Laman

Kamis, 25 Agustus 2016

Hitam Putih Catur


Aku berfikir bahwa keindahan dari pertandingan catur adalah sebuah kemenangan. Apakah artinya susah-susah bertanding tapi ujung-ujungnya kalah? Namun semenjak aku melawan atlit catur, aku menyadari bahwa kemenangan adalah sesuatu yang susah untuk didapatkan. Aku selalu melakukan pembenaran atas kekalahanku, tapi kalah tetaplah kalah. Bahkan dalam proses untuk mendapatkan kemenangan aku sering mengulang langkah agar tidak kalah. Kalah memang pahit, seperti itu juga Espresso. Namun mengapa aku lebih suka bertanding melawan orang yang lebih jago padahal aku jelas akan kalah?
Hitam dan putih dalam catur memang memiliki yang sama dalam kehidupan. Kehidupan tak selamanya putih, itulah yang seharusnya aku sadari, seperti itu juga pertandingan catur yang tidak selalu menang, kadang menang terus, kadang kalah terus, kadang kalah, dan kadang menang. Hasratku telah mengamputasi realitas ini, kemenangan yang menjadi tolak ukur keindahan ternyata tak berbuah indah dalam permainan caturku.
Seperti halnya Ksatria Naga dalam film Kungfu Panda. Ksatria Naga adalah ksatria yang mampu mengafirmasi antara gelap dan terang hingga mencapai keseimbangannya. Namun itu lah yang ingin diajarkan dalam ajaran Zen, bahwa realitas tak selalu putih, maupun hitam. Keseimbangan keduanya dibutuhkan untuk kehidupan di bumi, seperti itu juga kata Avicenna.
Tuhan memang menciptakan neraka dan surga, namun karena keindahan surga orang selalu bekerja keras mendapatkannya. Memang tak salah, tapi apa yang benar? Neraka juga ciptaan Tuhan, neraka dan surga hanyalah ciptaan yang menutupi sikap Agung milik Tuhan. Ini juga yang baru aku sadari. Tuhan berada dalam kedua hal tersebut. Tuhan memang pemurah dan penyayang, tapi juga tegas dan memiliki perhitungan yang tepat. Surga dan neraka menjadi simbol keagungan Tuhan, tapi mengapa kita selalu menutupi diri dari Tuhan, karena surga.
Realitas tak selamanya putih yin, karena hanya dengan yin manusia tak akan bisa melihat dengan jelas, maka dibutuhkan gelap yang. Bahkan panas dan dingin juga merupakan sebuah manifestasi keseimbangan dari yin dan yang. Sayangnya pembengkakan pola fikir akibat pemberhalaan pada kenyamanan telah mengamputasi relitas tersebut. Pembekakan ini menyebabkan orang melakukan hal-hal yang dianggapnya positif untuk mencapai yin dan mengamputasi yang. Memang tidak salah, tapi juga tidak benar. Benar dan salah pun menjadi interpretasi dari keseimbangan itu. Jika kita tidak tahu salah maka kitapun tidak akan pernah belajar. Dan ketika kita tidak belajar kita tidak akan bergerak maju dengan harmonis, seperti semboyan sekolah di Bandung, “In Harmonia Progresio”. Begerak dalam keseimbangan.
Sisi lain yang tak mampu diafirmasi tidak akan membuat keseimbangan. Seperti kata Nietzsche, Manusia unggul (Ubermanch) adalah orang yang mampu menkomposisikan antara gelap dan terang. Realitas memang terkadang pahit, dan terkadang manis tapi sikap kita yang hanya mencari manis menunjukan bahwa kita telah mengamputasi realitas kehidupan, dan disebut sebagai manusia yang butuh untuk percaya, manusia yang tidak berani hidup, atau manusia dekaden. Masihkah anda menjadi manusia dekaden?