![]() |
| Wonosobo kabupaten Termiskin |
Setelah saya membaca artikel
tentang Kabupaten Wonosobo, yang menunjukan bahwa Wonosobo merupakan kabupaten
termiskin di Jawa Tengah. Bagi saya tidak masalah Wonosobo merupakan Kabupaten
Termisikin di Jawa Tengah. Tapi pandangan orang yang melihat bahwa kemiskinan
sebagai sebuah penyakit, inilah yang membuat saya menjadi geram. Pasalnya walau
saya hanya tinggal di Wonosobo selama beberapa bulan namun saya sangat
menikmati kehidupan di sana, selain harga-harga yang cenderung murah, di sana
warganya saling menghargai satu sama lainnya. Disamping itu, uang 100000 jika
kau berada di kota besar, tidak bisa menjamin ketimbang tinggal di Wonosobo.
Iya disana harga murah, dan tempatnya sejuk menenangkan. Namun orang lebih suka
melihat secara materialistik, bahwa kekayaan, prestasi merupakan tolak ukur
kebahagiaan seseorang. Mereka cenderung menuhankan Materi tersebut, itulah
tulisan saya yang bertemakan tentang Tuhan yang Berbentuk.
Kalau kata Ibnu Athailah dalam
kitab Al Hikam, maupun Jalaludin Rumi dalam kitab Fihi ma Fihi, kita akan
membahas tentang Tuhan sebagai makna
yang hakiki. Ada beberapa kalimat dari Ulama Sufi tersebut yang akan saya bahas
dalam tulisan kali ini :
“Manusia memang lebih suka memandang bayang-bayang dirinya ketimbang keinginan
untuk mengetahui Hakikatnya.”, Ibnu Athailah, al Hikam
Kalimat yang disebutkan oleh Ibnu
Athailah dalam kitab al Hikam, bersesuaian dengan kalimat para filsuf yang
menyatakan, “Jika kau ingin mengetahui
kebenaran maka carilah dan jika kau ingin bahagia maka kau cukup percaya.”,
Kedua kalimat tersebut yang
dinukil dari Ibnu Athailah maupun filsuf sering dimaknai terbalik oleh kita,
yang pertama kita jarang mengetahui makna atau hakikat kebenaran yang
sebenarnya, kita sering lebih memilih mengambil jalan aman asal, “Uang
banyak, kelihatan keren, istri cantik dan sebagainya.”, Sebenernya jika kau
meyakini itu benar, maka “Man jadda wa
jadda lah.”, kamu pasti akan dapatkan segala sesuatu yang kau niatkan. Tapi,
eits, nanti dulu, kalau kau benar melakukan teknik “Man jadda wa jadda lah.”, hanya untuk Tuhan berbentuk bukan
berwujud, (Mohon bedakan antara bentuk atau form dan wujud atau shape), kita
tidak akan sampai pada pemahaman sejati, alias kita hanya merasakan dalam bayang-bayang,
oke kita mulai ke kajian selanjutnya.
“Jika kau melihat ke dalam, maka engkau pasti tahu bahaw tak seorangpun
yang pantas dianggap baik dan dimulyakan dengan berlebihan.” Ibnu Athailah
Kalimat Ibnu Athailah seolah jika
kita sampai pada pemahaman yang sejati kita akan melihat bahwa baik itu
hanyalah bayangan saja. Kalo dalam buku
yang dituliskan oleh Suryomentraman kalau saya tidak lupa, beliau menuliskan
bahwa kita di dunia ini hanyalah buih, kalaupun kita terlihat baik itupun
sebenernya karena kita bermula dari lautan. Jadi kebaikan, kemulyaaan dari diri
kita hanyalah tajali Ilahiah, seperti halnya buih yang merupakan tajali lautan.
Kalau dalam tafsiranya Muhaji
Fikriono, dalam Al Hikam untuk semua, ”Kamu
takkan pernah bisa jujur terhadap dirimu sendiri sebelum menyadari bahwa
kenyataan hari ini adalah sesuatu yang sudah semestinya terjadi.” Kalau dalam
al Quran surat Al Hadid sekitar ayat 20 an. Menyebutkan bahwa segala sesuatu
sudah tertulis dalam kitab Lauhful Mahfudz jadi jangan bersedih atau senang
berlebihan dari apa yang telah luput darimu ataupun dari apapun yang telah
engkau dapatkan. Hidup ini Cuma gurauan
tapi orang-orang terlalu serius menghadapinya, padahal semuanya akan
dibenturkan dengan kematian itulah kata Imam Ghozali dalam Kitab Ihya Ulumudin.
Kesimpulan :
1. Sesuatu
telah ditetapkan dari zaman azali, lihatlah kembali kedalam diri dan
bertanyalah “Apakah yang saya lakukan
memang perlu?”.
2. Apakah
saya benar menuhankan sesuatu yang pantas untuk dituhankan.
3. Manusia
difitrahkan untuk Merdeka yang membuat kita unggul dari Malaikat, Iblis, namun “Apakah kita sudah benar-benar merdeka?”
4. Apakah
kita benar-benar tahu makna kemerdekaan itu sebenernya?
