Laman

Sabtu, 14 Januari 2017

Amour Fati dan Amour Mati


Amour merupakan kata yang menarik dari kamus bahasa Prancis ini, tak sengaja kata itu muncul ketika mencoba mencari kata lain di kamus bahasa Prancis yang gratis ini. Tapi, kali ini amour yang berarti cinta akan lebih dibahas, ketimbang epistemologi, ataupun aksiologi bahasa ini sendiri. Bukan sedang mencoba membahas ontologi, tapi sering mendengar kata amour dari teman, maupun kios komik di jalan. Entah anak masjid, entah anak atheis, menurut persepsi saya keduanya mendeskripsikan Amour Fati atau lebih dikenal sebagai cinta hidup, sama. Keduanya berujar bahwa cinta hidup adalah kondisi kita menghasrati hidup, entah dengan mencari uang sebanyaknya, entah dengan menjadi penguasa, entah dengan lainnya. Semua deskripsi menyatakan bahwa cinta hidup adalah melakukan hasrat diri pada kehidupan. Walaupun deskripsi sama, memang tidak semua orang bisa berperilaku sama, anak mesjid lebih sering menhujat orang yang mencintai dunia, walaupun mereka juga menampakan mencintai dunia dengan barang tersier yang mereka miliki, ataupun pacar cantik yang mereka gebet. Walaupun menutupi diri, tapi masih kita saya bedakan dengan golongan ateis yang lebih cenderung bersikap jujur untuk menikmati hidup, walaupun mereka kadang berpura-pura jahat, dan juga punya sisi jahat juga. Iyah, semua manusia memang memiliki plus minus, tapi reaksi pada kehidupan tetaplah sama antar ateis maupun anak mesjid, walaupun secara dibibir mereka berbeda.
Sebuah pertanyaan menyangkut dalam pikiran saya, “Apakah Amour Fati dan Amour Mati berbeda?”, Sederhanaya pernyataan itu ingin mengejewantahkan kebingungan saya akan makna cinta dunia dan cinta akhirat, apakah sama? Dan, survey membuktikan, kalangan atheis yang bertopeng filsafat, dan kalangan anak mesjid yang bertopeng agama, menjawab bahwa kedua hal tersebut adalah berbeda. Kalangan ateis berpendapat, bahwa tidak usah mikirin mati, mati itu udah gak mikir lagi, dan kalangan agamis berpendapat persiapkanlah untuk kematian, dan cintailah akhirat. Beberapa hal tersebut membuat saya bingung tapi kita lihat apa penuturan dari Bapak Kierkegaard.
Pak Kierkegaard pernah berpendapat dalam the works of love, bahwa kita tidak akan pernah bisa mencintai apa yang tidak bisa terlihat, tanpa bisa mencintai yang terlihat. Jelas disini menjatuhkan para anggapan anak mesjid, yang lebih cenderung ilusionis ketimbang kalangan ateis. Tapi tunggu dulu, Bapak Fyodor Dostovsky berargumen bahwa cinta adalah melihat Tuhan dari apa yang kita cintai, maknanya ketika kita mencintai hidup, berarti kita mencoba melihat Tuhan dari kehidupan dan mencintai mati, berarti melihat Tuhan dari kematian itu, seolah tuhan ingin berkata kepada kita melalui kedua zuhandene Tuhan itu yaitu kematian, dan kehidupan. Dan ini memukul agamis 2 kali, dan atheis 1 kali.
Cinta memang tentang diri sendiri, memang karena jika masih ada subject dan object maka kesadaran tersebut berada pada ranah pasca-ontologis alias pada struktur aksiologi, atau epistimologi, atau menurut Bapak Heidegger, pada ranah struktur ontis. Dan ketika cinta mengalami subject dan object berarti kita terpisah dari cinta itu sendiri, itu berarti kita tidak mencintai, dan ini berarti cinta itu adalah seinden (mengada). Jelas memang cinta adalah solusi eksistensial terbaik, seperti yang dikatakan kierkegaard, karena semanya memang Aku, dan aku disini tidak ada yang lain selain Aku itu sendiri. Tapi mengapa cinta mati dan hidup masih dibedakaan, bukankah keduanya jelas sama?