Laman

Minggu, 15 November 2015

Aforisme Cinta


Cinta
Cinta


Abstrak, sebuah kontemplasi tentang cinta yang bersumber dari kontemplasi para filsuf dan sufi. Pada tulisan ini penulis ingin mengaforismekan tentang konsep cinta. Cinta merupakan fenomena yang cukup menarik untuk dibahas dalam kehidupan ini.

Dasar Teori Cinta, cerita ini dimulai dengan konsepan yang diajukan oleh Achmad Chodim bahwa cinta merupakan sebuah maqom (derajat spiritualitas yang tertinggi). Achmad Chodim menjelaskan bahwa manusia sebelum mencapai derajat (maqam) cinta, orang harus mengalami jenjang spiritual yaitu :

  1. Taubat, makna dari taubat sendiri dijelaskan oleh Ahmad Chodim sebagai meninggalkan sesuatu yang patut untuk di tinggalkan.
  2. Sabar, sabar merupakan memiliki makna menahan, maksudnya menahan diri untuk tetap berada di tempat yang ingin di tempati.
  3. Ridlo, ridlo memiliki makna bahwa kita tidak memiliki hasrat untuk menolak dan menerima.
  4. Ikhlas, memiliki makna bahwa kita selalu siap dengan konsekuensi yang terjadi.
  5. Cinta, ini memberikan makna bahwa kita akan selalu bergairah dengan apa pun yang akan terjadi.

Itulah konsepan tentang perjalanan menuju cinta, dimana untuk menjadi cinta seseorang memang harus melewati beberapa jenjang spiritual.

Kalo menurut Jalaludin Rumi, dalam Kitab Matsnawi, beliau menerangkan bahwa "Cinta merupakan bentuk ke-Fana-an diri atas wujud sang pencinta ”, maksudnya diri seorang pecinta hanyalah citra dari yang dicintai. Penjelasan tentang ini adalah bahwa, tajali dari sang dicinta, tercermin dalam diri sang pecinta. Jadi seolah olah, pecinta itu seperti sebuah cermin dan yang dicinta adalah bentuk yang di muncul dalam cermin tersebut. Kalau makna secara menterengnya adalah yang “dicinta” adalah substansi, sedangkan yang “ mencinta” adalah sebuah aksidensi. Namun dalam kitab yang lain “Fihi ma Fihi”, Jalaludin Rumi juga menjelaskan bahwa kita bisa mengetahui diri kita mencintai atau tidak, dengan adanya kegelisahan terhadap sesuatu, maka Jalaludin Rumi mengatakan bahwa tidak ada yang paling membahagiakan ketimbang menemui apa yang kita cintai.

Bang Dennis dan Bang Choirul yang menginspirasi saya untuk membuat tulisan ini menyatakan bahwa, menurut Bang Dennis, “Kita tidak bisa disebut mencintai sesuatu, sebelum kita bisa hidup tanpanya.” Ataupun kata Bang Choirul, “Tanpa yang dicinta aku mati, dan dengan yang dicinta akupu mati.”

Kajian, Bambang Mulyono pernah menyatakan bahwa “Cinta adalah Kejujuran”, dalam pemaknaan Bambang Mulyono ini menjelaskan ada satu hal yang penting yaitu kejujuran. Kejujuran sering dianggap sepele buat kita. Namun dengan satu sifat itu kita bahkan mampu untuk menembus kesadaran hakikat. Karena hakikat, merupakan kebenaran yang tertinggi dan tidak ada kebenaran yang melebihi kebenaran itu, dan jika ada kebenaran yang melebihi hakikat maka itu bukan sesuatu hakikat. Kejujuran, diperlukan untuk menunjukan kebenaran secara sejati (hakikat), kalo menurut Heddegerian yang menyatakan bahwa kebenaran sejati akan muncul ketika kita membiarkan dirinya menampakan dirinya sendiri melalui dirinya. Yang hal ini tidak bisa terjadi tanpa kita membuang intensi yang ada dalam diri kita(membuang berhala dalam diri kita), itu sudah saya paparkan pada artikel tentang membaca tanpa intensi. Dengan begitu kita mampu untuk menampakan kebenaran yang sejati melalui kejujuran.

