Laman

Sabtu, 14 Januari 2017

Rasa Metaforis


Pengantar

Pelajar merupakan salah satu manusia terpilih untuk melakukan pekerjaan mereka untuk belajar. Belajar juga merupakan salah satu untuk mengkonstruksi diri melalui konstruksi pola pikir. Tidak semua manusia berstatus pelajar di KTP benar-benar belajar. Ketika pelajar yang sesungguhnya mencoba untuk mencari keterpolaan dari sebuah dialektika kehidupan, baik dari alam fisik maupun dari alam non fisik. Status KTP pelajar dijadikan sebagai alat untuk memenuhi kebutuhan, layaknya untuk mendapatkan pekerjaan hingga mendapatkan istri yang dinantikan, dalam hal ini status KTP pelajar dijadikan zuhandene untuk mendapatkan keinginan.
Lalu bagaimana pelajar yang sesungguhnya. Pelajar sesungguhnya adalah dia yang belajar. Belajar berarti mengkonstruksi diri dari pola pikir atau lebih terkenal dalam bahasa matematika sebagai konstruksi algoritma. Sebagian pelajar KTP mengolah data dan melakukan inferensi terhadap data tersebut, dan bukan mengolah data tersebut sebagai metode melihat keterpolaan, atau lebih dikenal sebagai konstruksi algoritma, justru hanya sebagai proses reproduksi informasi data belaka.
Dalam Programme International Student Assesment, sebuah kurikulum belajar seharusnya mendidik seorang pelajar untuk bisa mengamati alam (Natural Sains), Membaca (Reading) dan berhitung (Math). Proses konstruksi yang diajukan oleh PISA ini, memang ditujukan untuk memfasilitasi pelajar untuk bisa melakukan hermeneutika kehidupan, baik fisis maupun non fisis.
Dengan jam belajar yang tinggi menurut pemerintah Indonesia, terlihat bahwa kurikulum yang diberikan tidak berdampak efektif pada proses hermenutika para pelajar di Indoneisa. Pendidikan di Indonesia justru memberikan tekanan bagi para pelajar di Indonesia yang masih dituntut akan prestasi yang tentatif hingga para pelajar di Indonesia mengalami Alethia (Sikap tidak mau menerima diri sendiri, atau sikap tidak mampu jujur terhadap diri sendiri, menurut Marx). Siswa akan ditentukan kinerjanya dengan prestasi, namun prestasi yang ada dalam kesadaran pemberi kurikulum tidaklah prestasi yang mampu membuat seorang pelajar atau orang disekitar pelajar mengkonstruksi dirinya atau lingkungan disekitar mereka. Dalam suatu hari kedepan akan menjadi bencana yang cukup mengerikan bagi bangsa ini, karena proses kapitalisasi pendidikan akan menjadi barang dagangan dan tidak memberi kesempatan bagi seorang pelajar berdana pas-pasan. Ini akan sangat berbahaya karena selain akan meningkatkan kesenjangan sosial, harga pendidikan yang tinggi tidak bisa memberi kesempatan bagi orang yang tidak kurang memiliki dana untuk belajar melalui pendidikan formal.
Pendidikan seharusnya menjadikan seorang pelajar menjadi dirinya sendiri dan menjadi sebuah alat untuk mengatasi masalah Alethia (Ketidak mampuan untuk menerima kebenaran). Namun di negara ini justru menjadi sebuah alat untuk meningkatkan alethia, melalui kapitalisme pendidikan di negara ini. Pendidikan yang dijadikan sebagai status sosial terlihat pada KTP di negara ini. Hal yang patut mengherankan pada kondisi ini adalah “Untuk apa KTP dituliskan status seperti mahasiswa, pengusaha, atau pelajar.”, kalaupun dituliskan dalam KTP apakah hal itu akan mampu memberikan konstruksi yang benar dalam proses kinerja melalui status KTP, dan lagi pula profesi merupakan masalah eksistensial yang buat apa orang lain mengetahui itu?

Rasa Metaforis

Rasa metaforis merupakan salah satu metode berdialektika sejati. Bahasa muncul setelah rasa metaforis. Proses membaca, berhitung, maupun memahami alam, adalah metode kita untuk memahami bahasa metaforis. Bahasa metaforis inilah yang nantinya akan menjadi dialektika sejati entah dengan sesama manusia, maupun makhluk yang bukan manusia, seperti mesin, binatang, pohon atau batu sekalipun. Rasa methaforis ini yang nantinya terejawantahkan dalam bentuk teori, puisi, cerpen maupun berupa ungkapan rasa lain seperti lamaran.
Mengumpulkan rasa metaforis dilakukan oleh negara maju dengan bahasa berupa, arsip buku, diskusi ataupun kuliah dikelas. Namun kurikulum di Indonesia yang hanya sekedar ikutan ini belum mampu memahami tujuan dari pendidikan sebagai olah rasa metaforis ini. Seperti yang dikatakan oleh G. W. F. Hegel, bahwa kuantitas akan menentukan kualitas, tidak semua kuantitas itu mengada dalam diri secara eksistensial, dan walaupun dalam kuantitas yang tinggi sekalipun, ketika hal itu belum mampu eksis dalam Dasein maka hal ini akan tidak make sense. Rasa harus dilatih dengan rasa itu sendiri, dan semakin mengolah rasa maka rasa tersebut akan mejadi semakin berkualitas.

