Laman

Selasa, 24 November 2015

Hiduplah untuk Dirimu

Seperti Patrick yang Bersikap Apa Adanya


Seiring dengan berjalannya waktu, kepedihan mulai menyayat hati ini. Iyah, perbuatan baikku tak kunjung menampakan muka, melalui takdir yang bisa di terima. Inilah bentuk ketidak ikhlasan hati yang telah bercucuran darah, karena kekecewaan terhadap takdir ini. Namun ? Apakah sejatinya ada takdir yang baik, maupun ada takdir yang buruk. Aku sering berfikir bagaimana cara memberikan kontribusi ke orang lain, itu karena berkontribusi katanya sih baik.

Hari ini saya bertemu dengan Bang Tarjo, tapi kalo namanya di Facebook sih Senartogok, dan aku masih belum memahami kenapa namanya Senartogok, disebut sebagai Bang Tarjo. Dia mengajarkan pokok-pokok ajaran Niezchte(Mungkin aku salah menuliskan seorang filsuf yang berasal dari Jerman ini), sebenernya pada waktu siang aku belajar pemikiran ini dari Romo Sandi, namun apa hasil dari yang dia katakan? Aku sebenernya masih belum menemukan manfaatnya, namun mungkin si Nietchze ini juga menjadi gila karena dia tidak memperoleh manfaat dari apa yang dia tulis. Lalu kenapa banyak orang mengatakan "bagus" tulisan Nietczhe sang Pembunuh Tuhan ini menarik padahal dia sendiri gila. Ha ha ha

Kisah ini dilanjutkan dengan aku yang membaca tulisan di Twitter yang ditulis oleh Bapak Kiyai Muhaji Fikriono, yang tulisannya tentang Al-Hikam untuk semua

“Hidup itu tentang diri sendiri, jujur jujur jujur ”

Terus tiba tiba Pak Kiyai mengirim WA, yang isinya supaya aku melamar cewek yang aku suka. Kalau tidak aku akan menyesal. Selang berapa hari aku malah melamar ke rumah bapaknya. Iyah, jelas ditolaklah lah ya. Namun perasaan ku semakin membaik semenjak lamaran itu. Walau ditolak, se engganya perasaan saya lega karena terungkapkan. Namun, ada yang menarik dari perjalanan ini.  Setiap orang berfikir tentang kebahagiaan, iya apa lagi kalau bukan harta ,  tahta, wanita. Mungkin itu benar, tapi kalau itu benar maka aku orang yang dikategorikan sebagai orang yang tidak bahagia, ha ha ha.

Kajian tentang takdir, cinta, bahkan hingga cinta kepada takdir di kontemplasikan selama 3 minggu terakhir ini. Mencoba menghibur diri akan jiwa yang telah berluluran darah akibat keinginan yang tidak sesuai dengan kenyataan. Curhatan dengan Pak Kiyai pun terjadi hingga kita beliau menyaraknkan untuk membaca “La haula wala kuwata ilabilah, Hazbunallah ni’mal wakil, maupun shalawat.”, menolong sih. Benar benar menoling untuk ini. Namun karena kesadaran yang diberikan oleh Karl Marx, membuatku terus melogiskan kehidupan yang tak logis ini dengan asumsi “Memakai Tuhan sebagai Opium” , Sejujurnya, itupun benar, menurut konteks yang disampaikan filsuf komunis dari Rusia tersebut.

Munculnya kegelisahan ini membuatku terus belajar, hingga aku harus mengkaji lagi apa yang dikatakan Jalaludin Rumi, Imam Ghozali, Ibnu Athailah dan para sufi lainnya. Hingga Bang Tarjo menampakan ilmu “Manunggaling Kawula Gusti” milikknya, iyah pemikiran dari Bang Tarjo ini benar-benar membuka pemikiran saya tentang MKG yang ingin disampaikan oleh Syech Siti Jenar, maksudnya “Seolah dunia ini merupakan dialektika Tuhan”. Tapi memang itu sepertinya hakikatnya. Tuhan seperti ingin berkata padaku bahwa “Tiada daya upaya atau pun pertolongan selain dariku.” Kalimat yang nampak ateis sering ia lontarkan, tapi siapa tahu kalo dia punya kesadaran hingga sampai pada MKG.

Siangnya aku ketemu si Haris, tiba tiba dia menyampaikan, “Kehidupan ini sebenernya telanjang, namun kita memperkosanya, sehingga dia menampakannya dengan pakainnya.” , Kalimat ini benar-benar dalam(menurutku saja sih). Habis, setelah aku belajar Heiddegerian yang disampaikan oleh para Kawula Tiben, aku mulai menyadari bahwa keterlemberan dunia yang menampakan dirinya itu mulai terlihat terkontaminasi oleh beragam kepentingan. Itu sih yang aku tangkap dari yang aku baca dari kehidupan yang penuh retorika ini.

Siapa yang tahu? Hanya Tuhan saja yang tahu apa yang paling sejati. Aku pun cuma manusia yang terlempar kedunia dalam keadaan bodoh. Tapi, sebenernya memang hidup ini memang tentang diri sendiri sih, jadi aku hanya bisa sejujur-jujurnya saja. Entah lah