![]() |
| Foto Bambang Mulyono |
Sebelum memulai tulisan saya kali ini, pertama-tama saya mohon keikhlasanya membacakan Surat Al-Fatehah untuk guru saya, Bambang Mulyono semoga dirahmati Allah.
Sekarang saya melihat banyak media yang memberitakan tentang kejahatan
guru berupa pemerkosaan, penganiyaan, termasuk guru yang merupakan beban negara
yang tidak memiliki nilai guna. Sebenarnya saya sangat sakit hati dengan
artikel tersebut sekalipun saya seorang mahasiswa teknik. Mungkin rasa cinta
saya kepada guru saya membuat saya tidak menyukai
pemberitaan semacam itu. Tulisan ini saya buat untuk memperbaiki citra kata “Guru” sebagai salah satu rasa cinta
saya kepada guru saya.
Cerita ini bermula ketika saya masih sekolah dasar. Saya adalah seorang
siswa yang tergolong pintar di sekolah, selalu mendapat rangking pertama
dikelas, bahkan dalam lomba yang diadakan di luar sekolah saya sering memenangi
perlombaan. Bagi saya prestasi adalah segalanya. Namun dalam benak saya, saya
memenangkan banyak perlombaan adalah hasil jerih payah saya sendiri. Saya
membaca buku diluar materi yang disampaikan oleh guru saya. Semenjak saat itu
saya hanya berfikir bahwa guru hanyalah sekedar profesi untuk menyambung hidup
bagi beberapa kalangan orang yang disebut sebagai PNS.
Memasuki SMP, saya adalah
seorang artis. Selain saya memasuki sekolah saya dengan nilai yang jauh lebih
tinggi dari peringkat kedua sewaktu penerimaan siswa baru. Saya sering mengalahkan
kakak kelas saya dalam bidang matematika. Namun sesuatu yang aneh terjadi,
semua guru kagum dengan kemampuan saya kecuali guru matematika itu sendiri.
Sebenarnya saya cukup sedih yang melihat perlakuan guru saya yang seperti
menganak tirikan saya dengan anak yang lain. Dia begitu baik dengan siswa yang
lain tetapi bersikap dingin kepada saya. Hari itu saya menyadari bahwa ada yang
aneh dengan guru tersebut. Dan akhirnya saya menyadari bahwa sikap yang dia
tujukan kediri saya adalah bentuk kasih sayang kepada saya, yang sebenarnya
saya sadari beberapa tahun berikutnya. Walaupun saya sudah menyadari kasih
sayang guru saya. Beliau pergi saat saya naik ke kelas 9 SMP, waktu saya naik
kelas. Nilai saya sangat jatuh, namun saya menyadari ada sebuah kenikmatan
walau tidak menjadi orang yang terbaik.
Waktu SMA, saya tidak begitu
tertarik dengan guru SMA saya. Bagi saya seorang guru yang saya jumpai waktu
SMP begitu berkesan bagi saya. Namun ada seorang guru dari sekolah lain yang
memiliki karakter unik, dia memiliki kemampuan yang tidak biasa. Guru tersebut
berkarakter unik. Saya sangat jarang menemui guru yang mengajar dengan
kerendahan hati yang setinggi itu namun tetap berwibawa. Karakternya
benar-benar berbeda dengan guru yang lainnya. Setelah saya telusuri guru
tersebut ternyata dia seorang mantan dosen di sebuah universitas, namun karena
dia diminta untuk menerima uang korupsi, dia lebih memilih untuk berhenti
menjadi seorang dosen dan menjadi seorang guru SMA. Semenjak saya bertemu
dengan guru tersebut makna seorang guru menjadi berubah. Guruku cermin hatiku,
itulah makna yang saya temukan dengan guru mantan dosen tersebut. Entah mengapa
dia begitu sederhana, tidak suka melebih-lebih kan sesuatu, sebuah perasaan
yang belum saya temui bersama guru-guru yang sebelumnya. Kalimat “Guru adalah pahlawan tanpa tanda jasa.” Benar benar tercermin dalam dirinya.
Negara akan maju jika warganya
memiliki karakter. Kalimat tersebut sering dikatakan oleh Bapak Ahmad Khotib,
mantan kepala sekolah SMA saya. Sering saya dan teman-teman saya anggap
remah kalimat tersebut. Sepertinya kami (saya dan teman teman SMA
saya) menganggap bahwa parameter kemajuan suatu negara pada perekonomian, ilmu
maupun teknologi. Benar kata para Kiyai (guru di Pesantren) yang menyatakan bahwa
segala sesuatu harus dimulai dari dalam diri terlebih dahulu. Kemerdekaan suatu
negara bisa muncul karena ada tiap individu memiliki kemerdekaan sejati dalam
dirinya sendiri. Kemajuan seuatu negara akan muncul jika masing-masing individu
memiliki kemajuan yang sejati dalam diri mereka. Inilah fungsi guru, sebagai
teladan bagi kita. Jika guru memiliki karakter yang sejati dalam diri mereka,
dan mereka memiliki citra yang positif, negara ini akan memilii karakter.
Namun, tanpa adanya teladan yang patut di contoh maka negara ini sebenernya
sedang mengantarkan pada penjajahan baru. Negara tanpa karakter akan mudah
dipengaruhi, ketimbang negara yang memiliki masyarakat yang memiliki nilai
sejati.
Guru adalah penyampai kemerdekaan. Guru sebagai mediator antara para
pejuang, sehingga negara ini bisa menjadi negara yang Independen. Namun nilai
kemerdekaan akan luntur jika para warga negaranya tidak meletakkan teladan yang
benar untuk diteladani. Anak muda negara ini lebih percaya pada artis luar
negeri yang romantis. Suatu hari negara
ini akan dipimpin oleh orang yang sekarang menjadi anak muda. Benar, anak muda
yang menjadikan artis luar negeri sebagai teladan bagi mereka.
