Laman

Senin, 07 Maret 2016

Malam Pernikahan

Hari ini malam pernikahan ku, aku masih tidak mengerti walau setelah beragam cara aku untuk menikahi Intan, namun setelah aku benar-benar pasrah, Intan justru mengajakku menikah. Resepsinya tadi pagi, seperti biasa kali ini aku duduk di teras rumah sambil membaca buku. Intan tiba-tiba datang menyambar laksana guntur di musim kemarau.

"Pah, aku ini dokter, masa aku punya suami perokok."

"Justru itu mah, Tuhan begitu baik. Dia mengirimkan aku istri seorang dokter, agar sewaktu aku sakit, aku tidak perlu mengeluarkan uang buat biaya kesehatan, lah uangnya bisa ditabung buat beli rokok."

"Ih, pah. Enak di papah gak enak di aku." (Dengan wajah cemberutnya tapi terlihat cantik)

"Kalau itu sih tergantung mamah menyikapinya. Justru punya suami perokok itu adalah kenikmatan buat dokter. Jadi mamah gak perlu nyari orang sakit, tinggal sama aku ajah he he he."

"Hmmm, papah gak dapet jatah malem." (Memalingkan muka lalu pergi kekamar lalu menguncinya)

"Eh, mah, santai-santai." (Sambil mengetuk pintu)