Laman

Sabtu, 28 November 2015

Kontemplasi Sebelum Naik Gunung

Naik Gunung Bersama Teman Teman

Prolog

Dalam kegelisahanku terhadap kehidupan yang adsurb ini aku mencoba untuk mencoba menyikapi dengan cara yang terbaik, belajar dari kitab tassawuf hingga buku filsafat saya pelajari, dari belajar di pesantren hingga belajar di diskusi filsafat aku datangi. Kata Opik, "Kuat Jiz, kuat, bisa Jiz, bisa" itu yang sering dia, katakan. Lumayan lah untuk menghibur diri dikehidupan yang absurd ini. 

Aku melihat Khoirul hari ini, saya merasa heran atas kedatangan si Choirul di Sunkencourt, aku kira dia pergi ke Lumajang dengan bang Tarjo hari ini. Namun ternyata Choirul tidak jadi berangkat ke Lumajang untuk berziarah ke makam kancil yang dibunuh saat menjadi aktifis di daerah pertambangan


Seperti biasanya kita membahas sesuatu tentang kehidupan ini, dan seperti biasanya dia sibuk memainkan Dota yang ada di dalam laptop yang dia mainkan.

Tiba tiba di Sunkencourt (tempat mangkal anak unit di ITB), seseorang datang mengajakku untuk naik Gunung, dengan sangat aneh aku menerima ajakan itu karena mungkin itu bisa mengobati sakitku terhadap keabsurbdan kehidupan ini.

Takdir

Sebelum berangkat aku dan Choirul mendiskusikan beberapa hal yang menarik tentang kehidupan ini. Karena aku gelisah aku membaca banyak banyak kitab tassawuf yang pernah aku singgung dalam tulisan tulisan sebelumnya. Hingga aku menemukan kalimat yang membuatku agak menerima keabsurbdan takdir ini yaitu kalimat yang dilontarkan oleh @Hikam_Athai di twitter. "Bahwa kehidupan ini merupakan ketentuan yang terbaik."

Eits, aku mulai dulu dengan siapa itu Bang Tarjo (Senartogok) dan  Choirul Mutaqin, mereka berdua adalah seorang filsuf di sunkencourt. Iyah, apa itu filsuf sebenernya akupun sebenernya aku masih belum mengerti namun kata mereka berdua aku merasakan kecewa karena aku belum begitu menyelami kehidupan ini, iya makanya aku kelihatan stres. Dari pernyataanya Bang Choirul dan Bang Tarjo aku memahami bahwa pernyataan mereka itu mirip dengan pernyataan Ibnu Atha'ilah As Sakandari dalam kitab nya Al-Hikam,


Artinya :

Tanamlah wujudmu didalam tanah yang dalam karena tanpa ditanam buahnya tidaklah sempurna ketika dipanen.

Kalimat itulah yang membuat saya sedikit terhibur dengan kehidupan yang adsurb ini. Menurut tafsiran saya tentang kalimat Ibnu Athailah dalam kitab Al Hikam tersebut adalah kita harus mendalami diri kita hingga yang terdalam sebelum kita bisa menuai kebahagiaan.



Rabu, 25 November 2015

Lelaki Lemah#1 : Lelaki yang Merengek

Melihat teman temanku yang begitu akrab, saya begitu iri, ha ha ha. Seperti dosa besar yang telah aku perbuat padanya namun inilah seperti balas dendam dari dalam dirinya. Tuhan seperti kehilangan konsistensi, karena apa yang aku perjuangkan sekarang adalah apa yang aku istikhorohkan sebelumnya bertahun-tahun, dan aku memperjuangkannya dengan tetesan tangis, mencoba melawan keinginan dan lainnya, tapi sekarang Tuhan seperti kehilangan rahman dan konsistensinya. Apa yang aku istikhorohkan dahulu kini membuatku nyaris kehilangan keimanan dan keislaman yang aku miliki. Usaha yang saya lakukan seperti di bantai oleh tangan Tuhan yang katanya pengasih lagi penyayang itu.

Aku sudah dalam kondisi kritisnya, doa “la haula wala kuawata ilabilah maupun hasbunallah,” hingga shalawat aku panjatkan, hanya untuk menekan hasrat untuk mengakhiri kehidupan yang absurd ini. Dan dalam pemikiran ini, saya berfikir, bahwa saya lebih pantas menjadi Tuhan ketimbang Tuhan yang saya yakini sekarang. Tulisan-tulisan semakin banyak saya lantunkan untuk mengobati depresi dan kecemasan ini, itulah yang disarankan teman-teman saya untuk membantu saya menanggulangi rasa depresi ini.

