![]() |
| Amor Fati |
Amor Fati, iyah selama ini aku serng merenung sambil meratapi nasib. Nasibku yang buruk menurut parameterku, hal itu sering membuat ku terlibat konfrontasi dengan Buya (Pak Kiyai), beliau menyarankan kepada saya untuk tidak meminta mungkin karena keinginan adalah sumber penderitaan.
Iya, benar sebagian dari kita melihat bahwa yang namanya takdir baik adalah ketika kita menjadi tenar dengan kebaikkan kita, terlihat soleh, pintar, punya istri cantik dan masih banyak, dengan parameter material, tapi walau aku pernah mengkaji kitab karya Jalaludin Rumi(Fihi ma Fihi), ternyata saya tidak mampu mengamalkannya, iya benar. Kata Jalaludin Rumi dalam kitabnya dia menuliskan :
Pada suatu tempat di gurun kering ada banyak gerombolan orang mencari sumur untuk di minimu. Namun ketika menarik ember dari Sumur Tersebut, ember tersebut tidak mampu untuk kembali ke atas, hal ini membuat para orang yang ingin minum turun ke sumur, al hasil pada suatu ketika semua orang yang turun ke sumur tidak mampu naik ke atas lagi, lalu datanglah seorang sufi (orang yang bijak dalam tassawuf) diutus ke bawah sumur lalu, tiba-tiba sumur itu bertanya pada Sufi tersebut,
“Apakah yang disebut sebagai tempat terbaik wahai anak manusia ?”,
Sambil kaget Sufi tersebut menjawab pertanyaan si Sumur, “Jika aku di sumur maka tempat terbaikku adalah di sumur. Jika aku di surga maka tempat terbaikku adalah di Surga. Tempat terbaik untuk dirimu adalah tempat dirimu sekarang berada. Karena Tuhan pasti tidak pernah salah dalam menempatkan sesuatu.”
Sumur tersebut puas atas jawaban dari sufi tersebut. Namun ada hal yang lain yang menarik seperti tulisannya Imam Al Ghazali yang inti pesannya, Carilah dunia karena kau akan mati, Cintailah orang yang ingin kau cintai karena akan berpisah, hal ini memcitrakan bahwa yang namanya kehidupan ini, baik dunia dan akhirat keduanya hanyalah sia-sia. Karena sering kita memanjatkan doa “Inalilahi wa inalilahi roji’un”, yang artinya segala sesuatu itu dari Alloh dan akan segalanya akan kembali kepadanya, masihkah kau berfikir bahwa kehidupan itu bukanlah sesuatu yang sia-sia.
Solusi :
Jika kita melihat kenyataan yang ingin disampaikan oleh Jalaludin Rumi, maupun Imam Al Ghazali, kita biasanya akan mencerna statement mereka dengan sikap yang kontra produktif, namun jangan simpulkan seperti itu. Tapi Imam Al Ghazali ingin berpesan bahwa “Kehidupan hanyalah sia-sia maka cintailah hidupmu karena akan terbentur dengan kematian.”, maknanya berontaklah dunia ini dengan mencintai kehidupan, seperti halnya Kamus yang menyadari kehidupan ini hanyalah sia-sia, maka lakukan yang ingin kau lakukan asal tidak melanggar agama, karena baik dan buruk menurut Jalaludin Rumi tidaklah berbeda dan tidaklah sama, jadi jangan disamakan dan jangan dibedakan. Terus, Tuhan menciptakan takdirmu dengan takdir yang terbaik, jangan suka membandingkan dengan orang lain, karena itu tidak bisa disamakan dan dibedakan. Harta, Jodoh, maupun Pekerjaan segalanya tidak bisa disamakan dan dibedakan dengan yang lain, karena semuanya sia-sia. Maka cintailah takdirmu sendiri jangan terlalu membandingkan dengan orang lain, agar kamu bisa bahagia. Amor Fati (Cintailah Takdirmu)
Kalau dalam kitab Al Hikam karya Ibnu Athailah as Sakandari, ada orang yang akan dikabulkan 3 permintaanya karena dia dikenal sangat suci, namun yang dia minta dalam 3 doa tersebut adalah, “Saya tidak meminta apapun, telah cukup apa yang Allah berikan padaku.”
