Laman

Kamis, 25 Agustus 2016

Cinta Tak Selalu Kelamin


Membaca tulisan teman-teman mesjid saya yang sering memposting tulisan berdiksikan cinta, pernikahan, jodoh, dan Tuhan. Saya turut prihatin dengan tulisan-tulisan anak mesjid yang sering mengkaitkan 4 hal tersebut padahal keempat hal tersebut tidak memiliki nilai korelasi menurut para ulama persia, filsuf eropa, maupun para zenisme di dataran oriental. Ada baiknya para anak mesjid lebih meningkatkan bidang keilmuannya sebelum menuliskan korelasi keempat diksi tersebut.
Cinta merupakan bentuk kefaanaan diri dari seorang pecinta terhadap yang dicintai. Kefanaan berarti tak menginginkan apapun, atau dengan kata lain telah lenyap dihadapan yang dicintai. Proses ini seperti kematian, ketika roh telah terpisah dari jasad dan kembali kepada substansinya. Dia telah menyatu dengan Sang Maha Ada. Realitas ini tidak terlalu bisa dipahami oleh anak mesjid yang masih mengaitkan cinta dengan proses pernikahan. Jika pernikahan dikaitkan sebagai metode penghalalan cinta, berarti tanpa pernikahan apakah cinta pada Tuhan itu haram? Ada kerancuan lain yang menyelimuti otak para anak mesjid ini. Ketika dia sering mengatakan mencintai ibunya, apakah cinta itu haram? Dan apakah dengan menikahi ibu sendiri akan menghalalkan cintamu pada ibumu?
Pembengkakan pola pikir akibat tulisan-tulisan galau yang tak subtil memang telah meracuni pemikiran anak mesjid. Cukup mudah memang, menghalalkan modus dengan cara memposting tulisan tentang pernikahan menjadi senjata utama dan pembenaran anak-anak mesjid akan hasrat kelaminnya. Ini tidak lah salah, memangnya apa yang benar? Tapi mengapa sering mendoktrin orang lain untuk melakukan sesuatu apa yang menurutmu itu suci? Bukankah cinta memang pada hakikatnya hanyalah Tuhan Yang Tahu. Mengapa kau sebagai anak mesjid tidak malu dengan melangkahi Tuhanmu dengan mendefinisikan cinta seenaknya? Apakah kau ingin memasukan alat kelaminmu kedalam kelamin Tuhan karena kau mencintai Tuhan?
Wahai anak mesjid yang selalu berteriak tentang jodoh. Bukankah dalam hadis sohih arba’in ada empat hal yang pernah ditentukan oleh Tuhan dan tidak usah kau fikirkan, Jodoh, Kematian, Rejeki, dan Keselamatan. Apakah kau tidak malu dengan mengatakan sesuatu untuk menunjukan seolah kau suci tapi tentang cinta kau masih mengaitkan dengan alat kelamin? Jika cinta itu haram, maka kau telah menyalahkan Tuhan wahai saudara masjid. Apakah kau masih berfikir bahwa cinta datangnya dari Tuhan, bukan dari alat kelamin seperti yang muncul dari pikiran mesummu, wahai anak masjid?