Dalam kajian yang telas sampaikan diatas, cinta merupakan metode untuk mencapai kebenaran yang sejati. Namun, bagaimana kebanyakan orang menamai cinta? Benarkah cinta merupakan pengorbanan? Kita akan bahas lebih lanjut.

Dalam kajian Achmad Kodim diatas yang menjelaskan bahwa yang namanya cinta merupakan jenjang spiritual yang bisa dicapai melalui suluk (perjalanan spiritual), maka syarat yang mesti di capai sebelum mencapai cinta adalah ikhlas, dan sebelum ikhlas kita harus melewati tobat, sabar, maupun ridlo. Jika makna ikhlas adalah menyucikan diri, maka cinta adalah kesucian itu sendiri. Maksudnya cinta adalah derajat yang tersuci dalam perjalanan spiritual. Tapi bagaimanakah cinta yang kita pahami. Cinta yang  kita pahami sebagian besar tercampur adukkan oleh adanya pengada, sehingga muncullah beragam berhala, padahal cinta itu suci, namun  berhala akan menodai secara total cinta itu sendiri. Kenapa ?, saat kita meletakan intensi terhadap sesuatu maka itu disebut tidak ikhlas, karena keikhlasan membutuhkan kesucian, dan kesucian melampaui kekosongan hasrat. Intensi akan menunjukan kita pada berhala. Itulah yang mengapa cinta itu harus melewati puasa yang hakiki, maksudnya jiwa harus terlebih dahulu dari keinginan atau intensi.

Cinta adalah pengorbanan, benarkah? Pendapat itu sering muncul dari kalangan orang, namun cinta sendiri adalah alat yang menciptakan kegairahan seperti yang dijelasakan di atas. Dengan cinta debu akan menjadi emas, dan emas akan menjadi debu, atau pada taraf konteks yang sederhana, "Dalam cinta debu dan emas akan terlihat sama". Keduanya adalah sesuatu yang manunggal, kemanunggalann itu terjadi karena kegairahannya terhadap sesuatu akan meniadakan “Ada akibat pengada” yang lain. Jadi masihkah kita berfikir bahwa cinta itu pengorbanan, padahal cinta itu yang memberikan kita kegairahan?


Mengenai pendapat bang Dennis dan Bang Choirul yang telah saya tuliskan di atas, dalam tulisan tersebut makna dari apa yang dituliskan bang Choirul dan bang Dennis terlihat bertentangan namun coba kita telaah lagi, komentar bang Dennis yang menyatakan “Seseorang belum dikatakan mencinta sebelum orang tersebut bisa hidup tanpa dirinya.” Merupakan sesuatu yang sama dengan komentar bang Chairul yang menyatakan. “Tanpa yang dicinta aku mati, dengannya aku mati.”, hidup dan mati yang dijelaskan diatas hanyalah sebuah metafor dari kegairahan, maksunya hidup yang dijelaskan oleh bang Dennis adalah kegairahan yang hidup, sedangkan mati yang dijelaskan oleh bang Choirul, adalah kegairahan yang dingin, maksudnya fana’nya dirinya karena pecinta, makna sederehanaanya adalah, “Di sini hanya ada kegairahan saya. Saya telah melebur dalam kegairahan.”, itulah makna dari Cinta yang hidup maupun mati, keduanya hanya ingin menjelaskan bahwa cinta adalah sesuatu yang melahirkan kegairahan, yang membuat diri saya hidup, bermakna hidup saya bergairah, dan membuat saya mati, karena melebur dalam kegairahan.

Kesimpulan :

"Cintailah karena itu ada"