![]() |
| Gelas sedang di isi |
Iqro bismirobika ladzi Kholak,
bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu Yang Maha Menciptakan. Ini lah wahyu pertama
yang di berikan kepada Nabi Muhammad SAW.
Wahyu itu menyuruh Nabi Muhammad untuk membaca, namun apa yang akan
dibaca oleh Nabi Muhamad, padahal kita mengetahui bahwa Nabi Muhammad SAW
adalah seorang yang buta huruf? Dialektika Tuhan, itulah yang saya perkirakan
saat ini.
Kalau kata orang sufi, mereka
berargument untuk bisa berdialektika atau berkomunikasi dengan tuhan kita
membutuhkan jiwa yang suci. Namun walaupun kesucian yang kita usahakan bukanlah
sebuah hal yang bisa kita usahakan, namun sesuatu pemberian Tuhan, karena
hakikat kesucian itu sendiri berasal dari dirinya.
Dalam pemahamman Jerman, seperti
Heiddeger. Mereka berpendapat bahwa saat kita mencoba memaknai sesuatu kita
seharusnya melepaskan intensi kita terhadap objek yang kita amati. Lah itu lah
makna yang sering disampaikan oleh para sufi untuk mengatakan bahwa untuk
berdialektika dengan Tuhan sebaiknya kita menyucikan diri terlebih dahulu,
kalau kata Bapak Muhammad Bachir salah satu ahli filsafat tasawuf dari
paramadina menyampaikan, kita seharusnya berpuasa dahulu, makna puasa yang
disampaikan oleh bapak Muhammad Baqir tersebut adalah bersikap seperti Tuhan,
maksudnya tidak makan tidak minum, notabennya adalah tidak menuruti hawa nafsu.
Beliau juga menyampaikan bahwa setiap manusia memiliki tiga macam kelahiran,
yang pertama kelahiran secara fisik (fisikal born), yang kedua kelahiran secara
psikological (Psikological born), dan yang ketiga adalah kelahiran secara spiritual(spiritual
born). Phisycal Born adalah kelahiran manusia secara fisik, maksudnya adalah
kelahira kita waktu kita keluar dari rahim seorang ibu. Yang kedua adalah
psicological birt, ini adalah kelahiran identitas kita yang muncul dalam
masyarakat seperti halnya profesi kita sebagai penulis, dokter, insinyur, guru
atau yang lainnya. Yang ketiga adalah kelahiran spiritual, yang dimaksudkan
dalam kasus ini sepeti yang dialami oleh Nabi Muhammad SAW, yaitu kelahiran setelah mengosongkan
diri kita dari satus psikologis yang melekat dalam diri kita.
Mengosongkan diri, itulah konsep
yang biasanya disampaikan oleh para sufi, seperti yang telah di sampaikan oleh
Jalaludin Rumi dalam kitab Fihi ma Fihi, dia berargumen bahwa jiwa kita itu
seperti gelas yang terisi air, semakin kita berargumen tentang identitas kita
sebagai sesuatu semakin kita tidak mampu menerima kebeneran universal, hal ini
menunjukan bahwa untuk sebuah gelas yang terisi air, gelas tersebut harus
dikosongkan terlebih dahulu untuk mampu menerima kebenaran dan terisi lagi
dengan yang baru. Tanpa pengosongan diri tersebut kita tidak mampu mencapai
kebenaran yang universal. Begitu lah yang dimaksudkan dalam kita Fihi ma fihi,
hal ini sejalan dengan pendapat yang disampaikan beberapa filsuf Jerman yang
berargument bahwa “Biarkan dirinya menampilkan dirinya sendiri dari dirinya. ”.
Maksudnya jangan kita menanamkan intensi pada saat kita meng-“Iqro”-kan
sesuatu. Kalau menurut Steven Coffee adalah coba mendengar untuk memahami bukan
untuk membalas. Itu juga yang disampaikan oleh Heisenberg, dalam ketidak
pastian Heisenberg.
Kesimpulan :
Untuk mencapai kebeneran
Universal, biarkan dirinya menampakkan dirinya sendiri melalui dirinya sendiri.
