Napoleon Bonaparte berujar bahwa perang 99% adalah masalah informasi. Sun Tzu, jendral yang mengetahui lawan dan dirinya akan tidak pernah terkalahkan walau berapapun banyak pertempuran. “It all depends on how we look at things, and not on how they are themselves.” Carl Gustav Jung
Komunikasi adalah metode mentransfer informasi
dari satu entitas dengan entitas lainnya. Informasi menjadi sangat
penting dalam proses negosiasi, pertempuran, atau masalah kelamin.
Dengan informasi kita bisa melakukan objektifikasi dengan lebih
akurat. Informasi memiliki tingkat nilai yang beragam, ada informasi
yang berharga ada juga informasi yang tidak berharga. Jumlah
informasi yang berharga bergantung pada distribusi informasi dan
kebutuhan akan informasi tersebut. Informasi yang memiliki
probabilitas muncul rendah akan lebih dihargai ketimbang informasi
yang memiliki probabilitas tinggi. Hal ini menunjukan walau informasi
itu bohong ataupun benar tetap informasi yang jarang muncul memiliki
nilai yang berharga ketimbang informasi yang biasa, seperti contoh,
infomasi tentang munculnya hujan di padang pasir akan lebih berharga
ketimbang informasi munculnya hujan di Indonesia.
Kepercayaan maupun ketidakpercayaan menjadi salah
satu hal yang tidak bisa dilewatkan ketika informasi tersebar.
Informasi dengan nilai ketidakpercayaan tinggi memiliki selalu
memiliki nilai yang lebih tinggi dari pada informasi dengan tingkat
kepercayaan tinggi, namun kepercayaan dan ketidakpercaayan ini
merupakan sebuah bentuk dekadensi terhadap informasi. Yang berarti
adanya jarak antara pengamat dengan informasi, yang menunjukan bahwa
pengamat belum memiliki informasi tersebut.
Proses sintesa informasi telah ada bahkan ada
ilmunya. Kita telah mengenal kata informatika, yang berarti informasi
dan matematika. Informasi merupakan resource yang berharga, hingga
Napoleon Bonaparte bisa berujar bahwa kemenangan perang ditentukan
oleh informasi, maupun Sun Tsu yang berujar bahwa informasi merupkan
kunci dari jendral untuk bisa mengambil sikap dari pertermpuran.
Sintesa membutuhkan kemampuan untuk mengambil keputusan, layaknya
seni lukis yang mencoba untuk memutuskan untuk menggunakan warna apa
yang bagus untuk bisa digunakan sebagai karya seni mereka. Sekalipun
bisa dibilang sains, karena diregresi dari statistik data dan diolah
hingga menjadi sebuah ilmu. Namun proses tanpa proses sintesa maka
informasi hanyalah sekadar barang kosong belaka, dan tanpa nilai.
Ada beragam aturan dasar untuk berkomunikasi,
aturan ini ditujukan untuk bisa memanfaatkan resource informasi
maupun mensintesa pola pikir seseorang :
-
Jangan pernah memastikan bahwa penerima menerima kenyataan seperti dirimu.
-
Jangan pernah memastikan bahwa penerima akan menginterpretasika hal yag sama dengan kesadaran yang aku miliki.
-
Komunikasi bukanlah sesuatu yang tidak terbatas, hal itu memiliki batas.
-
Selalu berasumsi bahwa beragam realitas ada dalam orang yang berbeda dalam proses komunikasi.
Shanon-Weaver, memberikan sebuah model komunikasi
secara umum. Model komunikasi digunakan untuk melakukan analisa dalam
proses pengiriman informsi. Sumber informsi akan dikirmkan melalui
transmiter dan menghasilkan sebuah sinyal, dalam proses sampainya
informasi sinyal akan mengalami distrosi akibat kanal yang bernoise
atau jarak jangkauan hingga mengalami multipath fading. Kemudian
sinyal yang diterima belum tentu sama dengan sinyal yang dikirim
akibat kanal ini.
Informasi memang tidak selalu sama antara yang
dikirm oleh transmiter dan diterima oleh transmiter. Proses tersebut
biasa mengalami gangguan oleh noise. Namun noise pun tidak selamanya
merugikan, karena hal ini juga bisa menjadi keindahan sendiri oleh
Engineer Komunikasi. Noise akan mengurangi kredibilitas dari sinyal
informasi, dan memang tidak semua informasi akan tertransmisikan akan
memberikan keuntungan bagi sosial engineer. Semisal informasi tentang
pasword facebook kita yang mudah terbaca oleh orang lain. Hal ini
akan bisa menjadi berbahaya. Kanal yang penuh dengan gangguan, atau
noise, akan memberikan proteksi tersendiri untuk terjaganya sebuah
informasi yang memiliki krusialitas yang tinggi.
Pretexting
Mengambil informasi dan mensintesa informasi juga
merupakan keahlian yang cukup menarik. Pretexting merupakan salah
satu metode yang menarik untuk bisa melakukan rekayasa dari informasi
tersebut. Pretexting didefinisikan sebagai sebuah aksi untuk
menciptakan scenario untuk mengajak target korban memberikan
informasi atau melakukan sebuah aksi. Biasanya pretexting digunakan
dalam beberapa profesi seperti public speaker, NLP expert, ataupun
dokter, jaksa dan lainnya, yang berhubungan untuk memberikan
instruksi atau mencari sebuah informasi dari orang lain.
Beberapa dasar pretexting :
-
Melakukan banyak riset untuk bisa meningkatkan peluang keberhasilan.
-
Membawa personal interest akan bisa menjadi peningkat kesuksesan dalam pengambilan informasi.
-
Mempraktikan dialektika dan ekspresi.
-
Usaha sosial engineering yang dilakukan berulang dengan alat telekomunikasi. Tapi sosial engineer bisa menggunakan segala macam alat untuk bisa mendapatkan informasi yang bagus.
-
Pretext yang lebih sederhana akan memberikan peluang kesuksesan yang lebih tinggi.
-
Pretext harus muncul secara spontan.
-
Menampilkan sebuah kesimpulan logis atau mengikuti pemikiran dari target.
Daftar Pustaka :
-
Hadnagy, Christopher. 2011. Social Engineering : The Art of Human Hacking. Indianapolis : Wiley Publishing.
-
Ziemer, Rodger E. 2015. Principles of Communications : System, Modulation, and Noise 7th edition. USA :Wiley.