Laman

Senin, 04 Januari 2016

Kesejatian yang Ditinggalkan

Filosofi Kopi
Film Filosofi Kopi merupakan film yang cukup bagus. Banyak nilai yang ingin diajarkan dalam film ini. Mulai dari sosialitanya yang cukup berbobot dan perjalanan yang disesuaikan dengan konflik masyaraktnya yang di hadapi secara subtil oleh tokoh dalam film ini. Tidak seperti pada umumnya film Indonesia yang lebih berusaha untuk menarik pemirsanya dengan menyesuaikan dengan kebutuhan pasar di Indonesia. Film ini menarik para pemirsanya dengan menyuguhkan kesejatian yang ingin di sampaikan dalam film ini.

Saya masih teringat ketika Ben yang tidak setuju jika temannya Jody membangun wifi di kedai kopi miliknya. Ben berargumen bahwa, "Kopi yang nikmat akan dicari oleh penikmatnya." Ketika krisis masih melanda kedai Filosofi kopi ini, Ben masih bertahan dengan nilai yang dianutnya.

Sebenernya inilah yang terjadi belakangan ini di negara ini. Negara yang mulai meninggalkan kesejatiannya. Dengan dalih profit dan kehidupan yang lebih nyaman, terkadang kita mengorbankan kesejatian diri kita untuk memperoleh hal tadi. Pemikiran Ben, cukup menarik bahkan pada akhirnya dia menyatakan tidak setuju jika kopi tiwus yang diracik oleh bapak petani desa itu sebagai kopi yang akan pakai dalam pemenangan tender yang dilaluinya. Walau pada akhirnya dia memang memakai kopi Tiwus dipakai untuk memenangkan kompetisi.

Yah, pemikiran tentang kenyamanan seperti harta dan kekuasaan terkadang melunturkan kesejatian yang memiliki nilai yang lebih subtil. Terkadang kitapun melacur, maksudnya menjadi orang lain agar kita mendapatkan kenyamanan. Itupun sebenernya terjadi pada saya, ha ha ha. Kita kurang menghargai sesuatu yang bersifat subtil, makanya negara ini mudah di jajah oleh negara lain. Baik secara Ekonomi, Pendidikan, Pemikiran, maupun Agama.