Pengantar
Pelajar merupakan salah satu manusia terpilih
untuk melakukan pekerjaan mereka untuk belajar. Belajar juga
merupakan salah satu untuk mengkonstruksi diri melalui konstruksi
pola pikir. Tidak semua manusia berstatus pelajar di KTP benar-benar
belajar. Ketika pelajar yang sesungguhnya mencoba untuk mencari
keterpolaan dari sebuah dialektika kehidupan, baik dari alam fisik
maupun dari alam non fisik. Status KTP pelajar dijadikan sebagai alat
untuk memenuhi kebutuhan, layaknya untuk mendapatkan pekerjaan hingga
mendapatkan istri yang dinantikan, dalam hal ini status KTP pelajar
dijadikan zuhandene untuk mendapatkan keinginan.
Lalu bagaimana pelajar yang sesungguhnya. Pelajar
sesungguhnya adalah dia yang belajar. Belajar berarti mengkonstruksi
diri dari pola pikir atau lebih terkenal dalam bahasa matematika
sebagai konstruksi algoritma. Sebagian pelajar KTP mengolah data dan
melakukan inferensi terhadap data tersebut, dan bukan mengolah data
tersebut sebagai metode melihat keterpolaan, atau lebih dikenal
sebagai konstruksi algoritma, justru hanya sebagai proses reproduksi
informasi data belaka.
Dalam Programme International Student Assesment,
sebuah kurikulum belajar seharusnya mendidik seorang pelajar untuk
bisa mengamati alam (Natural Sains), Membaca (Reading)
dan berhitung (Math). Proses konstruksi yang diajukan
oleh PISA ini, memang ditujukan untuk memfasilitasi pelajar untuk
bisa melakukan hermeneutika kehidupan, baik fisis maupun non fisis.
Dengan jam belajar yang tinggi menurut pemerintah
Indonesia, terlihat bahwa kurikulum yang diberikan tidak berdampak
efektif pada proses hermenutika para pelajar di Indoneisa. Pendidikan
di Indonesia justru memberikan tekanan bagi para pelajar di Indonesia
yang masih dituntut akan prestasi yang tentatif hingga para pelajar
di Indonesia mengalami Alethia (Sikap
tidak mau menerima diri sendiri, atau sikap tidak mampu jujur
terhadap diri sendiri, menurut Marx). Siswa akan ditentukan
kinerjanya dengan prestasi, namun prestasi yang ada dalam kesadaran
pemberi kurikulum tidaklah prestasi yang mampu membuat seorang
pelajar atau orang disekitar pelajar mengkonstruksi dirinya atau
lingkungan disekitar mereka. Dalam suatu hari kedepan akan menjadi
bencana yang cukup mengerikan bagi bangsa ini, karena proses
kapitalisasi pendidikan akan menjadi barang dagangan dan tidak
memberi kesempatan bagi seorang pelajar berdana pas-pasan. Ini akan
sangat berbahaya karena selain akan meningkatkan kesenjangan sosial,
harga pendidikan yang tinggi tidak bisa memberi kesempatan bagi orang
yang tidak kurang memiliki dana untuk belajar melalui pendidikan
formal.
Pendidikan
seharusnya menjadikan seorang pelajar menjadi dirinya sendiri dan
menjadi sebuah alat untuk mengatasi masalah Alethia
(Ketidak mampuan untuk menerima kebenaran). Namun di negara ini
justru menjadi sebuah alat untuk meningkatkan alethia,
melalui kapitalisme pendidikan
di negara ini. Pendidikan yang dijadikan sebagai status sosial
terlihat pada KTP di negara ini. Hal yang patut mengherankan pada
kondisi ini adalah “Untuk apa KTP dituliskan status
seperti mahasiswa, pengusaha, atau pelajar.”,
kalaupun dituliskan dalam KTP apakah hal itu akan mampu memberikan
konstruksi yang benar dalam proses kinerja melalui status KTP, dan
lagi pula profesi merupakan masalah eksistensial yang buat apa orang
lain mengetahui itu?
Rasa Metaforis
Rasa metaforis
merupakan salah satu metode berdialektika sejati. Bahasa muncul
setelah rasa metaforis. Proses membaca, berhitung, maupun memahami
alam, adalah metode kita untuk memahami bahasa metaforis. Bahasa
metaforis inilah yang nantinya akan menjadi dialektika sejati entah
dengan sesama manusia, maupun makhluk yang bukan manusia, seperti
mesin, binatang, pohon atau batu sekalipun. Rasa methaforis ini yang
nantinya terejawantahkan dalam bentuk teori, puisi, cerpen maupun
berupa ungkapan rasa lain seperti lamaran.
Mengumpulkan rasa
metaforis dilakukan oleh negara maju dengan bahasa berupa, arsip
buku, diskusi ataupun kuliah dikelas. Namun kurikulum di Indonesia
yang hanya sekedar ikutan ini belum mampu memahami tujuan dari
pendidikan sebagai olah rasa metaforis ini. Seperti yang dikatakan
oleh G. W. F.