Hari kian hari terasa memburuk, namun dengan meningkatkan sholat, setidaknya Tuhan masih memberikan belas kasihannya dengan memberikan keikhlasan dan kesabaran. Ayat al-Qur’an yang dipelajari dan dilantunkan tak membuatku untuk menahan diri untuk tidak membantingnya. Yah, benar jika memang Tuhan itu baik namun mengapa dia memberikan ketidak jelasan pada saya.
Dalam hikayat ini, kegelisahan ini mengantarkan saya berhubungan dengan buku filsafat, tasawuf dan sebagainya. Yang awalnya untuk mengobati diri dari depresi sekarang menjadi topik kajian untuk lari dari masalah. Iya, saya memang laki-laki yang gagal. Bukan hanya tidak bisa menepati janji maupun tidak mampu membahagiakan orang yang mencintai saya, seperti orang tua dan yang lainya. Maupun terhadap negara ini yang saya sebenarnya tak pantas untuk menyandang kata “Mahasiswa”,


Mana aku tahu obatnya. Sakit ini Tuhanlah yang berkehendak, segala pengobatan jiwa ini saya lakukan. Namun konsistensi dari hati lagi-lagi berbicara. Iyah, inilah seri lemah, seri yang menceritakan bahwa saya mencoba mengobati kegelisahan saya dengan belajar dan menulis untuk menafikkan kebenaran bahwa saya memang orang yang gagal. Tapi apa salahnya?

Selasa, 24 November 2015

Hiduplah untuk Dirimu

Seperti Patrick yang Bersikap Apa Adanya


Seiring dengan berjalannya waktu, kepedihan mulai menyayat hati ini. Iyah, perbuatan baikku tak kunjung menampakan muka, melalui takdir yang bisa di terima. Inilah bentuk ketidak ikhlasan hati yang telah bercucuran darah, karena kekecewaan terhadap takdir ini. Namun ? Apakah sejatinya ada takdir yang baik, maupun ada takdir yang buruk. Aku sering berfikir bagaimana cara memberikan kontribusi ke orang lain, itu karena berkontribusi katanya sih baik.

Hari ini saya bertemu dengan Bang Tarjo, tapi kalo namanya di Facebook sih Senartogok, dan aku masih belum memahami kenapa namanya Senartogok, disebut sebagai Bang Tarjo. Dia mengajarkan pokok-pokok ajaran Niezchte(Mungkin aku salah menuliskan seorang filsuf yang berasal dari Jerman ini), sebenernya pada waktu siang aku belajar pemikiran ini dari Romo Sandi, namun apa hasil dari yang dia katakan? Aku sebenernya masih belum menemukan manfaatnya, namun mungkin si Nietchze ini juga menjadi gila karena dia tidak memperoleh manfaat dari apa yang dia tulis. Lalu kenapa banyak orang mengatakan "bagus" tulisan Nietczhe sang Pembunuh Tuhan ini menarik padahal dia sendiri gila. Ha ha ha

Kisah ini dilanjutkan dengan aku yang membaca tulisan di Twitter yang ditulis oleh Bapak Kiyai Muhaji Fikriono, yang tulisannya tentang Al-Hikam untuk semua

“Hidup itu tentang diri sendiri, jujur jujur jujur ”

Terus tiba tiba Pak Kiyai mengirim WA, yang isinya supaya aku melamar cewek yang aku suka. Kalau tidak aku akan menyesal. Selang berapa hari aku malah melamar ke rumah bapaknya. Iyah, jelas ditolaklah lah ya. Namun perasaan ku semakin membaik semenjak lamaran itu. Walau ditolak, se engganya perasaan saya lega karena terungkapkan. Namun, ada yang menarik dari perjalanan ini.  Setiap orang berfikir tentang kebahagiaan, iya apa lagi kalau bukan harta ,  tahta, wanita. Mungkin itu benar, tapi kalau itu benar maka aku orang yang dikategorikan sebagai orang yang tidak bahagia, ha ha ha.

Kajian tentang takdir, cinta, bahkan hingga cinta kepada takdir di kontemplasikan selama 3 minggu terakhir ini. Mencoba menghibur diri akan jiwa yang telah berluluran darah akibat keinginan yang tidak sesuai dengan kenyataan. Curhatan dengan Pak Kiyai pun terjadi hingga kita beliau menyaraknkan untuk membaca “La haula wala kuwata ilabilah, Hazbunallah ni’mal wakil, maupun shalawat.”, menolong sih. Benar benar menoling untuk ini. Namun karena kesadaran yang diberikan oleh Karl Marx, membuatku terus melogiskan kehidupan yang tak logis ini dengan asumsi “Memakai Tuhan sebagai Opium” , Sejujurnya, itupun benar, menurut konteks yang disampaikan filsuf komunis dari Rusia tersebut.

Munculnya kegelisahan ini membuatku terus belajar, hingga aku harus mengkaji lagi apa yang dikatakan Jalaludin Rumi, Imam Ghozali, Ibnu Athailah dan para sufi lainnya. Hingga Bang Tarjo menampakan ilmu “Manunggaling Kawula Gusti” milikknya, iyah pemikiran dari Bang Tarjo ini benar-benar membuka pemikiran saya tentang MKG yang ingin disampaikan oleh Syech Siti Jenar, maksudnya “Seolah dunia ini merupakan dialektika Tuhan”. Tapi memang itu sepertinya hakikatnya. Tuhan seperti ingin berkata padaku bahwa “Tiada daya upaya atau pun pertolongan selain dariku.” Kalimat yang nampak ateis sering ia lontarkan, tapi siapa tahu kalo dia punya kesadaran hingga sampai pada MKG.

