Setelah malam pernikahan tidak mendapat jatah malam. Keesokan harinya aku membaca buku karya Nietchze. Tiba-tiba Intan datang menghampiriku.
"Pah, kenapa papah mau nikah sama aku sih?"
"Gimana yah ma? ", aku berfikir. "Di kampus banyak LGBT, lah aku takut jadi korban fitnah, terus dikira LGBT, makanya aku lamar mamah."
"Jadi papah nikah sama aku karena takut dikira homo?"
"Iyah . . " berfikir "eh enggak ding mah. Mamah kan cantik." berusaha meyakinkan Intan.
"Okeh papah malam ini juga gak dapat jatah malam lagi."
"Egkk . . " sesaat aku menjadi patung.