Sabtu, 31 Oktober 2015
Tuhan yang Berbentuk
![]() |
| Wonosobo kabupaten Termiskin |
Setelah saya membaca artikel
tentang Kabupaten Wonosobo, yang menunjukan bahwa Wonosobo merupakan kabupaten
termiskin di Jawa Tengah. Bagi saya tidak masalah Wonosobo merupakan Kabupaten
Termisikin di Jawa Tengah. Tapi pandangan orang yang melihat bahwa kemiskinan
sebagai sebuah penyakit, inilah yang membuat saya menjadi geram. Pasalnya walau
saya hanya tinggal di Wonosobo selama beberapa bulan namun saya sangat
menikmati kehidupan di sana, selain harga-harga yang cenderung murah, di sana
warganya saling menghargai satu sama lainnya. Disamping itu, uang 100000 jika
kau berada di kota besar, tidak bisa menjamin ketimbang tinggal di Wonosobo.
Iya disana harga murah, dan tempatnya sejuk menenangkan. Namun orang lebih suka
melihat secara materialistik, bahwa kekayaan, prestasi merupakan tolak ukur
kebahagiaan seseorang. Mereka cenderung menuhankan Materi tersebut, itulah
tulisan saya yang bertemakan tentang Tuhan yang Berbentuk.
Kalau kata Ibnu Athailah dalam
kitab Al Hikam, maupun Jalaludin Rumi dalam kitab Fihi ma Fihi, kita akan
membahas tentang Tuhan sebagai makna
yang hakiki. Ada beberapa kalimat dari Ulama Sufi tersebut yang akan saya bahas
dalam tulisan kali ini :
“Manusia memang lebih suka memandang bayang-bayang dirinya ketimbang keinginan
untuk mengetahui Hakikatnya.”, Ibnu Athailah, al Hikam
Kalimat yang disebutkan oleh Ibnu
Athailah dalam kitab al Hikam, bersesuaian dengan kalimat para filsuf yang
menyatakan, “Jika kau ingin mengetahui
kebenaran maka carilah dan jika kau ingin bahagia maka kau cukup percaya.”,
Kedua kalimat tersebut yang
dinukil dari Ibnu Athailah maupun filsuf sering dimaknai terbalik oleh kita,
yang pertama kita jarang mengetahui makna atau hakikat kebenaran yang
sebenarnya, kita sering lebih memilih mengambil jalan aman asal, “Uang
banyak, kelihatan keren, istri cantik dan sebagainya.”, Sebenernya jika kau
meyakini itu benar, maka “Man jadda wa
jadda lah.”, kamu pasti akan dapatkan segala sesuatu yang kau niatkan. Tapi,
eits, nanti dulu, kalau kau benar melakukan teknik “Man jadda wa jadda lah.”, hanya untuk Tuhan berbentuk bukan
berwujud, (Mohon bedakan antara bentuk atau form dan wujud atau shape), kita
tidak akan sampai pada pemahaman sejati, alias kita hanya merasakan dalam bayang-bayang,
oke kita mulai ke kajian selanjutnya.
“Jika kau melihat ke dalam, maka engkau pasti tahu bahaw tak seorangpun
yang pantas dianggap baik dan dimulyakan dengan berlebihan.” Ibnu Athailah
Kalimat Ibnu Athailah seolah jika
kita sampai pada pemahaman yang sejati kita akan melihat bahwa baik itu
hanyalah bayangan saja. Kalo dalam buku
yang dituliskan oleh Suryomentraman kalau saya tidak lupa, beliau menuliskan
bahwa kita di dunia ini hanyalah buih, kalaupun kita terlihat baik itupun
sebenernya karena kita bermula dari lautan. Jadi kebaikan, kemulyaaan dari diri
kita hanyalah tajali Ilahiah, seperti halnya buih yang merupakan tajali lautan.
