Laman

Sabtu, 14 Januari 2017

Filsafat Cinta#1 : Ketika Cinta Menjadi Fondasi

Menurut Soren Kierkegaard, cinta merupakan solusi eksistensialisme terbesar dalam menghadapi kehidupan. Cinta merupakan salah satu metode melihat tuhan melalui perantara yang kita cintai. Cinta memang bertingkat, cinta estetis, cinta etis, hingga cinta yang religus. Adalah sebuah kebohongan jika kita mengatakan mencintai Tuhan tapi kita tidak mencintai makhluk sekeliling kita , bagaimana kita bisa mencintai yang terlilhat tanpa kita tidak bisa mencintai yang terlihat.
Kebanyakan manusia mengamputasi realitas, dengan menganggap bentuk sebagai sebuah makna, tanpa memahami bahwa makna terpisah dari bentuk, atau diungkapkan oleh Kierkegaard sebagai bahasa yang terbaca telah menutupi sense of methaporical dari kata itu sendiri. Cinta akan membuat kita membangkitkan ruh untuk bisa saling terhubung lalu mengejawantahkannya dalam kata yang merupakan pengejawantahan dari sense of methaporical itu sendiri. Kita sering berkomunikasi tapi masih dalam ranah yang estetis, sekadar komunikasi yang berjalan tanpa adanya roh yang terbangun dari proses komunikasi tersebut. Untuk itu seseorang akan sering menyalah pahami orang lain, karena mereka tidak mencoba melihat Tuhan dalam diri orang yang ingin diajak bicara, dalam konteks ini Kierkegaard menyatakan bahwa komunikasi ini merupakan komunikasi religius atau hubungan cinta.
Cinta merupakan salah satu metode membangkitkan roh untuk bisa berkomunikasi dengan Tuhan. Ketika kita mencoba melakukan upbuilding melalui cinta, seperti menjadi lebih pintar, menjadi terhormat, menjadi tampan atau yang lain melalui cinta, hal ini bertentangan dengan cinta itu sendiri. Dan hal-hal yang upbuilding tersebut justru akan mengamputasi cinta hingga roh akan hilang. Upbuilding bisa kita lihat dalam sebuah kasus ini, seorang bayi ketika memegang payudara ibunya yang sedang menggendongnya, merupakan salah satu bentuk komunikasi dari ibunya yang ingin agar anaknya tertidur, makna dari kata tertidur tersebut tersampaikan melalui bahasa tubuh dari sang ibu. Dari kasus ini terlihat bahwa roh sang ibu dibangkitkan untuk berkata pada anaknya, tidurlah. Dan dari kasus ini kebutuhan untuk upbuilding tidaklah nampak, dan kasus ini juga menunjukan bahwa cinta tidaklah muncul melaui ketampanan, kekuasaan, kehormatan, maupun kekayaan.
Ketika cinta tak bisa didefinisikan, Kierkegaard justru mengungkapkannya dalam beragam statement walaupun statement itu hanyalah sebuah bentuk dari kata metaphoris yang masih terpisah dari makna itu cinta itu sendiri, tapi Kierkegaard mencoba menyampaikannya agar lebih mudah terpahami.
Cinta adalah upbuiding itu sendiri. Cinta merupakan kebahagiaan itu sendiri, dan bukan sebagai sarana untuk mencapai kebahagiaan.
Cinta adalah kesabaran, dengan cinta kita bisa terus bertahan di dalam kondisi terendah dalam hidup kita. Cinta akan menyimplifikasi segala permasalahan dalam hidup yang terkadang bagi bukan para pecinta hidup akan terasa lebih melelahkan. Ketika seseorang berkata tentang rasa cemburu, seseorang yang pencemburu merupakan seorang yang martir dan penuh dengan kebencian, dan dari kita akan menyadari bahwa rasa cemburu itu telah mendekonstruksi cinta itu sendiri.
Cinta tidak melihat itu miliknya. Seseorang yang melihat bahwa itu miliknya harus menekan segalanya untuk berada disisinya, harus menghancurkan sebuah tempat untuk dijadikan miliknya. Tapi cinta akan menghadirkan dasar dan dijakan sebagai pondasi.
Love melahirkan segalanya, untuk apa segalanya terlahir, tapi itu merupakan cara paling ultima untuk mencari segalanya yang terimplikasi, bahwa cinta dihadirkan dari dasar dan itulah yang membangunnya.
Cinta mempercayai segal hal, untuk bisa percaya pada segala hal berarti mensimplifikasi bahaw cinta sebagai ada yang tidak terlihat, dan melalui oposisinya sebagai yang terlihat maka akan terjadi ambiguitas dan ini akan menyakitkan, ketidak percayaan akan mengambil yang jauh sebagai dasar untuk menghadirkan bahaw cinta tidak hadir dan berarti ketidak percayaan tidak dapat membangun.
Cinta mengharap segala hal, tapi untuk berharap segala hal menjadi ada, berarti mengimplifikasi cinta. Lihat seorang anak yang jago bapaknya mungkin tidak tahu bahwa anaknya sudah menjadi jago, karena bapaknya menharapkan segala hal untuk anaknya. Bapaknya yang menharpakan banyak hal dari anaknya mungkin telah membuat dirinya tidak pernah menyadari bawha nikmat yang dimiliki anaknya telah mencukupinya, tapi bapaknya tidak pernah merasakan cukup.
Cinta menguatkan segalanya, karena menguatkan segala hal berarti mengsimplifikasi untuk membuat cinta sebagai fondasi. Ketika kita berkata bahwa ibu meletakan semua anaknya yang nakal kemmudia mereka berkata bahwa ibu telah meletekan semua anak nakal mereka dan mereka berkata bahwa seorang wanita seperti dia adalah orang yang sabar? Tidak kita berkata beberapa hal, kemudian sebagai seorang ibu dia mencoba mengingatkan secara kontinyu kepada anak itu untuk tetap kuat dan menjadi lebih kuat dari yang lainnya, ini diam yang sabar dan mengimplifikasi bahwa cinta masih ada dalam diri seseorang.
Daftar Pustaka
Kierkegaard, Soren. 1995. “Work of Love”. United Kingdom : Princeton University Press.