| Cinta |
Abstrak,
sebuah kontemplasi tentang cinta yang bersumber dari kontemplasi para filsuf
dan sufi. Pada tulisan ini penulis ingin mengaforismekan tentang konsep cinta.
Cinta merupakan fenomena yang cukup menarik untuk dibahas dalam kehidupan ini.
Dasar
Teori Cinta, cerita ini dimulai dengan konsepan yang diajukan oleh
Achmad Chodim bahwa cinta merupakan sebuah maqom (derajat spiritualitas yang
tertinggi). Achmad Chodim menjelaskan bahwa manusia sebelum mencapai derajat (maqam)
cinta, orang harus mengalami jenjang spiritual yaitu :
- Taubat, makna dari taubat sendiri dijelaskan oleh Ahmad Chodim sebagai meninggalkan sesuatu yang patut untuk di tinggalkan.
- Sabar, sabar merupakan memiliki makna menahan, maksudnya menahan diri untuk tetap berada di tempat yang ingin di tempati.
- Ridlo, ridlo memiliki makna bahwa kita tidak memiliki hasrat untuk menolak dan menerima.
- Ikhlas, memiliki makna bahwa kita selalu siap dengan konsekuensi yang terjadi.
- Cinta, ini memberikan makna bahwa kita akan selalu bergairah dengan apa pun yang akan terjadi.
Itulah konsepan
tentang perjalanan menuju cinta, dimana untuk menjadi cinta seseorang memang
harus melewati beberapa jenjang spiritual.
Kalo menurut
Jalaludin Rumi, dalam Kitab Matsnawi, beliau menerangkan bahwa "Cinta merupakan
bentuk ke-Fana-an diri atas wujud sang pencinta ”, maksudnya diri seorang
pecinta hanyalah citra dari yang dicintai. Penjelasan tentang ini adalah bahwa,
tajali dari sang dicinta, tercermin dalam diri sang pecinta. Jadi seolah olah,
pecinta itu seperti sebuah cermin dan yang dicinta adalah bentuk yang di muncul
dalam cermin tersebut. Kalau makna secara menterengnya adalah yang “dicinta”
adalah substansi, sedangkan yang “ mencinta” adalah sebuah aksidensi. Namun
dalam kitab yang lain “Fihi ma Fihi”, Jalaludin Rumi juga menjelaskan bahwa
kita bisa mengetahui diri kita mencintai atau tidak, dengan adanya kegelisahan
terhadap sesuatu, maka Jalaludin Rumi mengatakan bahwa tidak ada yang paling
membahagiakan ketimbang menemui apa yang kita cintai.
Bang Dennis dan
Bang Choirul yang menginspirasi saya untuk membuat tulisan ini menyatakan
bahwa, menurut Bang Dennis, “Kita tidak bisa disebut mencintai sesuatu, sebelum
kita bisa hidup tanpanya.” Ataupun kata Bang Choirul, “Tanpa yang dicinta aku
mati, dan dengan yang dicinta akupu mati.”
Kajian,
Bambang Mulyono pernah menyatakan bahwa “Cinta adalah Kejujuran”, dalam pemaknaan Bambang Mulyono ini
menjelaskan ada satu hal yang penting yaitu kejujuran. Kejujuran sering
dianggap sepele buat kita. Namun dengan satu sifat itu kita bahkan mampu untuk
menembus kesadaran hakikat. Karena hakikat, merupakan kebenaran yang tertinggi
dan tidak ada kebenaran yang melebihi kebenaran itu, dan jika ada kebenaran
yang melebihi hakikat maka itu bukan sesuatu hakikat. Kejujuran, diperlukan
untuk menunjukan kebenaran secara sejati (hakikat), kalo menurut Heddegerian
yang menyatakan bahwa kebenaran sejati akan muncul ketika kita membiarkan
dirinya menampakan dirinya sendiri melalui dirinya. Yang hal ini tidak bisa
terjadi tanpa kita membuang intensi yang ada dalam diri kita(membuang berhala
dalam diri kita), itu sudah saya paparkan pada artikel tentang membaca tanpa
intensi. Dengan begitu kita mampu untuk menampakan kebenaran yang sejati
melalui kejujuran.
