Laman

Selasa, 01 November 2016

Mental Juara yang Bengkok


Terlalu banyak onani akan menyebaban penis menjadi bengkok.” Itulah pepatah yang tepat untuk mahasiswa ITB. Langsung saja ke TKP. Sanjungan, penghargaan, harga diri masih melekat keras di darah anak ITB. Lalu bagaimana dengan kerendahan hati? Kerendahan hati memang dilakukan pada kondisi yang terdesak, seperti halnya kebutuhan akan uang, kebutuhan akan nilai yang bagus, atau kebutuhan untuk masalah kelamin. Mengemis untuk hal yang semaca itu memang biasa, apalagi mahasiswa yang terbiasa sebagai aktifis dengan beragam karya yang biasa disanjung dan dihormati oleh banya orang.
Seperti halnya yang diungkapkan oleh Jalaludin Rumi, bahwasanya jika kita ingin mengisi dengan penuh sebuah gelas, maka kita harus mengosongkan gelas itu. Tanpa adanya kerendahan hati untuk bisa mengosongkan gelas, maka bagaimana hal yang baru akan masuk dan mengisi. Nietzsche berujar bahwa salah satu masalah yang dihinggapi oleh orang yang merasa dirinya intelek adalah pembengkakan pola pikir. Jelas bahwa sanjungan, posisi, penghargaan menjadi sebuah onani tersendiri bagi maahasiswa ITB. Bagaimana tidak, pernahkan anda berdiskusi dengan mahasiswa ITB dengan argumen dari banyak daftar pustaka, baik anak mesjid, maupun anak non-mesjid pasti akan terkoyak menerima rasio dari textbook yang anda jadikan sebagai rujukan pustaka.
Jika anda pernah mendengar bahwa, “Seorang teman akan lebih rela kehilangan 2 sapi tapi temannya kehilangan 1 sapi, ketimbang temannya mendapatkan 2 sapi sedangkan diri kita hanya mendapatkan 1 sapi.”, anda bisa menikmati pepatah itu di kampus cap gajah duduk ini. Iyah onani ini memang sekarang menjadi pembengkakan bola pikir hingga penis menjadi bengkok di kampus cap gajah.
Sekalipun matrikulasi banyak diadakan oleh staff di kampus cap gajah, tentang makna think win win. Hal yang lebih terbaca adalah tidak ada kemenangan tanpa ada yang kalah. Apakah mahasiswa ITB tidak pernah belajar dari karya Sun Tzu : Art of War, bahwasannya seorang jendral yang bijak akan memenangkan pertandingan tanpa ada yang kalah. Alih-alih putra-putri terbaik bangsa sekarang tidak lagi terkesan baik bagi mahasiswa bodoh seperti saya. Baik dalam artian disini, mungkin lebih baik digantikan, putra-putri gila prestisme bangsa. Bukannya menyindir, tapi jujur akan menjadi lebih baik untuk penilaian yang lebih objektif, toh dalam insan akademik, perbaikan terhadap kesalahan akan lebih mudah dilakukan jika mau bersikap jujur, dari pada penis terlanjur bengkok. Dan di kampus cap gajah ini anda akan menemukan bahwa benar apa yang dikatakn Sorean Kierkegaard bahwa “Teman adalah sebuah ketiadaan.”. Sebuah kata sebagai zuhandene untuk mencapai hasrat kedirian, yaitu Tuhan bernama Prestisme.