Laman

Jumat, 22 Januari 2016

Lelaki Lemah#5 : Memang Cupu

Aku memang cupu. Tapi, sebenernya aku lebih cenderung kearah cacad. Dengan tingkat kecupuanku yang begitu tinggi aku malah menuntut sesuatu yang besar melalui diriku yang cupu ini. Iyah, aku memang lelaki yang tidak tahu diri. Tapi apa salahnya menginginkan surga, bukankah itu jalannya menuju Tuhan. Andaikan aku memang seorang pendosa yang besar, salahkah aku mencoba untuk berusaha menuju surga. Aku memang tidak sesuci Nabi Muhammad SAW. Namun, bukankah jalan menuju Tuhan adalah milik semua. Bukankah Tuhan juga pernah berfirman "Inalilahi wa Inalilahi rojiun", segala sesuatu dari-Nya dan akan kembali pada-Nya. 

Jelas amalanku jauh dari kata Ikhlas. Ilmuku jauh dari kata ma'rifat. Atau Ketaatanku jauh dari kata istiqomah. Lantas, salahkah aku mecoba kembali pada jalan Tuhan?

Project Argasoka#3 : Politik Surga

Berinteraksi
Politik sering di identikan dengan kekuasaan. Kekuasaan digunakan oleh sebagian orang guna memperoleh apa yang diinginkan. Inilah yang berbahaya dari politik. Sebenernya nilai politik dalam pandangan saya adalah sesuatu yang netral. Seperti halnya pisau, jika digunakan oleh orang yang benar maka akan bermanfaat, dan jika digunakan oleh orang yang salah akan menjadi sangat berbahaya.

Surga, merupakan tempat idaman bagi setiap orang, beragam kenikmatan ada di sana. Namun, dalam proses menuju surga harus melawati jalan yang panjang. Namun Jalaludin Rumi pernah memberikan nasehat, "Jika kau ingin masuk surga namun tidak yakin dengan amalan-amalan yang kau miliki, maka carilah teman yang beriman dan semoga dia mendoakan kamu masuk surga", Menurut saya pandangan Jalaludin Rumi ini berkaitan erat dengan politik. 
Inilah tips politik surga yang saya anjurkan :
  1. Berperilakulah baik kepada siapapun. Saat kita mencoba untuk meninggalkan teman kita yang buruk perilakunya, hendaknya kita tetap berperilaku baik padanya. Andaikan dia bertaubat mungkin dia akan mendoakan kita supaya mudah dalam masuk ke dalam surga.
  2. Bersodaqoh. Tips ini saya peroleh dari surat al Munafikun ayat ke 11, dimana orang mati, jika dia hidup lagi apa yang akan dia lakukan. Namun mereka menjawab untuk bersodaqoh. Selain sodaqoh mampu menjadi amal jariyah, jika dia di sodaqohkan dengan benar hal itu bisa membuat si yang disodaqohkan merasa terharu dan mendoakan kita. Sodaqoh tidak hanya uang, pemikiran maupun kebaikan hati juga bisa jadi sodaqoh. Bahkan menulispun bisa jadi sodaqoh.
  3. Hindari kebergantungan terhadap dunia dan keduniaan. Inilah yang disebut sebagai Zuhud.
Maaf cuma tiga tips tersebut yang bisa saya sampaikan, semoga project Argasoka ini bisa menjadi wadah sodaqoh yang berguna bagi semuanya . Amin.

Rabu, 20 Januari 2016

Pembenaran Engineer Cupu

Flight
Setelah sekian lama saya belajar Zen dan lainnya, guna mencari bagaimana cara menjadi enginer terbaik seantero jagat. Tulisan ini merupakan tesis saya, tesis yang saya dapatkan setelah perjalanan pannjang untuk menjadi seorang engineer terbaik seantero jagat. Awalnya saya berpikir bahwa seorang engineer yang hebat adalah engineer yang mampu berfikir secara logis untuk memecahkan segala permasalahan, namun setelah saya menjalani perjalanan yang lumayan menarik saya membuat tesis bahwa merasa logis untuk bisa mengengeniring sesuatu akan membatasi diri kita untuk menjadi engineering yang hebat.

