Narkoba menjadi kangker
yang cukup membuat negara ini menderita. Menarik memang karena setiap
tahun pengguna narkoba kian meningkat, sekarang saat ini pengguna
narkoba mencapai 5 juta orang. Jumlah pengguna itu bisa membuat saya
membayar semesteran di kampus untuk melanjutkan kuliah. Untuk
mengatasi sebuah penyakit biasanya seorang dokter akan melakukan
analisa dari penyakit itu. Menurut pendapat saya penanggulangan
narkoba di Indonesia masih cenderung menunggu sampai pada krisis
tertentu. Hal ini dikarenakan badan penanggulangan narkoba di
Indonesia seperti tidak mencoba mengatasi permasalahan ini dari
asalnya. Mereka hanya mengatasinya ketika kangker narkoba ini sudah
menyebar parah.
Narkoba merupakan zat
aditif yang akan menyebabkan halusinasi kepada penggunanya. Secara
psikoanalisis hal ini disebabkan bahwa pengguna narkoba ingin
mengamputasi realitas yang melanda hidupnya. Iyah, orang indonesia
memang terkesan tidak mencintai hidupnya. Saya akui memang ketika
saya mencoba berkomunikasi dengan orang-orang indonesia, mereka lebih
memikirkan harga diri yang tidak penting dalam hidupnya. Ini membuat
orang susah untuk bisa menerima orang lain untuk berkomunikasi. Sikap
egoistik ini memberikan pengalaman pahit bagi orang yang mencoba
merendahkan diri untuk bisa berkomunikasi. Mungkin akibat dari
pemberhalaan simbol, seperti prestisme, harga diri kekuasaan, maupun
tingkat kekayaan. Indonesia memang bukan lagi negara yang nyaman.
Ketika semua orang berfikir untuk dirinya sendiri, dan mengamputasi
segala manusia yang tidak sederajat dengan dirinya. Proses amputasi
ini memang cukup menarik, ketika kalaangan yang merasa berpendidikan
karena sekolah hingga tinggi meremehkan seorang petani yang tidak
sekolah sama sekali. Memang berhala prestisme akan membuat orang
mengamputasi realitas, ini sederhana tapi kita lihat apa yang akan
terjadi.
Setiap jiwa adalah
cerminan jiwa yang lain. Iyah, itulah yang tertulis dalam hadis
riwayat Buhari. Bahkan tidak cuma dalam itu, ajaran budisme juga
mengatakan hal yang seperti itu. Ketika kita memberikan rasa sakit
kepada orang lain, hal itu akan mencerminkan diri dan melakukan
refleksi kedalam diri kita. Seperti hal ini tidak ditanggapi serius
oleh para ustad mesjid di Indonesia. Mungkin karena mereka sudah
merasa cukup suci hingga dengan mudah menganggap kotor orang lain.
Tapi hal itu memang biasa, tapi sebaiknya para orang yang menganggap
dirinya ustad mesti lebih banyak belajar dari realitas, hingga
ilmunya bisa menjadi rahmatan lil ‘alamin.
Sikap mengamputasi
realitas merupakan pokok utama dari para pengguna narkoba. Hal ini
mesti disikapi serius oleh badan penanggulangan narkoba di Indonesia
untuk bisa menyelesaikan masalah hingga ke akarnya. Bukan hanya
menyelesaikan masalah sesaat, tapi ujung-ujungnya masalah itu muncul
lagi. Tapi ini juga tidak apa-apa, lagi pula bisa memberikan lapangan
pekerjaan untuk dinas penanggulangan narkoba di masa yang akan
datang.
Mencintai hidup, atau
amor fati, sebaiknya lebih menjadi konstruksi utama dalam badan
penanggulanan narkoba. Hal ini bisa dilakukan dengan cara membuat
sebuah even kegiatan bahwa hidup indah itu tidak harus mewah, banyak
uang atau sebagainya. Tapi lebih dari itu, kejujuran walaupun pahit
juga indah itulah kata Bambang Mulyono. Walaupun di seorang kaya,
tapi korupsi juga bukan keindahaan, Guru tapi pemerkosa juga bukan
indah, Dokter yang bahkan tidak menghargai nyawa juga bukan sebuah
keindahan. Inilah yang ingin saya ajukan sebagai solusi dari onkologi
Narkoba.