![]() |
| Martin Heiddeger |
Jerman, iyah, saya tertarik membahas Jerman setelah saya
bertemu dengan orang di Sunkuncourt dia seorang filsuf, “Katanya”, karena aku
tidak tahu apa itu sebenernya filsuf. Dalam beberapa kaitan nya dengan para filsuf Jerman
seperti Hegel, Heidegger, maupun Niectche. Pandangan mereka menarik, maklum lah
filsuf. Namun ada sesuatu yang mencengangkan saya saat Chairul Menjelaskan saya
tentang konsep existensi Heiddeger, Waktu, maupun kemewaktuan.
Menariknya, pendapat dari Heiddeger yang menerangkan bahwa adanya
sesuatu dalam pemikiran kita belum tentu itu benar-benar ada seperti halnya
gelas, apakah itu benar benar gelas, atau kita yang mengasumsisan bahwa itu
adalah gelas. Ada yang dijelaskan oleh Heiddeger merupakan hasil keterlemparan,
yang membuat kita merasakan Arngs sehingga itu terlihat sebagai sesuatu yang
ada. Lalu Choirul menjelaslkan lagi bahwa untuk “membaca” (Mungkin seperti apa
yang dikatakan oleh Malaikat Jibril kepada nabi Muhammad SAW, yang notabennya
Nabi Muhammad merupakan buta huruf), kita harus “Membiarkan dirinya menampakan
dirinya sendiri dari dirinya.”, awalnya aku melihat ini sesuatu yang biasa saja
namun setelah merenungkannya berhari hari saya menyadari bahwa saat kita
mengamati sesuatu kita sebenernya merubah sesuatu yang kita amati seperti
halnya pada hukum ketidak pastian Heisenberg. Lalu mengapa ini menarik
sih, Choirul menjelaskan bahwa kita
gelisahkan sebagai ada, belum tentu ada pada arti yang sebenarnya yaitu, hanya
ada karena adanya pengada. Maka dari itu hal yang menarik dari dari pembicaraan
saya dengan Choirul adalah kalimat yang dia katakan tadi, “Biarkan dirinya
menampakan dirinya sendiri melalui dirinya sendiri.”
Tapi bukan hanya pemikiran Heiddeger yang menarik namun juga
pemikiran kebanyakan orang Jerman, yang tidak suka dikasihani. Hal ini
dijelaskan oleh Bang Tarjo, bahwa nenek-nenek Indonesia ketika mendapat belas
kasihan oleh kita maka dia akan senang menerimanya. Namun tidak halnya dengan
nenek-nenek di Jerman, dia akan marah jika diberi belas kasihan oleh kita.
Mungkin ini lah yang sedikit membangkitkan gairah saya untuk mengaji lagi
konsep Manunggaling Kawula Gusti yang dijelaskan oleh Syech Siti Jenar.
Penjelasannya seperti ini :
Saat kita berfikir sebagai ras keturunan Tuhan (Maksudnya
semacam Bramana di Bali), kita akan mencermikan sifat sifat ketuhanan seperti
pengasih, penyayang, pemberi rezeki, atau berilmu dan masih banyak lagi yang
saya ketahui dalam konsep agama islam sebagai asma’ul husna. Hal ini akan
membuat seseroang akan mengambil sikap seperti sikap Tuhan, inilah yang
dimaksudkan oleh Syech Siti Jenar yang bersesuaian dengan pemikiran orang-orang
Jerman.
Kesimpulan :
Ada hal menarik yang bisa kita simpulkan dari pernyataan
Heiddeger yang disampaikan oleh Choirul tersebut.
- Apa yang ada belum tentu ada, mungkin hanya kegelisahaan kita yang mengadakan itu sebagai sesuatu yang ada.
- Biarkan dirinya muncul dari dirinya sendiri, “Makna dari Iqro bismirobika ladzi Kholak.”
- Milikilah sifat-sifat seperti sifat Tuhan.
