Laman

Senin, 09 November 2015

Membaca Tanpa Intensi

Gelas sedang di isi

Iqro bismirobika ladzi Kholak, bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu Yang Maha Menciptakan. Ini lah wahyu pertama yang di berikan kepada Nabi Muhammad SAW.  Wahyu itu menyuruh Nabi Muhammad untuk membaca, namun apa yang akan dibaca oleh Nabi Muhamad, padahal kita mengetahui bahwa Nabi Muhammad SAW adalah seorang yang buta huruf? Dialektika Tuhan, itulah yang saya perkirakan saat ini.

Kalau kata orang sufi, mereka berargument untuk bisa berdialektika atau berkomunikasi dengan tuhan kita membutuhkan jiwa yang suci. Namun walaupun kesucian yang kita usahakan bukanlah sebuah hal yang bisa kita usahakan, namun sesuatu pemberian Tuhan, karena hakikat kesucian itu sendiri berasal dari dirinya.

Dalam pemahamman Jerman, seperti Heiddeger. Mereka berpendapat bahwa saat kita mencoba memaknai sesuatu kita seharusnya melepaskan intensi kita terhadap objek yang kita amati. Lah itu lah makna yang sering disampaikan oleh para sufi untuk mengatakan bahwa untuk berdialektika dengan Tuhan sebaiknya kita menyucikan diri terlebih dahulu, kalau kata Bapak Muhammad Bachir salah satu ahli filsafat tasawuf dari paramadina menyampaikan, kita seharusnya berpuasa dahulu, makna puasa yang disampaikan oleh bapak Muhammad Baqir tersebut adalah bersikap seperti Tuhan, maksudnya tidak makan tidak minum, notabennya adalah tidak menuruti hawa nafsu. Beliau juga menyampaikan bahwa setiap manusia memiliki tiga macam kelahiran, yang pertama kelahiran secara fisik (fisikal born), yang kedua kelahiran secara psikological (Psikological born), dan yang ketiga adalah kelahiran secara spiritual(spiritual born). Phisycal Born adalah kelahiran manusia secara fisik, maksudnya adalah kelahira kita waktu kita keluar dari rahim seorang ibu. Yang kedua adalah psicological birt, ini adalah kelahiran identitas kita yang muncul dalam masyarakat seperti halnya profesi kita sebagai penulis, dokter, insinyur, guru atau yang lainnya. Yang ketiga adalah kelahiran spiritual, yang dimaksudkan dalam kasus ini sepeti yang dialami oleh Nabi Muhammad  SAW, yaitu kelahiran setelah mengosongkan diri kita dari satus psikologis yang melekat dalam diri kita.

Mengosongkan diri, itulah konsep yang biasanya disampaikan oleh para sufi, seperti yang telah di sampaikan oleh Jalaludin Rumi dalam kitab Fihi ma Fihi, dia berargumen bahwa jiwa kita itu seperti gelas yang terisi air, semakin kita berargumen tentang identitas kita sebagai sesuatu semakin kita tidak mampu menerima kebeneran universal, hal ini menunjukan bahwa untuk sebuah gelas yang terisi air, gelas tersebut harus dikosongkan terlebih dahulu untuk mampu menerima kebenaran dan terisi lagi dengan yang baru. Tanpa pengosongan diri tersebut kita tidak mampu mencapai kebenaran yang universal. Begitu lah yang dimaksudkan dalam kita Fihi ma fihi, hal ini sejalan dengan pendapat yang disampaikan beberapa filsuf Jerman yang berargument bahwa “Biarkan dirinya menampilkan dirinya sendiri dari dirinya. ”. Maksudnya jangan kita menanamkan intensi pada saat kita meng-“Iqro”-kan sesuatu. Kalau menurut Steven Coffee adalah coba mendengar untuk memahami bukan untuk membalas. Itu juga yang disampaikan oleh Heisenberg, dalam ketidak pastian Heisenberg.

Kesimpulan :

Untuk mencapai kebeneran Universal, biarkan dirinya menampakkan dirinya sendiri melalui dirinya sendiri.