Kalau dalam tafsiranya Muhaji
Fikriono, dalam Al Hikam untuk semua, ”Kamu
takkan pernah bisa jujur terhadap dirimu sendiri sebelum menyadari bahwa
kenyataan hari ini adalah sesuatu yang sudah semestinya terjadi.” Kalau dalam
al Quran surat Al Hadid sekitar ayat 20 an. Menyebutkan bahwa segala sesuatu
sudah tertulis dalam kitab Lauhful Mahfudz jadi jangan bersedih atau senang
berlebihan dari apa yang telah luput darimu ataupun dari apapun yang telah
engkau dapatkan. Hidup ini Cuma gurauan
tapi orang-orang terlalu serius menghadapinya, padahal semuanya akan
dibenturkan dengan kematian itulah kata Imam Ghozali dalam Kitab Ihya Ulumudin.
Kesimpulan :
1. Sesuatu
telah ditetapkan dari zaman azali, lihatlah kembali kedalam diri dan
bertanyalah “Apakah yang saya lakukan
memang perlu?”.
2. Apakah
saya benar menuhankan sesuatu yang pantas untuk dituhankan.
3. Manusia
difitrahkan untuk Merdeka yang membuat kita unggul dari Malaikat, Iblis, namun “Apakah kita sudah benar-benar merdeka?”
4. Apakah
kita benar-benar tahu makna kemerdekaan itu sebenernya?
Jumat, 30 Oktober 2015
Amor Fati
![]() |
| Amor Fati |
Amor Fati, iyah selama ini aku serng merenung sambil meratapi nasib. Nasibku yang buruk menurut parameterku, hal itu sering membuat ku terlibat konfrontasi dengan Buya (Pak Kiyai), beliau menyarankan kepada saya untuk tidak meminta mungkin karena keinginan adalah sumber penderitaan.
Iya, benar sebagian dari kita melihat bahwa yang namanya takdir baik adalah ketika kita menjadi tenar dengan kebaikkan kita, terlihat soleh, pintar, punya istri cantik dan masih banyak, dengan parameter material, tapi walau aku pernah mengkaji kitab karya Jalaludin Rumi(Fihi ma Fihi), ternyata saya tidak mampu mengamalkannya, iya benar. Kata Jalaludin Rumi dalam kitabnya dia menuliskan :
Pada suatu tempat di gurun kering ada banyak gerombolan orang mencari sumur untuk di minimu. Namun ketika menarik ember dari Sumur Tersebut, ember tersebut tidak mampu untuk kembali ke atas, hal ini membuat para orang yang ingin minum turun ke sumur, al hasil pada suatu ketika semua orang yang turun ke sumur tidak mampu naik ke atas lagi, lalu datanglah seorang sufi (orang yang bijak dalam tassawuf) diutus ke bawah sumur lalu, tiba-tiba sumur itu bertanya pada Sufi tersebut,
“Apakah yang disebut sebagai tempat terbaik wahai anak manusia ?”,
Sambil kaget Sufi tersebut menjawab pertanyaan si Sumur, “Jika aku di sumur maka tempat terbaikku adalah di sumur. Jika aku di surga maka tempat terbaikku adalah di Surga. Tempat terbaik untuk dirimu adalah tempat dirimu sekarang berada. Karena Tuhan pasti tidak pernah salah dalam menempatkan sesuatu.”
Sumur tersebut puas atas jawaban dari sufi tersebut. Namun ada hal yang lain yang menarik seperti tulisannya Imam Al Ghazali yang inti pesannya, Carilah dunia karena kau akan mati, Cintailah orang yang ingin kau cintai karena akan berpisah, hal ini memcitrakan bahwa yang namanya kehidupan ini, baik dunia dan akhirat keduanya hanyalah sia-sia. Karena sering kita memanjatkan doa “Inalilahi wa inalilahi roji’un”, yang artinya segala sesuatu itu dari Alloh dan akan segalanya akan kembali kepadanya, masihkah kau berfikir bahwa kehidupan itu bukanlah sesuatu yang sia-sia.