Kritik Kurikulum

Kurikulum diperlukan untuk merencanakan pembentukan pola pikir bagi orang yang ingin belajar. Namun apakah kurikulum itu efektif atau tidak maka tergantung dari pencapaian dari pelajar itu sendiri, walaupun dalam proses pencapaian bersifat eksistensial, tapi mengapa hal ini bisa dilakukan kuantifikasi melalui prestasi, apalagi dengan prestasi yang bersifat lebih tentatif seperti IPK, juara atau yang lainnya. Menurut Syech Ibnu Athailah as Sakandari, dalam kitab al Hikam, bahwa untuk mancapai prestasi yang tinggi maka seseorang harus mampu mendalami hal yang dihadapi, namun prestasi yang tentatif masih lebih diberhalai oleh bangsa ini ketimbang prestasi yang dilalui dari proses-proses yang subtil, dengan hal ini kita akan melihat bangsa ini mudah untuk terombang-ambing dalam berhala-berhala layaknya prestisme, status sosial, uang, atau kelamin. Berhala-berhala tersebut akan membuat bangsa ini lebih mudah menjadi target pasar, hal ini ditunjukan dengan banyaknya barang luar negeri yang masih banyak beredar dan semakin banyak, dan bangsa Indonesia hanya dijadikan sebagai konsumen.
Jam belajar yang tinggi di Indonesia, tidak dibarengi dengan sistem efektif belajar, entah karena pembuat kurikulum belum memahami tentang makna belajar hingga asal-asalan dalam menentuka perencanaan, atau pelaku pendidik yang belum siap, tapi jelas terlihat bahwa tidak ada peraih nobel dari Indonesia, dan ini menunjukan bahwa di Indonesia efektifitas dari pendidikan ini sangat tidak efektif. Apakah menurut pembuat kurikulum, belajar haruslah dari sistem formal. Ketika belajar adalah proses untuk mendekonstruksi Alethia, hal ini justru akan semakin membuat para pelajar di Indonesia belajar tidak dari dalam dirinya, dan tidak menjadi dirinya sendiri.

Kurikulum Asimetris

Mengkritik tanpa memberikan solusi yang jelas justru akan semakin membuat masalah semakin pelik. Kurikulum asimetris bisa dijadikan sebuah solusi untuk mengatasi permasalahan pendidikan di Indonesia. Seperti model bisnis asimetris yang berkembang di dunia ini, bahwa untuk menjual sebuah produk kita bisa mengefektifitaskan melalui branding. Tujuan dari proses asimetris ini adalah tetap menjual barang namun tujuan utama dari proses ini adalah menjual produk yang kita coba pasarkan. Namun asimetris ini disalahgunakan dengan menjadikan pendidikan sebagai alat dari tujuan perdangan hingga proses belajar menjadi alat tentatif dan bukan alat sustain untuk perdagangan, tidak salah memang jika digunakan untuk perdaganan tapi jika hanya bersifat tentatif maka kehancuran dari sistem ini hanyalah tinggal menunggu waktu.
Seperti apa yang dikatakan oleh Imam Ghozali bahwa segala yang aksiden akan mengikuti substansinya, jika uang dan hasrat berhala dijadikan sebagai substantif, maka proses ini akan kurang dihayati ketika berhala-berhala yang tentatif terpenuhi. Perlu nilai yang lebih agung untuk mengkonstruksi kurikulum agar pendidikan di Indonesia mencapai prestasi yang tinggi melalui proses yang subtil, bukan sekedar proses tentatif yang cenderung membuat prestasi yang kebetulan.
Pendidikan asimetris yang dikonstruksi untuk nilai yang lebih luhur, seperti membuat dunia yang lebih baik, akan terus berjalan, bahkan dengan jam belajar formal yang tinggi maupun tanpa jam belajar formal sekalipun. Dalam artian disini, bahwa konstruksi diri yang membentuk konstruksi masyarakat melalui konstruktri pola pikir akan terus berjalan walau badai menghadang.

Daftar Pustaka

  1. Heidegger, Martin. 2010. Being and Time. Joan Stambaugh, trans. Translation revised by Dennis J. Schmidt. Albany, NY: State University of New York Press.
  2. Kierkegaard, Soren. 1995. Work of Love. United Kingdom : Princeton University Press.
  3. Gadamer, Hans-Georg. 1976. Philosopical Hermeneutics Translated and Edited by David E. Linge. Berkeley : University of California Press
  4. Sowel Thomas. 1982. Marxism Philosophy and Economics. Routledge Revivals.
  5. Descartes, Rene. 2006. Discourse on the Method of Correctly Conducting One’s Reason and Seeking Truth in the Sciences. Oxford : Oxford University Press.
  6. Sartre, Jean Paul. 1993. Being and Nothingness. Washington : Washington Square Press.