![]() |
| Seperti Patrick yang Bersikap Apa Adanya |
Seiring dengan berjalannya waktu, kepedihan mulai menyayat hati ini. Iyah, perbuatan baikku tak kunjung menampakan muka, melalui takdir yang bisa di terima. Inilah bentuk ketidak ikhlasan hati yang telah bercucuran darah, karena kekecewaan terhadap takdir ini. Namun ? Apakah sejatinya ada takdir yang baik, maupun ada takdir yang buruk. Aku sering berfikir bagaimana cara memberikan kontribusi ke orang lain, itu karena berkontribusi katanya sih baik.
Hari ini saya bertemu dengan Bang
Tarjo, tapi kalo namanya di Facebook sih Senartogok, dan aku masih belum
memahami kenapa namanya Senartogok, disebut sebagai Bang Tarjo. Dia mengajarkan
pokok-pokok ajaran Niezchte(Mungkin aku salah menuliskan seorang filsuf yang
berasal dari Jerman ini), sebenernya pada waktu siang aku belajar pemikiran ini
dari Romo Sandi, namun apa hasil dari yang dia katakan? Aku sebenernya masih
belum menemukan manfaatnya, namun mungkin si Nietchze ini juga menjadi gila
karena dia tidak memperoleh manfaat dari apa yang dia tulis. Lalu kenapa banyak orang
mengatakan "bagus" tulisan Nietczhe sang Pembunuh Tuhan ini menarik padahal dia sendiri
gila. Ha ha ha
Kisah ini dilanjutkan dengan aku
yang membaca tulisan di Twitter yang ditulis oleh Bapak Kiyai Muhaji Fikriono,
yang tulisannya tentang Al-Hikam untuk semua
“Hidup itu tentang diri sendiri, jujur jujur jujur ”
Terus tiba tiba Pak Kiyai
mengirim WA, yang isinya supaya aku melamar cewek yang aku suka. Kalau tidak
aku akan menyesal. Selang berapa hari aku malah melamar ke rumah bapaknya.
Iyah, jelas ditolaklah lah ya. Namun perasaan ku semakin membaik semenjak
lamaran itu. Walau ditolak, se engganya perasaan saya lega karena terungkapkan.
Namun, ada yang menarik dari perjalanan ini.
Setiap orang berfikir tentang kebahagiaan, iya apa lagi kalau bukan
harta , tahta, wanita. Mungkin itu
benar, tapi kalau itu benar maka aku orang yang dikategorikan sebagai orang
yang tidak bahagia, ha ha ha.
Kajian tentang takdir, cinta,
bahkan hingga cinta kepada takdir di kontemplasikan selama 3 minggu terakhir
ini. Mencoba menghibur diri akan jiwa yang telah berluluran darah akibat
keinginan yang tidak sesuai dengan kenyataan. Curhatan dengan Pak Kiyai pun
terjadi hingga kita beliau menyaraknkan untuk membaca “La haula wala kuwata
ilabilah, Hazbunallah ni’mal wakil, maupun shalawat.”, menolong sih. Benar
benar menoling untuk ini. Namun karena kesadaran yang diberikan oleh Karl Marx,
membuatku terus melogiskan kehidupan yang tak logis ini dengan asumsi “Memakai Tuhan sebagai Opium” ,
Sejujurnya, itupun benar, menurut konteks yang disampaikan filsuf komunis dari
Rusia tersebut.
Munculnya kegelisahan ini
membuatku terus belajar, hingga aku harus mengkaji lagi apa yang dikatakan
Jalaludin Rumi, Imam Ghozali, Ibnu Athailah dan para sufi lainnya. Hingga Bang
Tarjo menampakan ilmu “Manunggaling
Kawula Gusti” milikknya, iyah pemikiran dari Bang Tarjo ini benar-benar
membuka pemikiran saya tentang MKG yang ingin disampaikan oleh Syech Siti
Jenar, maksudnya “Seolah dunia ini
merupakan dialektika Tuhan”. Tapi memang itu sepertinya hakikatnya. Tuhan
seperti ingin berkata padaku bahwa “Tiada
daya upaya atau pun pertolongan selain dariku.” Kalimat yang nampak ateis
sering ia lontarkan, tapi siapa tahu kalo dia punya kesadaran hingga sampai
pada MKG.
Siangnya aku ketemu si Haris,
tiba tiba dia menyampaikan, “Kehidupan
ini sebenernya telanjang, namun kita memperkosanya, sehingga dia menampakannya
dengan pakainnya.” , Kalimat ini benar-benar dalam(menurutku saja sih).
Habis, setelah aku belajar Heiddegerian yang disampaikan oleh para Kawula
Tiben, aku mulai menyadari bahwa keterlemberan dunia yang menampakan dirinya
itu mulai terlihat terkontaminasi oleh beragam kepentingan. Itu sih yang aku
tangkap dari yang aku baca dari kehidupan yang penuh retorika ini.
Siapa yang tahu? Hanya Tuhan saja
yang tahu apa yang paling sejati. Aku pun cuma manusia yang terlempar kedunia
dalam keadaan bodoh. Tapi, sebenernya memang hidup ini memang tentang diri
sendiri sih, jadi aku hanya bisa sejujur-jujurnya saja. Entah lah
