Membaca tulisan teman-teman mesjid saya yang
sering memposting tulisan berdiksikan cinta, pernikahan, jodoh, dan
Tuhan. Saya turut prihatin dengan tulisan-tulisan anak mesjid yang
sering mengkaitkan 4 hal tersebut padahal keempat hal tersebut tidak
memiliki nilai korelasi menurut para ulama persia, filsuf eropa,
maupun para zenisme di dataran oriental. Ada baiknya para anak mesjid
lebih meningkatkan bidang keilmuannya sebelum menuliskan korelasi
keempat diksi tersebut.
Cinta merupakan bentuk kefaanaan diri dari seorang
pecinta terhadap yang dicintai. Kefanaan berarti tak menginginkan
apapun, atau dengan kata lain telah lenyap dihadapan yang dicintai.
Proses ini seperti kematian, ketika roh telah terpisah dari jasad dan
kembali kepada substansinya. Dia telah menyatu dengan Sang Maha Ada.
Realitas ini tidak terlalu bisa dipahami oleh anak mesjid yang masih
mengaitkan cinta dengan proses pernikahan. Jika pernikahan dikaitkan
sebagai metode penghalalan cinta, berarti tanpa pernikahan apakah
cinta pada Tuhan itu haram? Ada kerancuan lain yang menyelimuti otak
para anak mesjid ini. Ketika dia sering mengatakan mencintai ibunya,
apakah cinta itu haram? Dan apakah dengan menikahi ibu sendiri akan
menghalalkan cintamu pada ibumu?
Pembengkakan pola pikir akibat tulisan-tulisan
galau yang tak subtil memang telah meracuni pemikiran anak mesjid.
Cukup mudah memang, menghalalkan modus dengan cara memposting tulisan
tentang pernikahan menjadi senjata utama dan pembenaran anak-anak
mesjid akan hasrat kelaminnya. Ini tidak lah salah, memangnya apa
yang benar? Tapi mengapa sering mendoktrin orang lain untuk melakukan
sesuatu apa yang menurutmu itu suci? Bukankah cinta memang pada
hakikatnya hanyalah Tuhan Yang Tahu. Mengapa kau sebagai anak mesjid
tidak malu dengan melangkahi Tuhanmu dengan mendefinisikan cinta
seenaknya? Apakah kau ingin memasukan alat kelaminmu kedalam kelamin
Tuhan karena kau mencintai Tuhan?
Wahai anak mesjid yang selalu berteriak tentang
jodoh. Bukankah dalam hadis sohih arba’in ada empat hal yang pernah
ditentukan oleh Tuhan dan tidak usah kau fikirkan, Jodoh, Kematian,
Rejeki, dan Keselamatan. Apakah kau tidak malu dengan mengatakan
sesuatu untuk menunjukan seolah kau suci tapi tentang cinta kau masih
mengaitkan dengan alat kelamin? Jika cinta itu haram, maka kau telah
menyalahkan Tuhan wahai saudara masjid. Apakah kau masih berfikir
bahwa cinta datangnya dari Tuhan, bukan dari alat kelamin seperti
yang muncul dari pikiran mesummu, wahai anak masjid?