Dalam kajian
yang telas sampaikan diatas, cinta merupakan metode untuk mencapai kebenaran
yang sejati. Namun, bagaimana kebanyakan orang menamai cinta? Benarkah cinta
merupakan pengorbanan? Kita akan bahas lebih lanjut.
Dalam kajian
Achmad Kodim diatas yang menjelaskan bahwa yang namanya cinta merupakan jenjang
spiritual yang bisa dicapai melalui suluk (perjalanan spiritual), maka syarat
yang mesti di capai sebelum mencapai cinta adalah ikhlas, dan sebelum ikhlas
kita harus melewati tobat, sabar, maupun ridlo. Jika makna ikhlas adalah
menyucikan diri, maka cinta adalah kesucian itu sendiri. Maksudnya cinta adalah
derajat yang tersuci dalam perjalanan spiritual. Tapi bagaimanakah cinta yang
kita pahami. Cinta yang kita pahami
sebagian besar tercampur adukkan oleh adanya pengada, sehingga muncullah
beragam berhala, padahal cinta itu suci, namun
berhala akan menodai secara total cinta itu sendiri. Kenapa ?, saat kita
meletakan intensi terhadap sesuatu maka itu disebut tidak ikhlas, karena
keikhlasan membutuhkan kesucian, dan kesucian melampaui kekosongan hasrat.
Intensi akan menunjukan kita pada berhala. Itulah yang mengapa cinta itu harus
melewati puasa yang hakiki, maksudnya jiwa harus terlebih dahulu dari keinginan
atau intensi.
Cinta adalah
pengorbanan, benarkah? Pendapat itu sering muncul dari kalangan orang, namun
cinta sendiri adalah alat yang menciptakan kegairahan seperti yang dijelasakan
di atas. Dengan cinta debu akan menjadi emas, dan emas akan menjadi debu, atau
pada taraf konteks yang sederhana, "Dalam cinta debu dan emas akan terlihat sama".
Keduanya adalah sesuatu yang manunggal, kemanunggalann itu terjadi karena
kegairahannya terhadap sesuatu akan meniadakan “Ada akibat pengada” yang lain. Jadi
masihkah kita berfikir bahwa cinta itu pengorbanan, padahal cinta itu yang
memberikan kita kegairahan?
Mengenai
pendapat bang Dennis dan Bang Choirul yang telah saya tuliskan di atas, dalam
tulisan tersebut makna dari apa yang dituliskan bang Choirul dan bang Dennis
terlihat bertentangan namun coba kita telaah lagi, komentar bang Dennis yang
menyatakan “Seseorang belum dikatakan mencinta sebelum orang tersebut bisa
hidup tanpa dirinya.” Merupakan sesuatu yang sama dengan komentar bang Chairul
yang menyatakan. “Tanpa yang dicinta aku mati, dengannya aku mati.”, hidup dan
mati yang dijelaskan diatas hanyalah sebuah metafor dari kegairahan, maksunya
hidup yang dijelaskan oleh bang Dennis adalah kegairahan yang hidup, sedangkan
mati yang dijelaskan oleh bang Choirul, adalah kegairahan yang dingin,
maksudnya fana’nya dirinya karena pecinta, makna sederehanaanya adalah, “Di
sini hanya ada kegairahan saya. Saya telah melebur dalam kegairahan.”, itulah
makna dari Cinta yang hidup maupun mati, keduanya hanya ingin menjelaskan bahwa
cinta adalah sesuatu yang melahirkan kegairahan, yang membuat diri saya hidup,
bermakna hidup saya bergairah, dan membuat saya mati, karena melebur dalam
kegairahan.
Kesimpulan :
"Cintailah karena itu ada"
Kesimpulan :
"Cintailah karena itu ada"