![]() |
| Berdzikir Bersama Inul |
Maaf sebelumnya kalo judul tulisannya memakai bahasa inggris tapi isinya akan saya tuliskan dalam bahasa Indonesia. Judul ini terinspirasi dari Hayek yang menuliskan The Road of Serfdom dalam bahasa Indonesia adalah perjalanan untuk mencapai perbudakan. Dalam tulisan saya kali ini saya menambahkan dengan kata intelektual. Jadi kalau di translasi dalam bahasa Indonesia menjadi, Perjalanan menuju perbudakan menuju perbudakan intelektualitas.
Cerita ini dimulai dari lukisan yang saya cantumkan dalam blog ini. Dalam lukisan itu menceritakan tentang kiyai yang berdzikir dengan menghadap Inul. Ini sebuah penggambaran menurut Gusmus. Dalam tafsiran saya mengenai lukisan ini, para kiyai sedang memperbudakkan dirinya ke dunia, setelah dia menjadi salah satu tokoh sosial. Apa maksudnya?
Analisis kita seperti ini, kebanyakan dari kita melakukan sesuatu, seperti beribadah maupun belajar terkadang untuk bisa membeli keduniaan, maksudnya menjual sesuatu yang substantif untuk mencapai sesuatu yang aksiden. Maksudnya adalah seperti menjual keimanan untuk mencapai kenikmatan keduniaan. Seperti contoh rajin beribadah supaya masuk surga, atau untuk mendapatkan kekayaan dunia. Padahal Ibadah itu merupakan sesuatu yang substantif tapi terkadang dipakai sebagai metode untuk mendapatkan dunia dan sesuatu yang bersifat keduniaan, atau yang disebut sebagai aksiden.
Sekarang ini seseorang belajar, beribadah untuk mencapai sesuatu yang membuat kita nyaman tinggal di dunia. Padalah kenyamanan itu akan datang pada kesejatian atau substansi. Kata imam Ghozali, barang siapa yang akan menjauhi dunia maka dunia akan mencarinya.
