Senin, 30 Januari 2017
Terus Belajar
Aku terus belajar bahkan hingga semangatku memudar dalam sebuah keputus asaan. Ketika dunia berubah menjadi menyebalkan aku terus berusaha untuk menerimanya. Apa yang telah direncanakan oleh tuhan semoga ini yang terbaik.
Sampai Kapan
Sampai kapan kehidupan ini berahir, ketika segalanya telah sia-sia. Mungkin ini hukuman dari tuhan karena aku berujar bahwa akulah manusia terbaik di dunia ini. Namun segala telah aku sembahkan untuk engkau mengerti apa yang ku lakukan, bukankah engkau tahu aku orang yang seperti apa bahkan melebihi diriku aku hanya berharap bahwa engkau masih memiliki belas kasihan untuk mengahiri hidupku sekarang.
Jumat, 20 Januari 2017
Update Raspberry Pi
Setelah november 2016 raspberry pi didisable bagian ssh untuk bisa mengaksesnya anda harus membuat file ssh di direktory boot saat melakukan editing di sd cardnya.
Aku Suka Kamu
Aku menyukaimu yang sekarang. Aku lebih suka
sikapmu yang memukulku, karena kita teman. Aku selalu ingin berkata
padamu bahwa jangan pernah kasihan kepadaku. Aku tidak suka dibelas
kasiani, dan bukankah pukulan itu juga membuatmu puas. Aku lebih suka
engkau bersikap tegas dan jujur ketimbang belas kasihan yang kau
tunjukan. Kau lupa, bukankah kita kita telah berhubungan
bertahun-tahun, dan bahwa aku bukanlah orang yang selalu ingin
diperlakukan seperti orang terhormat. Aku hanya ingin hubungan kita
dibangun atas dasar kejujuran. Tak masalah jika kau mengambil
nyawaku, ini adalah resiko. Aku hanyalah orang yang ingin
menelanjangi kebenaran, aku hanya ingin melihat sesuatu secara lebih
terang, dan ini menggaggumu, sudah akhiri belas kasihanmu dan aku
bisa berjalan dengan tenang, dengan kebenaran bahwa ini memang sudah
ditakdirkan dalam proses yang lebih transparan.
Sabtu, 14 Januari 2017
Takdir dan Keputusasaan
Takdir merupakan ketentuan dari Tuhan, dalam kitab
al Hikam. Namun takdir adalah bentuk finalitas kondisi dari apa yang
saya cerna. Ketika takdir menurut Nietzsche ada dalam diri setiap
manusia. Lalu bagaimana kita bisa menghubungkan kedua hal dari Ibnu
Atha’ilah dan Fredrich Nietzsche itu. Namun perlu ditekankan bahwa
takdir akan muncul ketika kita mengalami beragam peristiwa guna
mendapatkan finalitas takdir, walaupun Rumi, pernah berargument bahwa
peristiwa itu juga memang telah ditentukan, tapi setiap manusia yang
mengalami peristiwa akan mencatatkan diri mereka dalam takdir
tersebut.
Sebagian besar manusia akan menanyakan takdir
dalam fase keputusasaan, kecemasan muncul dalam kondisi ini. Namun
Heidegger pernah berargument bahwa takdir ditentukan dari bagaimana
kita menyikapi sebuah kecemasan, dan sikap itulah yang kita namai
sebuah takdir. Seperti orang yang mengalami kecemasan tentang
kehidupan yang begitu melelahkan hingga di melakukan bunuh diri atau
mencari kehidupan yang lain, bunuh diri atau melalukan kehidupan yang
lain itulah yang disebut sebagai takdir. Sikap yang nampak, walaupun
respon begitu beragam dan acak, seakan muncul dari ketiadaan. Namun
ada itulah yang akan mengkonstruksi struktur ontis.
Keputusasaan adalah sebuah keadaan dimana kita
akan susah untuk bersikap jujur pada diri kita. Hingga kita akan
menyerahkan pada kebohongan atau tetap berada pada sikap yang jujur
namun dengan resiko yang mungkin akan sangat menyakitkan. Tapi
Nietzsche pernah berujar bahwa rasa sakit adalah sebuah pleasure of
life. Keputus-asaanlah yang akan menguji setiap individu untuk
menghadapi kecemasannya dan menentukan takdirnya.
Keputusasaan juga
merupakan sebuah keindahan dari kehidupan, dimana hal-hal akan
menjadi sangat berwarna dan berasa dalam kehidupan. Ketika pilihan
mati untuk lari dari kenyataan, atau mencoba mengejar sesuatu yang
memang sia-sia. Namun sia-siapun juga sebuah keindahan dalam
kehidupan karena hal itu akan memeberikan rasa sakit dan melahirkan
sebuah keindahan. Kehidupan memang sebuah kesia-siaan, ketika
segalanya akan diakhiri dengan fase yang bernama kematian, tapi apa
salahnya jujur dan menjadi diri sendiri ketika kesia-siaan itu
merupakan sebuah kepastian dalam hidup, dan sikap kitalah yang akan
menentukan tentang makna kesia-siaan, apakah akan tetap berujung pada
kesia-siaan yang bermakna atau kesia-siaan yang tidak bermakna.
