Laman

Kamis, 25 Agustus 2016

Game Berbasis GPS


Waktu itu saya sedang bingung untuk mengalirkan distribusi pelanggan guna menaikkan pendapatan daerah. Sederhananya saya sedang membangun sebuah perusahaan riset agar negara ini tidak terlalu bergantung pada teknologi luar negeri tapi orang tidak bisa mengerti. Masalah pokemon GO membuat saya patah hati, lantaran niat saya membangun game berbasis GPS di dahului oleh orang Amerika. Dasar Amerika kaya sih, mereka bisa menciptakan sesuatu lebih cepat dari saya. Sayangnya Indonesia lebih cerdas dari mereka, walaupun game mereka cukup laku dipasaran, konstruksi mereka kurang bisa menangani problematika semacam kecanduan game atau sebagainya.
Seperti yang pernah dikatakan oleh Martin Heidegger dalam The Question of Concerning of Technology, bahwa teknologi mendahului sains, hal ini akan memberikan pelajaran bagi kita untuk bisa lebih belajar memahami kehidupan (Hermeneutika Kehidupan). Pokemon GO memang telah jadi, namun konstruksinya akan memang berdampak cukup destruktif dalam pendidikan apalagi di Indonesia yang masih memberhalai prestisme maupun hal yang tidak penting lainnya. Sebenarnya kita bisa memanfaatkan Pokemon GO untuk mengatasi kemacetan semisal untuk menyebarkan jalur distribusi trafik mobil dalam rute yang lebih rendah kepadatanya. Atau mungkin untuk mengurangi urbanisasi yang semakin menjadi-jadi paska lebaran. Pokemon GO bisa dilakukan sebagai sarana untuk bisa mengurangi kapitalisme pendidikan, semisal memberikan hadiah pokemon untuk sekolah ditempat tertentu. Namun juga sebaliknya bisa menaikkan kapitalisme. Semua tergantung bagaimana mengatur rarity pokemon yang akan disusun. Sederhana bukan, tapi ini cukup untuk menghancurkan atau membangun sebuah negara dengan sangat effektif.
Sebagai negara yang jenius, untuk apa memanfaatkan Pokemon GO dalam proses konstruksi pendidikan, perekonomian atau yang lainnya? Apalagi Pokemon GO merupakan produk asing. Bahkan value dari pokemon itu sendiri merupakan adaptasi dari kehidupan Jepang. Jika saya memanfaatkan game ini. Indonesia akan semakin kehilangan jati dirinya dan akan semakin menguatkan dominasi asing di tanah air tercinta. Namun saya bukanlah pemuda tanpa solusi. Sebaiknya Indonesia membangun game berbasis GPS sendiri yang dinaungi oleh Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan, maupun ristek. Hal ini berkaitan bahwa jika game ini dikuasai oleh swasta, atau golongan ini akan mudah untuk bisa dimanfaatkan oleh orang yang tidak bertanggung jawab.
Saya rasa membuat game berbasis GPS terlalu mudah untuk orang Indonesia. Korupsi saja yang orang eropa tidak bisa, orang Indonesia jago, apalagi membuat game GPS doang. Alur cerita saya pikir harus disesuakan dengan wilayah setempat, semisal kita membuat game RPG, dimana jika kita pergi ke jawa kita akan mendapatkan item keris setelah membunuh monster daerah setempat, atau kita akan mendapatkan Koteka ketika kita membunuh monster di Papua. Sederhana kan. Atau mungkin dengan memberikan item tambahan jika kita membeli souvenir di tempat tertentu, ini bisa menjadi metode marketing yang baik.
Daftar Pustaka :
William, Lovitt. 1977. Translate The Question of Concerning Technology and Other Essay, Martin Heidegger. Garland Publishing : New York and London.