Solusi :
Jika kita melihat kenyataan yang ingin disampaikan oleh Jalaludin Rumi, maupun Imam Al Ghazali, kita biasanya akan mencerna statement mereka dengan sikap yang kontra produktif, namun jangan simpulkan seperti itu. Tapi Imam Al Ghazali ingin berpesan bahwa “Kehidupan hanyalah sia-sia maka cintailah hidupmu karena akan terbentur dengan kematian.”, maknanya berontaklah dunia ini dengan mencintai kehidupan, seperti halnya Kamus yang menyadari kehidupan ini hanyalah sia-sia, maka lakukan yang ingin kau lakukan asal tidak melanggar agama, karena baik dan buruk menurut Jalaludin Rumi tidaklah berbeda dan tidaklah sama, jadi jangan disamakan dan jangan dibedakan. Terus, Tuhan menciptakan takdirmu dengan takdir yang terbaik, jangan suka membandingkan dengan orang lain, karena itu tidak bisa disamakan dan dibedakan. Harta, Jodoh, maupun Pekerjaan segalanya tidak bisa disamakan dan dibedakan dengan yang lain, karena semuanya sia-sia. Maka cintailah takdirmu sendiri jangan terlalu membandingkan dengan orang lain, agar kamu bisa bahagia. Amor Fati (Cintailah Takdirmu)
Kalau dalam kitab Al Hikam karya Ibnu Athailah as Sakandari, ada orang yang akan dikabulkan 3 permintaanya karena dia dikenal sangat suci, namun yang dia minta dalam 3 doa tersebut adalah, “Saya tidak meminta apapun, telah cukup apa yang Allah berikan padaku.”
Selasa, 13 Oktober 2015
Guruku Cermin Hatiku
![]() |
| Foto Bambang Mulyono |
Sebelum memulai tulisan saya kali ini, pertama-tama saya mohon keikhlasanya membacakan Surat Al-Fatehah untuk guru saya, Bambang Mulyono semoga dirahmati Allah.
Sekarang saya melihat banyak media yang memberitakan tentang kejahatan
guru berupa pemerkosaan, penganiyaan, termasuk guru yang merupakan beban negara
yang tidak memiliki nilai guna. Sebenarnya saya sangat sakit hati dengan
artikel tersebut sekalipun saya seorang mahasiswa teknik. Mungkin rasa cinta
saya kepada guru saya membuat saya tidak menyukai
pemberitaan semacam itu. Tulisan ini saya buat untuk memperbaiki citra kata “Guru” sebagai salah satu rasa cinta
saya kepada guru saya.
Cerita ini bermula ketika saya masih sekolah dasar. Saya adalah seorang
siswa yang tergolong pintar di sekolah, selalu mendapat rangking pertama
dikelas, bahkan dalam lomba yang diadakan di luar sekolah saya sering memenangi
perlombaan. Bagi saya prestasi adalah segalanya. Namun dalam benak saya, saya
memenangkan banyak perlombaan adalah hasil jerih payah saya sendiri. Saya
membaca buku diluar materi yang disampaikan oleh guru saya. Semenjak saat itu
saya hanya berfikir bahwa guru hanyalah sekedar profesi untuk menyambung hidup
bagi beberapa kalangan orang yang disebut sebagai PNS.
Memasuki SMP, saya adalah
seorang artis. Selain saya memasuki sekolah saya dengan nilai yang jauh lebih
tinggi dari peringkat kedua sewaktu penerimaan siswa baru. Saya sering mengalahkan
kakak kelas saya dalam bidang matematika. Namun sesuatu yang aneh terjadi,
semua guru kagum dengan kemampuan saya kecuali guru matematika itu sendiri.
