Laman

Kamis, 25 Agustus 2016

Silicon Valey di Indonesia


Saya bertemu dengan seorang petani di desa, saat saya sapa dia begitu senang bertemu dengan saya. Maklum saya memiliki tampang petani ketimbang tampang seorang mahasiswa ditambah lagi saya sedang berniat untuk memotong rumput guna memberi makan ikan gurameh yang sedang dibududayakan oleh bapak saya. Hal ini semakin membuat saya mudah untuk bergaul dengan kalangan petani di desa. Cerita kami bermula ketika anaknya yang mengikutinya dibicarakan oleh beliau. Tak disangka orang ini justru bertanya kapan saya akan berbagi ilmu dengan anaknya. Aku merasa heran, jelas ketika sebagian orang berduit dan berkedok mahasiswa justru bertanya bagaimana cara mendapatkan pekerjaan atau sekolah di tempat prestis untuk status sosial yang lebih tinggi, orang desa justru lebih menginginkan ilmu ketimbang para mahasiswa yang memiliki tanggungajawab menuntut ilmu.
Kita telah melihat bagaimana penidikan di Indonesia sekarang. Teknologi telah jelas dikuasai oleh bangsa barat, kita justru bertanya pada teman kita misalnya, produk prestis apa yang kalian miliki. Sebagai gaya hidup seorang penuntut ilmu yang konsumtif seperti ini memang tidak bisa disalahkan. Tapi coba kita lihat berapa banyak orang yang mencari beasiswa untuk keluar negeri daripada memberikan beasiswa. Iyah, semua orang memang mengingkan pendidikan gratis. Tapi pemberhalaan pada prestisme telah meniadakan tanggung jawab diri kita sebagai seorang penuntut ilmu. Memang benar mereka belajar, tapi seperti yang dikatakan Imam Ghozali, segala sesuatu bergantung pada niat. Niat akan pencarian prestisme akan menjadikan prestisme sebagai berhala. Memang benar kita belajar, tapi benarkah yang kita tuntut itu ilmu, bukan sebuah prestisme.
Labseni mencoba mengobatinya dengan membangun sistem pendidikan yang lebih maju. Melalui kurikulum PISA (Programable International Student Assesement) diharapkan mampu menghilangkan pemberhalaan pada prestisme guna mendapatkan kesucian dalam melakukan penutunan ilmu. Namun apa guna program ini jika tidak memiliki arahan yang jelas. Itulah sebabnya Labseni mencoba menarik dan membangun para peneliti terbaik diantero jagad ini untuk saling berbagi keilmuan. Sederhananya seperti apa yang diungkapkan oleh petani tadi. Labseni memang membangun nilai dari filsafat. Namun itulah rencananya. Semua perkembangan sains dan teknologi di dunia barat memang dimulai dari konstruksi pola pikir, kemudian hal ini menarik para intelek seantero jagad untuk saling berbagi di dalam konstruksi pola pikir tersebut. Itulah hal yang membuat saya membangun ini benar dari konstruksi pola pikir.
Membuat silicon valey masih dianggap tabu oleh sebagian orang. Mengingat bahwa di Indonesiapun sudah mencoba dirintis oleh Ridwan Kamil, walikota Bandung. Tapi percayalah pada saya, konstruksi yang dicoba dirintis oleh Ridwan Kamil tidaklah cukup kuat. Hal ini berangkat dari analisa saya pada konstruksinya yang tidak mencoba untuk memperkuat daerah penelitian di kota Bandung. Ridwan Kamil harus masih membenahi konstruksi dasar terlebih dahulu, walaupun pada kenyataannya dia memiliki dana yang besar hingga milyaran rupiah, ini tidak akan menolong dan cenderung pada pembangunan yang sia-sia. Tapi ini masih lebih baik dari pada tidak mengusahakan sama sekali. Walaupun begitu Ridwan Kamil masih bisa mengkonstruksinya, semangat buat Ridwan Kamil.
Memang benar Indonesia sekarang memperoleh banyak prestasi dalam bidang lomba-lomba internasional. Tapi apakan anda pernah berfikir mengapa universitas sekelas MIT tidak pernah menampakan dirinya dalam ajang perlombaan. Iyah, untuk sekaliber UI, ITB, atau yang lain, memang mendapatkan prestasi pada ajang internasional merupakan hal yang mewah. Tapi tidak untuk unversitas yang maju, riset dan penelitian lebih mereka kejar. Tujuannya sederhana, untuk dunia yang lebih nyaman. Mereka sama sekali tidak peduli dengan beragam lomba. Inilah yang seharusnya dibenahi oleh pendidikan dan riset di Indonesia.
Selain untuk memberikan pendidikan yang lebih maju, labseni juga merintis dalam penelitian untuk bisa membuat dunia menjadi lebih nyaman. Kita sekarang sering mendengar bahwa banyak para engineer atau scientis di indonesia menjadi budak uang di luar negeri. Mungkin mereka melakukannya bukan sekedar uang dan prestisme, tapi apakah kalian menyadari bahwa sebenarnya tidak cukup susah untuk melakukannya di negeri sendiri. Asal kita memiliki tempat nyaman dan teman yang enak diajak untuk berdiskusi. Itulah mengapa labseni mencoba merintis silicon valey ini.