Siangnya aku ketemu si Haris, tiba tiba dia menyampaikan, “Kehidupan ini sebenernya telanjang, namun kita memperkosanya, sehingga dia menampakannya dengan pakainnya.” , Kalimat ini benar-benar dalam(menurutku saja sih). Habis, setelah aku belajar Heiddegerian yang disampaikan oleh para Kawula Tiben, aku mulai menyadari bahwa keterlemberan dunia yang menampakan dirinya itu mulai terlihat terkontaminasi oleh beragam kepentingan. Itu sih yang aku tangkap dari yang aku baca dari kehidupan yang penuh retorika ini.

Siapa yang tahu? Hanya Tuhan saja yang tahu apa yang paling sejati. Aku pun cuma manusia yang terlempar kedunia dalam keadaan bodoh. Tapi, sebenernya memang hidup ini memang tentang diri sendiri sih, jadi aku hanya bisa sejujur-jujurnya saja. Entah lah 


Minggu, 15 November 2015

Aforisme Cinta


Cinta
Cinta


Abstrak, sebuah kontemplasi tentang cinta yang bersumber dari kontemplasi para filsuf dan sufi. Pada tulisan ini penulis ingin mengaforismekan tentang konsep cinta. Cinta merupakan fenomena yang cukup menarik untuk dibahas dalam kehidupan ini.

Dasar Teori Cinta, cerita ini dimulai dengan konsepan yang diajukan oleh Achmad Chodim bahwa cinta merupakan sebuah maqom (derajat spiritualitas yang tertinggi). Achmad Chodim menjelaskan bahwa manusia sebelum mencapai derajat (maqam) cinta, orang harus mengalami jenjang spiritual yaitu :

  1. Taubat, makna dari taubat sendiri dijelaskan oleh Ahmad Chodim sebagai meninggalkan sesuatu yang patut untuk di tinggalkan.
  2. Sabar, sabar merupakan memiliki makna menahan, maksudnya menahan diri untuk tetap berada di tempat yang ingin di tempati.
  3. Ridlo, ridlo memiliki makna bahwa kita tidak memiliki hasrat untuk menolak dan menerima.
  4. Ikhlas, memiliki makna bahwa kita selalu siap dengan konsekuensi yang terjadi.
  5. Cinta, ini memberikan makna bahwa kita akan selalu bergairah dengan apa pun yang akan terjadi.

Itulah konsepan tentang perjalanan menuju cinta, dimana untuk menjadi cinta seseorang memang harus melewati beberapa jenjang spiritual.

Kalo menurut Jalaludin Rumi, dalam Kitab Matsnawi, beliau menerangkan bahwa "Cinta merupakan bentuk ke-Fana-an diri atas wujud sang pencinta ”, maksudnya diri seorang pecinta hanyalah citra dari yang dicintai. Penjelasan tentang ini adalah bahwa, tajali dari sang dicinta, tercermin dalam diri sang pecinta. Jadi seolah olah, pecinta itu seperti sebuah cermin dan yang dicinta adalah bentuk yang di muncul dalam cermin tersebut. Kalau makna secara menterengnya adalah yang “dicinta” adalah substansi, sedangkan yang “ mencinta” adalah sebuah aksidensi. Namun dalam kitab yang lain “Fihi ma Fihi”, Jalaludin Rumi juga menjelaskan bahwa kita bisa mengetahui diri kita mencintai atau tidak, dengan adanya kegelisahan terhadap sesuatu, maka Jalaludin Rumi mengatakan bahwa tidak ada yang paling membahagiakan ketimbang menemui apa yang kita cintai.

Bang Dennis dan Bang Choirul yang menginspirasi saya untuk membuat tulisan ini menyatakan bahwa, menurut Bang Dennis, “Kita tidak bisa disebut mencintai sesuatu, sebelum kita bisa hidup tanpanya.” Ataupun kata Bang Choirul, “Tanpa yang dicinta aku mati, dan dengan yang dicinta akupu mati.”

Kajian, Bambang Mulyono pernah menyatakan bahwa “Cinta adalah Kejujuran”, dalam pemaknaan Bambang Mulyono ini menjelaskan ada satu hal yang penting yaitu kejujuran. Kejujuran sering dianggap sepele buat kita. Namun dengan satu sifat itu kita bahkan mampu untuk menembus kesadaran hakikat. Karena hakikat, merupakan kebenaran yang tertinggi dan tidak ada kebenaran yang melebihi kebenaran itu, dan jika ada kebenaran yang melebihi hakikat maka itu bukan sesuatu hakikat. Kejujuran, diperlukan untuk menunjukan kebenaran secara sejati (hakikat), kalo menurut Heddegerian yang menyatakan bahwa kebenaran sejati akan muncul ketika kita membiarkan dirinya menampakan dirinya sendiri melalui dirinya. Yang hal ini tidak bisa terjadi tanpa kita membuang intensi yang ada dalam diri kita(membuang berhala dalam diri kita), itu sudah saya paparkan pada artikel tentang membaca tanpa intensi. Dengan begitu kita mampu untuk menampakan kebenaran yang sejati melalui kejujuran.