Engineer yang hebat adalah engineer yang mampu menampakkan dirinya sendiri melalui dirinya dari dalam dirinya dengan perantara engineer. Iyah, enginnering bukanlah sekedar permainan logika yang di pakai untuk menyelesaikan sebuah masalah, namun sebuah media untuk bisa menampilkan diri kita yang terdalam. Sebagian orang berkata bahwa butuh kegeniusan untuk bisa menjadi engineer yang hebat. Saya pernah bertemu dengan seseorang menarik, banyak orang yang meragukan dirinya. Seperti membataasi dirinya untuk mengikuti sebuah penelitian, gara-gara di cap tidak berprestasi. Namun saat aku berbicara dengan dirinya saya melihat sesuatu yang lain dari kata genius. Sebelumnya mengatakan orang genius bisa terlihat dari prestasi yang dia dapat. Namun sebuah prestasi hanyalah sebuah aksiden dari substansi yang terdapat dalam dirinya, maksudnya sederhana untuk bisa membuat prestasi yang tinggi bisa dikatakan seseorang harus memiliki tingkat kegeniusan yang tinggi. Namun sekali lagi, prestasi adalah sebuah aksiden dari sebuah substansi, bukan substani itu sendiri. Untuk membuat aksiden yang baik sesuatu harus memiliki substani yang baik, substansi yang baik akan berimplikasi pada aksiden yang baik. Namun, permasalahannya adalah banyaknya orang yang terlalu mencoba untuk menciptakan aksiden yang baik namun kurang tepat dalam menciptakan substansinya.

Engineering adalah sebuah seni. Kalimat pertama dalam paragraf tulisan ini hanyalah sebatas yang saya tahu. Saat saya membaca The history of engineering, saya melihat bahwa dalam perkembangan engineering dimulai dengan beragam krisis yang terjadi. Seperti yang terjadi di eropa, engineering berkembang karena adanya perang. Beragam engineering muncul dari keadaan krisis itu, namun yang ingin saya sampaikan adalah dalam kasus yang terjadi di eropa, krisis tersebut membuat orang menjadi memahami sesuatu yang lebih subtil (mendalam). Dengan memahami sesuatu yang lebih mendalam seseorang akan lebih mudah untuk mengekspresikan diri mereka. Jadi, sebenernya engineering merupakan salah satu cara untuk mengekspresikan diri kalau dalam bahasa filsuf disebut sebagai “Being from doesn't sign.”

Awalnya mungkin orang menyangka bahwa mengangkat besi untuk terbang adalah sebuah kemustahilan, namun sekarang berapa banyak besi yang bisa terbang, contoh dalam pesawat. Sikap yang merasa yakin diri mereka cukup logis inilah yang akan membunuh seorang engineer. Perlu kesadaran yang kosong (atau sering disebut voidness dalam bahasa Zen), untuk mampu mendalami engineering, maksudnya biarkan dirinya menampakan dirinya melalui dalam dirinya untuk bisa mengekspresikan engineering dari dalam diri kita.

Kamis, 07 Januari 2016

Maaf

Maaf
Aku hanya sedang merasa
Gelisah

Gelisah
Saat kau tak ada di sini
Gelisah
Dalam kerinduan yang mendalam

Walaupun
Kau tak pernah menginginkan pertemuan ini
Iya
Mana aku berani menemuimu

Mungkin saat aku menemuimu
Aku hanya akan mengatakan
"Maaf, aku mencintaimu"

Tapi
Bukan hanya keberanianku yang kurang
Saat kita bertemu pun
Paling aku hanya mampu untuk diam
Diam karena merasa telah cukup
dengan bertemu denganmu

Mana aku tahu?

Selasa, 05 Januari 2016

The Road of Intelectual Serfdom

Berdzikir Bersama Inul
Maaf sebelumnya kalo judul tulisannya memakai bahasa inggris tapi isinya akan saya tuliskan dalam bahasa Indonesia. Judul ini terinspirasi dari Hayek yang menuliskan The Road of Serfdom dalam bahasa Indonesia adalah perjalanan untuk mencapai perbudakan. Dalam tulisan saya kali ini saya menambahkan dengan kata intelektual. Jadi kalau di translasi dalam bahasa Indonesia menjadi, Perjalanan menuju perbudakan menuju perbudakan intelektualitas.

