Laman

Kamis, 25 Agustus 2016

Tentang Takdir


Membahas takdir memang menarik hati, bagaimana kehidupan kita selanjutnya, siapa jodoh kita, apakah kita masuk surga atau neraka? Memang benar rosululah pernah bersabda bahwa sebisa mungkin seseorang membahas tentang takdir. Sebenarnya apa itu takdir?
Dalam karya Jalaludin Rumi, bahkan seseorang yang melemparkan batupun sebenarnya telah digariskan oleh Tuhan. Tapi bertentangan dari itu, al Qur’an pernah menuliskan bahwa Allah tidak akan merubah kaum sebelum kaumnya mau merubah sendiri. Namun dari surat tersebut bukankah menunjukan Allah tidak memiliki kuasa untuk menentukan takdir. Siapakah yang bernar?
Dalam Ecce Homo, Fredrich Nietzsche pernah menuliskan “Mengapa aku adalah takdir?”, tentunya setelah kalimat “Mengapa aku begitu pintar?” dan “Mengapa tulisanku begitu bagus?”. Kesadaran akan takdir yang pernah diungkapkan dalam hadis arbain, bahwa Rosululah pernah bersabda ada 4 hal yang telah ditetapkan dari dalam diri manusia yaitu hidup mati, rejeki, jodoh, serta keselamatan. Mungkin inilah yang melatar belakangi Fredrich Nietzsche membunuh Tuhan karena dia sepertinya tidak cukup konsisten dalam firmannya. Kasus ini dijelaskan lagi oleh Martin Heidegger, seorang pemikir Jerman yang mendapatkan nobel karena penjelasannya tentang ada.
Secara arti kata Takdir berarti kadar, begitulah kata kiayi. Namun dalam takdir kita melihat adanya qodo dan qodar, yaitu sebuah ketentuan takdir dan pengejawantahanya. Namun walau bagaimanapun kita juga tidak mengetahui qodo kita seperti apa, maka kita tidak akan pernah mengetahui apakah qodar sesuai dengan qodo maupun tidak. Namun sebagai seorang mukmin kita diperintahkan untuk beriman pada qodo dan qodar.
Secara genealogis runtutan kehidupan yang kita jalani memberikan kita penilaian tentang makna bahwa takdir adalah track record yang dilewati oleh seseorang. Kebutuhan akan percaya pada kehidupan yang baik terkadang membuat kita memperbudak tuhan dengan doa-doa kita. Setelah doa itu terkabul kita justru menampakan hasrat rendah kita (berupa hawa nafsu) untuk melakukan semisal pamer, bermaksiat atau yang lain. Tapi itu bukanlah masalah, karena memang salah dan benar merupakan ketiadaan yang diada-adakan, yaitu sebuah pelengkap di ranah etis.
Walaupun dalam religiusitas, baik buruk tidak begitu penting. Tapi hal ini juga merupakan sebuah ilmu transendtal yang ekstetit sehingga masih perlu untuk disebarkan kepada banyak orang. Kehidupan yang baik atau buruk memang tidak ada. Namun jika kita menginginkan sesuatu tapi kita tidak tahu caranya, bahkan mungkin salah jalan, kita terkadang tidak akan mampu memaafkan diri kita sendiri.
Kebanyakan dari kita menjalani kehidupan ini sekadar ngikut orang (das Mann). Orang berfikir bahwa dokter itu keren dan berpenghasilan tinggi misalkan, maka orang berebut untuk sekolah di kedokteran. Dan setelah diterima, hal itu hanya sekadar menjadi pamer diri belaka, bahkan terkadang kita sering mendapati orang yang terlihat pintar namun tidak memiliki ilmu yang mumpuni.
Dalam Sein und Zeit, Heidegger pernah berkata bahwa masa depan dikonstruksi bukanlah dari apa yang kita rencanakan atapun apa yang kita miliki. Tapi sikap kita dalam mengatasi kecemasan (angst). Eksistensi seseorang dalam menghadapi kecemasan itu akan memberikan dia pengalaman yang subtil tentang keberadaannya sehingga disana seseorang akan mengkonstruksi masa depannya. Hal ini mengkritik Rene Descartes dalam kalimatnya Cogito Ergosum, aku berfikir maka aku ada. Dalam Cogito Descartes, dia mencoba menjelaskan bahwa esensi dari sesuatu mendahului eksistensi tersebut. Namun ada (Sein) menurut Heidegger adalah muncul secara fenomen dan begitu saja mucul, atau mungkin jika anda anak pesantren dan pernah mengaji kita tijan addarori eksistensi ini disebut sebagai wujut idzati, yaitu wujud yang tidak bergantung pada eksistensi yang lain.
Masalah tentang takdir baik, maupun takdir buruk memang hanyalah sebuah cacian belaka alias omong kosong. Mengingat bahwa takdir baik masih bergantung dari uang yang banyak, punya kuasa, terkenal maka takdir baik tidak bisa disebut sebagai sesuatu yang eksisten. Begitu pula tentang bodoh dan pintar, keduanya adalah ketiadaan yang diada-adakan oleh orang yang belum pernah belajar tentang makna eksistensi itu sendiri. Dan dari sini kita akan melihat bahwa masa depan memang dikonstruksi oleh sikap kita dalam menghadapi angst. Dan kecerdasan seseorang juga merupakan sebuah interpretasi yang jujur dari prilaku ontisnya menghadapi angst.