Laman

Kamis, 25 Agustus 2016

Onkologi Narkoba dan Solusinya


Narkoba menjadi kangker yang cukup membuat negara ini menderita. Menarik memang karena setiap tahun pengguna narkoba kian meningkat, sekarang saat ini pengguna narkoba mencapai 5 juta orang. Jumlah pengguna itu bisa membuat saya membayar semesteran di kampus untuk melanjutkan kuliah. Untuk mengatasi sebuah penyakit biasanya seorang dokter akan melakukan analisa dari penyakit itu. Menurut pendapat saya penanggulangan narkoba di Indonesia masih cenderung menunggu sampai pada krisis tertentu. Hal ini dikarenakan badan penanggulangan narkoba di Indonesia seperti tidak mencoba mengatasi permasalahan ini dari asalnya. Mereka hanya mengatasinya ketika kangker narkoba ini sudah menyebar parah.
Narkoba merupakan zat aditif yang akan menyebabkan halusinasi kepada penggunanya. Secara psikoanalisis hal ini disebabkan bahwa pengguna narkoba ingin mengamputasi realitas yang melanda hidupnya. Iyah, orang indonesia memang terkesan tidak mencintai hidupnya. Saya akui memang ketika saya mencoba berkomunikasi dengan orang-orang indonesia, mereka lebih memikirkan harga diri yang tidak penting dalam hidupnya. Ini membuat orang susah untuk bisa menerima orang lain untuk berkomunikasi. Sikap egoistik ini memberikan pengalaman pahit bagi orang yang mencoba merendahkan diri untuk bisa berkomunikasi. Mungkin akibat dari pemberhalaan simbol, seperti prestisme, harga diri kekuasaan, maupun tingkat kekayaan. Indonesia memang bukan lagi negara yang nyaman. Ketika semua orang berfikir untuk dirinya sendiri, dan mengamputasi segala manusia yang tidak sederajat dengan dirinya. Proses amputasi ini memang cukup menarik, ketika kalaangan yang merasa berpendidikan karena sekolah hingga tinggi meremehkan seorang petani yang tidak sekolah sama sekali. Memang berhala prestisme akan membuat orang mengamputasi realitas, ini sederhana tapi kita lihat apa yang akan terjadi.
Setiap jiwa adalah cerminan jiwa yang lain. Iyah, itulah yang tertulis dalam hadis riwayat Buhari. Bahkan tidak cuma dalam itu, ajaran budisme juga mengatakan hal yang seperti itu. Ketika kita memberikan rasa sakit kepada orang lain, hal itu akan mencerminkan diri dan melakukan refleksi kedalam diri kita. Seperti hal ini tidak ditanggapi serius oleh para ustad mesjid di Indonesia. Mungkin karena mereka sudah merasa cukup suci hingga dengan mudah menganggap kotor orang lain. Tapi hal itu memang biasa, tapi sebaiknya para orang yang menganggap dirinya ustad mesti lebih banyak belajar dari realitas, hingga ilmunya bisa menjadi rahmatan lil ‘alamin.
Sikap mengamputasi realitas merupakan pokok utama dari para pengguna narkoba. Hal ini mesti disikapi serius oleh badan penanggulangan narkoba di Indonesia untuk bisa menyelesaikan masalah hingga ke akarnya. Bukan hanya menyelesaikan masalah sesaat, tapi ujung-ujungnya masalah itu muncul lagi. Tapi ini juga tidak apa-apa, lagi pula bisa memberikan lapangan pekerjaan untuk dinas penanggulangan narkoba di masa yang akan datang.
Mencintai hidup, atau amor fati, sebaiknya lebih menjadi konstruksi utama dalam badan penanggulanan narkoba. Hal ini bisa dilakukan dengan cara membuat sebuah even kegiatan bahwa hidup indah itu tidak harus mewah, banyak uang atau sebagainya. Tapi lebih dari itu, kejujuran walaupun pahit juga indah itulah kata Bambang Mulyono. Walaupun di seorang kaya, tapi korupsi juga bukan keindahaan, Guru tapi pemerkosa juga bukan indah, Dokter yang bahkan tidak menghargai nyawa juga bukan sebuah keindahan. Inilah yang ingin saya ajukan sebagai solusi dari onkologi Narkoba.