Dalam kajian yang telas sampaikan diatas, cinta merupakan metode untuk mencapai kebenaran yang sejati. Namun, bagaimana kebanyakan orang menamai cinta? Benarkah cinta merupakan pengorbanan? Kita akan bahas lebih lanjut.

Dalam kajian Achmad Kodim diatas yang menjelaskan bahwa yang namanya cinta merupakan jenjang spiritual yang bisa dicapai melalui suluk (perjalanan spiritual), maka syarat yang mesti di capai sebelum mencapai cinta adalah ikhlas, dan sebelum ikhlas kita harus melewati tobat, sabar, maupun ridlo. Jika makna ikhlas adalah menyucikan diri, maka cinta adalah kesucian itu sendiri. Maksudnya cinta adalah derajat yang tersuci dalam perjalanan spiritual. Tapi bagaimanakah cinta yang kita pahami. Cinta yang  kita pahami sebagian besar tercampur adukkan oleh adanya pengada, sehingga muncullah beragam berhala, padahal cinta itu suci, namun  berhala akan menodai secara total cinta itu sendiri. Kenapa ?, saat kita meletakan intensi terhadap sesuatu maka itu disebut tidak ikhlas, karena keikhlasan membutuhkan kesucian, dan kesucian melampaui kekosongan hasrat. Intensi akan menunjukan kita pada berhala. Itulah yang mengapa cinta itu harus melewati puasa yang hakiki, maksudnya jiwa harus terlebih dahulu dari keinginan atau intensi.

Cinta adalah pengorbanan, benarkah? Pendapat itu sering muncul dari kalangan orang, namun cinta sendiri adalah alat yang menciptakan kegairahan seperti yang dijelasakan di atas. Dengan cinta debu akan menjadi emas, dan emas akan menjadi debu, atau pada taraf konteks yang sederhana, "Dalam cinta debu dan emas akan terlihat sama". Keduanya adalah sesuatu yang manunggal, kemanunggalann itu terjadi karena kegairahannya terhadap sesuatu akan meniadakan “Ada akibat pengada” yang lain. Jadi masihkah kita berfikir bahwa cinta itu pengorbanan, padahal cinta itu yang memberikan kita kegairahan?


Mengenai pendapat bang Dennis dan Bang Choirul yang telah saya tuliskan di atas, dalam tulisan tersebut makna dari apa yang dituliskan bang Choirul dan bang Dennis terlihat bertentangan namun coba kita telaah lagi, komentar bang Dennis yang menyatakan “Seseorang belum dikatakan mencinta sebelum orang tersebut bisa hidup tanpa dirinya.” Merupakan sesuatu yang sama dengan komentar bang Chairul yang menyatakan. “Tanpa yang dicinta aku mati, dengannya aku mati.”, hidup dan mati yang dijelaskan diatas hanyalah sebuah metafor dari kegairahan, maksunya hidup yang dijelaskan oleh bang Dennis adalah kegairahan yang hidup, sedangkan mati yang dijelaskan oleh bang Choirul, adalah kegairahan yang dingin, maksudnya fana’nya dirinya karena pecinta, makna sederehanaanya adalah, “Di sini hanya ada kegairahan saya. Saya telah melebur dalam kegairahan.”, itulah makna dari Cinta yang hidup maupun mati, keduanya hanya ingin menjelaskan bahwa cinta adalah sesuatu yang melahirkan kegairahan, yang membuat diri saya hidup, bermakna hidup saya bergairah, dan membuat saya mati, karena melebur dalam kegairahan.

Kesimpulan :

"Cintailah karena itu ada"

Sabtu, 14 November 2015

Satunya Rukun Iman

Mountain View
Rukun Iman


Abstract

Dalam ajaran fikih kita sering mendengar istilah rukun iman dan rukun islam. Dalam rukun Iman ada 6 yang patut kita imani, yaitu iman kepada Allah, iman kepada Malaikat, iman kepada Al-Quran, iman kepada Rosul, iman kepada hari akhir, serta iman kepada qodlo dan qodal. Namun dalam tulisan saya kali ini saya akan menjalaskan tentang konsep kemanunggalan nilai keimanan yang telah kita pahami. 

Dasar Teori

Dalam konteks yang akan kita bahas pada tulisan ini, kita akan lebih memahami apa yang akan kita tulis dengan kita memahami konteks Substansi dan Aksiden.
  • Substansi
Dalam KBBI, substansi berarti  1 watak yang sebenarnya dari sesuatu; isi; pokok; inti; 2 unsur; zat: pembakaran terjadi sebagai hasil persenyawaan sebuah -- dengan oksigen; dalam konferensi akan dihimpun -- masalah yang akan kita bicarakan dalam pertemuan tingkat tinggi mendatang; 3 kekayaan; harta: pikiran itu merupakan -- yang tidak kelihatan4 Ling medium yang dipakai untuk mengungkapkan bahasa
  • Insiden
insiden/in·si·den/ /insidén/ n peristiwa (khususnya yang kurang penting dalam hubungannya dengan peristiwa lainnya yang lebih besar); kejadian

Substansi maupun insiden merupakan hal yang penting untuk bisa menelahah tulisan yang akan kita bahas dalam tulisan ini.