Kesia-siaan bermakna berarti memberikan kita kesadaran ontologis
tentang makna kecemasan, sedangkan kesia-siaan tanpa makna, adalah
bagian yang tidak bisa kita refleksikan. Walaupun dari paragraf ini
bisa disimpulkan bahwa kesia-siaan bisa jadi adalah sebuah
ke-tidak-sia-sia-an. Entahlah, tapi setiap keputusasaan akan selalu
ada pilihan untuk menentukan takdir, dan mungkin keputus-asaan itulah
kondisi prafinalitas untuk menentukan takdir.
Rasa Metaforis
Pengantar
Pelajar merupakan salah satu manusia terpilih
untuk melakukan pekerjaan mereka untuk belajar. Belajar juga
merupakan salah satu untuk mengkonstruksi diri melalui konstruksi
pola pikir. Tidak semua manusia berstatus pelajar di KTP benar-benar
belajar. Ketika pelajar yang sesungguhnya mencoba untuk mencari
keterpolaan dari sebuah dialektika kehidupan, baik dari alam fisik
maupun dari alam non fisik. Status KTP pelajar dijadikan sebagai alat
untuk memenuhi kebutuhan, layaknya untuk mendapatkan pekerjaan hingga
mendapatkan istri yang dinantikan, dalam hal ini status KTP pelajar
dijadikan zuhandene untuk mendapatkan keinginan.
Lalu bagaimana pelajar yang sesungguhnya. Pelajar
sesungguhnya adalah dia yang belajar. Belajar berarti mengkonstruksi
diri dari pola pikir atau lebih terkenal dalam bahasa matematika
sebagai konstruksi algoritma. Sebagian pelajar KTP mengolah data dan
melakukan inferensi terhadap data tersebut, dan bukan mengolah data
tersebut sebagai metode melihat keterpolaan, atau lebih dikenal
sebagai konstruksi algoritma, justru hanya sebagai proses reproduksi
informasi data belaka.
Dalam Programme International Student Assesment,
sebuah kurikulum belajar seharusnya mendidik seorang pelajar untuk
bisa mengamati alam (Natural Sains), Membaca (Reading)
dan berhitung (Math). Proses konstruksi yang diajukan
oleh PISA ini, memang ditujukan untuk memfasilitasi pelajar untuk
bisa melakukan hermeneutika kehidupan, baik fisis maupun non fisis.
Dengan jam belajar yang tinggi menurut pemerintah
Indonesia, terlihat bahwa kurikulum yang diberikan tidak berdampak
efektif pada proses hermenutika para pelajar di Indoneisa. Pendidikan
di Indonesia justru memberikan tekanan bagi para pelajar di Indonesia
yang masih dituntut akan prestasi yang tentatif hingga para pelajar
di Indonesia mengalami Alethia (Sikap
tidak mau menerima diri sendiri, atau sikap tidak mampu jujur
terhadap diri sendiri, menurut Marx). Siswa akan ditentukan
kinerjanya dengan prestasi, namun prestasi yang ada dalam kesadaran
pemberi kurikulum tidaklah prestasi yang mampu membuat seorang
pelajar atau orang disekitar pelajar mengkonstruksi dirinya atau
lingkungan disekitar mereka. Dalam suatu hari kedepan akan menjadi
bencana yang cukup mengerikan bagi bangsa ini, karena proses
kapitalisasi pendidikan akan menjadi barang dagangan dan tidak
memberi kesempatan bagi seorang pelajar berdana pas-pasan. Ini akan
sangat berbahaya karena selain akan meningkatkan kesenjangan sosial,
harga pendidikan yang tinggi tidak bisa memberi kesempatan bagi orang
yang tidak kurang memiliki dana untuk belajar melalui pendidikan
formal.
Pendidikan
seharusnya menjadikan seorang pelajar menjadi dirinya sendiri dan
menjadi sebuah alat untuk mengatasi masalah Alethia
(Ketidak mampuan untuk menerima kebenaran). Namun di negara ini
justru menjadi sebuah alat untuk meningkatkan alethia,
melalui kapitalisme pendidikan
di negara ini. Pendidikan yang dijadikan sebagai status sosial
terlihat pada KTP di negara ini. Hal yang patut mengherankan pada
kondisi ini adalah “Untuk apa KTP dituliskan status
seperti mahasiswa, pengusaha, atau pelajar.”,
kalaupun dituliskan dalam KTP apakah hal itu akan mampu memberikan
konstruksi yang benar dalam proses kinerja melalui status KTP, dan
lagi pula profesi merupakan masalah eksistensial yang buat apa orang
lain mengetahui itu?
Rasa Metaforis
Rasa metaforis
merupakan salah satu metode berdialektika sejati. Bahasa muncul
setelah rasa metaforis. Proses membaca, berhitung, maupun memahami
alam, adalah metode kita untuk memahami bahasa metaforis. Bahasa
metaforis inilah yang nantinya akan menjadi dialektika sejati entah
dengan sesama manusia, maupun makhluk yang bukan manusia, seperti
mesin, binatang, pohon atau batu sekalipun. Rasa methaforis ini yang
nantinya terejawantahkan dalam bentuk teori, puisi, cerpen maupun
berupa ungkapan rasa lain seperti lamaran.
