Amour merupakan kata yang menarik dari kamus
bahasa Prancis ini, tak sengaja kata itu muncul ketika mencoba
mencari kata lain di kamus bahasa Prancis yang gratis ini. Tapi, kali
ini amour yang berarti cinta akan lebih dibahas, ketimbang
epistemologi, ataupun aksiologi bahasa ini sendiri. Bukan sedang
mencoba membahas ontologi, tapi sering mendengar kata amour dari
teman, maupun kios komik di jalan. Entah anak masjid, entah anak
atheis, menurut persepsi saya keduanya mendeskripsikan Amour Fati
atau lebih dikenal sebagai cinta hidup, sama. Keduanya berujar bahwa
cinta hidup adalah kondisi kita menghasrati hidup, entah dengan
mencari uang sebanyaknya, entah dengan menjadi penguasa, entah dengan
lainnya. Semua deskripsi menyatakan bahwa cinta hidup adalah
melakukan hasrat diri pada kehidupan. Walaupun deskripsi sama, memang
tidak semua orang bisa berperilaku sama, anak mesjid lebih sering
menhujat orang yang mencintai dunia, walaupun mereka juga menampakan
mencintai dunia dengan barang tersier yang mereka miliki, ataupun
pacar cantik yang mereka gebet. Walaupun menutupi diri, tapi masih
kita saya bedakan dengan golongan ateis yang lebih cenderung bersikap
jujur untuk menikmati hidup, walaupun mereka kadang berpura-pura
jahat, dan juga punya sisi jahat juga. Iyah, semua manusia memang
memiliki plus minus, tapi reaksi pada kehidupan tetaplah sama antar
ateis maupun anak mesjid, walaupun secara dibibir mereka berbeda.
Sebuah pertanyaan menyangkut dalam pikiran saya,
“Apakah Amour Fati dan Amour Mati berbeda?”, Sederhanaya
pernyataan itu ingin mengejewantahkan kebingungan saya akan makna
cinta dunia dan cinta akhirat, apakah sama? Dan, survey membuktikan,
kalangan atheis yang bertopeng filsafat, dan kalangan anak mesjid
yang bertopeng agama, menjawab bahwa kedua hal tersebut adalah
berbeda. Kalangan ateis berpendapat, bahwa tidak usah mikirin mati,
mati itu udah gak mikir lagi, dan kalangan agamis berpendapat
persiapkanlah untuk kematian, dan cintailah akhirat. Beberapa hal
tersebut membuat saya bingung tapi kita lihat apa penuturan dari
Bapak Kierkegaard.
Pak Kierkegaard pernah
berpendapat dalam the works of love, bahwa kita tidak akan pernah
bisa mencintai apa yang tidak bisa terlihat, tanpa bisa mencintai
yang terlihat. Jelas disini menjatuhkan para anggapan anak mesjid,
yang lebih cenderung ilusionis ketimbang kalangan ateis. Tapi tunggu
dulu, Bapak Fyodor Dostovsky berargumen bahwa cinta adalah melihat
Tuhan dari apa yang kita cintai, maknanya ketika kita mencintai
hidup, berarti kita mencoba melihat Tuhan dari kehidupan dan
mencintai mati, berarti melihat Tuhan dari kematian itu, seolah tuhan
ingin berkata kepada kita melalui kedua zuhandene Tuhan itu yaitu
kematian, dan kehidupan. Dan ini memukul agamis 2 kali, dan atheis 1
kali.
Cinta memang tentang
diri sendiri, memang karena jika masih ada subject dan object maka
kesadaran tersebut berada pada ranah pasca-ontologis alias pada
struktur aksiologi, atau epistimologi, atau menurut Bapak Heidegger,
pada ranah struktur ontis. Dan ketika cinta mengalami subject dan
object berarti kita terpisah dari cinta itu sendiri, itu berarti kita
tidak mencintai, dan ini berarti cinta itu adalah seinden (mengada).
Jelas memang cinta adalah solusi eksistensial terbaik, seperti yang
dikatakan kierkegaard, karena semanya memang Aku, dan aku disini
tidak ada yang lain selain Aku itu sendiri. Tapi mengapa cinta mati
dan hidup masih dibedakaan, bukankah keduanya jelas sama?