Menurut Soren Kierkegaard,
cinta merupakan solusi eksistensialisme terbesar dalam menghadapi
kehidupan. Cinta merupakan salah satu metode melihat tuhan melalui
perantara yang kita cintai. Cinta memang bertingkat, cinta estetis,
cinta etis, hingga cinta yang religus. Adalah sebuah kebohongan jika
kita mengatakan mencintai Tuhan tapi kita tidak mencintai makhluk
sekeliling kita , bagaimana kita bisa mencintai yang terlilhat tanpa
kita tidak bisa mencintai yang terlihat.
Kebanyakan manusia mengamputasi realitas, dengan
menganggap bentuk sebagai sebuah makna, tanpa memahami bahwa makna
terpisah dari bentuk, atau diungkapkan oleh Kierkegaard sebagai
bahasa yang terbaca telah menutupi sense of methaporical dari kata
itu sendiri. Cinta akan membuat kita membangkitkan ruh untuk bisa
saling terhubung lalu mengejawantahkannya dalam kata yang merupakan
pengejawantahan dari sense of methaporical itu sendiri. Kita sering
berkomunikasi tapi masih dalam ranah yang estetis, sekadar komunikasi
yang berjalan tanpa adanya roh yang terbangun dari proses komunikasi
tersebut. Untuk itu seseorang akan sering menyalah pahami orang lain,
karena mereka tidak mencoba melihat Tuhan dalam diri orang yang ingin
diajak bicara, dalam konteks ini Kierkegaard menyatakan bahwa
komunikasi ini merupakan komunikasi religius atau hubungan cinta.
Cinta merupakan salah satu metode membangkitkan
roh untuk bisa berkomunikasi dengan Tuhan. Ketika kita mencoba
melakukan upbuilding melalui cinta, seperti menjadi lebih
pintar, menjadi terhormat, menjadi tampan atau yang lain melalui
cinta, hal ini bertentangan dengan cinta itu sendiri. Dan hal-hal
yang upbuilding tersebut justru akan mengamputasi cinta hingga roh
akan hilang. Upbuilding bisa kita lihat dalam sebuah kasus ini,
seorang bayi ketika memegang payudara ibunya yang sedang
menggendongnya, merupakan salah satu bentuk komunikasi dari ibunya
yang ingin agar anaknya tertidur, makna dari kata tertidur tersebut
tersampaikan melalui bahasa tubuh dari sang ibu. Dari kasus ini
terlihat bahwa roh sang ibu dibangkitkan untuk berkata pada
anaknya, tidurlah. Dan dari kasus ini kebutuhan untuk upbuilding
tidaklah nampak, dan kasus ini
juga menunjukan bahwa cinta tidaklah muncul melaui ketampanan,
kekuasaan, kehormatan, maupun kekayaan.
Ketika
cinta tak bisa didefinisikan, Kierkegaard justru mengungkapkannya
dalam beragam statement walaupun statement itu hanyalah sebuah bentuk
dari kata metaphoris yang masih terpisah dari makna itu cinta itu
sendiri, tapi Kierkegaard mencoba menyampaikannya agar lebih mudah
terpahami.
Cinta adalah upbuiding
itu sendiri. Cinta merupakan kebahagiaan itu sendiri, dan bukan
sebagai sarana untuk mencapai kebahagiaan.
Cinta adalah
kesabaran, dengan
cinta kita bisa terus bertahan di dalam kondisi terendah dalam hidup
kita. Cinta akan menyimplifikasi segala permasalahan dalam hidup yang
terkadang bagi bukan para pecinta hidup akan terasa lebih melelahkan.
Ketika seseorang berkata tentang rasa cemburu, seseorang yang
pencemburu merupakan seorang yang martir dan penuh dengan kebencian,
dan dari kita akan menyadari bahwa rasa cemburu itu telah
mendekonstruksi cinta itu sendiri.
Cinta tidak
melihat itu miliknya. Seseorang
yang melihat bahwa itu miliknya harus menekan segalanya untuk berada
disisinya, harus menghancurkan sebuah tempat untuk dijadikan
miliknya. Tapi cinta akan menghadirkan dasar dan dijakan sebagai
pondasi.
Love melahirkan
segalanya, untuk apa segalanya terlahir, tapi itu merupakan cara
paling ultima untuk mencari segalanya yang terimplikasi, bahwa cinta
dihadirkan dari dasar dan itulah yang membangunnya.
Cinta mempercayai segal
hal, untuk bisa percaya pada segala hal berarti mensimplifikasi bahaw
cinta sebagai ada yang tidak terlihat, dan melalui oposisinya sebagai
yang terlihat maka akan terjadi ambiguitas dan ini akan menyakitkan,
ketidak percayaan akan mengambil yang jauh sebagai dasar untuk
menghadirkan bahaw cinta tidak hadir dan berarti ketidak percayaan
tidak dapat membangun.
Cinta mengharap segala
hal, tapi untuk berharap segala hal menjadi ada, berarti
mengimplifikasi cinta. Lihat seorang anak yang jago bapaknya mungkin
tidak tahu bahwa anaknya sudah menjadi jago, karena bapaknya
menharapkan segala hal untuk anaknya. Bapaknya yang menharpakan
banyak hal dari anaknya mungkin telah membuat dirinya tidak pernah
menyadari bawha nikmat yang dimiliki anaknya telah mencukupinya, tapi
bapaknya tidak pernah merasakan cukup.
Cinta menguatkan
segalanya, karena menguatkan segala hal berarti mengsimplifikasi
untuk membuat cinta sebagai fondasi. Ketika kita berkata bahwa ibu
meletakan semua anaknya yang nakal kemmudia mereka berkata bahwa ibu
telah meletekan semua anak nakal mereka dan mereka berkata bahwa
seorang wanita seperti dia adalah orang yang sabar? Tidak kita
berkata beberapa hal, kemudian sebagai seorang ibu dia mencoba
mengingatkan secara kontinyu kepada anak itu untuk
tetap kuat dan menjadi lebih kuat dari yang lainnya, ini diam yang
sabar dan mengimplifikasi bahwa cinta masih ada dalam diri seseorang.
Daftar Pustaka
Kierkegaard, Soren.
1995. “Work of Love”. United Kingdom : Princeton
University Press.