Mengumpulkan rasa
metaforis dilakukan oleh negara maju dengan bahasa berupa, arsip
buku, diskusi ataupun kuliah dikelas. Namun kurikulum di Indonesia
yang hanya sekedar ikutan ini belum mampu memahami tujuan dari
pendidikan sebagai olah rasa metaforis ini. Seperti yang dikatakan
oleh G. W. F.
Hegel, bahwa kuantitas akan menentukan kualitas, tidak semua
kuantitas itu mengada dalam diri secara eksistensial, dan walaupun
dalam kuantitas yang tinggi sekalipun, ketika hal itu belum mampu
eksis dalam Dasein maka hal ini akan tidak make sense. Rasa harus
dilatih dengan rasa itu sendiri, dan semakin mengolah rasa maka rasa
tersebut akan mejadi semakin berkualitas.
Kritik Kurikulum
Kurikulum
diperlukan untuk merencanakan pembentukan pola pikir bagi orang yang
ingin belajar. Namun apakah kurikulum itu efektif atau tidak maka
tergantung dari pencapaian dari pelajar itu sendiri, walaupun dalam
proses pencapaian bersifat eksistensial, tapi mengapa hal ini bisa
dilakukan kuantifikasi melalui prestasi, apalagi dengan prestasi yang
bersifat lebih tentatif seperti IPK, juara atau yang lainnya. Menurut
Syech Ibnu Athailah as Sakandari, dalam kitab al Hikam,
bahwa untuk mancapai prestasi
yang tinggi maka seseorang harus mampu mendalami hal yang dihadapi,
namun prestasi yang tentatif masih lebih diberhalai oleh bangsa ini
ketimbang prestasi yang dilalui dari proses-proses yang subtil,
dengan hal ini kita akan melihat bangsa ini mudah untuk
terombang-ambing dalam berhala-berhala layaknya prestisme, status
sosial, uang, atau kelamin. Berhala-berhala
tersebut akan membuat bangsa ini lebih mudah menjadi target pasar,
hal ini ditunjukan dengan banyaknya barang luar negeri yang masih
banyak beredar dan semakin banyak, dan bangsa Indonesia hanya
dijadikan sebagai konsumen.
Jam belajar yang tinggi
di Indonesia, tidak dibarengi dengan sistem efektif belajar, entah
karena pembuat kurikulum belum memahami tentang makna belajar hingga
asal-asalan dalam menentuka perencanaan, atau pelaku pendidik yang
belum siap, tapi jelas terlihat bahwa tidak ada peraih nobel dari
Indonesia, dan ini menunjukan bahwa di Indonesia efektifitas dari
pendidikan ini sangat tidak efektif. Apakah menurut pembuat
kurikulum, belajar haruslah dari sistem formal. Ketika belajar adalah
proses untuk mendekonstruksi Alethia, hal ini justru akan semakin
membuat para pelajar di Indonesia belajar tidak dari dalam dirinya,
dan tidak menjadi dirinya sendiri.
Kurikulum Asimetris
Mengkritik tanpa
memberikan solusi yang jelas justru akan semakin membuat masalah
semakin pelik. Kurikulum asimetris bisa dijadikan sebuah solusi untuk
mengatasi permasalahan pendidikan di Indonesia. Seperti model bisnis
asimetris yang berkembang di dunia ini, bahwa untuk menjual sebuah
produk kita bisa mengefektifitaskan melalui branding. Tujuan dari
proses asimetris ini adalah tetap menjual barang namun tujuan utama
dari proses ini adalah menjual produk yang kita coba pasarkan. Namun
asimetris ini disalahgunakan dengan menjadikan pendidikan sebagai
alat dari tujuan perdangan hingga proses belajar menjadi alat
tentatif dan bukan alat sustain untuk perdagangan, tidak salah memang
jika digunakan untuk perdaganan tapi jika hanya bersifat tentatif
maka kehancuran dari sistem ini hanyalah tinggal menunggu waktu.
Seperti apa yang
dikatakan oleh Imam Ghozali bahwa segala yang aksiden akan mengikuti
substansinya, jika uang dan hasrat berhala dijadikan sebagai
substantif, maka proses ini akan kurang dihayati ketika
berhala-berhala yang tentatif terpenuhi. Perlu nilai yang lebih agung
untuk mengkonstruksi kurikulum agar pendidikan di Indonesia mencapai
prestasi yang tinggi melalui proses yang subtil, bukan sekedar proses
tentatif yang cenderung membuat prestasi yang kebetulan.
Pendidikan asimetris
yang dikonstruksi untuk nilai yang lebih luhur, seperti membuat dunia
yang lebih baik, akan terus berjalan, bahkan dengan jam belajar
formal yang tinggi maupun tanpa jam belajar formal sekalipun. Dalam
artian disini, bahwa konstruksi diri yang membentuk konstruksi
masyarakat melalui konstruktri pola pikir akan terus berjalan walau
badai menghadang.
Daftar Pustaka
-
Heidegger, Martin. 2010. Being and Time. Joan Stambaugh, trans. Translation revised by Dennis J. Schmidt. Albany, NY: State University of New York Press.
