Laman

Sabtu, 14 Januari 2017

Sosial Hacking#1 : Ketika Cinta Berhacking Pengantar


Napoleon Bonaparte berujar bahwa perang 99% adalah masalah informasi. Sun Tzu, jendral yang mengetahui lawan dan dirinya akan tidak pernah terkalahkan walau berapapun banyak pertempuran. It all depends on how we look at things, and not on how they are themselves.” Carl Gustav Jung
Komunikasi adalah metode mentransfer informasi dari satu entitas dengan entitas lainnya. Informasi menjadi sangat penting dalam proses negosiasi, pertempuran, atau masalah kelamin. Dengan informasi kita bisa melakukan objektifikasi dengan lebih akurat. Informasi memiliki tingkat nilai yang beragam, ada informasi yang berharga ada juga informasi yang tidak berharga. Jumlah informasi yang berharga bergantung pada distribusi informasi dan kebutuhan akan informasi tersebut. Informasi yang memiliki probabilitas muncul rendah akan lebih dihargai ketimbang informasi yang memiliki probabilitas tinggi. Hal ini menunjukan walau informasi itu bohong ataupun benar tetap informasi yang jarang muncul memiliki nilai yang berharga ketimbang informasi yang biasa, seperti contoh, infomasi tentang munculnya hujan di padang pasir akan lebih berharga ketimbang informasi munculnya hujan di Indonesia.
Kepercayaan maupun ketidakpercayaan menjadi salah satu hal yang tidak bisa dilewatkan ketika informasi tersebar. Informasi dengan nilai ketidakpercayaan tinggi memiliki selalu memiliki nilai yang lebih tinggi dari pada informasi dengan tingkat kepercayaan tinggi, namun kepercayaan dan ketidakpercaayan ini merupakan sebuah bentuk dekadensi terhadap informasi. Yang berarti adanya jarak antara pengamat dengan informasi, yang menunjukan bahwa pengamat belum memiliki informasi tersebut.
Proses sintesa informasi telah ada bahkan ada ilmunya. Kita telah mengenal kata informatika, yang berarti informasi dan matematika. Informasi merupakan resource yang berharga, hingga Napoleon Bonaparte bisa berujar bahwa kemenangan perang ditentukan oleh informasi, maupun Sun Tsu yang berujar bahwa informasi merupkan kunci dari jendral untuk bisa mengambil sikap dari pertermpuran. Sintesa membutuhkan kemampuan untuk mengambil keputusan, layaknya seni lukis yang mencoba untuk memutuskan untuk menggunakan warna apa yang bagus untuk bisa digunakan sebagai karya seni mereka. Sekalipun bisa dibilang sains, karena diregresi dari statistik data dan diolah hingga menjadi sebuah ilmu. Namun proses tanpa proses sintesa maka informasi hanyalah sekadar barang kosong belaka, dan tanpa nilai.
Ada beragam aturan dasar untuk berkomunikasi, aturan ini ditujukan untuk bisa memanfaatkan resource informasi maupun mensintesa pola pikir seseorang :
  1. Jangan pernah memastikan bahwa penerima menerima kenyataan seperti dirimu.
  2. Jangan pernah memastikan bahwa penerima akan menginterpretasika hal yag sama dengan kesadaran yang aku miliki.
  3. Komunikasi bukanlah sesuatu yang tidak terbatas, hal itu memiliki batas.
  4. Selalu berasumsi bahwa beragam realitas ada dalam orang yang berbeda dalam proses komunikasi.
Shanon-Weaver, memberikan sebuah model komunikasi secara umum. Model komunikasi digunakan untuk melakukan analisa dalam proses pengiriman informsi. Sumber informsi akan dikirmkan melalui transmiter dan menghasilkan sebuah sinyal, dalam proses sampainya informasi sinyal akan mengalami distrosi akibat kanal yang bernoise atau jarak jangkauan hingga mengalami multipath fading. Kemudian sinyal yang diterima belum tentu sama dengan sinyal yang dikirim akibat kanal ini.
Informasi memang tidak selalu sama antara yang dikirm oleh transmiter dan diterima oleh transmiter. Proses tersebut biasa mengalami gangguan oleh noise. Namun noise pun tidak selamanya merugikan, karena hal ini juga bisa menjadi keindahan sendiri oleh Engineer Komunikasi. Noise akan mengurangi kredibilitas dari sinyal informasi, dan memang tidak semua informasi akan tertransmisikan akan memberikan keuntungan bagi sosial engineer. Semisal informasi tentang pasword facebook kita yang mudah terbaca oleh orang lain. Hal ini akan bisa menjadi berbahaya. Kanal yang penuh dengan gangguan, atau noise, akan memberikan proteksi tersendiri untuk terjaganya sebuah informasi yang memiliki krusialitas yang tinggi.

Pretexting

Mengambil informasi dan mensintesa informasi juga merupakan keahlian yang cukup menarik. Pretexting merupakan salah satu metode yang menarik untuk bisa melakukan rekayasa dari informasi tersebut. Pretexting didefinisikan sebagai sebuah aksi untuk menciptakan scenario untuk mengajak target korban memberikan informasi atau melakukan sebuah aksi. Biasanya pretexting digunakan dalam beberapa profesi seperti public speaker, NLP expert, ataupun dokter, jaksa dan lainnya, yang berhubungan untuk memberikan instruksi atau mencari sebuah informasi dari orang lain.
Beberapa dasar pretexting :
  • Melakukan banyak riset untuk bisa meningkatkan peluang keberhasilan.
  • Membawa personal interest akan bisa menjadi peningkat kesuksesan dalam pengambilan informasi.
  • Mempraktikan dialektika dan ekspresi.
  • Usaha sosial engineering yang dilakukan berulang dengan alat telekomunikasi. Tapi sosial engineer bisa menggunakan segala macam alat untuk bisa mendapatkan informasi yang bagus.
  • Pretext yang lebih sederhana akan memberikan peluang kesuksesan yang lebih tinggi.
  • Pretext harus muncul secara spontan.
  • Menampilkan sebuah kesimpulan logis atau mengikuti pemikiran dari target.
Daftar Pustaka :
  1. Hadnagy, Christopher. 2011. Social Engineering : The Art of Human Hacking. Indianapolis : Wiley Publishing.
  2. Ziemer, Rodger E. 2015. Principles of Communications : System, Modulation, and Noise 7th edition. USA :Wiley.