Cerita ini dimulai dari lukisan yang saya cantumkan dalam blog ini. Dalam lukisan itu menceritakan tentang kiyai yang berdzikir dengan menghadap Inul. Ini sebuah penggambaran menurut Gusmus. Dalam tafsiran saya mengenai lukisan ini, para kiyai sedang memperbudakkan dirinya ke dunia, setelah dia menjadi salah satu tokoh sosial. Apa maksudnya?

Analisis kita seperti ini, kebanyakan dari kita melakukan sesuatu, seperti beribadah maupun belajar terkadang untuk bisa membeli keduniaan, maksudnya menjual sesuatu yang substantif untuk mencapai sesuatu yang aksiden. Maksudnya adalah seperti menjual keimanan untuk mencapai kenikmatan keduniaan. Seperti contoh rajin beribadah supaya masuk surga, atau untuk mendapatkan kekayaan dunia. Padahal Ibadah itu merupakan sesuatu yang substantif tapi terkadang dipakai sebagai metode untuk mendapatkan dunia dan sesuatu yang bersifat keduniaan, atau yang disebut sebagai aksiden.

Sekarang ini seseorang belajar, beribadah untuk mencapai sesuatu yang membuat kita nyaman tinggal di dunia. Padalah kenyamanan itu akan datang pada kesejatian atau substansi. Kata imam Ghozali, barang siapa yang akan menjauhi dunia maka dunia akan mencarinya.

Shalat dalam Perspektif Hegel

George Wilhem Hegel
Sejarah yang ingin dibawa oleh Hegel, sejarah yang ingin disampaikan diinginkan Hegel dimulai dengan huruf besar. Hal ini dikarenakan oleh Hegel yang menganggap bahwa Sejarah merupakan sesuatu yang hidup. Dia bergerak menuju kedewasaan yang ditentukan oleh roh.

Dengan menggabungkan pemikiran Hegel dengan Kitab Suci al-Qur'an saya mencoba untuk memadukan keduannya dalam tulisan ini. Mungkin tesis yang dikeluarkan oleh Hegel dia lakukan sehabis membaca sebuah ayat dalam surat al-Hadid. Di ayat tersebut dituliskan bahwa segala sesuatu yang terjadi telah tercatat dalam kitab yang disebut dengan kitab Lauhful Mahfuz. Perspektif Hegel mendukung pernyataan ini. Kita bisa memahami bahwa Lauhful Mahfuz adalah sebuah roh.

Lah, dengan ini kita coba apa yang dimaksudkan Shalat menggunakan perspektif Hegel yang akan disampaikan dalam tulisan saya kali ini.

Seperti halnya Lauhful Mahfuz, shalat sebenernya adalah sebuah roh. Dalam al-Qur'an di tuliskan, bahwa kita diperintahkan untuk mendirikan sholat. Sebenernya sholat memang bukan sesuatu yang bisa dikerjakan. Sholat yang disampaikan di sini merupakan roh. Yang bisa kita dirikan melalui sebuah ritual yang sekarang ini kita sebut sebagai sholat. Jika tesis dari saya melalui analisa Hegel ini benar maka, konteks sholat itu sama dengan konteks nafsu maupun nurani. Dinama kedua konteks tersebut adalah sebuah roh. Saat kita mendirikan nafsu kita kita bisa dengan menonton film porno. Jika kita ingin mendirikan roh nurani kita, kita bisa menonton film tentang romantisme. Itulah pandangan saat kita melakukan ritual yang kita selama ini anggap sebagai sholat, itu semua adalah metode untuk membangunkan roh sholat kita.

