Aku berfikir bahwa
keindahan dari pertandingan catur adalah sebuah kemenangan. Apakah
artinya susah-susah bertanding tapi ujung-ujungnya kalah? Namun
semenjak aku melawan atlit catur, aku menyadari bahwa kemenangan
adalah sesuatu yang susah untuk didapatkan. Aku selalu melakukan
pembenaran atas kekalahanku, tapi kalah tetaplah kalah. Bahkan dalam
proses untuk mendapatkan kemenangan aku sering mengulang langkah agar
tidak kalah. Kalah memang pahit, seperti itu juga Espresso. Namun
mengapa aku lebih suka bertanding melawan orang yang lebih jago
padahal aku jelas akan kalah?
Hitam dan putih dalam
catur memang memiliki yang sama dalam kehidupan. Kehidupan tak
selamanya putih, itulah yang seharusnya aku sadari, seperti itu juga
pertandingan catur yang tidak selalu menang, kadang menang terus,
kadang kalah terus, kadang kalah, dan kadang menang. Hasratku telah
mengamputasi realitas ini, kemenangan yang menjadi tolak ukur
keindahan ternyata tak berbuah indah dalam permainan caturku.
Seperti halnya Ksatria
Naga dalam film Kungfu Panda. Ksatria Naga adalah ksatria yang mampu
mengafirmasi antara gelap dan terang hingga mencapai keseimbangannya.
Namun itu lah yang ingin diajarkan dalam ajaran Zen, bahwa realitas
tak selalu putih, maupun hitam. Keseimbangan keduanya dibutuhkan
untuk kehidupan di bumi, seperti itu juga kata Avicenna.
Tuhan memang menciptakan
neraka dan surga, namun karena keindahan surga orang selalu bekerja
keras mendapatkannya. Memang tak salah, tapi apa yang benar? Neraka
juga ciptaan Tuhan, neraka dan surga hanyalah ciptaan yang menutupi
sikap Agung milik Tuhan. Ini juga yang baru aku sadari. Tuhan berada
dalam kedua hal tersebut. Tuhan memang pemurah dan penyayang, tapi
juga tegas dan memiliki perhitungan yang tepat. Surga dan neraka
menjadi simbol keagungan Tuhan, tapi mengapa kita selalu menutupi
diri dari Tuhan, karena surga.
Realitas tak selamanya
putih yin, karena hanya
dengan yin manusia tak
akan bisa melihat dengan jelas, maka dibutuhkan gelap yang.
Bahkan panas dan dingin juga
merupakan sebuah manifestasi keseimbangan dari yin
dan yang. Sayangnya
pembengkakan pola fikir akibat pemberhalaan pada kenyamanan telah
mengamputasi relitas tersebut. Pembekakan ini menyebabkan orang
melakukan hal-hal yang dianggapnya positif untuk mencapai yin
dan mengamputasi yang. Memang
tidak salah, tapi juga tidak benar. Benar dan salah pun menjadi
interpretasi dari keseimbangan itu. Jika kita tidak tahu salah maka
kitapun tidak akan pernah belajar. Dan ketika kita tidak belajar kita
tidak akan bergerak maju dengan harmonis, seperti semboyan sekolah di
Bandung, “In Harmonia Progresio”. Begerak
dalam keseimbangan.
Sisi
lain yang tak mampu diafirmasi tidak akan membuat keseimbangan.
Seperti kata Nietzsche, Manusia unggul (Ubermanch)
adalah orang yang mampu menkomposisikan antara gelap dan terang.
Realitas memang terkadang pahit, dan terkadang manis tapi sikap kita
yang hanya mencari manis menunjukan bahwa kita telah mengamputasi
realitas kehidupan, dan disebut sebagai manusia yang butuh untuk
percaya, manusia yang tidak berani hidup, atau manusia dekaden.
Masihkah anda menjadi manusia dekaden?