-
Kierkegaard, Soren. 1995. Work of Love. United Kingdom : Princeton University Press.
-
Gadamer, Hans-Georg. 1976. Philosopical Hermeneutics Translated and Edited by David E. Linge. Berkeley : University of California Press
-
Sowel Thomas. 1982. Marxism Philosophy and Economics. Routledge Revivals.
-
Descartes, Rene. 2006. Discourse on the Method of Correctly Conducting One’s Reason and Seeking Truth in the Sciences. Oxford : Oxford University Press.
-
Sartre, Jean Paul. 1993. Being and Nothingness. Washington : Washington Square Press.
Filsafat Cinta 2 : Stochastic Cinta 1
Dalam statistika dikenal beragam analisa, dari
analisa deterministik hingga analisa stokastik. Deterministik akan
mudah kita perhitungkan ketika kejadian pasti muncul. Lalu bagaimana
dengan yang tidak pasti. Dalam analisa stokastik kita mengenal
beragam variable seperti deviasi, auto korelasi, atau distribusi
peluang. Lalu mengapa saya mengangkat kasus matematika ini dalam
percintaan?
Cinta masih menjadi salah satu penyebab dari
beragam konflik? Tapi jika memang benar apa yang dikatakan
Kierkegaard bahwa cinta merupakan metode komunikasi methaphoris yang
berada pada ranah relijius, dan bukankah dalam relijius kita akan
memahami bahwa segala sesuatu memiliki sebuah ruh yang sama, dan
dengan kesamaan ini, bukankah mereka tidak akan bisa saling
berkonflik.
Ketika selakangan masih dikorelasikan dengan
cinta, maka pacaran, gebetan bahkan matrimoni sekalipun tidak akan
pernah sampai pada kesadaran ontologis tentang makna cinta. Karena
baik pacaran, gebetan bahkan matrimoni sekalipun dibentuk atas
intensionalitas kelamin. Ketika kita mengharap cinta melalui jalur
pacaran, gebetan bahkan matrimoni, hal ini merupakan kegagalan dalam
berfikir. Andai kata anda ingin dicintai secara tulus, jika benar
menurut Fyodor Dosto, bahwa cinta adalah metode melihat tuhan melalui
yang dicintai, maka apakah tindakan itu menyimpang dari tujuan
berkomunikasi dengan Tuhan, tapi menatap selakangan.
Kata Kierkegaard, cinta merupakan eksistensialisme
terbesar, dengan cinta seseorang akan melihat emas sebagai debu, dan
debu menjadi emas, seperti itulah kata Jalaludin Rumi. Dengan cinta
segala hal bisa dinihilkkan, seperti halnya emas dan debu yang
berbobot sama bagi pecinta.
Tuhan yang bisa dilihat oleh seorang pecinta,
karena memang butuh cinta untuk bisa melihat tuhan. Tapi kenapa masih
masalah selakangan, seperti gebetan, pacaran, bahkan matrimoni
pernikahan masih dikaitkan dengan cinta.
Dunia ini memang penuh dengan orang yang sok tahu,
mungkin saya juga termasuk. Orang akan lebih mendengar dari apa yang
dia hormati. Tapi bagaimana tentang makna kejujuran itu sendiri?
Cinta adalah kejujuran, sebuah representasi dari isi hati yang
terejawantahkan melalui sikap, bisa dengan memberi bunga, atau
hubungan seks sekalipun.
Cinta bukanlah
pengorbanan, cinta adalah bentuk kefanaan sang pencinta atas
eksistensi yang dicintai. Bagaimana Sesuatu yang telah fana’ masih
bisa berkorban.
Gratisnya Indonesia
Seperti yang dikatakan oleh Sun Tzu dalam Art of
War, andaikata kaita kau memasuki medan pertempuran yang absurb maka
diamlah dan berfikir lebih tenang. Segala sumber daya akan diberikan
oleh lingkungan kepada Jendral yang Berkepala dingin. Itulah kalimat
yang cukup untuk bertahan dalam medan pertemperuan yang absurb ketika
segala kebutuhan mengalir tanpa arah dan tujuan.
Indonesia merupakan negara dengan absurdisitas
yang cukup tinggi, ketika semua berperang saling memakan layaknya
hutan rimba. Tapi dalam chaositas yang tinggi akan melahirkan
harmonitas yang tinggi. Lebih susah melawan musuh yang acak ketimbang
musuh yang memiliki kemampuan tinggi. Musuh acak akan lebih susah
disadari ketimbang musuh dengan kemampuan yang tinggi. Lebih susah
diantisipasi berarti harus meningkatkan konsentrasi seorang Jendral
untuk memahami lingkungan yang lebih bersifat dinamis.
Semakin absurb sebuah medan berarti distribusi
resource terdistribusi secara normal gaussian, dalam kasus ini, kita
tidak bisa berharap dari medan yang acak. Namun ada beberapa cara
untuk melihat keacakan dari medan, terdesak dalam kondisi acak akan
membuat kita lebih mendalami harmonisasi medan acak.
