Membahas takdir memang
menarik hati, bagaimana kehidupan kita selanjutnya, siapa jodoh kita,
apakah kita masuk surga atau neraka? Memang benar rosululah pernah
bersabda bahwa sebisa mungkin seseorang membahas tentang takdir.
Sebenarnya apa itu takdir?
Dalam karya Jalaludin
Rumi, bahkan seseorang yang melemparkan batupun sebenarnya telah
digariskan oleh Tuhan. Tapi bertentangan dari itu, al Qur’an pernah
menuliskan bahwa Allah tidak akan merubah kaum sebelum kaumnya mau
merubah sendiri. Namun dari surat tersebut bukankah menunjukan Allah
tidak memiliki kuasa untuk menentukan takdir. Siapakah yang bernar?
Dalam Ecce Homo,
Fredrich Nietzsche pernah menuliskan “Mengapa aku adalah
takdir?”, tentunya setelah
kalimat “Mengapa aku begitu pintar?”
dan “Mengapa tulisanku begitu bagus?”. Kesadaran
akan takdir yang pernah diungkapkan dalam hadis arbain, bahwa
Rosululah pernah bersabda ada 4 hal yang telah ditetapkan dari dalam
diri manusia yaitu hidup mati, rejeki, jodoh, serta keselamatan.
Mungkin inilah yang melatar belakangi Fredrich Nietzsche membunuh
Tuhan karena dia sepertinya tidak cukup konsisten dalam firmannya.
Kasus ini dijelaskan lagi oleh Martin Heidegger, seorang pemikir
Jerman yang mendapatkan nobel karena penjelasannya tentang ada.
Secara
arti kata Takdir berarti kadar, begitulah kata kiayi. Namun dalam
takdir kita melihat adanya qodo dan qodar, yaitu sebuah ketentuan
takdir dan pengejawantahanya. Namun walau bagaimanapun kita juga
tidak mengetahui qodo kita seperti apa, maka kita tidak akan pernah
mengetahui apakah qodar sesuai dengan qodo maupun tidak. Namun
sebagai seorang mukmin kita diperintahkan untuk beriman pada qodo dan
qodar.
Secara genealogis runtutan kehidupan yang kita jalani memberikan kita
penilaian tentang makna bahwa takdir adalah track record yang
dilewati oleh seseorang. Kebutuhan akan percaya pada kehidupan yang
baik terkadang membuat kita memperbudak tuhan dengan doa-doa kita.
Setelah doa itu terkabul kita justru menampakan hasrat rendah kita
(berupa hawa nafsu) untuk melakukan semisal pamer, bermaksiat atau
yang lain. Tapi itu bukanlah masalah, karena memang salah dan benar
merupakan ketiadaan yang diada-adakan, yaitu sebuah pelengkap di
ranah etis.
Walaupun dalam religiusitas, baik buruk tidak begitu penting. Tapi
hal ini juga merupakan sebuah ilmu transendtal yang ekstetit sehingga
masih perlu untuk disebarkan kepada banyak orang. Kehidupan yang baik
atau buruk memang tidak ada. Namun jika kita menginginkan sesuatu
tapi kita tidak tahu caranya, bahkan mungkin salah jalan, kita
terkadang tidak akan mampu memaafkan diri kita sendiri.
Kebanyakan
dari kita menjalani kehidupan ini sekadar ngikut orang (das
Mann). Orang berfikir bahwa
dokter itu keren dan berpenghasilan tinggi misalkan, maka orang
berebut untuk sekolah di kedokteran. Dan setelah diterima, hal itu
hanya sekadar menjadi pamer diri belaka, bahkan terkadang kita sering
mendapati orang yang terlihat pintar
namun tidak memiliki ilmu yang mumpuni.
Dalam
Sein und Zeit,
Heidegger pernah berkata bahwa masa depan dikonstruksi bukanlah dari
apa yang kita rencanakan atapun apa yang kita miliki. Tapi sikap kita
dalam mengatasi kecemasan (angst). Eksistensi
seseorang dalam menghadapi kecemasan itu akan memberikan dia
pengalaman yang subtil tentang keberadaannya sehingga disana
seseorang akan mengkonstruksi masa depannya. Hal
ini mengkritik Rene Descartes dalam kalimatnya Cogito Ergosum, aku
berfikir maka aku ada. Dalam Cogito Descartes, dia mencoba
menjelaskan bahwa esensi dari sesuatu mendahului eksistensi tersebut.
Namun ada (Sein) menurut Heidegger adalah muncul secara fenomen dan
begitu saja mucul, atau mungkin jika anda anak pesantren dan pernah
mengaji kita tijan addarori eksistensi ini disebut sebagai wujut
idzati, yaitu wujud yang tidak bergantung pada eksistensi yang lain.
Masalah
tentang takdir baik, maupun takdir buruk memang hanyalah sebuah
cacian belaka alias omong kosong. Mengingat bahwa takdir baik masih
bergantung dari uang yang banyak, punya kuasa, terkenal maka takdir
baik tidak bisa disebut sebagai sesuatu yang eksisten. Begitu pula
tentang bodoh dan pintar, keduanya adalah ketiadaan yang diada-adakan
oleh orang yang belum pernah belajar tentang makna eksistensi itu
sendiri. Dan dari sini kita akan melihat bahwa masa depan memang
dikonstruksi oleh sikap kita dalam menghadapi angst.
Dan kecerdasan seseorang juga merupakan sebuah interpretasi yang
jujur dari prilaku ontisnya menghadapi angst.