Hegel, bahwa kuantitas akan menentukan kualitas, tidak semua
kuantitas itu mengada dalam diri secara eksistensial, dan walaupun
dalam kuantitas yang tinggi sekalipun, ketika hal itu belum mampu
eksis dalam Dasein maka hal ini akan tidak make sense. Rasa harus
dilatih dengan rasa itu sendiri, dan semakin mengolah rasa maka rasa
tersebut akan mejadi semakin berkualitas.
Kritik Kurikulum
Kurikulum
diperlukan untuk merencanakan pembentukan pola pikir bagi orang yang
ingin belajar. Namun apakah kurikulum itu efektif atau tidak maka
tergantung dari pencapaian dari pelajar itu sendiri, walaupun dalam
proses pencapaian bersifat eksistensial, tapi mengapa hal ini bisa
dilakukan kuantifikasi melalui prestasi, apalagi dengan prestasi yang
bersifat lebih tentatif seperti IPK, juara atau yang lainnya. Menurut
Syech Ibnu Athailah as Sakandari, dalam kitab al Hikam,
bahwa untuk mancapai prestasi
yang tinggi maka seseorang harus mampu mendalami hal yang dihadapi,
namun prestasi yang tentatif masih lebih diberhalai oleh bangsa ini
ketimbang prestasi yang dilalui dari proses-proses yang subtil,
dengan hal ini kita akan melihat bangsa ini mudah untuk
terombang-ambing dalam berhala-berhala layaknya prestisme, status
sosial, uang, atau kelamin. Berhala-berhala
tersebut akan membuat bangsa ini lebih mudah menjadi target pasar,
hal ini ditunjukan dengan banyaknya barang luar negeri yang masih
banyak beredar dan semakin banyak, dan bangsa Indonesia hanya
dijadikan sebagai konsumen.
Jam belajar yang tinggi
di Indonesia, tidak dibarengi dengan sistem efektif belajar, entah
karena pembuat kurikulum belum memahami tentang makna belajar hingga
asal-asalan dalam menentuka perencanaan, atau pelaku pendidik yang
belum siap, tapi jelas terlihat bahwa tidak ada peraih nobel dari
Indonesia, dan ini menunjukan bahwa di Indonesia efektifitas dari
pendidikan ini sangat tidak efektif. Apakah menurut pembuat
kurikulum, belajar haruslah dari sistem formal. Ketika belajar adalah
proses untuk mendekonstruksi Alethia, hal ini justru akan semakin
membuat para pelajar di Indonesia belajar tidak dari dalam dirinya,
dan tidak menjadi dirinya sendiri.
Kurikulum Asimetris
Mengkritik tanpa
memberikan solusi yang jelas justru akan semakin membuat masalah
semakin pelik. Kurikulum asimetris bisa dijadikan sebuah solusi untuk
mengatasi permasalahan pendidikan di Indonesia. Seperti model bisnis
asimetris yang berkembang di dunia ini, bahwa untuk menjual sebuah
produk kita bisa mengefektifitaskan melalui branding. Tujuan dari
proses asimetris ini adalah tetap menjual barang namun tujuan utama
dari proses ini adalah menjual produk yang kita coba pasarkan. Namun
asimetris ini disalahgunakan dengan menjadikan pendidikan sebagai
alat dari tujuan perdangan hingga proses belajar menjadi alat
tentatif dan bukan alat sustain untuk perdagangan, tidak salah memang
jika digunakan untuk perdaganan tapi jika hanya bersifat tentatif
maka kehancuran dari sistem ini hanyalah tinggal menunggu waktu.
Seperti apa yang
dikatakan oleh Imam Ghozali bahwa segala yang aksiden akan mengikuti
substansinya, jika uang dan hasrat berhala dijadikan sebagai
substantif, maka proses ini akan kurang dihayati ketika
berhala-berhala yang tentatif terpenuhi. Perlu nilai yang lebih agung
untuk mengkonstruksi kurikulum agar pendidikan di Indonesia mencapai
prestasi yang tinggi melalui proses yang subtil, bukan sekedar proses
tentatif yang cenderung membuat prestasi yang kebetulan.
Pendidikan asimetris
yang dikonstruksi untuk nilai yang lebih luhur, seperti membuat dunia
yang lebih baik, akan terus berjalan, bahkan dengan jam belajar
formal yang tinggi maupun tanpa jam belajar formal sekalipun. Dalam
artian disini, bahwa konstruksi diri yang membentuk konstruksi
masyarakat melalui konstruktri pola pikir akan terus berjalan walau
badai menghadang.
Daftar Pustaka
-
Heidegger, Martin. 2010. Being and Time. Joan Stambaugh, trans. Translation revised by Dennis J. Schmidt. Albany, NY: State University of New York Press.
-
Kierkegaard, Soren. 1995. Work of Love. United Kingdom : Princeton University Press.
-
Gadamer, Hans-Georg. 1976. Philosopical Hermeneutics Translated and Edited by David E. Linge. Berkeley : University of California Press
-
Sowel Thomas. 1982. Marxism Philosophy and Economics. Routledge Revivals.
-
Descartes, Rene. 2006. Discourse on the Method of Correctly Conducting One’s Reason and Seeking Truth in the Sciences. Oxford : Oxford University Press.
-
Sartre, Jean Paul. 1993. Being and Nothingness. Washington : Washington Square Press.