Seperti yang pernah
dikatakan oleh Zarathustra dalam The Spoke of Zarathustra karya
Fredrich Nietzsche, ketika kita mendendam seseorang maka balaslah
dendam itu agar kita bisa hidup dengan tenang. Namun Zarathustra
selalu memiliki solusi unik dalam mengatasi konflik tersebut. Ketika
kita disakiti maka balaslah dengan yang menyakitkan agar jiwa kita
tenang. Namun, uniknya menurut Zarathustra tidak ada yang lebih
menyakitkan dari dicintai, mengapa demikian? Zarathustra pernah
diracuni oleh seekor ular, namun dia justru kasihan pada ular
tersebut sembari berkata, “Hai ular, racunmu tidak akan pernah
menyakitiku, aku khawatir jika racunmu justru akan membuatmu
menyesali perbuatanmu. Itu takkan membunuhku, dan kau akan
menyesalinya seumur hidupmu dan rasa malu yang tiada tara, apakah kau
ingin mengorbankan harga dirimu hanya dengan racunmu itu? Kasihanilah
dirimu.” Penggalan cerita dari
karya Nietzsche ini cukup menarik, ketika ular yang penuh kebencian
mencoba untuk membunuh dengan racunnya, namun Zarathustra justru
memberikan perhatian penuh cinta kepada sang ular. Namun bagaimana
sang ular membalas dendam atas cinta yang diberikan Zarathustra
tersebut. Dari sini kita mempelajari bahwa dicintai lebih memalukan
ketimbang mencintai.
Ketika semua orang
saling menghancurkan satu sama lain. Menjelekan satu sama lain.
Memperpanjang rantai kebencian yang bahkan tidak memberikan kepuasan
bagi yang membenci. Zarathustra mengajarkan pada kita bahwa dicintai
lebih menyeramkan, dan mencintai merupakan kekejaman yang sangat
tinggi. Apa yang lebih memalukan dari pada dicintai? Iyah mungkin
inilah yang menyebabkan Tuhan selalu memberikan pendertiaan guna
menyucikan para pencintanya. Sederhana saja, mencintai adalah sebuah
kriminalitas yang melampaui genosida. Cukup mudah untuk memberikan
hukuman untuk orang yang membunuh, merampok atau memperkosa. Tapi
bagaimana menghukum orang yang mencintai? Andai kata neraka jahanam
diperuntukan oleh orang munafik, atau orang yang melakukan dosa
besar. Tapi neraka seperti apa yang bisa menghukum para pecinta?
Untuk itu Tuhan mengambil alih sendiri prosesi hukuman bagi seorang
pecinta. Oh betapa mengerikannya hukuman yang langsung dijatuhi dari
sang Maha Penghukum. Tapi bagaimana seorang pecinta bisa merasakan
sakitnya cinta, jika cinta pada hakikatnya adalah tanpa rasa dan
tanpa sakit. Saya rasa hukuman paling menyakitkan memang harus
dijatuhkan oleh seorang pencinta. Neraka yang lebih panas dari
Jahanam harus disiapkan untuk seorang pecinta, tapi bagaimana membuat
seorang pecinta itu merasakan sakit?
Kisos yang diajarkan
oleh al Qur’an pun tidak akan bisa menghukum para pecinta,
bagaimana ini? Bagaimana jika ada orang yang mencintaiku dengan
tulus? Aku benar-benar ketakutan, aku tidak tahu bagaimana jika
memang benar adanya seorang mencintai aku dengan tulus, aku hanya
bisa menghukumnya dengan cinta yang lebih tinggi, agar dendamku pada
orang yang mencintaiku bisa terbalaskan. Agar kegelisahanku pada yang
mencintaiku bisa sirna. Agar mereka belajar bahwa dicintai memang
sesuatu yang sangat mengerikan Agar mereka mengetahui bahwa dicintai
itu begitu menyakitkan. Oh Tuhan bahkan dirimu memberikan rasa sakit
bagi para pencintamu agar kau tak mudah dicintai.