Laman

Selasa, 05 Januari 2016

Shalat dalam Perspektif Hegel

George Wilhem Hegel
Sejarah yang ingin dibawa oleh Hegel, sejarah yang ingin disampaikan diinginkan Hegel dimulai dengan huruf besar. Hal ini dikarenakan oleh Hegel yang menganggap bahwa Sejarah merupakan sesuatu yang hidup. Dia bergerak menuju kedewasaan yang ditentukan oleh roh.

Dengan menggabungkan pemikiran Hegel dengan Kitab Suci al-Qur'an saya mencoba untuk memadukan keduannya dalam tulisan ini. Mungkin tesis yang dikeluarkan oleh Hegel dia lakukan sehabis membaca sebuah ayat dalam surat al-Hadid. Di ayat tersebut dituliskan bahwa segala sesuatu yang terjadi telah tercatat dalam kitab yang disebut dengan kitab Lauhful Mahfuz. Perspektif Hegel mendukung pernyataan ini. Kita bisa memahami bahwa Lauhful Mahfuz adalah sebuah roh.

Lah, dengan ini kita coba apa yang dimaksudkan Shalat menggunakan perspektif Hegel yang akan disampaikan dalam tulisan saya kali ini.

Seperti halnya Lauhful Mahfuz, shalat sebenernya adalah sebuah roh. Dalam al-Qur'an di tuliskan, bahwa kita diperintahkan untuk mendirikan sholat. Sebenernya sholat memang bukan sesuatu yang bisa dikerjakan. Sholat yang disampaikan di sini merupakan roh. Yang bisa kita dirikan melalui sebuah ritual yang sekarang ini kita sebut sebagai sholat. Jika tesis dari saya melalui analisa Hegel ini benar maka, konteks sholat itu sama dengan konteks nafsu maupun nurani. Dinama kedua konteks tersebut adalah sebuah roh. Saat kita mendirikan nafsu kita kita bisa dengan menonton film porno. Jika kita ingin mendirikan roh nurani kita, kita bisa menonton film tentang romantisme. Itulah pandangan saat kita melakukan ritual yang kita selama ini anggap sebagai sholat, itu semua adalah metode untuk membangunkan roh sholat kita.