Laman

Rabu, 20 Januari 2016

Pembenaran Engineer Cupu

Flight
Setelah sekian lama saya belajar Zen dan lainnya, guna mencari bagaimana cara menjadi enginer terbaik seantero jagat. Tulisan ini merupakan tesis saya, tesis yang saya dapatkan setelah perjalanan pannjang untuk menjadi seorang engineer terbaik seantero jagat. Awalnya saya berpikir bahwa seorang engineer yang hebat adalah engineer yang mampu berfikir secara logis untuk memecahkan segala permasalahan, namun setelah saya menjalani perjalanan yang lumayan menarik saya membuat tesis bahwa merasa logis untuk bisa mengengeniring sesuatu akan membatasi diri kita untuk menjadi engineering yang hebat.

Engineer yang hebat adalah engineer yang mampu menampakkan dirinya sendiri melalui dirinya dari dalam dirinya dengan perantara engineer. Iyah, enginnering bukanlah sekedar permainan logika yang di pakai untuk menyelesaikan sebuah masalah, namun sebuah media untuk bisa menampilkan diri kita yang terdalam. Sebagian orang berkata bahwa butuh kegeniusan untuk bisa menjadi engineer yang hebat. Saya pernah bertemu dengan seseorang menarik, banyak orang yang meragukan dirinya. Seperti membataasi dirinya untuk mengikuti sebuah penelitian, gara-gara di cap tidak berprestasi. Namun saat aku berbicara dengan dirinya saya melihat sesuatu yang lain dari kata genius. Sebelumnya mengatakan orang genius bisa terlihat dari prestasi yang dia dapat. Namun sebuah prestasi hanyalah sebuah aksiden dari substansi yang terdapat dalam dirinya, maksudnya sederhana untuk bisa membuat prestasi yang tinggi bisa dikatakan seseorang harus memiliki tingkat kegeniusan yang tinggi. Namun sekali lagi, prestasi adalah sebuah aksiden dari sebuah substansi, bukan substani itu sendiri. Untuk membuat aksiden yang baik sesuatu harus memiliki substani yang baik, substansi yang baik akan berimplikasi pada aksiden yang baik. Namun, permasalahannya adalah banyaknya orang yang terlalu mencoba untuk menciptakan aksiden yang baik namun kurang tepat dalam menciptakan substansinya.

Engineering adalah sebuah seni. Kalimat pertama dalam paragraf tulisan ini hanyalah sebatas yang saya tahu. Saat saya membaca The history of engineering, saya melihat bahwa dalam perkembangan engineering dimulai dengan beragam krisis yang terjadi. Seperti yang terjadi di eropa, engineering berkembang karena adanya perang. Beragam engineering muncul dari keadaan krisis itu, namun yang ingin saya sampaikan adalah dalam kasus yang terjadi di eropa, krisis tersebut membuat orang menjadi memahami sesuatu yang lebih subtil (mendalam). Dengan memahami sesuatu yang lebih mendalam seseorang akan lebih mudah untuk mengekspresikan diri mereka. Jadi, sebenernya engineering merupakan salah satu cara untuk mengekspresikan diri kalau dalam bahasa filsuf disebut sebagai “Being from doesn't sign.”

Awalnya mungkin orang menyangka bahwa mengangkat besi untuk terbang adalah sebuah kemustahilan, namun sekarang berapa banyak besi yang bisa terbang, contoh dalam pesawat. Sikap yang merasa yakin diri mereka cukup logis inilah yang akan membunuh seorang engineer. Perlu kesadaran yang kosong (atau sering disebut voidness dalam bahasa Zen), untuk mampu mendalami engineering, maksudnya biarkan dirinya menampakan dirinya melalui dalam dirinya untuk bisa mengekspresikan engineering dari dalam diri kita.