Takdir merupakan ketentuan dari Tuhan, dalam kitab
al Hikam. Namun takdir adalah bentuk finalitas kondisi dari apa yang
saya cerna. Ketika takdir menurut Nietzsche ada dalam diri setiap
manusia. Lalu bagaimana kita bisa menghubungkan kedua hal dari Ibnu
Atha’ilah dan Fredrich Nietzsche itu. Namun perlu ditekankan bahwa
takdir akan muncul ketika kita mengalami beragam peristiwa guna
mendapatkan finalitas takdir, walaupun Rumi, pernah berargument bahwa
peristiwa itu juga memang telah ditentukan, tapi setiap manusia yang
mengalami peristiwa akan mencatatkan diri mereka dalam takdir
tersebut.
Sebagian besar manusia akan menanyakan takdir
dalam fase keputusasaan, kecemasan muncul dalam kondisi ini. Namun
Heidegger pernah berargument bahwa takdir ditentukan dari bagaimana
kita menyikapi sebuah kecemasan, dan sikap itulah yang kita namai
sebuah takdir. Seperti orang yang mengalami kecemasan tentang
kehidupan yang begitu melelahkan hingga di melakukan bunuh diri atau
mencari kehidupan yang lain, bunuh diri atau melalukan kehidupan yang
lain itulah yang disebut sebagai takdir. Sikap yang nampak, walaupun
respon begitu beragam dan acak, seakan muncul dari ketiadaan. Namun
ada itulah yang akan mengkonstruksi struktur ontis.
Keputusasaan adalah sebuah keadaan dimana kita
akan susah untuk bersikap jujur pada diri kita. Hingga kita akan
menyerahkan pada kebohongan atau tetap berada pada sikap yang jujur
namun dengan resiko yang mungkin akan sangat menyakitkan. Tapi
Nietzsche pernah berujar bahwa rasa sakit adalah sebuah pleasure of
life. Keputus-asaanlah yang akan menguji setiap individu untuk
menghadapi kecemasannya dan menentukan takdirnya.
Keputusasaan juga
merupakan sebuah keindahan dari kehidupan, dimana hal-hal akan
menjadi sangat berwarna dan berasa dalam kehidupan. Ketika pilihan
mati untuk lari dari kenyataan, atau mencoba mengejar sesuatu yang
memang sia-sia. Namun sia-siapun juga sebuah keindahan dalam
kehidupan karena hal itu akan memeberikan rasa sakit dan melahirkan
sebuah keindahan. Kehidupan memang sebuah kesia-siaan, ketika
segalanya akan diakhiri dengan fase yang bernama kematian, tapi apa
salahnya jujur dan menjadi diri sendiri ketika kesia-siaan itu
merupakan sebuah kepastian dalam hidup, dan sikap kitalah yang akan
menentukan tentang makna kesia-siaan, apakah akan tetap berujung pada
kesia-siaan yang bermakna atau kesia-siaan yang tidak bermakna.
Kesia-siaan bermakna berarti memberikan kita kesadaran ontologis
tentang makna kecemasan, sedangkan kesia-siaan tanpa makna, adalah
bagian yang tidak bisa kita refleksikan. Walaupun dari paragraf ini
bisa disimpulkan bahwa kesia-siaan bisa jadi adalah sebuah
ke-tidak-sia-sia-an. Entahlah, tapi setiap keputusasaan akan selalu
ada pilihan untuk menentukan takdir, dan mungkin keputus-asaan itulah
kondisi prafinalitas untuk menentukan takdir.