  • Eksistensi

Menurut Heiddeger, konsep tentang "pengada" dan "ada", akan sangat membantu menjelaskan apa yang akan saya tulis kali ini. Kalo menurut Bang Choirul, yang disebut "Ada", adalah dia yang menampakan dirinya melalui dirinya sendiri. Maksudnya adanya dia merupakan dia yang muncul dari dirinya bukan karena kebergantungan akan sesuatu yang lain. Untuk bisa memahami lebih tentang wujud yang dijelaskan dalam pengajian Kitab Tijan ad Darrori karya Syaih Bajuri yang pernah saya ikuti. Wujud dibagi menjadi 3 yaitu :
1.     Wujud Idlofi, yaitu wujudnya sesuatu bersandar kepada yang lain, seperti adanya malam karena adanya siang.
2.     Wujud ‘Aridli, yaitu adanya sesuatu didahului dengan tidak ada, seperti wujudnya alam semesta.
3.     Wujud Dzati/Wujud Haqiqi, ialah wujudnya sesuatu tidak bersandar kepada yang lain dan tidak didahului dengan tidak ada, yakni wujudnya Allah SWT.

dari konsep eksistensi yang telah saya tulisakan di atas, yang dimaksudkan sebagai "Ada" adalah apa yang telah dijelaskan pada point yang ketiga. Sedangkan point yang 1 dan 2 adalah point yang menunjukan "ada" sebagai kebergantungan pada "pengada".

Isi 

Saat kita menelaah tentang rukun iman yang dipaparkan oleh Nabi Muhammad SAW saat perjumpaan dengan malaikat Jibril, yang dikenal sebagai hadist jibril. Ada rukun 6 rukun iman yang telah kita ketahui. Namun 5 rukun iman yang terakhir. Bukanlah sesuatu yang ada maksudnya adanya rukun 5 terakhir karena bergantungnya nya rukun iman tersebut pada rukun islam pertama. 

Kesimpulan

Adanya Malaikat, adanya Al-Qur'an, Nabi, Takdir, maupun Surga Neraka, merupakan aksiden dari sifat iradhat(berkehandak) dari Allah. Jadi Tuhanilah yang "Ada". Jadikanlah iman kepada rukun iman 5 yang terakhir sebagai tajali(representasi) pada rukun iman yang pertama.


Selasa, 10 November 2015

Dialektika Tuhan

Fungsi Bessel

Masih berfikir bahwa Tuhan itu milik orang arab lantaran kitab al-Qur’an yang tekstual ditulis dalam bahasa Arab. Tunggu dulu, kalau di al-Quran sendiri dijelaskan bahwa bahasa arab dibuat agar al-Qur’an lebih mudah dipahami.

Kalau menurut filsuf Jerman, Heiddeger, manusia ada di dunia karena adanya keterlemparan, lah dalam keterlemparan tersebut manusia mengalami banyak kegelisahaan karena banyak nya “Chaos” di dunia ini. Tuhan menuntun kita untuk bisa memahami “Harmony” dalam “Chaos” tersebut. Itulah dugaan saya, yang melatar belakangi Nabi Muhammad untuk ber-Uzlah di gua Hira, tujuannya adalah mencari “Harmony” kehidupan dalam “Chaos” dalam kehidupan orang arab waktu dahulu. Dengan turunnya wahyu yang secara berangsur banyak hukum suci yang ditegakkan yang disebut sebagai syariah waktu itu. Tujuannya adalah untuk mencapai “Harmony of Live”, namun yang menarik dari kejadian itu adalah wahyu yang turun kepada Rosululoh SAW, membuat saya berargument bahwa sebenarnya Tuhan tidak berdialektika dengan Rosululoh dalam Bahasa Arab, namun dalam bahasa Matematika.

Dalam kehidupan ini banyak sekali yang tidak teratur, hal ini mengikuti hukum ketidak teraturan, namun matematika mencoba menemukan pola-pola dari ketidak teraturan tersebut. Hal ini menunjukan bahwa ada yang selalu tetap, kalau boleh saya sebutkan itu disebut sebagai Roh Ketuhanan, jadi sebenernya Tuhan memang ada dan dia memang tersebunyi, dengan menggunkan Matematika kita akan bisa mendengar bagaimana Tuhan ingin berbicara.


Bahasa Matematika, iyah, itu terdengar aneh ditelinga karena mungkin kita berfikir bahwa Matematika itu ilmu IPA ataupun Sains, namun kali ini saya akan menampilkan bahwa  Matematika adalah sebuah bahasa, bahasa untuk menyampaikan kejadian alam sekitar kita. Benar sekali jika Tuhan berbicara dalam bahasa matematika, maka Tuhan pastilah bukan monopoli orang Arab. Dia ingin berbicara dengan kita melalui dialektikanya, seperti contoh : “Kita berdosa maka kita masuk neraka.”, itu adalah konsep matematika yang disebut sebagai implikasi. Atau benda yang dilemparkan ke atas akan kembali jatuh ke bawah , itu juga merupakan  bahasa Matematika, jadi Matematika adalah bahasa yang bisa membuat kita berkomunikasi dengan Tuhan.

