Unik memang mengkaji tulisan dari Fredrich Nietchze, dimana kita sering mendengar bahwa Nietchze adalah seorang yang Ateis, namun metode dekonstruksi yang amoralisnya akan bisa kita rasakan manfaatnya. Sebelumnya kebanyakan orang memperlakukan Tuhan sebagai budak atas diri kita, kita memohon padanya dengan segala hal, agar Tuhan mau memberikan kehendaknya untuk memenuhi keinginan kita. Hal ini membuat Tuhan tidak begitu berarti dalam diri kita. Tulisan dalam karya Fredrich Nietzche, akan membawa kita kesadaran bahwa diri kita bukanlah apa-apa.
Dalam Zaratustra karya Nietchze, dia menuliskan bahwa "Kalian belum mengetahui diri kalian, tapi kalian sudah mengikuti aku. Itulah sebabnya aku tidak begitu berarti. Tolaklah aku semampumu, dan aku akan kembali kepadamu.", aku disini menurut penafsiran saya adalah firman Tuhan yang berhasil dibaca oleh Fredrich Nietchze. Kita tahu bahwa seberapapun kita mencoba untuk menolak Tuhan, kita akan tetap tidak mampu untuk melakukannya, karena Tuhan adalah Esensi dari kita. Seperti dalam ayat Al Qur'an, Innalilahi wa inalilahi ro'jiun. Dari Allah kita berasal dan hanya kepadanya kita akan kembali, itulah menurut penafsiran saya.
Berkaitan dengan tulisan Zaratustra karya Fredrich Nietchze, metode untuk mencoba mendekati Tuhan yang di tuliskan oleh Nietchze cenderung dekonstruktif. Namun, ketika kita mencoba membaca Tulisan Derida tentang hermeneutika, metode memahami sesuatu bisa dilakukan dengan melakukan dekonstruksi pada teks, teks disini bisa kita analogikan sebagai Tuhan yang kita coba dekati. Teks memang memiliki hak otonom yang boleh ditafsirkan bisa berbeda oleh masing masing pembaca, namun kita hanya akan mengetahui makna terdalam dari sebuah teks ketika kita mencoba memahami isi teks tersebut.
Tuhan pernah berfirman, yang saya ingat dalam karya Jalaludin Rumi dalam kita fihi ma fihi. "Seberapun tentara yang akan kau bawa, jika aku tidak menghendaki kemenangan dalam sebuah pertempuran, maka kau takkan menang." Hal ini merupakan konstruksi mutlak dari Tuhan, namun jika kita membuktikannya dalam kehidupan sehari-hari, kita lakukan dekonstruksi seperti apa yang Nietchze lakukan, kita akan memahami teks Tuhan dengan lebih subtil.