Senin, 04 Januari 2016

Kesejatian yang Ditinggalkan

Filosofi Kopi
Film Filosofi Kopi merupakan film yang cukup bagus. Banyak nilai yang ingin diajarkan dalam film ini. Mulai dari sosialitanya yang cukup berbobot dan perjalanan yang disesuaikan dengan konflik masyaraktnya yang di hadapi secara subtil oleh tokoh dalam film ini. Tidak seperti pada umumnya film Indonesia yang lebih berusaha untuk menarik pemirsanya dengan menyesuaikan dengan kebutuhan pasar di Indonesia. Film ini menarik para pemirsanya dengan menyuguhkan kesejatian yang ingin di sampaikan dalam film ini.

Saya masih teringat ketika Ben yang tidak setuju jika temannya Jody membangun wifi di kedai kopi miliknya. Ben berargumen bahwa, "Kopi yang nikmat akan dicari oleh penikmatnya." Ketika krisis masih melanda kedai Filosofi kopi ini, Ben masih bertahan dengan nilai yang dianutnya.

Sebenernya inilah yang terjadi belakangan ini di negara ini. Negara yang mulai meninggalkan kesejatiannya. Dengan dalih profit dan kehidupan yang lebih nyaman, terkadang kita mengorbankan kesejatian diri kita untuk memperoleh hal tadi. Pemikiran Ben, cukup menarik bahkan pada akhirnya dia menyatakan tidak setuju jika kopi tiwus yang diracik oleh bapak petani desa itu sebagai kopi yang akan pakai dalam pemenangan tender yang dilaluinya. Walau pada akhirnya dia memang memakai kopi Tiwus dipakai untuk memenangkan kompetisi.

Yah, pemikiran tentang kenyamanan seperti harta dan kekuasaan terkadang melunturkan kesejatian yang memiliki nilai yang lebih subtil. Terkadang kitapun melacur, maksudnya menjadi orang lain agar kita mendapatkan kenyamanan. Itupun sebenernya terjadi pada saya, ha ha ha. Kita kurang menghargai sesuatu yang bersifat subtil, makanya negara ini mudah di jajah oleh negara lain. Baik secara Ekonomi, Pendidikan, Pemikiran, maupun Agama.

Sabtu, 02 Januari 2016

Setipis Kertas Tisu

Cerita ini bermula dari mantan dosen wali saya saat dia masih menjabat sebagai dosen wali saya. Dia pernah berkata pada saya bahwa orang pintar dan orang bodoh terpisah pada kesadaran yang tipis. Mungkin setipis kertas tisu. Kalimat ini mengingatkanku pada omongan Pak Bambang Mulyono sekitar 4 tahun yang lalu. Dia berkata padaku, bahwa sebuah  buku tebal dengan tebal 600 halaman bisa diselesaikan oleh orang biasa dalam waktu 1 minggu.

Pembicaraan tersebut cukup menarik bagi saya.

Project Argasoka#2 : Mulailah dari yang Ada

Simbol Anarkisme
"Mulailah dari yang ada." Itulah yang aku cuba ingin sampaikan pada tulisan saya kali ini. Saya tidak begitu tertarik dengan masalah politik, namun melihat tetangga saya yang terlihat menderita karena kekurangan uang, maupun menderita karena uangnya banyak. Saya mencoba untuk membahagiakan mereka, itulah misi project Argasoka ini. Project Anarkisme ini terus berlanjut hingga tidak dibutuhkan lagi. Eits, tunggu dulu tahu tidak apa itu Anarkisme?

Kata wikipedia, Anarkisme adalah sebuah filsafat politik yang menganjurkan masyarakat tanpa negara atau lebih sering disebut sebagai lembaga sukarela untuk mengatur diri sendiri. Jadi begitulah Anarkisme, project Argasoka ini memang sekarang hanya beranggotakan satu orang manusia saja, yaitu saya namun sekarang project Argasoka ini di bantu oleh 4 ekor kelinci dan 6 pohon cabai yang sekarang mungkin siap hidup mandiri untuk membahagiakan masyarakat Tegal Pingen ini. Apatisme, Kapitalisme, mencoba untuk di tentang dari project ini. Sederhananya sih untuk menggerakkan orang untuk lebih peka terhadap kondisi lingkungan sekitar.