Laman

Sabtu, 07 November 2015

Makrifat Jerman

Martin Heiddeger

Jerman, iyah, saya tertarik membahas Jerman setelah saya bertemu dengan orang di Sunkuncourt dia seorang filsuf, “Katanya”, karena aku tidak tahu apa itu sebenernya filsuf. Dalam  beberapa kaitan nya dengan para filsuf Jerman seperti Hegel, Heidegger, maupun Niectche. Pandangan mereka menarik, maklum lah filsuf. Namun ada sesuatu yang mencengangkan saya saat Chairul Menjelaskan saya tentang konsep existensi Heiddeger, Waktu, maupun kemewaktuan.

Menariknya, pendapat dari Heiddeger yang menerangkan bahwa adanya sesuatu dalam pemikiran kita belum tentu itu benar-benar ada seperti halnya gelas, apakah itu benar benar gelas, atau kita yang mengasumsisan bahwa itu adalah gelas. Ada yang dijelaskan oleh Heiddeger merupakan hasil keterlemparan, yang membuat kita merasakan Arngs sehingga itu terlihat sebagai sesuatu yang ada. Lalu Choirul menjelaslkan lagi bahwa untuk “membaca” (Mungkin seperti apa yang dikatakan oleh Malaikat Jibril kepada nabi Muhammad SAW, yang notabennya Nabi Muhammad merupakan buta huruf), kita harus “Membiarkan dirinya menampakan dirinya sendiri dari dirinya.”, awalnya aku melihat ini sesuatu yang biasa saja namun setelah merenungkannya berhari hari saya menyadari bahwa saat kita mengamati sesuatu kita sebenernya merubah sesuatu yang kita amati seperti halnya pada hukum ketidak pastian Heisenberg. Lalu mengapa ini menarik sih,  Choirul menjelaskan bahwa kita gelisahkan sebagai ada, belum tentu ada pada arti yang sebenarnya yaitu, hanya ada karena adanya pengada. Maka dari itu hal yang menarik dari dari pembicaraan saya dengan Choirul adalah kalimat yang dia katakan tadi, “Biarkan dirinya menampakan dirinya sendiri melalui dirinya sendiri.”

Tapi bukan hanya pemikiran Heiddeger yang menarik namun juga pemikiran kebanyakan orang Jerman, yang tidak suka dikasihani. Hal ini dijelaskan oleh Bang Tarjo, bahwa nenek-nenek Indonesia ketika mendapat belas kasihan oleh kita maka dia akan senang menerimanya. Namun tidak halnya dengan nenek-nenek di Jerman, dia akan marah jika diberi belas kasihan oleh kita. Mungkin ini lah yang sedikit membangkitkan gairah saya untuk mengaji lagi konsep Manunggaling Kawula Gusti yang dijelaskan oleh Syech Siti Jenar.  

Penjelasannya seperti ini :

Saat kita berfikir sebagai ras keturunan Tuhan (Maksudnya semacam Bramana di Bali), kita akan mencermikan sifat sifat ketuhanan seperti pengasih, penyayang, pemberi rezeki, atau berilmu dan masih banyak lagi yang saya ketahui dalam konsep agama islam sebagai asma’ul husna. Hal ini akan membuat seseroang akan mengambil sikap seperti sikap Tuhan, inilah yang dimaksudkan oleh Syech Siti Jenar yang bersesuaian dengan pemikiran orang-orang Jerman.

Kesimpulan :
Ada hal menarik yang bisa kita simpulkan dari pernyataan Heiddeger yang disampaikan oleh Choirul tersebut.
  •   Apa yang ada belum tentu ada, mungkin hanya kegelisahaan kita yang mengadakan itu sebagai sesuatu yang ada.
  • Biarkan dirinya muncul dari dirinya sendiri, “Makna dari Iqro bismirobika ladzi Kholak.”
  •   Milikilah sifat-sifat seperti sifat Tuhan.