Nabi Ibrohim dalam Jiwa

Buku cerita Nabi Ibrohim

Sewaktu kita masih SD kita sering mendengar cerita tentang Nabi Ibrohim. Dalam cerita tersebut dikisahkan bahwa Nabi Ibrohim menghancurkan beragam berhala hingga dia menemukan Tuhan yang sejati. Namun, tulisan saya kali ini akan menceritakan Nabi Ibrohim dalam jiwa kita sendiri.
Dalam jiwa kita banyak sekali berhala-berhala yang sebeneranya perlu untuk dilawan. Lah, ke inginan untuk melawa itulah yang saya namai sebagai mental Ibroh (berarti kebijaksanaan dalam arab, ini mirip dengan nama Nabi Ibrohim), Ibroh dalam diri manusia akan selalu menyarankan kita untuk mencapai kebenaran yang sejati(atau dalam bahasa Tassawuf disebut sebagai Hakikat). Ibroh sendiri bermula dari kegelisaan yang dirasakan oleh diri kita, seperti pertanyaan “Benarkah patung itu sebuah Tuhan” , hanya Ibroh akan selalu mengarahkan kita untuk mencari kebenaran yang sejati. Itu semacam hasrat, namun bukan hasrat yang timbul dari keinginan untuk bahagia (dalam filsuf Jerman), namun hasrat untuk menjadi dirinya sendiri yang pernah “Eksisten”, kalau dalam bahasa sufi dikenal sebagai kembali kepada Hakikat.

Ibroh akan selalu berusaha menghancurkan berhala-berhala dalam jiwa kita layaknya Nabi Ibrohim yang mencoba untuk menghancurkan berhala-berhala buatan ayahnya. Namun yang di hadapi Ibroh lebih berat, karena Ibroh akan mencoba menghancurkan berhala dalam diri manusia yang notabennya mengantarkan manusia pada kesenangan. (Seperti halnya uang, cewek cantik yang montok, atau sifat iri dengki dan lainnya). Dalam konteks ini Ibroh membutuhkan dukungan berupa kesucian jiwa, atau jiwa yang terkendalikan untuk bisa menyeleksi mana berhala dan mana bukan berhala. Kalau kata Jalaludin Rumi dalam kita Fihi ma Fihi, manusia pada dasar nya memiliki berhala dalam diri manusia berupa sifat iri, pamer, riya, ataupun rakus akan harta, kekuasaan, atau istri yang cantik. Ibroh manusia selalu gelisah (atau merasakan Arngs dalam bahasa Jerman) hingga Ibroh itu menemukan jawaban dari apa yang digelisahkan oleh dirinya yaitu sesuatu yang substantif. Namun Ibroh bisa tersesat, maka dari itu cara menyucikan jiwa yang paling baik adalah “Biarkan dirinya sendiri menampakan dirinya melalui dirinya sendiri.”


Kesimpulan :


Berikanlah kekuatan pada Nabi Ibrohim dalam jiwamu dengan menjaga nafs-mu dengan mem-“Biarkan dirinya sendiri menampakan dirinya melalui dirinya sendiri.

Fati

Pesan Pak Kiai

Gambar diatas adalah larangan pak kiyai untuk membahas takdir, mungkin bahasa jelasnya adalah menahan diri untuk tidak membahas takdir. Namun kali ini saya akan membahas WA pak kiayi tersebut dalam konteks Filsafat Jerman maupun konsep dalam ranah tassawuf.

Seperti yang sudah saya tuliskan dalam artikel sebelumnya tentang tulisan Jalaludin Rumi dalam kitab Fihi ma Fihi. Dalam tulisan Jalaludin Rumi tersebut, beliau menuliskan bahwa yang namanya tempat terbaik itu adalah  “Kalau kita di Persia maka tempat terbaik adalah Persia, kalau kita di dalam sumur maka tempat terbaik adalah di dalam sumur. Kalau di surga maka tempat terbaik adah surga, kalau kita di neraka maka tempat terbaik adalah neraka.”  Statment Jalaludin Rumi ini  cukup beralasan, yah, karena Tuhan pasti menciptakan sesuatu dengan takdir terbaiknya. Namun, hal ini bisa menjadi boomerang ketika kita tidak mampu menafsirkannya dengan matang.

Kalau menurut Heiddeger, hidup kita di dunia adalah sebuah keterlemparan. Dan kita cenderung mengatakan adaa tentang sesuatu yang muncul akibat dari kecemasan. Jadi “Ada” dalam definisi kita tentang sesuatu merupakan hasil dari adanya pengada dalam diri kita. Jadi belum tentu apa yang kita lihat sebagai kebenaran merupakan sebuah kebenaran yang sejati yang muncul karena dirinya, lah inilah yang melatar belakangi saya untuk menganjurkan kepada anda bahwa “Jadilah manusia pemula”, itu kata Heiddeger. Maksudnya adalah biarkan kebenaran yang kita assumsikan itu menampakan dirinya melalui dirinya sendiri, alias kita mengamati sebuah fenomena dengan hati yang suci (mengamati tanpa intensi).