Berikut metodenya :
-
Biarkan medan berbicara. Medan akan berbicara pada diri kita seperti angin kencang, angin sepoi, hujan, badai, atau gerimis. Tapi walau badai, walau sepoi keduanya merupakan resource yang bisa dimanfaat oleh sang Jendral. Gelap dan terang, Jujur maupun kebohongan merupakan resource yang bisa dimanfaatkan untuk membentuk posisi yang baik untuk sang Jendral. Mendengar lebih banyak dari makian, maupun pujian adalah menambah resource kepada sang Jendral untuk membentuk pola serangan yang tidak bisa dibendung oleh pengganggu. Sintesa dari resource ini bisa dijadikan sebuah harta berharga tanpa disadari oleh pengganggu, dari sini pengganggu akan menjadi pendukung kesuksesan sang Jendral, dan Jendral harus berterima kasih atas kejayaan kekuatan ini. Dan segala menjadi resource yang berharga, baik gelap atau terang, baik pujian atau makian, baik kejujuran atau kebohongan, baik kesetiaan ataupun penghianatan. Be Quite You are and the more able hear.
-
Bersabarlah, karena medan yang bergerak dinamis tidak bisa menjamin keberhasilan sang Jendral, tempo dan posisi yang matang serta kesadaran akan kondisi lapangan menjadi alat pengambil resource yang paling bagus, tidak ada kondisi yang buruk bagi seorang jendral yang telah melampaui, karena semuanya akan di afirmasi dan dijadikan kekuatan untuk pertempuran yang tidak terduga maupun tidak terduga.
Melamar Diri Sendiri
Hai Kau, Aziz Amerul Faozi. Mengapa engkau masih
pada pendirianmu? Ketika segalanya memusuhimu. Ketika kehidupan
bahkan masih memberimu kesialan yang tidak perlu. Ketika takdir tak
membawamu pada kemanisan hidup? Ketika kehidupan tak menghargai
kejujuran? Ketika kehidupan tak mampu lagi bersikap adil pada
realitas jujur dan bohong. Ketika kehidupan tak mampu lagi mendengar
apa makna dari sebuah ketiadaan?
Apa yang ada dalam hatimu hingga engkau masih
tetap setia pada api yang membakarmu? Kau tidak mengerti segala telah
berubah dengan waktu, ketika segala surgawi telah menggerogoti
kejujuran pada hati mereka. Ketika hasrat telah merubah mereka
menjadi seorang penipu? Ketika berhala emas, memek dan kekuasaan
telah menjadikan mereka tak mampu lagi menjadi diri mereka sendiri.
Aku sangat mengenal
manusia, dan kau tidak seperti mereka? Siapa kau, dari mana asalmu?
Mengapa kau begitu berani? Mengapa engkau tetap teguh dalam dunia
yang penuh kepalsuan ini. Aku hanya ingin kaulah yang mendampingi
hidupku hingga terang akan terbukti terang, hingga gelap terbukti
gelap, walau aku tahu andai semua terbukti maupun tidak engkau
tetaplah sama, sama seperti dirimu sekarang.
Tidak Perlu
Sayang, tidak perlu.
Tak perlu kau tunjukan,
mewahnya mobilmu dan megahnya istanamu.
Aku hanya menghasrati,
yang bila kau miliki,
Aku akan mengemis,
agar kau memberikannya,
yaitu
Ketiadaan.
Andai kau memilikinya,
Lalu apa yang akan kau tunjukan padaku.
Toh ketiadaan itu,
memang tidak ada
wkwkwkwk
Filsafat Cinta#1 : Ketika Cinta Menjadi Fondasi
Menurut Soren Kierkegaard,
cinta merupakan solusi eksistensialisme terbesar dalam menghadapi
kehidupan. Cinta merupakan salah satu metode melihat tuhan melalui
perantara yang kita cintai. Cinta memang bertingkat, cinta estetis,
cinta etis, hingga cinta yang religus. Adalah sebuah kebohongan jika
kita mengatakan mencintai Tuhan tapi kita tidak mencintai makhluk
sekeliling kita , bagaimana kita bisa mencintai yang terlilhat tanpa
kita tidak bisa mencintai yang terlihat.
Kebanyakan manusia mengamputasi realitas, dengan
menganggap bentuk sebagai sebuah makna, tanpa memahami bahwa makna
terpisah dari bentuk, atau diungkapkan oleh Kierkegaard sebagai
bahasa yang terbaca telah menutupi sense of methaporical dari kata
itu sendiri. Cinta akan membuat kita membangkitkan ruh untuk bisa
saling terhubung lalu mengejawantahkannya dalam kata yang merupakan
pengejawantahan dari sense of methaporical itu sendiri. Kita sering
berkomunikasi tapi masih dalam ranah yang estetis, sekadar komunikasi
yang berjalan tanpa adanya roh yang terbangun dari proses komunikasi
tersebut. Untuk itu seseorang akan sering menyalah pahami orang lain,
karena mereka tidak mencoba melihat Tuhan dalam diri orang yang ingin
diajak bicara, dalam konteks ini Kierkegaard menyatakan bahwa
komunikasi ini merupakan komunikasi religius atau hubungan cinta.
