Saya bertemu dengan seorang petani di desa, saat
saya sapa dia begitu senang bertemu dengan saya. Maklum saya memiliki
tampang petani ketimbang tampang seorang mahasiswa ditambah lagi saya
sedang berniat untuk memotong rumput guna memberi makan ikan gurameh
yang sedang dibududayakan oleh bapak saya. Hal ini semakin membuat
saya mudah untuk bergaul dengan kalangan petani di desa. Cerita kami
bermula ketika anaknya yang mengikutinya dibicarakan oleh beliau. Tak
disangka orang ini justru bertanya kapan saya akan berbagi ilmu
dengan anaknya. Aku merasa heran, jelas ketika sebagian orang berduit
dan berkedok mahasiswa justru bertanya bagaimana cara mendapatkan
pekerjaan atau sekolah di tempat prestis untuk status sosial yang
lebih tinggi, orang desa justru lebih menginginkan ilmu ketimbang
para mahasiswa yang memiliki tanggungajawab menuntut ilmu.
Kita telah melihat bagaimana penidikan di
Indonesia sekarang. Teknologi telah jelas dikuasai oleh bangsa barat,
kita justru bertanya pada teman kita misalnya, produk prestis apa
yang kalian miliki. Sebagai gaya hidup seorang penuntut ilmu yang
konsumtif seperti ini memang tidak bisa disalahkan. Tapi coba kita
lihat berapa banyak orang yang mencari beasiswa untuk keluar negeri
daripada memberikan beasiswa. Iyah, semua orang memang mengingkan
pendidikan gratis. Tapi pemberhalaan pada prestisme telah meniadakan
tanggung jawab diri kita sebagai seorang penuntut ilmu. Memang benar
mereka belajar, tapi seperti yang dikatakan Imam Ghozali, segala
sesuatu bergantung pada niat. Niat akan pencarian prestisme akan
menjadikan prestisme sebagai berhala. Memang benar kita belajar, tapi
benarkah yang kita tuntut itu ilmu, bukan sebuah prestisme.
Labseni mencoba mengobatinya dengan membangun
sistem pendidikan yang lebih maju. Melalui kurikulum PISA
(Programable International Student Assesement) diharapkan mampu
menghilangkan pemberhalaan pada prestisme guna mendapatkan kesucian
dalam melakukan penutunan ilmu. Namun apa guna program ini jika tidak
memiliki arahan yang jelas. Itulah sebabnya Labseni mencoba menarik
dan membangun para peneliti terbaik diantero jagad ini untuk saling
berbagi keilmuan. Sederhananya seperti apa yang diungkapkan oleh
petani tadi. Labseni memang membangun nilai dari filsafat. Namun
itulah rencananya. Semua perkembangan sains dan teknologi di dunia
barat memang dimulai dari konstruksi pola pikir, kemudian hal ini
menarik para intelek seantero jagad untuk saling berbagi di dalam
konstruksi pola pikir tersebut. Itulah hal yang membuat saya
membangun ini benar dari konstruksi pola pikir.
Membuat silicon valey masih dianggap tabu oleh
sebagian orang. Mengingat bahwa di Indonesiapun sudah mencoba
dirintis oleh Ridwan Kamil, walikota Bandung. Tapi percayalah pada
saya, konstruksi yang dicoba dirintis oleh Ridwan Kamil tidaklah
cukup kuat. Hal ini berangkat dari analisa saya pada konstruksinya
yang tidak mencoba untuk memperkuat daerah penelitian di kota
Bandung. Ridwan Kamil harus masih membenahi konstruksi dasar terlebih
dahulu, walaupun pada kenyataannya dia memiliki dana yang besar
hingga milyaran rupiah, ini tidak akan menolong dan cenderung pada
pembangunan yang sia-sia. Tapi ini masih lebih baik dari pada tidak
mengusahakan sama sekali. Walaupun begitu Ridwan Kamil masih bisa
mengkonstruksinya, semangat buat Ridwan Kamil.
Memang benar Indonesia sekarang memperoleh banyak
prestasi dalam bidang lomba-lomba internasional. Tapi apakan anda
pernah berfikir mengapa universitas sekelas MIT tidak pernah
menampakan dirinya dalam ajang perlombaan. Iyah, untuk sekaliber UI,
ITB, atau yang lain, memang mendapatkan prestasi pada ajang
internasional merupakan hal yang mewah. Tapi tidak untuk unversitas
yang maju, riset dan penelitian lebih mereka kejar. Tujuannya
sederhana, untuk dunia yang lebih nyaman. Mereka sama sekali tidak
peduli dengan beragam lomba. Inilah yang seharusnya dibenahi oleh
pendidikan dan riset di Indonesia.
Selain untuk memberikan pendidikan yang lebih maju, labseni juga
merintis dalam penelitian untuk bisa membuat dunia menjadi lebih
nyaman. Kita sekarang sering mendengar bahwa banyak para engineer
atau scientis di indonesia menjadi budak uang di luar negeri. Mungkin
mereka melakukannya bukan sekedar uang dan prestisme, tapi apakah
kalian menyadari bahwa sebenarnya tidak cukup susah untuk
melakukannya di negeri sendiri. Asal kita memiliki tempat nyaman dan
teman yang enak diajak untuk berdiskusi. Itulah mengapa labseni
mencoba merintis silicon valey ini.