Dua penjelasan oleh ahli di atas akan mengantarkan kita untuk, “Bagaimana cara kita menyikapi takdir dengan metode filsafat Jerman atau metode Kesufian.”

Kita sering meletakkan intensi saat kita beraktifitisan, namun sebenarnya hal itu bisa merusak pandangan kita tentang indahnya dunia. Maksudnya adalah untuk bisa mencapai pemahaman seni kehidupan, sebaiknya kita melihat sesuatu tanpa intensi, maksudnya biarkan dirinya menampakan dirinya sendiri melalui dirinya. Dengan itu maka kehidupan akan terasa dingin karena kita melihatnya tanpa intensi. Namun kedinginan kehidupan itu akan membuat kita bergairah. “Dingin dan bergairah”  itulah seni. Dengan menyikapi kehidupan dengan dingin dan bergairah akan membuat kehidupan kita menjadi lebih berseni, bukan hanya seorang penyembah berhala. “Berhala ” yang saya maksudkan adalah mencoba menyikapi kehidupan dengan intensi. Intensi kita terhadap uang, akan menjadikan uang sebagai Berhala kita, intensi kita terhadap cewek cantik yang montok akan memjadikan cewek cantik yang montok itu sebagai berhala kita. “Bagaimana sebuah berhala bisa membuat kita menjadi bahagia dalam seni kehidupan? “, untuk itu hadapilah fenomena di dunia ini tanpa intensi(hasrat). Biarkan dirinya menampakan dirinya sendiri melalui dirinya sendiri.


Kesimpulannya :


Siapapun jodohmu, apapun rejekimu, kapanpun kau mati, akan jadi apa diri kamu. Itaquloh Haesuma kunta. Itulah kata Pak Kiyai, artinya tetap bertakwalah kepada Allah siapapun dimanapun kapanpun kamu berada. Intinya sih hadapi dunia dengan tanpa intensi, sikapi dengan dingin supaya menggairahkan

Senin, 09 November 2015

Membaca Tanpa Intensi

Gelas sedang di isi

Iqro bismirobika ladzi Kholak, bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu Yang Maha Menciptakan. Ini lah wahyu pertama yang di berikan kepada Nabi Muhammad SAW.  Wahyu itu menyuruh Nabi Muhammad untuk membaca, namun apa yang akan dibaca oleh Nabi Muhamad, padahal kita mengetahui bahwa Nabi Muhammad SAW adalah seorang yang buta huruf? Dialektika Tuhan, itulah yang saya perkirakan saat ini.

Kalau kata orang sufi, mereka berargument untuk bisa berdialektika atau berkomunikasi dengan tuhan kita membutuhkan jiwa yang suci. Namun walaupun kesucian yang kita usahakan bukanlah sebuah hal yang bisa kita usahakan, namun sesuatu pemberian Tuhan, karena hakikat kesucian itu sendiri berasal dari dirinya.

Dalam pemahamman Jerman, seperti Heiddeger. Mereka berpendapat bahwa saat kita mencoba memaknai sesuatu kita seharusnya melepaskan intensi kita terhadap objek yang kita amati. Lah itu lah makna yang sering disampaikan oleh para sufi untuk mengatakan bahwa untuk berdialektika dengan Tuhan sebaiknya kita menyucikan diri terlebih dahulu, kalau kata Bapak Muhammad Bachir salah satu ahli filsafat tasawuf dari paramadina menyampaikan, kita seharusnya berpuasa dahulu, makna puasa yang disampaikan oleh bapak Muhammad Baqir tersebut adalah bersikap seperti Tuhan, maksudnya tidak makan tidak minum, notabennya adalah tidak menuruti hawa nafsu. Beliau juga menyampaikan bahwa setiap manusia memiliki tiga macam kelahiran, yang pertama kelahiran secara fisik (fisikal born), yang kedua kelahiran secara psikological (Psikological born), dan yang ketiga adalah kelahiran secara spiritual(spiritual born). Phisycal Born adalah kelahiran manusia secara fisik, maksudnya adalah kelahira kita waktu kita keluar dari rahim seorang ibu. Yang kedua adalah psicological birt, ini adalah kelahiran identitas kita yang muncul dalam masyarakat seperti halnya profesi kita sebagai penulis, dokter, insinyur, guru atau yang lainnya. Yang ketiga adalah kelahiran spiritual, yang dimaksudkan dalam kasus ini sepeti yang dialami oleh Nabi Muhammad  SAW, yaitu kelahiran setelah mengosongkan diri kita dari satus psikologis yang melekat dalam diri kita.