Cinta merupakan salah satu metode membangkitkan
roh untuk bisa berkomunikasi dengan Tuhan. Ketika kita mencoba
melakukan upbuilding melalui cinta, seperti menjadi lebih
pintar, menjadi terhormat, menjadi tampan atau yang lain melalui
cinta, hal ini bertentangan dengan cinta itu sendiri. Dan hal-hal
yang upbuilding tersebut justru akan mengamputasi cinta hingga roh
akan hilang. Upbuilding bisa kita lihat dalam sebuah kasus ini,
seorang bayi ketika memegang payudara ibunya yang sedang
menggendongnya, merupakan salah satu bentuk komunikasi dari ibunya
yang ingin agar anaknya tertidur, makna dari kata tertidur tersebut
tersampaikan melalui bahasa tubuh dari sang ibu. Dari kasus ini
terlihat bahwa roh sang ibu dibangkitkan untuk berkata pada
anaknya, tidurlah. Dan dari kasus ini kebutuhan untuk upbuilding
tidaklah nampak, dan kasus ini
juga menunjukan bahwa cinta tidaklah muncul melaui ketampanan,
kekuasaan, kehormatan, maupun kekayaan.
Ketika
cinta tak bisa didefinisikan, Kierkegaard justru mengungkapkannya
dalam beragam statement walaupun statement itu hanyalah sebuah bentuk
dari kata metaphoris yang masih terpisah dari makna itu cinta itu
sendiri, tapi Kierkegaard mencoba menyampaikannya agar lebih mudah
terpahami.
Cinta adalah upbuiding
itu sendiri. Cinta merupakan kebahagiaan itu sendiri, dan bukan
sebagai sarana untuk mencapai kebahagiaan.
Cinta adalah
kesabaran, dengan
cinta kita bisa terus bertahan di dalam kondisi terendah dalam hidup
kita. Cinta akan menyimplifikasi segala permasalahan dalam hidup yang
terkadang bagi bukan para pecinta hidup akan terasa lebih melelahkan.
Ketika seseorang berkata tentang rasa cemburu, seseorang yang
pencemburu merupakan seorang yang martir dan penuh dengan kebencian,
dan dari kita akan menyadari bahwa rasa cemburu itu telah
mendekonstruksi cinta itu sendiri.
Cinta tidak
melihat itu miliknya. Seseorang
yang melihat bahwa itu miliknya harus menekan segalanya untuk berada
disisinya, harus menghancurkan sebuah tempat untuk dijadikan
miliknya. Tapi cinta akan menghadirkan dasar dan dijakan sebagai
pondasi.
Love melahirkan
segalanya, untuk apa segalanya terlahir, tapi itu merupakan cara
paling ultima untuk mencari segalanya yang terimplikasi, bahwa cinta
dihadirkan dari dasar dan itulah yang membangunnya.
Cinta mempercayai segal
hal, untuk bisa percaya pada segala hal berarti mensimplifikasi bahaw
cinta sebagai ada yang tidak terlihat, dan melalui oposisinya sebagai
yang terlihat maka akan terjadi ambiguitas dan ini akan menyakitkan,
ketidak percayaan akan mengambil yang jauh sebagai dasar untuk
menghadirkan bahaw cinta tidak hadir dan berarti ketidak percayaan
tidak dapat membangun.
Cinta mengharap segala
hal, tapi untuk berharap segala hal menjadi ada, berarti
mengimplifikasi cinta. Lihat seorang anak yang jago bapaknya mungkin
tidak tahu bahwa anaknya sudah menjadi jago, karena bapaknya
menharapkan segala hal untuk anaknya. Bapaknya yang menharpakan
banyak hal dari anaknya mungkin telah membuat dirinya tidak pernah
menyadari bawha nikmat yang dimiliki anaknya telah mencukupinya, tapi
bapaknya tidak pernah merasakan cukup.
Cinta menguatkan
segalanya, karena menguatkan segala hal berarti mengsimplifikasi
untuk membuat cinta sebagai fondasi. Ketika kita berkata bahwa ibu
meletakan semua anaknya yang nakal kemmudia mereka berkata bahwa ibu
telah meletekan semua anak nakal mereka dan mereka berkata bahwa
seorang wanita seperti dia adalah orang yang sabar? Tidak kita
berkata beberapa hal, kemudian sebagai seorang ibu dia mencoba
mengingatkan secara kontinyu kepada anak itu untuk
tetap kuat dan menjadi lebih kuat dari yang lainnya, ini diam yang
sabar dan mengimplifikasi bahwa cinta masih ada dalam diri seseorang.
Daftar Pustaka
Kierkegaard, Soren.
1995. “Work of Love”. United Kingdom : Princeton
University Press.
