Laman

Selasa, 13 Oktober 2015

Guruku Cermin Hatiku

Foto Bambang Mulyono
Sebelum memulai tulisan saya kali ini, pertama-tama saya mohon keikhlasanya membacakan Surat Al-Fatehah untuk guru saya, Bambang Mulyono semoga dirahmati Allah.
Sekarang saya melihat banyak media yang memberitakan tentang kejahatan guru berupa pemerkosaan, penganiyaan, termasuk guru yang merupakan beban negara yang tidak memiliki nilai guna. Sebenarnya saya sangat sakit hati dengan artikel tersebut sekalipun saya seorang mahasiswa teknik. Mungkin rasa cinta saya kepada guru saya membuat saya tidak menyukai pemberitaan semacam itu. Tulisan ini saya buat untuk memperbaiki citra kata “Guru” sebagai salah satu rasa cinta saya kepada guru saya.
Cerita ini bermula ketika saya masih sekolah dasar. Saya adalah seorang siswa yang tergolong pintar di sekolah, selalu mendapat rangking pertama dikelas, bahkan dalam lomba yang diadakan di luar sekolah saya sering memenangi perlombaan. Bagi saya prestasi adalah segalanya. Namun dalam benak saya, saya memenangkan banyak perlombaan adalah hasil jerih payah saya sendiri. Saya membaca buku diluar materi yang disampaikan oleh guru saya. Semenjak saat itu saya hanya berfikir bahwa guru hanyalah sekedar profesi untuk menyambung hidup bagi beberapa kalangan orang yang disebut sebagai PNS.
                Memasuki SMP, saya adalah seorang artis. Selain saya memasuki sekolah saya dengan nilai yang jauh lebih tinggi dari peringkat kedua sewaktu penerimaan siswa baru. Saya sering mengalahkan kakak kelas saya dalam bidang matematika. Namun sesuatu yang aneh terjadi, semua guru kagum dengan kemampuan saya kecuali guru matematika itu sendiri. Sebenarnya saya cukup sedih yang melihat perlakuan guru saya yang seperti menganak tirikan saya dengan anak yang lain. Dia begitu baik dengan siswa yang lain tetapi bersikap dingin kepada saya. Hari itu saya menyadari bahwa ada yang aneh dengan guru tersebut. Dan akhirnya saya menyadari bahwa sikap yang dia tujukan kediri saya adalah bentuk kasih sayang kepada saya, yang sebenarnya saya sadari beberapa tahun berikutnya. Walaupun saya sudah menyadari kasih sayang guru saya. Beliau pergi saat saya naik ke kelas 9 SMP, waktu saya naik kelas. Nilai saya sangat jatuh, namun saya menyadari ada sebuah kenikmatan walau tidak menjadi orang yang terbaik.      
                Waktu SMA, saya tidak begitu tertarik dengan guru SMA saya. Bagi saya seorang guru yang saya jumpai waktu SMP begitu berkesan bagi saya. Namun ada seorang guru dari sekolah lain yang memiliki karakter unik, dia memiliki kemampuan yang tidak biasa. Guru tersebut berkarakter unik. Saya sangat jarang menemui guru yang mengajar dengan kerendahan hati yang setinggi itu namun tetap berwibawa. Karakternya benar-benar berbeda dengan guru yang lainnya. Setelah saya telusuri guru tersebut ternyata dia seorang mantan dosen di sebuah universitas, namun karena dia diminta untuk menerima uang korupsi, dia lebih memilih untuk berhenti menjadi seorang dosen dan menjadi seorang guru SMA. Semenjak saya bertemu dengan guru tersebut makna seorang guru menjadi berubah. Guruku cermin hatiku, itulah makna yang saya temukan dengan guru mantan dosen tersebut. Entah mengapa dia begitu sederhana, tidak suka melebih-lebih kan sesuatu, sebuah perasaan yang belum saya temui bersama guru-guru yang sebelumnya. Kalimat “Guru adalah pahlawan tanpa tanda jasa.”  Benar benar tercermin dalam dirinya.
                Negara akan maju jika warganya memiliki karakter. Kalimat tersebut sering dikatakan oleh Bapak Ahmad Khotib, mantan kepala sekolah SMA saya. Sering saya dan teman-teman saya anggap remah  kalimat tersebut.  Sepertinya kami (saya dan teman teman SMA saya) menganggap bahwa parameter kemajuan suatu negara pada perekonomian, ilmu maupun teknologi. Benar kata para Kiyai (guru di Pesantren) yang menyatakan bahwa segala sesuatu harus dimulai dari dalam diri terlebih dahulu. Kemerdekaan suatu negara bisa muncul karena ada tiap individu memiliki kemerdekaan sejati dalam dirinya sendiri. Kemajuan seuatu negara akan muncul jika masing-masing individu memiliki kemajuan yang sejati dalam diri mereka. Inilah fungsi guru, sebagai teladan bagi kita. Jika guru memiliki karakter yang sejati dalam diri mereka, dan mereka memiliki citra yang positif, negara ini akan memilii karakter. Namun, tanpa adanya teladan yang patut di contoh maka negara ini sebenernya sedang mengantarkan pada penjajahan baru. Negara tanpa karakter akan mudah dipengaruhi, ketimbang negara yang memiliki masyarakat yang memiliki nilai sejati.

Guru adalah penyampai kemerdekaan. Guru sebagai mediator antara para pejuang, sehingga negara ini bisa menjadi negara yang Independen. Namun nilai kemerdekaan akan luntur jika para warga negaranya tidak meletakkan teladan yang benar untuk diteladani. Anak muda negara ini lebih percaya pada artis luar negeri yang  romantis. Suatu hari negara ini akan dipimpin oleh orang yang sekarang menjadi anak muda. Benar, anak muda yang menjadikan artis luar negeri sebagai teladan bagi mereka.