Mengosongkan diri, itulah konsep yang biasanya disampaikan oleh para sufi, seperti yang telah di sampaikan oleh Jalaludin Rumi dalam kitab Fihi ma Fihi, dia berargumen bahwa jiwa kita itu seperti gelas yang terisi air, semakin kita berargumen tentang identitas kita sebagai sesuatu semakin kita tidak mampu menerima kebeneran universal, hal ini menunjukan bahwa untuk sebuah gelas yang terisi air, gelas tersebut harus dikosongkan terlebih dahulu untuk mampu menerima kebenaran dan terisi lagi dengan yang baru. Tanpa pengosongan diri tersebut kita tidak mampu mencapai kebenaran yang universal. Begitu lah yang dimaksudkan dalam kita Fihi ma fihi, hal ini sejalan dengan pendapat yang disampaikan beberapa filsuf Jerman yang berargument bahwa “Biarkan dirinya menampilkan dirinya sendiri dari dirinya. ”. Maksudnya jangan kita menanamkan intensi pada saat kita meng-“Iqro”-kan sesuatu. Kalau menurut Steven Coffee adalah coba mendengar untuk memahami bukan untuk membalas. Itu juga yang disampaikan oleh Heisenberg, dalam ketidak pastian Heisenberg.

Kesimpulan :

Untuk mencapai kebeneran Universal, biarkan dirinya menampakkan dirinya sendiri melalui dirinya sendiri.

Sabtu, 07 November 2015

Makrifat Jerman

Martin Heiddeger

Jerman, iyah, saya tertarik membahas Jerman setelah saya bertemu dengan orang di Sunkuncourt dia seorang filsuf, “Katanya”, karena aku tidak tahu apa itu sebenernya filsuf. Dalam  beberapa kaitan nya dengan para filsuf Jerman seperti Hegel, Heidegger, maupun Niectche. Pandangan mereka menarik, maklum lah filsuf. Namun ada sesuatu yang mencengangkan saya saat Chairul Menjelaskan saya tentang konsep existensi Heiddeger, Waktu, maupun kemewaktuan.

Menariknya, pendapat dari Heiddeger yang menerangkan bahwa adanya sesuatu dalam pemikiran kita belum tentu itu benar-benar ada seperti halnya gelas, apakah itu benar benar gelas, atau kita yang mengasumsisan bahwa itu adalah gelas. Ada yang dijelaskan oleh Heiddeger merupakan hasil keterlemparan, yang membuat kita merasakan Arngs sehingga itu terlihat sebagai sesuatu yang ada. Lalu Choirul menjelaslkan lagi bahwa untuk “membaca” (Mungkin seperti apa yang dikatakan oleh Malaikat Jibril kepada nabi Muhammad SAW, yang notabennya Nabi Muhammad merupakan buta huruf), kita harus “Membiarkan dirinya menampakan dirinya sendiri dari dirinya.”, awalnya aku melihat ini sesuatu yang biasa saja namun setelah merenungkannya berhari hari saya menyadari bahwa saat kita mengamati sesuatu kita sebenernya merubah sesuatu yang kita amati seperti halnya pada hukum ketidak pastian Heisenberg. Lalu mengapa ini menarik sih,  Choirul menjelaskan bahwa kita gelisahkan sebagai ada, belum tentu ada pada arti yang sebenarnya yaitu, hanya ada karena adanya pengada. Maka dari itu hal yang menarik dari dari pembicaraan saya dengan Choirul adalah kalimat yang dia katakan tadi, “Biarkan dirinya menampakan dirinya sendiri melalui dirinya sendiri.”

Tapi bukan hanya pemikiran Heiddeger yang menarik namun juga pemikiran kebanyakan orang Jerman, yang tidak suka dikasihani. Hal ini dijelaskan oleh Bang Tarjo, bahwa nenek-nenek Indonesia ketika mendapat belas kasihan oleh kita maka dia akan senang menerimanya. Namun tidak halnya dengan nenek-nenek di Jerman, dia akan marah jika diberi belas kasihan oleh kita. Mungkin ini lah yang sedikit membangkitkan gairah saya untuk mengaji lagi konsep Manunggaling Kawula Gusti yang dijelaskan oleh Syech Siti Jenar.  

Penjelasannya seperti ini :

Saat kita berfikir sebagai ras keturunan Tuhan (Maksudnya semacam Bramana di Bali), kita akan mencermikan sifat sifat ketuhanan seperti pengasih, penyayang, pemberi rezeki, atau berilmu dan masih banyak lagi yang saya ketahui dalam konsep agama islam sebagai asma’ul husna. Hal ini akan membuat seseroang akan mengambil sikap seperti sikap Tuhan, inilah yang dimaksudkan oleh Syech Siti Jenar yang bersesuaian dengan pemikiran orang-orang Jerman.

Kesimpulan :
Ada hal menarik yang bisa kita simpulkan dari pernyataan Heiddeger yang disampaikan oleh Choirul tersebut.
  •   Apa yang ada belum tentu ada, mungkin hanya kegelisahaan kita yang mengadakan itu sebagai sesuatu yang ada.
  • Biarkan dirinya muncul dari dirinya sendiri, “Makna dari Iqro bismirobika ladzi Kholak.”
  •   Milikilah sifat-sifat seperti sifat Tuhan.