Amour Fati dan Amour Mati
Amour merupakan kata yang menarik dari kamus
bahasa Prancis ini, tak sengaja kata itu muncul ketika mencoba
mencari kata lain di kamus bahasa Prancis yang gratis ini. Tapi, kali
ini amour yang berarti cinta akan lebih dibahas, ketimbang
epistemologi, ataupun aksiologi bahasa ini sendiri. Bukan sedang
mencoba membahas ontologi, tapi sering mendengar kata amour dari
teman, maupun kios komik di jalan. Entah anak masjid, entah anak
atheis, menurut persepsi saya keduanya mendeskripsikan Amour Fati
atau lebih dikenal sebagai cinta hidup, sama. Keduanya berujar bahwa
cinta hidup adalah kondisi kita menghasrati hidup, entah dengan
mencari uang sebanyaknya, entah dengan menjadi penguasa, entah dengan
lainnya. Semua deskripsi menyatakan bahwa cinta hidup adalah
melakukan hasrat diri pada kehidupan. Walaupun deskripsi sama, memang
tidak semua orang bisa berperilaku sama, anak mesjid lebih sering
menhujat orang yang mencintai dunia, walaupun mereka juga menampakan
mencintai dunia dengan barang tersier yang mereka miliki, ataupun
pacar cantik yang mereka gebet. Walaupun menutupi diri, tapi masih
kita saya bedakan dengan golongan ateis yang lebih cenderung bersikap
jujur untuk menikmati hidup, walaupun mereka kadang berpura-pura
jahat, dan juga punya sisi jahat juga. Iyah, semua manusia memang
memiliki plus minus, tapi reaksi pada kehidupan tetaplah sama antar
ateis maupun anak mesjid, walaupun secara dibibir mereka berbeda.
Sebuah pertanyaan menyangkut dalam pikiran saya,
“Apakah Amour Fati dan Amour Mati berbeda?”, Sederhanaya
pernyataan itu ingin mengejewantahkan kebingungan saya akan makna
cinta dunia dan cinta akhirat, apakah sama? Dan, survey membuktikan,
kalangan atheis yang bertopeng filsafat, dan kalangan anak mesjid
yang bertopeng agama, menjawab bahwa kedua hal tersebut adalah
berbeda. Kalangan ateis berpendapat, bahwa tidak usah mikirin mati,
mati itu udah gak mikir lagi, dan kalangan agamis berpendapat
persiapkanlah untuk kematian, dan cintailah akhirat. Beberapa hal
tersebut membuat saya bingung tapi kita lihat apa penuturan dari
Bapak Kierkegaard.
Pak Kierkegaard pernah
berpendapat dalam the works of love, bahwa kita tidak akan pernah
bisa mencintai apa yang tidak bisa terlihat, tanpa bisa mencintai
yang terlihat. Jelas disini menjatuhkan para anggapan anak mesjid,
yang lebih cenderung ilusionis ketimbang kalangan ateis. Tapi tunggu
dulu, Bapak Fyodor Dostovsky berargumen bahwa cinta adalah melihat
Tuhan dari apa yang kita cintai, maknanya ketika kita mencintai
hidup, berarti kita mencoba melihat Tuhan dari kehidupan dan
mencintai mati, berarti melihat Tuhan dari kematian itu, seolah tuhan
ingin berkata kepada kita melalui kedua zuhandene Tuhan itu yaitu
kematian, dan kehidupan. Dan ini memukul agamis 2 kali, dan atheis 1
kali.
Cinta memang tentang
diri sendiri, memang karena jika masih ada subject dan object maka
kesadaran tersebut berada pada ranah pasca-ontologis alias pada
struktur aksiologi, atau epistimologi, atau menurut Bapak Heidegger,
pada ranah struktur ontis. Dan ketika cinta mengalami subject dan
object berarti kita terpisah dari cinta itu sendiri, itu berarti kita
tidak mencintai, dan ini berarti cinta itu adalah seinden (mengada).
Jelas memang cinta adalah solusi eksistensial terbaik, seperti yang
dikatakan kierkegaard, karena semanya memang Aku, dan aku disini
tidak ada yang lain selain Aku itu sendiri. Tapi mengapa cinta mati
dan hidup masih dibedakaan, bukankah keduanya jelas sama?
Sosial Hacking#1 : Ketika Cinta Berhacking Pengantar
Napoleon Bonaparte berujar bahwa perang 99% adalah masalah informasi. Sun Tzu, jendral yang mengetahui lawan dan dirinya akan tidak pernah terkalahkan walau berapapun banyak pertempuran. “It all depends on how we look at things, and not on how they are themselves.” Carl Gustav Jung
Komunikasi adalah metode mentransfer informasi
dari satu entitas dengan entitas lainnya. Informasi menjadi sangat
penting dalam proses negosiasi, pertempuran, atau masalah kelamin.
Dengan informasi kita bisa melakukan objektifikasi dengan lebih
akurat. Informasi memiliki tingkat nilai yang beragam, ada informasi
yang berharga ada juga informasi yang tidak berharga. Jumlah
informasi yang berharga bergantung pada distribusi informasi dan
kebutuhan akan informasi tersebut. Informasi yang memiliki
probabilitas muncul rendah akan lebih dihargai ketimbang informasi
yang memiliki probabilitas tinggi. Hal ini menunjukan walau informasi
itu bohong ataupun benar tetap informasi yang jarang muncul memiliki
nilai yang berharga ketimbang informasi yang biasa, seperti contoh,
infomasi tentang munculnya hujan di padang pasir akan lebih berharga
ketimbang informasi munculnya hujan di Indonesia.
