai sarana untuk bisa mengurangi
kapitalisme pendidikan, semisal memberikan hadiah pokemon untuk
sekolah ditempat tertentu. Namun juga sebaliknya bisa menaikkan
kapitalisme. Semua tergantung bagaimana mengatur rarity pokemon yang
akan disusun. Sederhana bukan, tapi ini cukup untuk menghancurkan
atau membangun sebuah negara dengan sangat effektif.
Sebagai negara yang jenius, untuk apa memanfaatkan
Pokemon GO dalam proses konstruksi pendidikan, perekonomian atau yang
lainnya? Apalagi Pokemon GO merupakan produk asing. Bahkan value dari
pokemon itu sendiri merupakan adaptasi dari kehidupan Jepang. Jika
saya memanfaatkan game ini. Indonesia akan semakin kehilangan jati
dirinya dan akan semakin menguatkan dominasi asing di tanah air
tercinta. Namun saya bukanlah pemuda tanpa solusi. Sebaiknya
Indonesia membangun game berbasis GPS sendiri yang dinaungi oleh
Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan, maupun ristek. Hal ini
berkaitan bahwa jika game ini dikuasai oleh swasta, atau golongan ini
akan mudah untuk bisa dimanfaatkan oleh orang yang tidak bertanggung
jawab.
Saya rasa membuat game berbasis GPS terlalu mudah
untuk orang Indonesia. Korupsi saja yang orang eropa tidak bisa,
orang Indonesia jago, apalagi membuat game GPS doang. Alur cerita
saya pikir harus disesuakan dengan wilayah setempat, semisal kita
membuat game RPG, dimana jika kita pergi ke jawa kita akan
mendapatkan item keris setelah membunuh monster daerah setempat, atau
kita akan mendapatkan Koteka ketika kita membunuh monster di Papua.
Sederhana kan. Atau mungkin dengan memberikan item tambahan jika kita
membeli souvenir di tempat tertentu, ini bisa menjadi metode
marketing yang baik.
Daftar Pustaka :
William, Lovitt. 1977. Translate The Question of Concerning
Technology and Other Essay, Martin Heidegger. Garland Publishing
: New York and London.