Sebenarnya saya cukup sedih yang melihat perlakuan guru saya yang seperti
menganak tirikan saya dengan anak yang lain. Dia begitu baik dengan siswa yang
lain tetapi bersikap dingin kepada saya. Hari itu saya menyadari bahwa ada yang
aneh dengan guru tersebut. Dan akhirnya saya menyadari bahwa sikap yang dia
tujukan kediri saya adalah bentuk kasih sayang kepada saya, yang sebenarnya
saya sadari beberapa tahun berikutnya. Walaupun saya sudah menyadari kasih
sayang guru saya. Beliau pergi saat saya naik ke kelas 9 SMP, waktu saya naik
kelas. Nilai saya sangat jatuh, namun saya menyadari ada sebuah kenikmatan
walau tidak menjadi orang yang terbaik.
Waktu SMA, saya tidak begitu
tertarik dengan guru SMA saya. Bagi saya seorang guru yang saya jumpai waktu
SMP begitu berkesan bagi saya. Namun ada seorang guru dari sekolah lain yang
memiliki karakter unik, dia memiliki kemampuan yang tidak biasa. Guru tersebut
berkarakter unik. Saya sangat jarang menemui guru yang mengajar dengan
kerendahan hati yang setinggi itu namun tetap berwibawa. Karakternya
benar-benar berbeda dengan guru yang lainnya. Setelah saya telusuri guru
tersebut ternyata dia seorang mantan dosen di sebuah universitas, namun karena
dia diminta untuk menerima uang korupsi, dia lebih memilih untuk berhenti
menjadi seorang dosen dan menjadi seorang guru SMA. Semenjak saya bertemu
dengan guru tersebut makna seorang guru menjadi berubah. Guruku cermin hatiku,
itulah makna yang saya temukan dengan guru mantan dosen tersebut. Entah mengapa
dia begitu sederhana, tidak suka melebih-lebih kan sesuatu, sebuah perasaan
yang belum saya temui bersama guru-guru yang sebelumnya. Kalimat “Guru adalah pahlawan tanpa tanda jasa.” Benar benar tercermin dalam dirinya.
Negara akan maju jika warganya
memiliki karakter. Kalimat tersebut sering dikatakan oleh Bapak Ahmad Khotib,
mantan kepala sekolah SMA saya. Sering saya dan teman-teman saya anggap
remah kalimat tersebut. Sepertinya kami (saya dan teman teman SMA
saya) menganggap bahwa parameter kemajuan suatu negara pada perekonomian, ilmu
maupun teknologi. Benar kata para Kiyai (guru di Pesantren) yang menyatakan bahwa
segala sesuatu harus dimulai dari dalam diri terlebih dahulu. Kemerdekaan suatu
negara bisa muncul karena ada tiap individu memiliki kemerdekaan sejati dalam
dirinya sendiri. Kemajuan seuatu negara akan muncul jika masing-masing individu
memiliki kemajuan yang sejati dalam diri mereka. Inilah fungsi guru, sebagai
teladan bagi kita. Jika guru memiliki karakter yang sejati dalam diri mereka,
dan mereka memiliki citra yang positif, negara ini akan memilii karakter.
Namun, tanpa adanya teladan yang patut di contoh maka negara ini sebenernya
sedang mengantarkan pada penjajahan baru. Negara tanpa karakter akan mudah
dipengaruhi, ketimbang negara yang memiliki masyarakat yang memiliki nilai
sejati.
Guru adalah penyampai kemerdekaan. Guru sebagai mediator antara para
pejuang, sehingga negara ini bisa menjadi negara yang Independen. Namun nilai
kemerdekaan akan luntur jika para warga negaranya tidak meletakkan teladan yang
benar untuk diteladani. Anak muda negara ini lebih percaya pada artis luar
negeri yang romantis. Suatu hari negara
ini akan dipimpin oleh orang yang sekarang menjadi anak muda. Benar, anak muda
yang menjadikan artis luar negeri sebagai teladan bagi mereka.
Minggu, 11 Oktober 2015
Langganan:
Komentar (Atom)