Kepercayaan maupun ketidakpercayaan menjadi salah
satu hal yang tidak bisa dilewatkan ketika informasi tersebar.
Informasi dengan nilai ketidakpercayaan tinggi memiliki selalu
memiliki nilai yang lebih tinggi dari pada informasi dengan tingkat
kepercayaan tinggi, namun kepercayaan dan ketidakpercaayan ini
merupakan sebuah bentuk dekadensi terhadap informasi. Yang berarti
adanya jarak antara pengamat dengan informasi, yang menunjukan bahwa
pengamat belum memiliki informasi tersebut.
Proses sintesa informasi telah ada bahkan ada
ilmunya. Kita telah mengenal kata informatika, yang berarti informasi
dan matematika. Informasi merupakan resource yang berharga, hingga
Napoleon Bonaparte bisa berujar bahwa kemenangan perang ditentukan
oleh informasi, maupun Sun Tsu yang berujar bahwa informasi merupkan
kunci dari jendral untuk bisa mengambil sikap dari pertermpuran.
Sintesa membutuhkan kemampuan untuk mengambil keputusan, layaknya
seni lukis yang mencoba untuk memutuskan untuk menggunakan warna apa
yang bagus untuk bisa digunakan sebagai karya seni mereka. Sekalipun
bisa dibilang sains, karena diregresi dari statistik data dan diolah
hingga menjadi sebuah ilmu. Namun proses tanpa proses sintesa maka
informasi hanyalah sekadar barang kosong belaka, dan tanpa nilai.
Ada beragam aturan dasar untuk berkomunikasi,
aturan ini ditujukan untuk bisa memanfaatkan resource informasi
maupun mensintesa pola pikir seseorang :
-
Jangan pernah memastikan bahwa penerima menerima kenyataan seperti dirimu.
-
Jangan pernah memastikan bahwa penerima akan menginterpretasika hal yag sama dengan kesadaran yang aku miliki.
-
Komunikasi bukanlah sesuatu yang tidak terbatas, hal itu memiliki batas.
-
Selalu berasumsi bahwa beragam realitas ada dalam orang yang berbeda dalam proses komunikasi.
Shanon-Weaver, memberikan sebuah model komunikasi
secara umum. Model komunikasi digunakan untuk melakukan analisa dalam
proses pengiriman informsi. Sumber informsi akan dikirmkan melalui
transmiter dan menghasilkan sebuah sinyal, dalam proses sampainya
informasi sinyal akan mengalami distrosi akibat kanal yang bernoise
atau jarak jangkauan hingga mengalami multipath fading. Kemudian
sinyal yang diterima belum tentu sama dengan sinyal yang dikirim
akibat kanal ini.
Informasi memang tidak selalu sama antara yang
dikirm oleh transmiter dan diterima oleh transmiter. Proses tersebut
biasa mengalami gangguan oleh noise. Namun noise pun tidak selamanya
merugikan, karena hal ini juga bisa menjadi keindahan sendiri oleh
Engineer Komunikasi. Noise akan mengurangi kredibilitas dari sinyal
informasi, dan memang tidak semua informasi akan tertransmisikan akan
memberikan keuntungan bagi sosial engineer. Semisal informasi tentang
pasword facebook kita yang mudah terbaca oleh orang lain. Hal ini
akan bisa menjadi berbahaya. Kanal yang penuh dengan gangguan, atau
noise, akan memberikan proteksi tersendiri untuk terjaganya sebuah
informasi yang memiliki krusialitas yang tinggi.
Pretexting
Mengambil informasi dan mensintesa informasi juga
merupakan keahlian yang cukup menarik. Pretexting merupakan salah
satu metode yang menarik untuk bisa melakukan rekayasa dari informasi
tersebut. Pretexting didefinisikan sebagai sebuah aksi untuk
menciptakan scenario untuk mengajak target korban memberikan
informasi atau melakukan sebuah aksi. Biasanya pretexting digunakan
dalam beberapa profesi seperti public speaker, NLP expert, ataupun
dokter, jaksa dan lainnya, yang berhubungan untuk memberikan
instruksi atau mencari sebuah informasi dari orang lain.
Beberapa dasar pretexting :
-
Melakukan banyak riset untuk bisa meningkatkan peluang keberhasilan.
-
Membawa personal interest akan bisa menjadi peningkat kesuksesan dalam pengambilan informasi.
-
Mempraktikan dialektika dan ekspresi.
-
Usaha sosial engineering yang dilakukan berulang dengan alat telekomunikasi. Tapi sosial engineer bisa menggunakan segala macam alat untuk bisa mendapatkan informasi yang bagus.
-
Pretext yang lebih sederhana akan memberikan peluang kesuksesan yang lebih tinggi.
-
Pretext harus muncul secara spontan.
-
Menampilkan sebuah kesimpulan logis atau mengikuti pemikiran dari target.
Daftar Pustaka :
-
Hadnagy, Christopher. 2011. Social Engineering : The Art of Human Hacking. Indianapolis : Wiley Publishing.
-
Ziemer, Rodger E. 2015. Principles of Communications : System, Modulation, and Noise 7th edition. USA :Wiley.
Langganan:
Komentar (Atom)