Laman

Sabtu, 14 Januari 2017

Takdir dan Keputusasaan


Takdir merupakan ketentuan dari Tuhan, dalam kitab al Hikam. Namun takdir adalah bentuk finalitas kondisi dari apa yang saya cerna. Ketika takdir menurut Nietzsche ada dalam diri setiap manusia. Lalu bagaimana kita bisa menghubungkan kedua hal dari Ibnu Atha’ilah dan Fredrich Nietzsche itu. Namun perlu ditekankan bahwa takdir akan muncul ketika kita mengalami beragam peristiwa guna mendapatkan finalitas takdir, walaupun Rumi, pernah berargument bahwa peristiwa itu juga memang telah ditentukan, tapi setiap manusia yang mengalami peristiwa akan mencatatkan diri mereka dalam takdir tersebut.
Sebagian besar manusia akan menanyakan takdir dalam fase keputusasaan, kecemasan muncul dalam kondisi ini. Namun Heidegger pernah berargument bahwa takdir ditentukan dari bagaimana kita menyikapi sebuah kecemasan, dan sikap itulah yang kita namai sebuah takdir. Seperti orang yang mengalami kecemasan tentang kehidupan yang begitu melelahkan hingga di melakukan bunuh diri atau mencari kehidupan yang lain, bunuh diri atau melalukan kehidupan yang lain itulah yang disebut sebagai takdir. Sikap yang nampak, walaupun respon begitu beragam dan acak, seakan muncul dari ketiadaan. Namun ada itulah yang akan mengkonstruksi struktur ontis.
Keputusasaan adalah sebuah keadaan dimana kita akan susah untuk bersikap jujur pada diri kita. Hingga kita akan menyerahkan pada kebohongan atau tetap berada pada sikap yang jujur namun dengan resiko yang mungkin akan sangat menyakitkan. Tapi Nietzsche pernah berujar bahwa rasa sakit adalah sebuah pleasure of life. Keputus-asaanlah yang akan menguji setiap individu untuk menghadapi kecemasannya dan menentukan takdirnya.
Keputusasaan juga merupakan sebuah keindahan dari kehidupan, dimana hal-hal akan menjadi sangat berwarna dan berasa dalam kehidupan. Ketika pilihan mati untuk lari dari kenyataan, atau mencoba mengejar sesuatu yang memang sia-sia. Namun sia-siapun juga sebuah keindahan dalam kehidupan karena hal itu akan memeberikan rasa sakit dan melahirkan sebuah keindahan. Kehidupan memang sebuah kesia-siaan, ketika segalanya akan diakhiri dengan fase yang bernama kematian, tapi apa salahnya jujur dan menjadi diri sendiri ketika kesia-siaan itu merupakan sebuah kepastian dalam hidup, dan sikap kitalah yang akan menentukan tentang makna kesia-siaan, apakah akan tetap berujung pada kesia-siaan yang bermakna atau kesia-siaan yang tidak bermakna. Kesia-siaan bermakna berarti memberikan kita kesadaran ontologis tentang makna kecemasan, sedangkan kesia-siaan tanpa makna, adalah bagian yang tidak bisa kita refleksikan. Walaupun dari paragraf ini bisa disimpulkan bahwa kesia-siaan bisa jadi adalah sebuah ke-tidak-sia-sia-an. Entahlah, tapi setiap keputusasaan akan selalu ada pilihan untuk menentukan takdir, dan mungkin keputus-asaan itulah kondisi prafinalitas untuk menentukan takdir.