Laman

Kamis, 25 Agustus 2016

Dendam Cinta


Seperti yang pernah dikatakan oleh Zarathustra dalam The Spoke of Zarathustra karya Fredrich Nietzsche, ketika kita mendendam seseorang maka balaslah dendam itu agar kita bisa hidup dengan tenang. Namun Zarathustra selalu memiliki solusi unik dalam mengatasi konflik tersebut. Ketika kita disakiti maka balaslah dengan yang menyakitkan agar jiwa kita tenang. Namun, uniknya menurut Zarathustra tidak ada yang lebih menyakitkan dari dicintai, mengapa demikian? Zarathustra pernah diracuni oleh seekor ular, namun dia justru kasihan pada ular tersebut sembari berkata, “Hai ular, racunmu tidak akan pernah menyakitiku, aku khawatir jika racunmu justru akan membuatmu menyesali perbuatanmu. Itu takkan membunuhku, dan kau akan menyesalinya seumur hidupmu dan rasa malu yang tiada tara, apakah kau ingin mengorbankan harga dirimu hanya dengan racunmu itu? Kasihanilah dirimu.” Penggalan cerita dari karya Nietzsche ini cukup menarik, ketika ular yang penuh kebencian mencoba untuk membunuh dengan racunnya, namun Zarathustra justru memberikan perhatian penuh cinta kepada sang ular. Namun bagaimana sang ular membalas dendam atas cinta yang diberikan Zarathustra tersebut. Dari sini kita mempelajari bahwa dicintai lebih memalukan ketimbang mencintai.
Ketika semua orang saling menghancurkan satu sama lain. Menjelekan satu sama lain. Memperpanjang rantai kebencian yang bahkan tidak memberikan kepuasan bagi yang membenci. Zarathustra mengajarkan pada kita bahwa dicintai lebih menyeramkan, dan mencintai merupakan kekejaman yang sangat tinggi. Apa yang lebih memalukan dari pada dicintai? Iyah mungkin inilah yang menyebabkan Tuhan selalu memberikan pendertiaan guna menyucikan para pencintanya. Sederhana saja, mencintai adalah sebuah kriminalitas yang melampaui genosida. Cukup mudah untuk memberikan hukuman untuk orang yang membunuh, merampok atau memperkosa. Tapi bagaimana menghukum orang yang mencintai? Andai kata neraka jahanam diperuntukan oleh orang munafik, atau orang yang melakukan dosa besar. Tapi neraka seperti apa yang bisa menghukum para pecinta? Untuk itu Tuhan mengambil alih sendiri prosesi hukuman bagi seorang pecinta. Oh betapa mengerikannya hukuman yang langsung dijatuhi dari sang Maha Penghukum. Tapi bagaimana seorang pecinta bisa merasakan sakitnya cinta, jika cinta pada hakikatnya adalah tanpa rasa dan tanpa sakit. Saya rasa hukuman paling menyakitkan memang harus dijatuhkan oleh seorang pencinta. Neraka yang lebih panas dari Jahanam harus disiapkan untuk seorang pecinta, tapi bagaimana membuat seorang pecinta itu merasakan sakit?
Kisos yang diajarkan oleh al Qur’an pun tidak akan bisa menghukum para pecinta, bagaimana ini? Bagaimana jika ada orang yang mencintaiku dengan tulus? Aku benar-benar ketakutan, aku tidak tahu bagaimana jika memang benar adanya seorang mencintai aku dengan tulus, aku hanya bisa menghukumnya dengan cinta yang lebih tinggi, agar dendamku pada orang yang mencintaiku bisa terbalaskan. Agar kegelisahanku pada yang mencintaiku bisa sirna. Agar mereka belajar bahwa dicintai memang sesuatu yang sangat mengerikan Agar mereka mengetahui bahwa dicintai itu begitu menyakitkan. Oh Tuhan bahkan dirimu memberikan rasa sakit bagi para pencintamu agar kau tak mudah dicintai.